Exam (2009) : Alasan Lain Mengapa Anda Belum Diterima Kerja
Satu hal yang saya ingat dari film ini adalah kisah seorang gadis pirang yang berani memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Ide cerita yang saya rasa sangat sederhana namun cukup memotivasi. Yah, seberapa banyak Elle Woods di dunia ini yang berani memperjuangkan mimpinya ?
Elle memang digambarkan sebagai sosialita yang seringkali dinilai tidak pernah serius. Dalam kehidupan nyata, sosok Elle yang heboh sendiri memang seringkali menjengkelkan. Namun dibalik sosok Elle yang sangat feminim, ada banyak hal lain dari dirinya yang seringkali kita lupakan selama ini.
Pekerja Keras
Tetap Menjadi Dirinya Sendiri
Meyakini Dirinya dan Mimpinya
Legally Blonde, Kisah Gadis Pirang Yang Memenangkan Mimpinya
Postingan saya kali ini akan membahas tentang kisah Reese Witherspoon dalam film Legally Blonde yang sempat populer di awal tahun 2000-an. Tentu saja sebagian dari Anda mungkin telah menyaksikan film ini sehingga saya tidak perlu menceritakan kembali mengenai kisah yang cukup ringan namun berkesan ini.
Satu hal yang saya ingat dari film ini adalah kisah seorang gadis pirang yang berani memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Ide cerita yang saya rasa sangat sederhana namun cukup memotivasi. Yah, seberapa banyak Elle Woods di dunia ini yang berani memperjuangkan mimpinya ?
Elle memang digambarkan sebagai sosialita yang seringkali dinilai tidak pernah serius. Dalam kehidupan nyata, sosok Elle yang heboh sendiri memang seringkali menjengkelkan. Namun dibalik sosok Elle yang sangat feminim, ada banyak hal lain dari dirinya yang seringkali kita lupakan selama ini.
Pekerja Keras
Tetap Menjadi Dirinya Sendiri
Meyakini Dirinya dan Mimpinya
Pertanyaan selanjutnya, adalah kepada siapa kita akan berbagi ? Terutama dalam dunia kerja, dinding pun bertelinga. Seseorang yang kita ajak berbagi tentu adalah orang yang dapat kita percaya. Lalu pertanyaan terakhir, apa yang perlu kita bagi kepada orang lain ? Ini pun tidaklah mudah. Seringkali kita terlibat konflik dengan diri kita tentang harus berbagi kepada orang lain atau hanya memendam emosi kita.
Pentingnya berbagi adalah satu hal yang saya tangkap dari The Intern yang dibintangi dengan apik oleh Anne Hathaway dan Robert Deniro. Ben (Robert Deniro) adalah seorang pria yang tengah memasuki masa pensiun dan tengah dilanda kebosanan dengan rutinitasnya yang tidak membuatnya merasa dibutuhkan. Oleh karena itu, ia melamar menjadi seorang senior magang di perusahaan fashion yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anne Hathaway).
Jules adalah seorang wanita karir yang dikarenakan kesibukannya membuat ia melakukan pekerjaannya dengan tidak terorganisir. Akibatnya, Becky (Christina Scherer) sang asisten juga ikut dibuat pusing hingga harus pulang jam 11 malam dan kembali bekerja jam 7 pagi keesokan harinya. Jules merasa baik baik saja dengan ritme kerjanya yang cepat, tidak terstruktur, cenderung membuat orang lain kewalahan, dan dapat terselesaikan.
Sedangkan Ben, yang tengah mengikuti program magang ditempatkan di bawah koordinasi Jules, sang owner yang super sibuk. Dan disinilah kisah mereka dimulai.
Seseorang untuk Berbagi
Trust Yourself
Tim : Saling Mengisi dan Menerima
Kumpulan Tips Seputar Karir 00:49 CB Blogger Indonesia
The Intern, Pentingnya Seseorang untuk Berbagi
Berbagi, adalah satu hal simpel namun seringkali diabaikan. Mungkin terdengar sederhana, hanya menceritakan apa yang kita rasakan kepada orang lain. Namun nyatanya, berbagi tidak semata mata hanya bercerita. Sesuai namanya, berbagi adalah bagaimana kita membagi perasaan kita kepada orang lain agar mereka ikut merasakannya.
Pertanyaan selanjutnya, adalah kepada siapa kita akan berbagi ? Terutama dalam dunia kerja, dinding pun bertelinga. Seseorang yang kita ajak berbagi tentu adalah orang yang dapat kita percaya. Lalu pertanyaan terakhir, apa yang perlu kita bagi kepada orang lain ? Ini pun tidaklah mudah. Seringkali kita terlibat konflik dengan diri kita tentang harus berbagi kepada orang lain atau hanya memendam emosi kita.
Pentingnya berbagi adalah satu hal yang saya tangkap dari The Intern yang dibintangi dengan apik oleh Anne Hathaway dan Robert Deniro. Ben (Robert Deniro) adalah seorang pria yang tengah memasuki masa pensiun dan tengah dilanda kebosanan dengan rutinitasnya yang tidak membuatnya merasa dibutuhkan. Oleh karena itu, ia melamar menjadi seorang senior magang di perusahaan fashion yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anne Hathaway).
Jules adalah seorang wanita karir yang dikarenakan kesibukannya membuat ia melakukan pekerjaannya dengan tidak terorganisir. Akibatnya, Becky (Christina Scherer) sang asisten juga ikut dibuat pusing hingga harus pulang jam 11 malam dan kembali bekerja jam 7 pagi keesokan harinya. Jules merasa baik baik saja dengan ritme kerjanya yang cepat, tidak terstruktur, cenderung membuat orang lain kewalahan, dan dapat terselesaikan.
Sedangkan Ben, yang tengah mengikuti program magang ditempatkan di bawah koordinasi Jules, sang owner yang super sibuk. Dan disinilah kisah mereka dimulai.
Seseorang untuk Berbagi
Trust Yourself
Tim : Saling Mengisi dan Menerima
George Clooney didapuk sebagai pemeran utama dalam film ini dan memerankan Ryan Bingham, seorang pria yang sangat menikmati pekerjaannya dan nyaris tidak memiliki waktu untuk keluarganya. Seringkali Ryan mengisi sebuah seminar motivasi yang berjudul "What's in Your Backpack" yang menekankan bahwa kita tak seharusnya membawa beban yang membuat kita sulit melangkah ke depan.
Meski mulanya Ryan tidak menginginkan pernikahan, pandangannya berubah sejak mengenal Alex Goran (Vera Farmiga) yang ia kenal saat melakukan perjalanan. Dimulai dari pertemuan yang cukup intens, Ryan mulai menyadari bahwa Alex adalah bagian dari kehidupan nyatanya. Mirisnya, hal ini tidak sejalan dengan Alex yang menganggap Ryan hanyalah sebuah jeda dan pelarian.
Film ini tidak hanya mengisahkan tentang kehidupan pribadi Ryan atau kisahnya dengan Alex. Dalam film ini Anda akan mengetahui bahwa dipecat dan memecat adalah suatu hal yang sulit. Itulah mengapa banyak pimpinan perusahaan yang menggunakan jasa perusahaan tempat Ryan bekerja untuk memecat karyawannya.
Dalam film ini Anda juga akan mengenal Natalie Kenner (Anna Kendrick), wanita muda yang ambisius dalam mengejar karirnya. Ia mencanangkan sebuah program dimana proses pemecatan dapat dilakukan melalui video call sehingga biaya perjalanan dinas dapat diminimalisir.
Dengan beberapa pertimbangan, Natalie ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas bersama Ryan dan menyaksikan bagaimana Ryan melakukan pekerjaannya yang sebagian besar mampu membuat orang yang ia pecat melihat secercah harapan dibalik berita buruk yang mereka terima.
Saya tidak akan menceritakan tentang bagaimana alur cerita dari film ini yang tentunya sudah dibahas lebih dulu. Dibanding itu, saya lebih tertarik membagikan apa yang saya peroleh dari film ini yang bagi saya pribadi cukup mengandung banyak pesan positif.
What's in your Backpack
Semua Pekerjaan Memiliki Nilai
Kutipan di atas adalah salah satu ucapan yang dikatakan oleh Ryan kepada Natalie saat mereka tengah melakukan perjalanan di pesawat. Bagi Ryan, pekerjaannya bukanlah memecat orang, melainkan membantu orang lain untuk tetap melanjutkan hidupnya meski mereka telah kehilangan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Ryan berpikiran bahwa pekerjaannya tidak sekedar hanya dapat dilakukan melalui video call untuk sekedar mengatakan bahwa "Anda dipecat".
Begitu juga dengan apa yang kita kerjakan saat ini. Entah apapun pekerjaan Anda, pekerjaan Anda memiliki nilai lebih dibanding sekedar apa yang Anda kerjakan. Dengan memahami nilai dari apa yang kita kerjakan, kita akan lebih memahami mengapa pekerjaan yang kita lakukan penting dan apa efeknya jika pekerjaan ini tidak kita lakukan.
Bayangkan jika Anda tidak memahami nilai dari pekerjaan Anda. Mungkin Anda akan biasa saja dalam menjalankan pekerjaan Anda, begitu juga jika tidak menjalankannya. Bukankah dengan memahami nilai dari apa yang Anda kerjakan membuat Anda lebih bersemangat ?
Help Yourself
Berhasil tidaknya kita dalam melewati sebuah kegagalan bergantung pada kemampuan diri kita. Meskipun ada banyak orang yang memberikan motivasi semua tidak akan berhasil jika kita tidak berkeinginan untuk menolong diri kita sendiri. Sama seperti soundtrack dari film ini yang menekankan diri kita untuk menolong diri kita sendiri sebelum kita menolong orang lain.
Jangan Lupakan Keluarga
Up In The Air - Tidak Semua Beban Harus Dibawa
Saya mungkin merupakan orang ke sekian yang menulis mengenai film yang dirilis tahun 2009 ini. Film ini mengisahkan seorang pria yang menghabiskan hampir sepanjang waktunya di pesawat untuk melakukan perjalanan dinas dengan pekerjaannya yang unik yaitu memecat orang.
George Clooney didapuk sebagai pemeran utama dalam film ini dan memerankan Ryan Bingham, seorang pria yang sangat menikmati pekerjaannya dan nyaris tidak memiliki waktu untuk keluarganya. Seringkali Ryan mengisi sebuah seminar motivasi yang berjudul "What's in Your Backpack" yang menekankan bahwa kita tak seharusnya membawa beban yang membuat kita sulit melangkah ke depan.
Meski mulanya Ryan tidak menginginkan pernikahan, pandangannya berubah sejak mengenal Alex Goran (Vera Farmiga) yang ia kenal saat melakukan perjalanan. Dimulai dari pertemuan yang cukup intens, Ryan mulai menyadari bahwa Alex adalah bagian dari kehidupan nyatanya. Mirisnya, hal ini tidak sejalan dengan Alex yang menganggap Ryan hanyalah sebuah jeda dan pelarian.
Film ini tidak hanya mengisahkan tentang kehidupan pribadi Ryan atau kisahnya dengan Alex. Dalam film ini Anda akan mengetahui bahwa dipecat dan memecat adalah suatu hal yang sulit. Itulah mengapa banyak pimpinan perusahaan yang menggunakan jasa perusahaan tempat Ryan bekerja untuk memecat karyawannya.
Dalam film ini Anda juga akan mengenal Natalie Kenner (Anna Kendrick), wanita muda yang ambisius dalam mengejar karirnya. Ia mencanangkan sebuah program dimana proses pemecatan dapat dilakukan melalui video call sehingga biaya perjalanan dinas dapat diminimalisir.
Dengan beberapa pertimbangan, Natalie ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas bersama Ryan dan menyaksikan bagaimana Ryan melakukan pekerjaannya yang sebagian besar mampu membuat orang yang ia pecat melihat secercah harapan dibalik berita buruk yang mereka terima.
Saya tidak akan menceritakan tentang bagaimana alur cerita dari film ini yang tentunya sudah dibahas lebih dulu. Dibanding itu, saya lebih tertarik membagikan apa yang saya peroleh dari film ini yang bagi saya pribadi cukup mengandung banyak pesan positif.
What's in your Backpack
Semua Pekerjaan Memiliki Nilai
Kutipan di atas adalah salah satu ucapan yang dikatakan oleh Ryan kepada Natalie saat mereka tengah melakukan perjalanan di pesawat. Bagi Ryan, pekerjaannya bukanlah memecat orang, melainkan membantu orang lain untuk tetap melanjutkan hidupnya meski mereka telah kehilangan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Ryan berpikiran bahwa pekerjaannya tidak sekedar hanya dapat dilakukan melalui video call untuk sekedar mengatakan bahwa "Anda dipecat".
Begitu juga dengan apa yang kita kerjakan saat ini. Entah apapun pekerjaan Anda, pekerjaan Anda memiliki nilai lebih dibanding sekedar apa yang Anda kerjakan. Dengan memahami nilai dari apa yang kita kerjakan, kita akan lebih memahami mengapa pekerjaan yang kita lakukan penting dan apa efeknya jika pekerjaan ini tidak kita lakukan.
Bayangkan jika Anda tidak memahami nilai dari pekerjaan Anda. Mungkin Anda akan biasa saja dalam menjalankan pekerjaan Anda, begitu juga jika tidak menjalankannya. Bukankah dengan memahami nilai dari apa yang Anda kerjakan membuat Anda lebih bersemangat ?
Help Yourself
Berhasil tidaknya kita dalam melewati sebuah kegagalan bergantung pada kemampuan diri kita. Meskipun ada banyak orang yang memberikan motivasi semua tidak akan berhasil jika kita tidak berkeinginan untuk menolong diri kita sendiri. Sama seperti soundtrack dari film ini yang menekankan diri kita untuk menolong diri kita sendiri sebelum kita menolong orang lain.
Jangan Lupakan Keluarga
Bagi Anda yang menyukai film bergenre drama, berikut rekomendasi film yang akan membuat Anda terbawa suasana. Entah setelah menontonnya Anda akan merasa kesal, sedih, atau ikut merasa sakit hati, namun film berikut menampilkan alur cerita yang cukup mengaduk aduk perasaan penonton.
You're the apple of my eyes
500 days of Summer
Surga yang tak dirindukan 2
Rekomendasi Film Menyentuh Hati
Menonton film adalah salah satu aktifitas yang sering kita lakukan di kala senggang. Dengan menonton film, selain kita dapat merasa rileks sejenak, kita juga mendapatkan pelajaran moril dari cerita yang disampaikan. Genre film yang ditonton setiap orang pun berbeda beda sesuai selera, entah horor, thriller, action, komedi atau drama.
Bagi Anda yang menyukai film bergenre drama, berikut rekomendasi film yang akan membuat Anda terbawa suasana. Entah setelah menontonnya Anda akan merasa kesal, sedih, atau ikut merasa sakit hati, namun film berikut menampilkan alur cerita yang cukup mengaduk aduk perasaan penonton.
You're the apple of my eyes
500 days of Summer
Surga yang tak dirindukan 2
Seperti yang telah diketahui, film diciptakan dengan menyampaikan beberapa kesan dan pesan kepada penontonnya. Hal ini juga yang dilakukan dalam film Unbeatable yang saya rekomendasikan bagi Anda yang nyaris kehilangan harapan.
Film ini dibuka dengan kisah Lin Si Qi (Eddie Peng) yang merupakan putra seorang kaya raya yang memutuskan untuk hidup tanpa menikmati harta ayahnya. Meski hubungan antara Lin Si Qi dengan ayahnya kurang baik, namun naluri seorang anak membuatnya tetap ingin menemani ayahnya di saat usahanya bangkrut.
Di tempat lain, Gwen (Mei Ting), seorang ibu muda yang frustasi karena ditinggalkan suaminya kembali merasa kehilangan atas kepergian putra bungsunya yang meninggal karena tenggelam di bathup karena kurangnya pengawasan dari Gwen.
Di sisi lain, Ching Fai (Nick Cheung) adalah seorang mantan juara MMA yang telah memenangkan pertandingan sebanyak dua kali. Berbanding terbalik dengan masa mudanya yang penuh kejayaan, Ching Fai kini harus menjalani hidupnya sebagai seorang sopir taxi. Dikarenakan dijerat hutang, Ching Fai memutuskan untuk pergi ke Macau dan memulai hidupnya sebagai pelatih gym bersama sahabatnya. Hari pertama di Macau, Ching Fai bersama sahabatnya, Yeung Hin Sun (Philip Keung) menyaksikan pertandingan MMA yang membuatnya kembali mengingat masa kejayaannya.
Lin Si Qi selalu menjemput ayahnya yang tengah mabuk di bar dan membopongnya pulang. Dalam perjalanan pulang, Lin Si Qi melihat iklan pertandingan MMA dengan hadiah cukup menggiurkan yang dapat ia gunakan untuk membayar hutang ayahnya. Tanpa disadari pada suatu malam Lin Si Qi berpapasan dengan Ching Fai yang tengah berjalan menuju kamar kosnya dengan Gwen sebagai pemilik rumah.
Ching Fai disambut oleh Dani, putri sulung Gwen yang sangat mandiri dan tegas di usianya. Dani menuturkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Ching Fai, termasuk larangan untuk membuka papan yang menutupi bathup tempat adiknya meninggal.
Keesokan harinya, Ching Fai memulai hari pertamanya sebagai pelatih gym dengan mengajarkan beberapa gerakan kepada ibu ibu. Bagi Ching Fai, gerakan yang sangat sederhana itu merupakan suatu penghinaan. Pada hari itu juga, Ching Fai bertemu dengan Lin Si Qi yang mendaftar kelas MMA untuk mengikuti pertandingan MMA meskipun ia belum pernah memiliki pengalaman bertanding. Hal ini membuat Lin Si Qi cukup diremehkan.
Di samping itu, sepulang kerja Gwen menjemput Dani dari sekolahnya di suatu taman yang membuatnya kembali teringat akan kenangannya bersama Dani dan putranya yang telah meninggal. Tak peduli akan hujan yang mengguyur, Gwen tetap menunggu Dani meskipun ia harus basah kuyup. Sesampainya di rumah, Gwen dan Dani dikejutkan dengan atap rumahnya yang bocor. Ching Fai berusaha menampung bocoran air hujan dan memindahkannya ke bathup yang dilaran untuk dibuka. Hal ini membuat Gwen hilang kendali dan mencakar Ching Fai.
Setelah suasana tenang, Dani menceritakan alasan mengapa ibunya bertindak kasar. Hal ini disebabkan rasa frustasinya karena ditinggalkan suami yang memilih wanita lain dan kepergian anaknya. Dani bahkan sempat dirawat oleh Rumah Sosial dan Gwen dirawat di Rumah Sakit Jiwa untuk sementara waktu. Mendengar hal itu, Ching Fai berjanji pada Dani untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat Dani, termasuk untuk tidak membuka bathup.
Di sela waktu kerjanya, Ching Fai teringat akan masa lalunya yang kelam dan dipenuhi penyesalan. Saat itu, Ching Fai memalsukan pertandingan MMA dengan sengaja mengalah demi uang. Hal ini membuat guru Ching Fai marah dan mengakibatkan ia dipenjara atas tuduhan mafia, pencucian uang dan pemalsuan pertandingan.
Lamunannya buyar saat ia menerima telepon dari Dani yang memintanya untuk menjemput ibunya di taman karena ia terlambat pulang dan sedang turun hujan. Ching Fai pun memenuhi permintaan Dani, namun sayangnya headphone kesayangan Gwen rusak terinjak saat ia berlari di tengah hujan. Malamnya, Ching Fai membelikan headphone baru untuk Gwen dan juga sebuah lagu.
Di tempat lain, Lin Si Qi yang seperti biasanya menjemput ayahnya di bar dikejutkan dengan kondisi ayahnya yang sedang meracau dan memukulinya. Ayahnya mengatakan bahwa ia tak habis pikir mengapa di usia hampir 30 tahun, Lin Si Qi masih tidak dapat melakukan apa apa. Di mata ayahnya, Lin Si Qi bukanlah apa apa dan bahkan tidak mengerti apa arti tanggung jawab. Berbanding terbalik dengan kondisi ayahnya yang bahkan telah sukses di usia 30 tahun.
Perdebatan ayah - anak itu membuat suasana gaduh hingga membuat Ching Fai memutuskan untuk menengahi mereka dengan memukul ayah Lin Si Qi hingga pingsan. Ching Fai membantu Lin Si Qi membopong ayahnya ke rumah. Pada saat itu pula, Lin Si Qi meminta Ching Fai untuk melatihnya dalam pertandingan MMA. Meski awalnya enggan, Ching Fai menerima ajakan tersebut dengan syarat ia memperoleh 40 % dari hadiah.
Semenjak kesepakatan tersebut, Ching Fai dengan serius melatih Lin Si Qi yang sangat bertekad memenangkan pertandingan untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia telah bangkit. Lin Si Qi dengan tekun menjalani serangkaian latihan yang diberikan Ching Fai, dimulai dari berlari, latihan meninju dan memukul speed bag. Ching Fai mengatakan bahwa Lin Si Qi harus memiliki ritmenya sendiri dalam bertanding.
Tak hanya itu, hubungan antara Ching Fai, Dani dan Gwen semakin erat. Ching Fai bahkan tak ragu menperagakan sebuah cerita bersama Dani untuk Gwen, mendirikan tenda bersama, dan mengecat rumah bersama. Kesehariannya yang berwarna membuat Ching Fai jauh lebih bersemangat dalam melatih senam.
Menjelang pertandingan, Lin Si Qi semakin serius berlatih. Bahkan sahabat Ching Fai mengagumi semangat dan dedikasi yang dimiliki Lin Si Qi dalam berlatih. Lin Si Qi tak hanya berlatih di gym, ia juga memanfaatkan benda berat di lokasi kerjanya sebagai kuli bangunan.
Setelah dirasa cukup, Lin Si Qi pun diajari teknik kunci meski sebelumnya Ching Fai harus berjuang mengalahkan pelatih Rock agar ia mau mengajari Lin Si Qi.
Selang beberapa waktu, pertandingan MMA pun resmi dimulai. Ching Fai mengajak Lin Si Qi untuk menyaksikan pertandingan dengan memberikan berbagai tips dalam bertanding. Salah satu tips yang diberikan adalah jangan mudah terpancing emosi jika ingin mengalahkan lawan.
Nama Lin Si Qi pun terpilih untuk bertarung dalam sesi berikutnya melawan pemenang sebelumnya. Hal ini membuatnya semakin giat berlatih. Menjelang pertandingan, Ching Fai menasihati Lin Si Qi untuk tetap mengingat apa tujuannya bertanding dan jangan pernah takut, karena sekali takut maka ia akan dikalahkan.
Pada pertandingan, Lin Si Qi berhasil untuk tidak KO selama dua ronde sehingga ia dinyatakan menang. Sang ayah yang awalnya acuh pada Lin Si Qi pun turut menyaksikan pertandingan tersebut. Lin Si Qi dan Ching Fai pun berpelukan untuk merayakan kemenangan.
Sayangnya, wajah Ching Fai yang terliput di televisi mengundang debt collector untuk menagih hutang kepadanya. Malam yang seharusnya dihabiskan dengan bahagia antara Ching Fai, Dani dan Gwen pun berakhir dengan tragis dimana para debt collector itu mendatangi kediaman Ching Fai dan membuat Gwen serta Dani ketakutan. Dani yang berusaha melarikan diri jatuh terguling di tangga sedangkan Gwen demi mempertahankan diri menusuk salah satu debt collector.
Meski pada akhirnya nyawa Dani dapat diselamatkan, namun Gwen harus diperiksa untuk memastikan kondisi kejiwaannya.
Sementara itu, Lin Si Qi kembali melakukan pertandingan, kali ini melawan Alberto. Lin Si Qi kembali berhasil memenangkan pertandingan setelah mengalahkan Alberto dengan saling mengunci di lantai. Tak lupa, ayah Lin Si Qi pun kembali menyaksikan pertandingan.
Sedangkan Gwen justru diharuskan untuk kembali tinggal di Rumah Sakit Jiwa dan Dani kembali ke pengasuhan ayahnya setelah sebelumnya terancam untuk kembali dipindahkan ke Rumah Sosial. Ching Fai yang sangat peduli akan keadaan Gwen dibuat risau.
Dalam pertandingan ketiga, semakin banyak penonton yang bertaruh untuk kemenangan Lin Si Qi. Lin Si Qi mengatakan alasan dibalik kegigihannya bahwa ia ingin menunjukkan pada seseorang (yaitu ayahnya) bahwa sesuatu yang tidak mungkin bisa saja terjadi dan ia ingin agar ayahnya juga meyakininya.
Sepeninggal Gwen dan Dani, Ching Fai hanya dapat meratapi kenangannya bersama Gwen dan Dani. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengikuti MMA di usianya yang tak lagi muda. Meski sempat ditentang oleh Yeung Hin Sun, Ching Fai tetap pada keputusannya dengan alasan ia tidak melakukan apapun selama 20 tahun terakhir dan ia tidak mau mati tanpa meninggalkan kenangan indah di hidupnya. Baginya, menang atau kalah tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang.
Ching Fai pun berlatih keras menjelang pertandingan. Meskipun ia mengaku takut setiap berada di ring, ia selalu mengatakan pada dirinya bahwa ia bisa. Menjelang pertandingan, ayah Dani datang dan mengatakan bahwa Dani tidak menuruti ayahnya dan hanya ingin bersama Ching Fai. Ayah Dani mengatakan bahwa Dani akan menuruti ayahnya jika Ching Fai memenangkan pertandingan.
Hari yang ditunggu pun tiba. Ching Fai pun bertanding melawan Lee Zi Tian yang merupakan pemenang di musim sebelumnya. Meski tenaganya tak sehebat saat ia masih muda, berbekal pengalaman dan tekad Ching Fai berhasil menang meski sebelumnya sempat tersudutkan.
Film ini berakhir bahagia. Diceritakan bahwa Lin Si Qi kembali mengikuti MMA dan dinyatakan menang sebagai juara di musim tersebut. Lain halnya dengan Ching Fai, setelah memenangkan 3 pertandingan ia memutuskan untuk pergi dari dunia MMA dan menjalani kehidupan barunya bersama Gwen dan Dani.
Meski alur cerita cukup mudah ditebak, namun sepertinya pilihan mengusung tema MMA bukanlah hal yang buruk. Olahraga mengajarkan kita bagaimana memotivasi diri untuk mencapai tujuan. Sama seperti Ching Fai dan Lin Si Qi yang bertekad memenangkan pertandingan untuk membuktikan diri, kita sendiri pun perlu memenangkan masalah yang kita hadapi dan membuktikan bahwa kita kompeten. Kemenangan bukanlah hal yang mudah, contoh sederhana dapat kita lihat dari film ini dimana kedua bintang utama berlatih keras setiap harinya untuk melatih otot mereka. Meski membutuhkan perjuangan, kemenangan adalah milik mereka yang mau memperjuangkannya.
Sedangkan dari sosok Dani kita memahami arti sebuah ketegaran, dimana di film ini diperlihatkan sosok Dani yang kemungkinan duduk di bangku SD (tidak dijelaskan usianya dalam cerita) begitu cekatannya mengurus rumah, merawat ibunya yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan memastikan Ching Fai bertindak sesuai ketentuan dirumahnya. Begitupun dengan kita, tak peduli apa yang telah kita lalui, kita harus tetap berdiri tegar dan berani menghadapi masalah yang ada.
Secara keseluruhan, saya memberikan rating 9 untuk film ini karena meski alur cerita yang sederhana, film ini tetap mampu membakar semangat penontonnya termasuk saya. Bagi kalian yang tengah merasa putus asa, saya rekomendasikan untuk menyaksikan film ini.
Unbeatable - MMA dan Segudang Perjuangan Di Baliknya
Seperti yang telah diketahui, film diciptakan dengan menyampaikan beberapa kesan dan pesan kepada penontonnya. Hal ini juga yang dilakukan dalam film Unbeatable yang saya rekomendasikan bagi Anda yang nyaris kehilangan harapan.
Film ini dibuka dengan kisah Lin Si Qi (Eddie Peng) yang merupakan putra seorang kaya raya yang memutuskan untuk hidup tanpa menikmati harta ayahnya. Meski hubungan antara Lin Si Qi dengan ayahnya kurang baik, namun naluri seorang anak membuatnya tetap ingin menemani ayahnya di saat usahanya bangkrut.
Di tempat lain, Gwen (Mei Ting), seorang ibu muda yang frustasi karena ditinggalkan suaminya kembali merasa kehilangan atas kepergian putra bungsunya yang meninggal karena tenggelam di bathup karena kurangnya pengawasan dari Gwen.
Di sisi lain, Ching Fai (Nick Cheung) adalah seorang mantan juara MMA yang telah memenangkan pertandingan sebanyak dua kali. Berbanding terbalik dengan masa mudanya yang penuh kejayaan, Ching Fai kini harus menjalani hidupnya sebagai seorang sopir taxi. Dikarenakan dijerat hutang, Ching Fai memutuskan untuk pergi ke Macau dan memulai hidupnya sebagai pelatih gym bersama sahabatnya. Hari pertama di Macau, Ching Fai bersama sahabatnya, Yeung Hin Sun (Philip Keung) menyaksikan pertandingan MMA yang membuatnya kembali mengingat masa kejayaannya.
Lin Si Qi selalu menjemput ayahnya yang tengah mabuk di bar dan membopongnya pulang. Dalam perjalanan pulang, Lin Si Qi melihat iklan pertandingan MMA dengan hadiah cukup menggiurkan yang dapat ia gunakan untuk membayar hutang ayahnya. Tanpa disadari pada suatu malam Lin Si Qi berpapasan dengan Ching Fai yang tengah berjalan menuju kamar kosnya dengan Gwen sebagai pemilik rumah.
Ching Fai disambut oleh Dani, putri sulung Gwen yang sangat mandiri dan tegas di usianya. Dani menuturkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Ching Fai, termasuk larangan untuk membuka papan yang menutupi bathup tempat adiknya meninggal.
Keesokan harinya, Ching Fai memulai hari pertamanya sebagai pelatih gym dengan mengajarkan beberapa gerakan kepada ibu ibu. Bagi Ching Fai, gerakan yang sangat sederhana itu merupakan suatu penghinaan. Pada hari itu juga, Ching Fai bertemu dengan Lin Si Qi yang mendaftar kelas MMA untuk mengikuti pertandingan MMA meskipun ia belum pernah memiliki pengalaman bertanding. Hal ini membuat Lin Si Qi cukup diremehkan.
Di samping itu, sepulang kerja Gwen menjemput Dani dari sekolahnya di suatu taman yang membuatnya kembali teringat akan kenangannya bersama Dani dan putranya yang telah meninggal. Tak peduli akan hujan yang mengguyur, Gwen tetap menunggu Dani meskipun ia harus basah kuyup. Sesampainya di rumah, Gwen dan Dani dikejutkan dengan atap rumahnya yang bocor. Ching Fai berusaha menampung bocoran air hujan dan memindahkannya ke bathup yang dilaran untuk dibuka. Hal ini membuat Gwen hilang kendali dan mencakar Ching Fai.
Setelah suasana tenang, Dani menceritakan alasan mengapa ibunya bertindak kasar. Hal ini disebabkan rasa frustasinya karena ditinggalkan suami yang memilih wanita lain dan kepergian anaknya. Dani bahkan sempat dirawat oleh Rumah Sosial dan Gwen dirawat di Rumah Sakit Jiwa untuk sementara waktu. Mendengar hal itu, Ching Fai berjanji pada Dani untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat Dani, termasuk untuk tidak membuka bathup.
Di sela waktu kerjanya, Ching Fai teringat akan masa lalunya yang kelam dan dipenuhi penyesalan. Saat itu, Ching Fai memalsukan pertandingan MMA dengan sengaja mengalah demi uang. Hal ini membuat guru Ching Fai marah dan mengakibatkan ia dipenjara atas tuduhan mafia, pencucian uang dan pemalsuan pertandingan.
Lamunannya buyar saat ia menerima telepon dari Dani yang memintanya untuk menjemput ibunya di taman karena ia terlambat pulang dan sedang turun hujan. Ching Fai pun memenuhi permintaan Dani, namun sayangnya headphone kesayangan Gwen rusak terinjak saat ia berlari di tengah hujan. Malamnya, Ching Fai membelikan headphone baru untuk Gwen dan juga sebuah lagu.
Di tempat lain, Lin Si Qi yang seperti biasanya menjemput ayahnya di bar dikejutkan dengan kondisi ayahnya yang sedang meracau dan memukulinya. Ayahnya mengatakan bahwa ia tak habis pikir mengapa di usia hampir 30 tahun, Lin Si Qi masih tidak dapat melakukan apa apa. Di mata ayahnya, Lin Si Qi bukanlah apa apa dan bahkan tidak mengerti apa arti tanggung jawab. Berbanding terbalik dengan kondisi ayahnya yang bahkan telah sukses di usia 30 tahun.
Perdebatan ayah - anak itu membuat suasana gaduh hingga membuat Ching Fai memutuskan untuk menengahi mereka dengan memukul ayah Lin Si Qi hingga pingsan. Ching Fai membantu Lin Si Qi membopong ayahnya ke rumah. Pada saat itu pula, Lin Si Qi meminta Ching Fai untuk melatihnya dalam pertandingan MMA. Meski awalnya enggan, Ching Fai menerima ajakan tersebut dengan syarat ia memperoleh 40 % dari hadiah.
Semenjak kesepakatan tersebut, Ching Fai dengan serius melatih Lin Si Qi yang sangat bertekad memenangkan pertandingan untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia telah bangkit. Lin Si Qi dengan tekun menjalani serangkaian latihan yang diberikan Ching Fai, dimulai dari berlari, latihan meninju dan memukul speed bag. Ching Fai mengatakan bahwa Lin Si Qi harus memiliki ritmenya sendiri dalam bertanding.
Tak hanya itu, hubungan antara Ching Fai, Dani dan Gwen semakin erat. Ching Fai bahkan tak ragu menperagakan sebuah cerita bersama Dani untuk Gwen, mendirikan tenda bersama, dan mengecat rumah bersama. Kesehariannya yang berwarna membuat Ching Fai jauh lebih bersemangat dalam melatih senam.
Menjelang pertandingan, Lin Si Qi semakin serius berlatih. Bahkan sahabat Ching Fai mengagumi semangat dan dedikasi yang dimiliki Lin Si Qi dalam berlatih. Lin Si Qi tak hanya berlatih di gym, ia juga memanfaatkan benda berat di lokasi kerjanya sebagai kuli bangunan.
Setelah dirasa cukup, Lin Si Qi pun diajari teknik kunci meski sebelumnya Ching Fai harus berjuang mengalahkan pelatih Rock agar ia mau mengajari Lin Si Qi.
Selang beberapa waktu, pertandingan MMA pun resmi dimulai. Ching Fai mengajak Lin Si Qi untuk menyaksikan pertandingan dengan memberikan berbagai tips dalam bertanding. Salah satu tips yang diberikan adalah jangan mudah terpancing emosi jika ingin mengalahkan lawan.
Nama Lin Si Qi pun terpilih untuk bertarung dalam sesi berikutnya melawan pemenang sebelumnya. Hal ini membuatnya semakin giat berlatih. Menjelang pertandingan, Ching Fai menasihati Lin Si Qi untuk tetap mengingat apa tujuannya bertanding dan jangan pernah takut, karena sekali takut maka ia akan dikalahkan.
Pada pertandingan, Lin Si Qi berhasil untuk tidak KO selama dua ronde sehingga ia dinyatakan menang. Sang ayah yang awalnya acuh pada Lin Si Qi pun turut menyaksikan pertandingan tersebut. Lin Si Qi dan Ching Fai pun berpelukan untuk merayakan kemenangan.
Sayangnya, wajah Ching Fai yang terliput di televisi mengundang debt collector untuk menagih hutang kepadanya. Malam yang seharusnya dihabiskan dengan bahagia antara Ching Fai, Dani dan Gwen pun berakhir dengan tragis dimana para debt collector itu mendatangi kediaman Ching Fai dan membuat Gwen serta Dani ketakutan. Dani yang berusaha melarikan diri jatuh terguling di tangga sedangkan Gwen demi mempertahankan diri menusuk salah satu debt collector.
Meski pada akhirnya nyawa Dani dapat diselamatkan, namun Gwen harus diperiksa untuk memastikan kondisi kejiwaannya.
Sementara itu, Lin Si Qi kembali melakukan pertandingan, kali ini melawan Alberto. Lin Si Qi kembali berhasil memenangkan pertandingan setelah mengalahkan Alberto dengan saling mengunci di lantai. Tak lupa, ayah Lin Si Qi pun kembali menyaksikan pertandingan.
Sedangkan Gwen justru diharuskan untuk kembali tinggal di Rumah Sakit Jiwa dan Dani kembali ke pengasuhan ayahnya setelah sebelumnya terancam untuk kembali dipindahkan ke Rumah Sosial. Ching Fai yang sangat peduli akan keadaan Gwen dibuat risau.
Dalam pertandingan ketiga, semakin banyak penonton yang bertaruh untuk kemenangan Lin Si Qi. Lin Si Qi mengatakan alasan dibalik kegigihannya bahwa ia ingin menunjukkan pada seseorang (yaitu ayahnya) bahwa sesuatu yang tidak mungkin bisa saja terjadi dan ia ingin agar ayahnya juga meyakininya.
Sepeninggal Gwen dan Dani, Ching Fai hanya dapat meratapi kenangannya bersama Gwen dan Dani. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengikuti MMA di usianya yang tak lagi muda. Meski sempat ditentang oleh Yeung Hin Sun, Ching Fai tetap pada keputusannya dengan alasan ia tidak melakukan apapun selama 20 tahun terakhir dan ia tidak mau mati tanpa meninggalkan kenangan indah di hidupnya. Baginya, menang atau kalah tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang.
Ching Fai pun berlatih keras menjelang pertandingan. Meskipun ia mengaku takut setiap berada di ring, ia selalu mengatakan pada dirinya bahwa ia bisa. Menjelang pertandingan, ayah Dani datang dan mengatakan bahwa Dani tidak menuruti ayahnya dan hanya ingin bersama Ching Fai. Ayah Dani mengatakan bahwa Dani akan menuruti ayahnya jika Ching Fai memenangkan pertandingan.
Hari yang ditunggu pun tiba. Ching Fai pun bertanding melawan Lee Zi Tian yang merupakan pemenang di musim sebelumnya. Meski tenaganya tak sehebat saat ia masih muda, berbekal pengalaman dan tekad Ching Fai berhasil menang meski sebelumnya sempat tersudutkan.
Film ini berakhir bahagia. Diceritakan bahwa Lin Si Qi kembali mengikuti MMA dan dinyatakan menang sebagai juara di musim tersebut. Lain halnya dengan Ching Fai, setelah memenangkan 3 pertandingan ia memutuskan untuk pergi dari dunia MMA dan menjalani kehidupan barunya bersama Gwen dan Dani.
Meski alur cerita cukup mudah ditebak, namun sepertinya pilihan mengusung tema MMA bukanlah hal yang buruk. Olahraga mengajarkan kita bagaimana memotivasi diri untuk mencapai tujuan. Sama seperti Ching Fai dan Lin Si Qi yang bertekad memenangkan pertandingan untuk membuktikan diri, kita sendiri pun perlu memenangkan masalah yang kita hadapi dan membuktikan bahwa kita kompeten. Kemenangan bukanlah hal yang mudah, contoh sederhana dapat kita lihat dari film ini dimana kedua bintang utama berlatih keras setiap harinya untuk melatih otot mereka. Meski membutuhkan perjuangan, kemenangan adalah milik mereka yang mau memperjuangkannya.
Sedangkan dari sosok Dani kita memahami arti sebuah ketegaran, dimana di film ini diperlihatkan sosok Dani yang kemungkinan duduk di bangku SD (tidak dijelaskan usianya dalam cerita) begitu cekatannya mengurus rumah, merawat ibunya yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan memastikan Ching Fai bertindak sesuai ketentuan dirumahnya. Begitupun dengan kita, tak peduli apa yang telah kita lalui, kita harus tetap berdiri tegar dan berani menghadapi masalah yang ada.
Secara keseluruhan, saya memberikan rating 9 untuk film ini karena meski alur cerita yang sederhana, film ini tetap mampu membakar semangat penontonnya termasuk saya. Bagi kalian yang tengah merasa putus asa, saya rekomendasikan untuk menyaksikan film ini.
Di satu sisi, Vee adalah seorang siswa yang memiliki bakat dalam hal fotografi. Pagi itu, ia pergi untuk mengabadikan moment pertandingan basket di sekolahnya bersama sahabatnya yaitu Thomas (Miles Heizer) yang juga seorang peretas. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk memotret JP Guerrero (Brian Marc), pria yang diam diam ia taksir.
Di tengah tengah permainan, terdapat suatu atraksi yang menghebohkan. Sydney, salah satu pemandu sorak sekaligus sahabat karib Vee (Emily Meade) menunjukkan pantatnya kepada para penonton yang tentu saja membuat riuh penonton.
Rupanya hal tersebut dilakukan oleh Sydney sebagai bagian dari suatu permainan bernama Nerve. Ya, Nerve. Permainan itu sedang naik daun di kalangan remaja di Staten Island. Terdapat 2 kategori dalam Nerve, yaitu pemain dan penonton.
Penonton diharuskan untuk membayar sejumlah biaya untuk dapat menyaksikan pemain selama 24 jam dan berhak untuk menentukan tantangan bagi pemain. Sedangkan pemain diharuskan untuk menyelesaikan tantangan yang apabila berhasil maka pemain akan diberikan sejumlah hadiah berupa uang, Sebaliknya, apabila gagal pemain akan dikeluarkan dari permainan. Permainan ini akan menyisakan 2 pemain untuk melaju di final.
Saat jeda, Sydney, Vee, Thomas dan kedua teman lainnya berkumpul di kantin. Terjadi perdebatan antara Sydney dan Vee, Sydney mengatakan bahwa Vee adalah seseorang yang tidak pernah berani mengambil resiko dan keluar dari zona nyamannya terbukti dengan ia menolak tantangan dari teman temannya untuk menyapa JP. Hingga akhirnya Sydney mengatakan secara langsung kepada JP bahwa Vee menyukainya yang dibalas negatif oleh JP dengan mengatakan bahwa Vee bukan tipe nya.
Hal ini membuat Vee terpukul dan meninggalkan Sydney beserta teman temannya. Sesampainya ia di rumah, karena kesal dengan perbuatan Sydney ia pun mendaftar menjadi pemain di Nerve. Ia ingin membuktikan pada Sydney bahwa ia juga bisa menjadi pemain bukan hanya sebagai penonton.
Tantangan pertama yang harus ia lakukan adalah pergi ke Colonnade Dinner dalam 15 menit. Tantangan selanjutnya adalah ia harus mencium seorang pria yang tak ia kenal. Tantangan itu juga yang membuatnya mengenal Ian (Dave Franco), pria yang diciumnya yang ternyata juga merupakan pemain.
Melihat chemistri antara Vee dan Ian, penonton pun memberikan tantangan lainnya yaitu pergi ke kota bersama. Meski sempat dilarang oleh Thomas, Vee tetap memenuhi tantangan tersebut. Lambat laun, Vee yang tadinya hanya ingin mencoba 1 tantangan akhirnya ketagihan melihat jumlah nominal yang ditransfer ke rekeningnya.
Dimulai dari mencoba sebuah gaun. keluar dari toko tanpa busana karena bajunya dicuri, pergi ke Saint Mark's dalam 10 menit dan metato tubuhnya. Di sisi lain, Thomas mengkhawatirkan kondisi Vee yang pergi dengan Ian dimana diketahui bahwa Ian terlibat dalam suatu insiden di Seattle yang mengakibatkan seseorang meninggal karena jatuh dari ketinggian 200 kaki demi melaksanakan tantangan Nerve.
Tak hanya itu, ibu Vee (Juliette Lewis) merasa heran dengan nominal besar yang masuk ke rekeningnya. Sydney juga merasa was was dengan Vee yang memasuki top 10 dalam Nerve selain juga merasa khawatir dengan sahabatnya.
Di tengah keasyikannya dalam permainan, Ian mendapatkan tantangan untuk mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/ jam dengan mata tertutup. Meski enggan pada akhirnya Vee setuju untuk menjadi penujuk arah bagi Ian. Pada awalnya motor melaju dengan tidak stabil dan nyaris menabrak taksi dan ranting pohon, Namun Vee mengendalikan arah motor dengan menekan tubuhnya ke arah yang dituju sehingga Ian mampu mengimbanginya. Mereka bahkan nyaris menabrak mobil saat melintasi lampu merah, menabrak taksi yang berhenti sembarangan, bahkan melintas di antara 2 mobil yang melaju cepat hingga pada akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tantangan itu.
Setelah mengakhirinya dengan baik, Ian dan Vee memutuskan untuk berjalan jalan dengan Ian di taman bermain. Disitulah Vee mengungkapkan unek uneknya terhadap Sydney dimana ia lelah menjadi teman Sydney yang bertingkah liar dan menyedihkan. Tanpa disadari apa yang diucapkan Vee disaksikan secara online oleh para penonton termasuk Sydney yang saat itu sedang berada dalam pesta bersama beberapa teman lainnya.
Sydney pun panas mendengar pernyataan Vee. Melihat tingkah Sydney yang terbakar api kekesalan, penonton pun memberi tantangan pada Sydney untuk menyebrangi apartment dengan menggunakan tangga yang di julurkan secara horizontal antara satu jendela ke jendela di seberangnya. Sydney yang phobia ketinggian pun menerima tantangan itu demi mendongkrak ratingnya di Nerve meski pada akhirnya ia menyerah dan keluar dari permainan.
Sesaat kemudian Vee datang ke pesta tersebut dengan ajakan dari Ian. Disanalah Vee dan Sydney terlibat perkelahian dimana Sydney mengatakan bahwa Vee adalah orang yang paling tertindas. Vee merasa selama pertemanan mereka, Vee selalu melakukan apa yang diinginkan Sydney. Sedangkan Sydney mengatakan bahwa mereka berteman karena ia menyenangkan dan Vee membosankan dan tidak akan pernah bisa menjadi pemain.
Kesal dengan sikap Sydney, Vee menerima tantangan yang diberikan Sydney untuk menyeberangi apartment sesuai dengan tantangan yang gagal dilakukan oleh Sydney namun ternyata berhasil dilakukan oleh Vee. Disitulah Thomas membongkar identitas Ian pada Vee dan mengatakan bahwa Ian lah yang membuat Vee dan Sydney bertengkar dengan memenuhi tantangan penonton untuk membawah Vee untuk bertengkar dengan Sydney.
Vee pun marah dengan Ian dan berusaha melaporkan Nerve kepada polisi meski sebelumnya telah dilarang oleh Ian. Polisi pun mengacuhkan laporan Vee karena permainan itu tidak mengandung perbuatan kriminal. Penonton pun melaporkan Vee sebagai seorang pengadu. Rekening Vee pun terkuras habis sebagai konsekuensi Vee karena telah menjadi pengadu.
Ibu Vee pun panik dan menelepon Vee, di tengah perjalanan Vee dihadang oleh Ty (Machine Gun Kelly) yang menonjoknnya hingga membuat Vee pingsan. Ketika Vee tersadar, ia telah berada di suatu tempat dan menyadari bahwa kini ia telah menjadi tawanan Nerve dan Nerve telah mengontrol hidupnya. Satu satunya cara untuk terbebas adalah memenangkan pertandingan.
Tak lama kemudian Vee bertemu dengan Ian yang mencarinya. Ian pun membeberkan kenyataan bahwa ia memang terlibat dalam tragedi Seattle bersama Ty. Mereka berdua pun mengadukan kejadian itu kepada polisi yan membuat mereka menjadi tawanan. Karena hal itu, hidup Ian menjadi kacau. Pekerjaan orang tuanya menjadi kacau dan foto adiknya tersebar di internet. Meski demikian, Ian membantu Vee untuk memenangkan pertandingan setelah sebelumnya ia harus bertanding melawan Ty.
Ian pun membawa Vee ke suatu tempat dimana selanjutnya ia berjumpa dengan Thomas dan Sydney. Vee pun meminta bantuan Thomas untuk meretas sistem Nerve dan Sydney untuk mengulur permainan.
Sementara Ian berhasil menggantung di tiang derek selama 5 detik dan masuk ke dalam babak final. Setelah mengambil senjata masing - masing, Ian dan Vee bertemu di suatu arena bertanding.
Di tempat lainnya, Thomas sedang mencoba meretas sistem Nerve dan Ibu Vee mengetahui bahwa Vee terlibat dalam suatu permainan.
Tantangan di babak final adalah baik Ian maupun Vee harus menembak lawan mainnya dimana pemain yang lebih dulu menembak akan menang. Meski Ian membiarkan Vee untuk menembaknya, Vee justru menembak ke arah lain yang memancing riuh penonton dan Ty untuk menyelesaikan permainan.
Ty dan Ian pun terlibat cekcok dan Vee berusaha menengahinya, Pada akhirnya Vee pun menantang Ty untuk menembaknya. Setelah menerima alamat dari Thomas, Ibu Nancy pun bertemu dengan Thomas dan menyaksikan anak perempuan satu satunya tengah berada dalam bahaya.
Melalui voting, penonton pun setuju agar Ty menembak Ty. Tanpa pikir panjang Ty pun menembak Vee yang membuatnya jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu, Thomas bersama rekannya berhasil meretas sistem dan membuat notifikasi kepada penonton bahwa mereka telah terlibat dalam suatu pembunuhan hingga akhirnya mereka keluar dari permainan.
Di saat arena pertandingan telah ditinggalkan oleh para penonton, Vee bangun dari "kematian bohongannya" dan mengatakan bahwa Ty terlibat dalam rencana untuk mengakhiri Nerve. Pada akhirnya, Ian dan Ty berjabat tangan dan menyadari bahwa mereka sudah tidak menjadi tawanan Nerve. Ketika seluruh penonton telah keluar, sistem Nerve pun rusak.
Setelah kejadian itupun, Vee melanjutkan pendidikannya di CalArt dengan persetujuan ibunya dan hubungannya dengan Ian pun semakin dekat.
Ulasan :
Dari segi cerita, Nerve mengangkat ide yang cukup brilian dengan tetap menyesuaikannya dengan perkembangan media sosial saat ini. Lagu pengiring yang dipilih pun mengasyikan, mampu membawa suasana penonton dan juga sesuai dengan tema yang diangkat.
Untuk pemainnya pun tak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Emma Roberts yang sebelumnya memerankan Jill Roberts dalam Scream 4 mampu memainkan sosok gadis introvert dengan sempurna. Sedangkan Dave Franco, setelah sukses memerankan Jack Wilder dalam Now You See Me, kali ini ia kembali berhasil memerankan sosok pria yang misterius, cool dan cukup seksi.
Sayangnya, dalam film ini tidak dijelaskan, siapa dalam dibalik Nerve. Selain itu juga tidak dijelaskan bagaimana Ty bisa tersingkir dari permainan.
Pesan yang Dapat Diambil :
- Dalam hidup kita dihadapkan dalam 2 pilihan, menjadi Pemain atau Penonton. Jika Anda hanya menjadi seorang penonton, maka Anda hanya akan menjadi sosok anonim dalam permainan kehidupan dimana tak ada seorang pun yang mengetahui identitas Anda dan tak seorang pun benar benar peduli dengan kehadiran Anda. Selain itu, dengan menjadi penonton Anda tak melakukan perubahan atau pergerakan dalam hidup Anda selain menyaksikan pemain, memiliki peluang untuk menang pun tidak. Lain hal nya dengan pemain, meskipun kalah, setidaknya semua orang pun tahu bahwa mereka pernah berjuang dan memiliki usaha untuk menang.
- Sahabat sejati adalah mereka yang akan menemani Anda dalam titik terendah dalam hidup Anda. Tak peduli sehebat apapun pertengkaran yang kalian lalui, mereka akan tetap berlari untuk membantu Anda menyelesaikan masalah.
- Kasih sayang seorang ibu takkan ada habisnya. Meski seringkali mereka mengungkapkannya dengan cara yang membuat kita merasa terkekang.
- Jujurlah pada diri sendiri dan orang lain. Jangan memendam apapun dalam diri Anda karena hanya akan menjadi beban dan bom bagi diri Anda yang dapat meledak sewaktu waktu.
Overall, dari skala 1 - 10, saya memberikan rating 9 dan merekomendasikan film ini kepada para pembaca. Ingat, jadilah pemain jika Anda ingin menjadi seorang pemenang.
Kumpulan Tips Seputar Karir 22:28 CB Blogger Indonesia
Sinopsis - Nerve (Spoiler Alert !)
Film ini bercerita tentang sosok Vee (Emma Robert), gadis introvert dan cerdas yang menerima kabar beasiswa kuliah dari CalArt. Seharusnya ini menjadi kabar bahagia untuknya, sayangnya ia justru merasa sedih karena ia mengetahui bahwa ibunya tidak akan mengizinkannya untuk pergi ke kota.
Di satu sisi, Vee adalah seorang siswa yang memiliki bakat dalam hal fotografi. Pagi itu, ia pergi untuk mengabadikan moment pertandingan basket di sekolahnya bersama sahabatnya yaitu Thomas (Miles Heizer) yang juga seorang peretas. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk memotret JP Guerrero (Brian Marc), pria yang diam diam ia taksir.
Di tengah tengah permainan, terdapat suatu atraksi yang menghebohkan. Sydney, salah satu pemandu sorak sekaligus sahabat karib Vee (Emily Meade) menunjukkan pantatnya kepada para penonton yang tentu saja membuat riuh penonton.
Rupanya hal tersebut dilakukan oleh Sydney sebagai bagian dari suatu permainan bernama Nerve. Ya, Nerve. Permainan itu sedang naik daun di kalangan remaja di Staten Island. Terdapat 2 kategori dalam Nerve, yaitu pemain dan penonton.
Penonton diharuskan untuk membayar sejumlah biaya untuk dapat menyaksikan pemain selama 24 jam dan berhak untuk menentukan tantangan bagi pemain. Sedangkan pemain diharuskan untuk menyelesaikan tantangan yang apabila berhasil maka pemain akan diberikan sejumlah hadiah berupa uang, Sebaliknya, apabila gagal pemain akan dikeluarkan dari permainan. Permainan ini akan menyisakan 2 pemain untuk melaju di final.
Saat jeda, Sydney, Vee, Thomas dan kedua teman lainnya berkumpul di kantin. Terjadi perdebatan antara Sydney dan Vee, Sydney mengatakan bahwa Vee adalah seseorang yang tidak pernah berani mengambil resiko dan keluar dari zona nyamannya terbukti dengan ia menolak tantangan dari teman temannya untuk menyapa JP. Hingga akhirnya Sydney mengatakan secara langsung kepada JP bahwa Vee menyukainya yang dibalas negatif oleh JP dengan mengatakan bahwa Vee bukan tipe nya.
Hal ini membuat Vee terpukul dan meninggalkan Sydney beserta teman temannya. Sesampainya ia di rumah, karena kesal dengan perbuatan Sydney ia pun mendaftar menjadi pemain di Nerve. Ia ingin membuktikan pada Sydney bahwa ia juga bisa menjadi pemain bukan hanya sebagai penonton.
Tantangan pertama yang harus ia lakukan adalah pergi ke Colonnade Dinner dalam 15 menit. Tantangan selanjutnya adalah ia harus mencium seorang pria yang tak ia kenal. Tantangan itu juga yang membuatnya mengenal Ian (Dave Franco), pria yang diciumnya yang ternyata juga merupakan pemain.
Melihat chemistri antara Vee dan Ian, penonton pun memberikan tantangan lainnya yaitu pergi ke kota bersama. Meski sempat dilarang oleh Thomas, Vee tetap memenuhi tantangan tersebut. Lambat laun, Vee yang tadinya hanya ingin mencoba 1 tantangan akhirnya ketagihan melihat jumlah nominal yang ditransfer ke rekeningnya.
Dimulai dari mencoba sebuah gaun. keluar dari toko tanpa busana karena bajunya dicuri, pergi ke Saint Mark's dalam 10 menit dan metato tubuhnya. Di sisi lain, Thomas mengkhawatirkan kondisi Vee yang pergi dengan Ian dimana diketahui bahwa Ian terlibat dalam suatu insiden di Seattle yang mengakibatkan seseorang meninggal karena jatuh dari ketinggian 200 kaki demi melaksanakan tantangan Nerve.
Tak hanya itu, ibu Vee (Juliette Lewis) merasa heran dengan nominal besar yang masuk ke rekeningnya. Sydney juga merasa was was dengan Vee yang memasuki top 10 dalam Nerve selain juga merasa khawatir dengan sahabatnya.
Di tengah keasyikannya dalam permainan, Ian mendapatkan tantangan untuk mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/ jam dengan mata tertutup. Meski enggan pada akhirnya Vee setuju untuk menjadi penujuk arah bagi Ian. Pada awalnya motor melaju dengan tidak stabil dan nyaris menabrak taksi dan ranting pohon, Namun Vee mengendalikan arah motor dengan menekan tubuhnya ke arah yang dituju sehingga Ian mampu mengimbanginya. Mereka bahkan nyaris menabrak mobil saat melintasi lampu merah, menabrak taksi yang berhenti sembarangan, bahkan melintas di antara 2 mobil yang melaju cepat hingga pada akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tantangan itu.
Setelah mengakhirinya dengan baik, Ian dan Vee memutuskan untuk berjalan jalan dengan Ian di taman bermain. Disitulah Vee mengungkapkan unek uneknya terhadap Sydney dimana ia lelah menjadi teman Sydney yang bertingkah liar dan menyedihkan. Tanpa disadari apa yang diucapkan Vee disaksikan secara online oleh para penonton termasuk Sydney yang saat itu sedang berada dalam pesta bersama beberapa teman lainnya.
Sydney pun panas mendengar pernyataan Vee. Melihat tingkah Sydney yang terbakar api kekesalan, penonton pun memberi tantangan pada Sydney untuk menyebrangi apartment dengan menggunakan tangga yang di julurkan secara horizontal antara satu jendela ke jendela di seberangnya. Sydney yang phobia ketinggian pun menerima tantangan itu demi mendongkrak ratingnya di Nerve meski pada akhirnya ia menyerah dan keluar dari permainan.
Sesaat kemudian Vee datang ke pesta tersebut dengan ajakan dari Ian. Disanalah Vee dan Sydney terlibat perkelahian dimana Sydney mengatakan bahwa Vee adalah orang yang paling tertindas. Vee merasa selama pertemanan mereka, Vee selalu melakukan apa yang diinginkan Sydney. Sedangkan Sydney mengatakan bahwa mereka berteman karena ia menyenangkan dan Vee membosankan dan tidak akan pernah bisa menjadi pemain.
Kesal dengan sikap Sydney, Vee menerima tantangan yang diberikan Sydney untuk menyeberangi apartment sesuai dengan tantangan yang gagal dilakukan oleh Sydney namun ternyata berhasil dilakukan oleh Vee. Disitulah Thomas membongkar identitas Ian pada Vee dan mengatakan bahwa Ian lah yang membuat Vee dan Sydney bertengkar dengan memenuhi tantangan penonton untuk membawah Vee untuk bertengkar dengan Sydney.
Vee pun marah dengan Ian dan berusaha melaporkan Nerve kepada polisi meski sebelumnya telah dilarang oleh Ian. Polisi pun mengacuhkan laporan Vee karena permainan itu tidak mengandung perbuatan kriminal. Penonton pun melaporkan Vee sebagai seorang pengadu. Rekening Vee pun terkuras habis sebagai konsekuensi Vee karena telah menjadi pengadu.
Ibu Vee pun panik dan menelepon Vee, di tengah perjalanan Vee dihadang oleh Ty (Machine Gun Kelly) yang menonjoknnya hingga membuat Vee pingsan. Ketika Vee tersadar, ia telah berada di suatu tempat dan menyadari bahwa kini ia telah menjadi tawanan Nerve dan Nerve telah mengontrol hidupnya. Satu satunya cara untuk terbebas adalah memenangkan pertandingan.
Tak lama kemudian Vee bertemu dengan Ian yang mencarinya. Ian pun membeberkan kenyataan bahwa ia memang terlibat dalam tragedi Seattle bersama Ty. Mereka berdua pun mengadukan kejadian itu kepada polisi yan membuat mereka menjadi tawanan. Karena hal itu, hidup Ian menjadi kacau. Pekerjaan orang tuanya menjadi kacau dan foto adiknya tersebar di internet. Meski demikian, Ian membantu Vee untuk memenangkan pertandingan setelah sebelumnya ia harus bertanding melawan Ty.
Ian pun membawa Vee ke suatu tempat dimana selanjutnya ia berjumpa dengan Thomas dan Sydney. Vee pun meminta bantuan Thomas untuk meretas sistem Nerve dan Sydney untuk mengulur permainan.
Sementara Ian berhasil menggantung di tiang derek selama 5 detik dan masuk ke dalam babak final. Setelah mengambil senjata masing - masing, Ian dan Vee bertemu di suatu arena bertanding.
Di tempat lainnya, Thomas sedang mencoba meretas sistem Nerve dan Ibu Vee mengetahui bahwa Vee terlibat dalam suatu permainan.
Tantangan di babak final adalah baik Ian maupun Vee harus menembak lawan mainnya dimana pemain yang lebih dulu menembak akan menang. Meski Ian membiarkan Vee untuk menembaknya, Vee justru menembak ke arah lain yang memancing riuh penonton dan Ty untuk menyelesaikan permainan.
Ty dan Ian pun terlibat cekcok dan Vee berusaha menengahinya, Pada akhirnya Vee pun menantang Ty untuk menembaknya. Setelah menerima alamat dari Thomas, Ibu Nancy pun bertemu dengan Thomas dan menyaksikan anak perempuan satu satunya tengah berada dalam bahaya.
Melalui voting, penonton pun setuju agar Ty menembak Ty. Tanpa pikir panjang Ty pun menembak Vee yang membuatnya jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu, Thomas bersama rekannya berhasil meretas sistem dan membuat notifikasi kepada penonton bahwa mereka telah terlibat dalam suatu pembunuhan hingga akhirnya mereka keluar dari permainan.
Di saat arena pertandingan telah ditinggalkan oleh para penonton, Vee bangun dari "kematian bohongannya" dan mengatakan bahwa Ty terlibat dalam rencana untuk mengakhiri Nerve. Pada akhirnya, Ian dan Ty berjabat tangan dan menyadari bahwa mereka sudah tidak menjadi tawanan Nerve. Ketika seluruh penonton telah keluar, sistem Nerve pun rusak.
Setelah kejadian itupun, Vee melanjutkan pendidikannya di CalArt dengan persetujuan ibunya dan hubungannya dengan Ian pun semakin dekat.
Ulasan :
Dari segi cerita, Nerve mengangkat ide yang cukup brilian dengan tetap menyesuaikannya dengan perkembangan media sosial saat ini. Lagu pengiring yang dipilih pun mengasyikan, mampu membawa suasana penonton dan juga sesuai dengan tema yang diangkat.
Untuk pemainnya pun tak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Emma Roberts yang sebelumnya memerankan Jill Roberts dalam Scream 4 mampu memainkan sosok gadis introvert dengan sempurna. Sedangkan Dave Franco, setelah sukses memerankan Jack Wilder dalam Now You See Me, kali ini ia kembali berhasil memerankan sosok pria yang misterius, cool dan cukup seksi.
Sayangnya, dalam film ini tidak dijelaskan, siapa dalam dibalik Nerve. Selain itu juga tidak dijelaskan bagaimana Ty bisa tersingkir dari permainan.
Pesan yang Dapat Diambil :
- Dalam hidup kita dihadapkan dalam 2 pilihan, menjadi Pemain atau Penonton. Jika Anda hanya menjadi seorang penonton, maka Anda hanya akan menjadi sosok anonim dalam permainan kehidupan dimana tak ada seorang pun yang mengetahui identitas Anda dan tak seorang pun benar benar peduli dengan kehadiran Anda. Selain itu, dengan menjadi penonton Anda tak melakukan perubahan atau pergerakan dalam hidup Anda selain menyaksikan pemain, memiliki peluang untuk menang pun tidak. Lain hal nya dengan pemain, meskipun kalah, setidaknya semua orang pun tahu bahwa mereka pernah berjuang dan memiliki usaha untuk menang.
- Sahabat sejati adalah mereka yang akan menemani Anda dalam titik terendah dalam hidup Anda. Tak peduli sehebat apapun pertengkaran yang kalian lalui, mereka akan tetap berlari untuk membantu Anda menyelesaikan masalah.
- Kasih sayang seorang ibu takkan ada habisnya. Meski seringkali mereka mengungkapkannya dengan cara yang membuat kita merasa terkekang.
- Jujurlah pada diri sendiri dan orang lain. Jangan memendam apapun dalam diri Anda karena hanya akan menjadi beban dan bom bagi diri Anda yang dapat meledak sewaktu waktu.
Overall, dari skala 1 - 10, saya memberikan rating 9 dan merekomendasikan film ini kepada para pembaca. Ingat, jadilah pemain jika Anda ingin menjadi seorang pemenang.























