Exam (2009) : Alasan Lain Mengapa Anda Belum Diterima Kerja


Dari sekian banyak hal yang kita miliki, memiliki pekerjaan adalah salah satu hal yang patut disyukuri. Namun kini, membutuhkan sumber pencaharian tidak lagi menjadi satu satunya alasan untuk bertahan dalam satu pekerjaan. Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan pengembangan diri, keinginan untuk mendapatkan lingkungan kerja yang nyaman menjadi faktor lain yang mulai menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih pekerjaan. Karenyanya, kita semakin selektif dalam memilih pekerjaan agar kelak tidak hanya kebutuhan materiil yang terpenuhi melainkan juga kebutuhan batin.

Sayangnya, adanya persaingan dengan ratusan pelamar kerja lainnya dan proses seleksi perusahaan yang semakin ketat membuat proses mendapatkan pekerjaan menjadi tidak mudah. Tidak jarang, hal ini cukup membebani para pencari kerja, tidak hanya bagi fresh graduate melainkan juga pekerja yang telah memiliki pengalaman. Padahal sudah mengirimkan puluhan lamaran dan sudah menghadiri belasan proses seleksi, masih juga tak kunjung mendapatkan pekerjaan.


Betapa kerasnya proses mendapatkan pekerjaan digambarkan dengan cukup apik dalam film yang disutradarai oleh Stuart Hazeldine yang berjudul “Exam” pada tahun 2009. Film ini menceritakan 8 orang yang tengah mengikuti proses ujian di sebuah perusahaan yang cukup ternama. Proses ujian menjadi begitu menegangkan karena mereka diminta untuk menjawab soal yang tidak tertulis di kertas ujian mereka.



Sebagian besar film ini menceritakan apa yang mereka lakukan untuk menyelesaikan ujian tersebut selama 80 menit. Dalam film ini, dikisahkan bahwa mereka tidak mengetahui secara persis posisi apa yang mereka lamar dan tugas apa yang perlu mereka kerjakan. Mereka bersedia mengikuti proses rekrutmen dengan berbekal pengetahuan mereka mengenai latar belakang perusahaan tersebut.

Satu per satu para kandidat tersebut gugur dalam ujian karena melanggar peraturan yang telah ditentukan  hingga tersisa satu kandidat wanita yang dinyatakan “lulus” ujian oleh pengawas. Hampir di sepanjang ujian, kandidat tersebut (dijuluki Blonde) bersikap lebih pasif dibanding kandidat lainnya. Ia lebih banyak diam dan mendengarkan ketika kandidat lainnya sibuk mencari cara untuk menemukan isi soal. Meski demikian, kandidat tersebutlah yang akhirnya berhasil mendapatkan offering dari perusahaan tersebut.

Di akhir film diceritakan alasan mengapa kandidat tersebut dipilih. Rupanya sikap bijak, keinginan untuk mendengar, kepedulian terhadap orang lain dan ketelitian dalam dirinya merupakan hal yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut saat itu.

Lantas, apakah 7 kandidat lainnya tidak layak dipekerjakan ? Tentu saja tidak. Mereka telah melewati rangkaian tes yang cukup ketat untuk sampai pada tahap ujian tersebut sehingga dapat dipastikan bahwa mereka memiliki tingkat intelegensi yang tidak perlu diragukan.

Kandidat yang dijuluki “Cina” merupakan kandidat yang pertama kali didiskualifikasi dalam ujian tersebut. Ia menuliskan beberapa kalimat dalam lembar ujian yang membuatnya tersingkir dari ujian tersebut. Tidak diketahui pasti bagaimana karakter dari “Cina”, namun ia adalah kandidat pertama yang berinisiatif melakukan sesuatu.

Kandidat yang cukup mendominasi film ini dijuluki “White” yang menggerakkan kandidat lainnya untuk bekerja sama menemukan isi soal. Meski ia memiliki karakter yang cukup menyebalkan, ia cukup handal dalam menggerakkan orang lain untuk mencapai satu tujuan melalui instruksinya. Kemampuan seperti ini sangat dibutuhkan dalam bekerja terlebih ketika kita dihadapkan untuk memimpin sebuah tim dalam sebuah proyek.

Dark dan Black sendiri digambarkan sebagai kandidat yang cukup menguasai suatu hal meski film ini tidak menceritakan pengalaman kerja mereka. Black handal dalam ilmu kimia sedangkan Dark menguasai ilmu psikologi. Kemampuan teknis ini tentu dibutuhkan dalam melakukan suatu pekerjaan.

Sedangkan Deaf yang sejak awal digambarkan sebagai sosok autis ternyata merupakan pendiri dari perusahaan tersebut. Meski memiliki kendala dalam berkomunikasi dengan orang lain, nyatanya Deaf memiliki kecerdasan untuk menciptakan suatu hal yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, Deaf membutuhkan sosok seperti Blonde yang dapat menutupi kekurangannya dan dapat dipercayai untuk bersama sama menjalankan bisnis tersebut.


Film ini memiliki banyak kesan moral yang dapat diambil. Namun satu hal yang cukup menarik perhatian saya bahwa setiap perusahaan memiliki kriteria tersendiri dalam proses rekrutmen yang bisa jadi tidak sama dengan kriteria yang ditentukan oleh perusahaan lain untuk posisi yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh budaya perusahaan, situasi persaingan bisnis, dan kondisi internal perusahaan lainnya.

7 kandidat lain yang tersingkir tidaklah kandidat yang tidak kompeten, hanya saja mereka bukanlah kandidat yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Bisa jadi mereka akan berhasil mendapatkan pekerjaan yang sama baiknya di perusahaan lain atau mungkin Blonde akan mengalami kegagalan dalam proses rekrutmen di perusahaan lain.

Oleh karena itu, bagi Anda yang saat ini tengah menghadapi kesulitan dalam mencari kerja, yakinilah satu hal bahwa Anda istimewa dan Anda layak. Ketika Anda mengalami kegagalan dalam proses rekrutmen di suatu tempat sedangkan Anda yakin telah memenuhi berbagai kriteria yang ditentukan, yakinlah bahwa pekerjaan tersebut adalah rezeki milik orang lain dan Tuhan telah memilihkan pekerjaan yang lebih baik untuk Anda.

Sama seperti jodoh, Tuhan memberikan jodoh “terbaik” bukan “tercepat”. Tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dari diri Anda, tetaplah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, dan tetaplah yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Anda.

Legally Blonde, Kisah Gadis Pirang Yang Memenangkan Mimpinya

Postingan saya kali ini akan membahas tentang kisah Reese Witherspoon dalam film Legally Blonde yang sempat populer di awal tahun 2000-an. Tentu saja sebagian dari Anda mungkin telah menyaksikan film ini sehingga saya tidak perlu menceritakan kembali mengenai kisah yang cukup ringan namun berkesan ini.

Satu hal yang saya ingat dari film ini adalah kisah seorang gadis pirang yang berani memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Ide cerita yang saya rasa sangat sederhana namun cukup memotivasi. Yah, seberapa banyak Elle Woods di dunia ini yang berani memperjuangkan mimpinya ?

Elle memang digambarkan sebagai sosialita yang seringkali dinilai tidak pernah serius. Dalam kehidupan nyata, sosok Elle yang heboh sendiri memang seringkali menjengkelkan. Namun dibalik sosok Elle yang sangat feminim, ada banyak hal lain dari dirinya yang seringkali kita lupakan selama ini.

Pekerja Keras

Awal mula Elle terjun dalam dunia hukum adalah ketika ia mengikuti mantan kekasihnya yang berkuliah di fakultas hukum. Di setiap sekuel Anda menyaksikan bagaimana kerasnya Elle dalam belajar agar lulus tes Harvard, bagaimana Elle mengimbangi waktunya pergi ke salon dengan tetap belajar dan sekian usaha keras Elle lainnya.

Bagi Elle yang memiliki tekad untuk berkuliah di Harvard dan tidak lagi dianggap remeh oleh mantan kekasihnya, segala kerja kerasnya bukanlah hal yang harus dipikir berulang kali untuk dilakukan. Elle tidak hanya memiliki mimpi, namun juga berhasil terbangun dari mimpinya dan mewujudkannya. 

Lalu, sebagian dari kita masih sibuk dengan angan angan kita untuk kelak menjadi dokter, kelak pergi ke negeri sakura dan lainnya tanpa pernah melakukan apapun. Seringkali mimpi benar benar berada 5 cm di depan kita, sangat dekat dan mudah diingat namun tak pernah kita genggam. Seringkali kita sibuk dalam berbagai pertimbangan karena takut gagal dan pada akhirnya tidak kemana mana. Nyatanya perencanaan memang penting, namun melakukan satu tindakan akan membawa Anda ke level yang lebih tinggi menuju mimpi Anda. 

Jadi, apa yang sudah Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi Anda ?

Tetap Menjadi Dirinya Sendiri

Elle merupakan salah satu anggota kelompok sosialita bernama Delta Nu yang seringkali diulas dalam film ini. Meski memiliki teman teman yang cukup setia di komunitasnya, nyatanya Elle kesulitan mendapatkan teman di lingkungan kampus dan kantornya akibat sikapnya yang terlalu girly.

Meski demikian, Elle tetap mempertahankan dirinya yang selalu bersahabat hingga ia mendapatkan beberapa kenalan yang kemudian menjadi teman baiknya dan selalu ada untuk membantunya. Namun meski ia selalu terlihat ramah, Elle tak pernah ragu menyalurkan emosinya ketika ia kesal tanpa berpikir bagaimana jika mereka membencinya. 

Berulang kali saya berpikir mengapa Elle berani bersikap begitu frontal dan emosional, namun nyatanya, Elle hanya berusaha menjadi dirinya sendiri dan ia begitu menghargai dirinya. Jika dipikir kembali, berapa banyak dari kita yang berusaha menahan amarah kita ketika dihina orang lain hanya agar kita tidak dibenci. Berapa banyak dari kita yang enggan bertanya hanya karena takut diacuhkan. Dan Elle mengajarkan kita satu hal, untuk tetap menjadi diri kita sendiri tanpa takut dikritisi orang lain, tanpa terkurung dalam pandangan orang lain karena nyatanya kita tidak dapat disukai semua orang. 

Meyakini Dirinya dan Mimpinya

Berulang kali Elle mendapatkan penolakan dalam proses pengajuan RUU Bruiser yang dianggap tidak penting. Terpukul, tentu saja Elle merasakan emosi semacam itu. Namun nyatanya Elle tetap kembali melanjutkan keinginannya. Meski bagi sebagian orang keberadaan hewan tidak begitu penting, namun Bruiser begitu penting bagi Elle dan Elle tidak peduli dengan hinaan banyak orang tentang mimpinya karena baginya anjing kesayangannya patut diperjuangkan. 

Lalu, berapa banyak dari kita yang akhirnya menghentikan mimpi kita hanya karena orang lain menganggap mimpi kita mustahil. Kita seringkali tidak berani memperjuangkan apa yang kita inginkan dan akhirnya kita hanya menjalani kehidupan yang mungkin biasa biasa saja. Seringkali kita tenggelam dalam rutinitas dan tak pernah memikirkan mimpi kita. Dalam film ini setidaknya Elle mengingatkan kita untuk tetap melanjutkan mimpi kita tanpa peduli hinaan dari orang lain yang bahkan tidak memahami alasan kita. 



Elle dikenal begitu potensial bukan karena ia terlahir cerdas, namun karena ia memiliki semangat untuk meraih apa yang ia inginkan. Di awal film bahkan ia seringkali dinilai bodoh, dan nyatanya ia memang pada awalnya sama sekali tidak memahami dunia hukum. Dan di akhir film Anda akan menyadari bahwa ternyata kegigihan adalah penyelamat kita meski kita tidak memiliki apapun. 

Elle, dengan segala kelebihannya dan kekurangannya sebagai seorang Influencer meyakini mimpinya dan dalam mimpinya ia sama sekali tidak berharap menjadi orang lain selain dirinya. Elle, dengan hobinya mempercantik diri tetap percaya ia cantik dengan rambut pirangnya bukan dengan warna lain. Elle, dengan segala kebodohannya dan juga segala ambisinya mengajarkan kita satu hal, bahwa diri dan mimpi kita adalah hal yang patut diperjuangkan dibanding opini orang lain terhadap kita. 


The Intern, Pentingnya Seseorang untuk Berbagi

Berbagi, adalah satu hal simpel namun seringkali diabaikan. Mungkin terdengar sederhana, hanya menceritakan apa yang kita rasakan kepada orang lain. Namun nyatanya, berbagi tidak semata mata hanya bercerita. Sesuai namanya, berbagi adalah bagaimana kita membagi perasaan kita kepada orang lain agar mereka ikut merasakannya.

Pertanyaan selanjutnya, adalah kepada siapa kita akan berbagi ? Terutama dalam dunia kerja, dinding pun bertelinga. Seseorang yang kita ajak berbagi tentu adalah orang yang dapat kita percaya. Lalu pertanyaan terakhir, apa yang perlu kita bagi kepada orang lain ? Ini pun tidaklah mudah. Seringkali kita terlibat konflik dengan diri kita tentang harus berbagi kepada orang lain atau hanya memendam emosi kita.



Pentingnya berbagi adalah satu hal yang saya tangkap dari The Intern yang dibintangi dengan apik oleh Anne Hathaway dan Robert Deniro. Ben (Robert Deniro) adalah seorang pria yang tengah memasuki masa pensiun dan tengah dilanda kebosanan dengan rutinitasnya yang tidak membuatnya merasa dibutuhkan. Oleh karena itu, ia melamar menjadi seorang senior magang di perusahaan fashion yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anne Hathaway).

Jules adalah seorang wanita karir yang dikarenakan kesibukannya membuat ia melakukan pekerjaannya dengan tidak terorganisir. Akibatnya, Becky (Christina Scherer) sang asisten juga ikut dibuat pusing hingga harus pulang jam 11 malam dan kembali bekerja jam 7 pagi keesokan harinya. Jules merasa baik baik saja dengan ritme kerjanya yang cepat, tidak terstruktur, cenderung membuat orang lain kewalahan, dan dapat terselesaikan.

Sedangkan Ben, yang tengah mengikuti program magang ditempatkan di bawah koordinasi Jules, sang owner yang super sibuk. Dan disinilah kisah mereka dimulai.

Seseorang untuk Berbagi

Dalam film, Jules digambarkan sebagai sosok yang cuek bahkan kepada orang tuanya sendiri. Meski selama di kantor ia berusaha terlihat baik baik saja, nyatanya Jules menyimpan banyak masalah. Suaminya yang berselingkuh dan tuntutan untuk mencari CEO yang lebih berpengalaman darinya untuk ditempatkan sebagai atasannya. 

Awal mulanya, Jules hanya menganggap Ben sebagai pria pensiunan yang tidak perlu diberikan banyak pekerjaan. Jules bahkan merasa terganggu dengan sifat Ben yang menurutnya terlalu perhatian. Namun itulah Ben, penuh inisiatif, disukai semua orang, bersahabat, bijaksana dan tulus. Dalam hal ini Anda dapat menyaksikan adegan dimana Ben menolak untuk pulang dikarenakan Jules, atasannya, belum beranjak pulang. 

Dalam banyak kesempatan, ditunjukkan sisi Ben yang sangat menghormati Jules sebagai atasannya meski usianya jauh di bawahnya. Ben membelikan sup untuk makan siang Jules tanpa diminta, karena Jules sering melewatkan waktu makan siangnya. Meminta supir Jules yang tengah mabuk untuk tidak mengemudi sehingga ia menggantikan supir Jules. 

Meski mulanya merasa terganggu, Jules lama kelamaan menyadari ketulusan hati Ben. Menurut Jules, Ben memiliki sisi dimana ia mampu membuat orang lain merasa lebih tenang. Itulah mengapa Jules mulai berani menceritakan permasalahannya, termasuk kekhawatirannya tentang perselingkuhan suaminya. 

Apakah Ben menggurui Jules ? Yang saya tangkap adalah tidak, yang dilakukan Ben hanyalah mendengarkan dan memberikan tanggapan yang entah mengapa menenangkan tanpa terkesan menggurui. 

Dan begitulah kedekatan Ben dan Jules bermula. Dimana bagi Jules, Ben adalah sahabatnya. Orang lain yang ia percaya untuk berbagi segala kisah hidupnya. Menjadi terbuka itu sulit, begitu pula bagi Jules yang sangat menghargai privasinya. Jules, dan kita seringkali sibuk mencari mana orang yang tulus kepada kita untuk akhirnya kita jadikan sandaran hidup.

Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Jules jika pada akhirnya ia bersikeras memindahkan Ben ke departemen lain. Nyatanya, berbagi mampu meringankan beban di hati. Dan berbagi membuat kita sadar bahwa kita tidak sendiri, ada orang lain yang dengan tulus selalu ada di samping kita. 

Trust Yourself

Setelah berulang kali menemui calon atasan yang akan ia rekrut, Jules menetapkan keputusannya untuk tidak merekrut CEO sebagai atasannya. Alasannya sederhana, karena secara pribadi ia tidak menginginkannya. Jules memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa ia mampu memimpin perusahaannya, "About the Fit" untuk mencapai kesuksesan. Hanya demi rumah tangganya yang hampir hancur akibat kesibukannya, Jules mempertimbangkan untuk merekrut CEO baru. 

Pada akhirnya Jules tersadarkan bahwa ia mempercayai dirinya lebih dari ia mempercayai siapapun bahwa ia mampu memimpin perusahaan yang ia bangun. Tak peduli apa yang dikatakan Cameron (Andrew Ranells) yang awalnya memintanya untuk mempertimbangkan CEO baru, Jules tetap yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukannya sendiri. 

Tim : Saling Mengisi dan Menerima

Film ini juga menampilkan kehidupan Jules sebagai ibu dan istri yang super sibuk sehingga urusan rumah tangga ia serahkan kepada suaminya, Matt (Anders Holm). Meski sempat mengkhianati Jules, pada akhirnya Matt kembali pada Jules dan memahami apa yang membuat wanita yang telah memberikannya 1 putri bahagia. 

Menyesali kesalahannya, Matt meminta Jules untuk melakukan apa yang menurutnya membuatnya bahagia. Sebagai Matt, apakah keputusan itu mudah dibuat ? Jawabannya tidak. Sama seperti ketika Matt melepaskan pekerjaannya saat Jules memulai usahanya. 

Nyatanya, pernikahan Jules dan Matt bukanlah pernikahan suci tanpa bumbu pengkhianatan. Namun melihat apa yang telah dikorbankan Matt demi rumah tangga mereka, kita dapat memahami bahwa dalam tim dibutuhkan saling mengisi dan menerima satu sama lain. Memang bukan hal yang mudah. Namun ketika kita mampu mengisi dan menerima rekan satu tim kita, maka proses mencapai suatu tujuan tidaklah lagi melelahkan karena dijalani bersama. 

The Intern mampu menampilkan berbagai sisi kehidupan Jules dengan apik. Meski klimaks tidak terlalu terlihat nyata, namun film ini menyadarkan diri kita tentang banyak hal terutama interaksi kita dengan diri sendiri dan orang lain. 

Seperti hubungan yang terjalin antara Ben dan Jules, sudahkah Anda menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi ? Sekuat kuatnya Anda, secerdas cerdasnya Anda, nyatanya Anda bukanlah superman yang memiliki kekuatan super untuk melakukan segala hal seorang diri. Anda juga bukanlah benda mati yang tidak memiliki emosi. Disinilah fungsi orang terdekat, orang yang paling Anda percayai, tidak hanya menemani saat Anda bahagia namun juga menguatkan Anda ketika Anda terjatuh. 

Up In The Air - Tidak Semua Beban Harus Dibawa

Saya mungkin merupakan orang ke sekian yang menulis mengenai film yang dirilis tahun 2009 ini. Film ini mengisahkan seorang pria yang menghabiskan hampir sepanjang waktunya di pesawat untuk melakukan perjalanan dinas dengan pekerjaannya yang unik yaitu memecat orang.

George Clooney didapuk sebagai pemeran utama dalam film ini dan memerankan Ryan Bingham, seorang pria yang sangat menikmati pekerjaannya dan nyaris tidak memiliki waktu untuk keluarganya. Seringkali Ryan mengisi sebuah seminar motivasi yang berjudul "What's in Your Backpack" yang menekankan bahwa kita tak seharusnya membawa beban yang membuat kita sulit melangkah ke depan. 




Meski mulanya Ryan tidak menginginkan pernikahan, pandangannya berubah sejak mengenal Alex Goran (Vera Farmiga) yang ia kenal saat melakukan perjalanan. Dimulai dari pertemuan yang cukup intens, Ryan mulai menyadari bahwa Alex adalah bagian dari kehidupan nyatanya. Mirisnya, hal ini tidak sejalan dengan Alex yang menganggap Ryan hanyalah sebuah jeda dan pelarian.

Film ini tidak hanya mengisahkan tentang kehidupan pribadi Ryan atau kisahnya dengan Alex. Dalam film ini Anda akan mengetahui bahwa dipecat dan memecat adalah suatu hal yang sulit. Itulah mengapa banyak pimpinan perusahaan yang menggunakan jasa perusahaan tempat Ryan bekerja untuk memecat karyawannya.

Dalam film ini Anda juga akan mengenal Natalie Kenner (Anna Kendrick), wanita muda yang ambisius dalam mengejar karirnya. Ia mencanangkan sebuah program dimana proses pemecatan dapat dilakukan melalui video call sehingga biaya perjalanan dinas dapat diminimalisir.

Dengan beberapa pertimbangan, Natalie ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas bersama Ryan dan menyaksikan bagaimana Ryan melakukan pekerjaannya yang sebagian besar mampu membuat orang yang ia pecat melihat secercah harapan dibalik berita buruk yang mereka terima.

Saya tidak akan menceritakan tentang bagaimana alur cerita dari film ini yang tentunya sudah dibahas lebih dulu. Dibanding itu, saya lebih tertarik membagikan apa yang saya peroleh dari film ini yang bagi saya pribadi cukup mengandung banyak pesan positif.

What's in your Backpack

I want you to stuff it all into that backpack. Now try to walk. It's kind of hard, isn't it? This is what we do to ourselves on a daily basis. We weigh ourselves down until we can't even move. 

Kalimat di atas adalah kalimat yang saya kutip dari sesi motivasi yang diberikan Ryan dalam film tersebut. Ya, tanpa disadari kita seringkali membebani diri kita dengan berbagai hal yang membuat kita lelah sendiri. Tidak hanya dengan apa yang kita hadapi saat ini, kita bahkan membebani diri kita dengan rasa bersalah dari masa lalu atau bahkan hal yang belum pasti di masa depan. 

Akhirnya pikiran kita dipenuhi dengan berbagai rasa cemas yang tidak hanya menggerogoti pikiran kita melainkan juga fisik kita. Sesuai saran Ryan, bagaimana kalau kita tinggalkan saja rasa bersalah kita dari masa lalu. Lalu kita buang juga hal yang belum pasti yang akan terjadi di masa depan. Fokus saja dengan apa yang terjadi hari ini, beban Anda lebih ringan bukan ?

Semua Pekerjaan Memiliki Nilai

Ryan Bingham: Natalie, what is it you think we do here?
Natalie Keener: We prepare the newly unemployed for the emotional and physical hurdles of job hunting, while minimizing legal blow-back.
Ryan Bingham: That's what we're selling. It's not what we're doing.
Natalie Keener: Okay, what are we doing?
Ryan Bingham: We are here to make limbo tolerable, to ferry wounded souls across the river of dread until the point were hope is dimly visible. And then stop the boat, shove them in the water and make them swim.

Kutipan di atas adalah salah satu ucapan yang dikatakan oleh Ryan kepada Natalie saat mereka tengah melakukan perjalanan di pesawat. Bagi Ryan, pekerjaannya bukanlah memecat orang, melainkan membantu orang lain untuk tetap melanjutkan hidupnya meski mereka telah kehilangan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Ryan berpikiran bahwa pekerjaannya tidak sekedar hanya dapat dilakukan melalui video call untuk sekedar mengatakan bahwa "Anda dipecat".

Begitu juga dengan apa yang kita kerjakan saat ini. Entah apapun pekerjaan Anda, pekerjaan Anda memiliki nilai lebih dibanding sekedar apa yang Anda kerjakan. Dengan memahami nilai dari apa yang kita kerjakan, kita akan lebih memahami mengapa pekerjaan yang kita lakukan penting dan apa efeknya jika pekerjaan ini tidak kita lakukan.

Bayangkan jika Anda tidak memahami nilai dari pekerjaan Anda. Mungkin Anda akan biasa saja dalam menjalankan pekerjaan Anda, begitu juga jika tidak menjalankannya. Bukankah dengan memahami nilai dari apa yang Anda kerjakan membuat Anda lebih bersemangat ?

Help Yourself

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Itulah yang ditekankan Ryan kepada para karyawan yang ia pecat. Ia selalu mengatakan bahwa kegagalan yang mereka alami adalah wajar dan bahkan orang sukses pun pernah berada di posisi mereka. Dalam film ini diceritakan bahwa salah satu karyawan yang Ryan dan Natalie pecat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan loncat dari sebuah jembatan, memang menjadi depresi di saat kehilangan pekerjaan adalah hal yang mungkin terjadi. 

Namun nyatanya, banyak juga orang yang mampu melewati masa masa sulit dengan tetap menunjukkan sisi terbaiknya. Seperti kata Ryan, kegagalan bukanlah akhir bahkan bisa jadi menjadi sebuah awal dari kesuksesan kita yang tidak kita sadari. Kegagalan akan benar benar menjadi sebuah kegagalan jika Anda tak mampu mengambil pelajaran darinya.

Berhasil tidaknya kita dalam melewati sebuah kegagalan bergantung pada kemampuan diri kita. Meskipun ada banyak orang yang memberikan motivasi semua tidak akan berhasil jika kita tidak berkeinginan untuk menolong diri kita sendiri. Sama seperti soundtrack dari film ini yang menekankan diri kita untuk menolong diri kita sendiri sebelum kita menolong orang lain. 

Jangan Lupakan Keluarga

Dalam film ini diceritakan bahwa Ryan jarang menghabiskan waktunya dengan keluarga hingga ia mengatakan bahwa pesawat adalah rumahnya. Ketika di usianya yang tak lagi muda ia jatuh cinta pada Alex dan terlambat menyadari bahwa Alex telah memiliki keluarga. 

Jika film ini dimulai dengan berbagai cuplikan tentang bagaimana emosi seseorang ketika dipecat, film ini juga ditutup dengan berbagai cuplikan tentang bagaimana karyawan yang dipecat bangkit dari keterpurukannya. 

Ketika melihat keluarga, aku melihat adanya tujuan. Itu adalah salah satu kalimat yang saya ingat dari cuplikan tersebut. Film ini mengingatkan bahwa keluarga tetap merupakan hal terpenting yang membuat kita tetap bersemangat menjalani hidup. 

Film ini juga mengingatkan kita untuk tidak terlalu sibuk dan larut dalam pekerjaan hingga mengabaikan keluarga. Kita dapat melihatnya pada Ryan, yang karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya ia menomorduakan keluarganya dan pada akhirnya ia menyadari bahwa tanpa adanya keluarga ia merasa kosong. 

Film ini sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang ingin menyaksikan film ringan namun berbobot. Tidak hanya menyadarkan kita arti keluarga, film ini juga mengingatkan kita pada sesi motivasi dari Mr. Empty Backpack (nama julukan Ryan) yang mengatakan bahwa kita tidak perlu membawa semua beban yang akhirnya justru menyulitkan kita untuk melangkah ke depan. 

Rekomendasi Film Menyentuh Hati

Menonton film adalah salah satu aktifitas yang sering kita lakukan di kala senggang. Dengan menonton film, selain kita dapat merasa rileks sejenak, kita juga mendapatkan pelajaran moril dari cerita yang disampaikan. Genre film yang ditonton setiap orang pun berbeda beda sesuai selera, entah horor, thriller, action, komedi atau drama.

Bagi Anda yang menyukai film bergenre drama, berikut rekomendasi film yang akan membuat Anda terbawa suasana. Entah setelah menontonnya Anda akan merasa kesal, sedih, atau ikut merasa sakit hati, namun film berikut menampilkan alur cerita yang cukup mengaduk aduk perasaan penonton.

You're the apple of my eyes



Film ini menceritakan kisah cinta monyet antara dua siswa SMU, Ko Teng (Ko Chen Tung) yang bandel dan Shen Chia Yi (Michelle Chen) yang merupakan siswi terpandai di sekolahnya. Shen Chia Yi jatuh cinta pada tingkah konyol Ko Teng begitupun Ko Teng yang berubah menjadi lebih baik berkat Shen Chia Yi. 

Ko Teng telah berkali kali mengungkapkan perasaannya pada Shen Chia Yi, namun ia tak memberikan kesempatan pada Shen Chia Yi untuk mengutarakan perasaannya hingga akhirnya Shen Chia Yi memilih lelaki lain untuk menjadi pendamping hidupnya. 

Hingga akhir cerita, dikisahkan bahwa Ko Teng tak pernah menyukai wanita lain selain Shen Chia Yi, baginya Shen Chia Yi adalah satu satunya wanita di hidupnya. Namun ia pun tak dapat memungkiri perasaan bahagianya ketika melihat wanita pujaan hatinya melangkah menuju pelaminan bersama lelaki pilihannya. 

Dalam film ini diceritakan betapa indahnya cinta pertama yang begitu membekas di hati Ko Teng, namun dari film ini kita dapat memetik pelajaran, apabila kita menginginkan sesuatu maka kejarlah itu. Begitupun ketika kita menyukai seseorang, lakukan apapun agar ia merasa yakin pada perasaan Anda. Bagaimanapun juga, seorang wanita membutuhkan lelaki yang selalu ada bukan hanya selalu cinta. 

500 days of Summer



Film drama ini mengisahkan cinta lokasi antara seorang penulis kartu nama yang berbakat, Tom Hansen (Joseph Gordon Levit) dan seorang sekretaris memikat yaitu Summer (Zooey Deschanel). Digambarkan bahwa Summer adalah sosok wanita yang menarik, tidak hanya dari sisi kecerdasan namun juga kepribadian. Pesona Summer ini juga memikat Tom untuk jatuh cinta padanya. 

Sayangnya, Summer adalah wanita bebas yang tidak ingin terikat dalam sebuah hubungan. Dan demi tetap bersama Summer, Tom rela menjalin hubungan tanpa status. Ia memberikan seluruh hatinya hanya pada Summer, dan baginya orang itu harus Summer dan hanya Summer yang dapat membuatnya merasa bahagia. 

Kendati Summer telah memutuskan untuk tidak menjalin "hubungan dekat" dengan Tom, Tom tetap mengharapkan Summer untuk menjadi miliknya. Namun semua harapan itu pupus ketika mengetahui Summer akan menikah dengan pria lain, ketika Summer melakukan sesuatu hal yang sangat tidak ia inginkan. 

Anda akan mengerti betapa pahitnya berharap pada seseorang, dan betapa mudahnya orang lain mengecewakan Anda. Tom digambarkan sebagai sosok pria melankolis yang sangat setia pada Summer tak peduli apa yang ia lakukan. Sedangkan Summer digambarkan sebagai sosok wanita yang mampu membuat Tom merasa bahagia tanpa harus melakukan apapun meski cenderung egois. 

Perasaan Anda adalah sesuatu hal yang berharga. Film ini mengajarkan kita untuk bertindak tegas dalam menjalin sebuah hubungan. Pengorbanan dalam sebuah hubungan adalah hal yang wajar, namun akan sangat sakit jika pasangan Anda tidak menghargainya. Dan jatuh cinta pun bukanlah hal yang mudah bagi beberapa orang, akan lebih baik jika Anda tidak membuat orang lain berharap banyak. Film ini mengajarkan bahwa cinta dan sakit hati adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan, berani mencintai maka Anda harus berani sakit hati. 

Surga yang tak dirindukan 2



Mengangkat tema pernikahan poligami, film ini menceritakan betapa besarnya rasa cinta Pras (Fedi Nuril) terhadap istrinya, Arini (Laudya Chintya Bella) dan juga rasa penyesalannya karena telah menikahi Meirose (Raline Shah). Meirose yang merasa bersalah pada pernikahan Pras dan Arini memutuskan untuk hidup menjauh meski akhirnya mereka kembali bertemu tanpa sengaja di Budapest. 

Meirose sendiri telah menjalani kehidupan baru dan telah membuka hati pada pria lain yaitu Syarief (Reza Rahardian) yang berprofesi sebagai dokter. Hal ini membuat Meirose memutuskan untuk bercerai dengan Pras, dan begitu pula dengan Pras yang ingin menceraikan Meirose dan hanya fokus pada Arini. 

Namun tanpa diduga, Arini mengidap kanker stadium akhir dan ia mengajukan permintaan pada Pras untuk tidak bercerai dengan Meirose karena hanya Meirose yang mampu menyayangi Pras dan anaknya dengan baik. Hingga akhirnya ajal menjemput Arini yang telah mengikhlaskan jika Meirose tak dapat memenuhi keinginannya dan lebih memilih Syarief. 

Di akhir cerita, dikisahkan bahwa Pras dan Meirose membatalkan rencananya untuk bercerai. Hal yang begitu pahit bagi Syarief yang telah mengharapkan kehidupan baru dengan Meirose. 

Film ini memberikan kesan moral agar kita tidak menunda waktu dalam melakukan sesuatu. Dan ketika Anda menjalin hubungan dengan seseorang yang masih terikat dengan status pernikahan, maka Anda harus bersiap ditinggalkan atau tidak dipilih. 

Demikian rekomendasi film yang dapat membuat Anda terbawa perasaan. Selamat menyaksikan.

Unbeatable - MMA dan Segudang Perjuangan Di Baliknya

Menonton film adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan stress. Tidak hanya itu, kegiatan ringan ini juga dapat menjadi salah satu sarana perbaikan bagi diri Anda.

Seperti yang telah diketahui, film diciptakan dengan menyampaikan beberapa kesan dan pesan kepada penontonnya. Hal ini juga yang dilakukan dalam film Unbeatable yang saya rekomendasikan bagi Anda yang nyaris kehilangan harapan.



Film ini dibuka dengan kisah Lin Si Qi (Eddie Peng) yang merupakan putra seorang kaya raya yang memutuskan untuk hidup tanpa menikmati harta ayahnya. Meski hubungan antara Lin Si Qi dengan ayahnya kurang baik, namun naluri seorang anak membuatnya tetap ingin menemani ayahnya di saat usahanya bangkrut.

Di tempat lain, Gwen (Mei Ting), seorang ibu muda yang frustasi karena ditinggalkan suaminya kembali merasa kehilangan atas kepergian putra bungsunya yang meninggal karena tenggelam di bathup karena kurangnya pengawasan dari Gwen.

Di sisi lain, Ching Fai (Nick Cheung) adalah seorang mantan juara MMA yang telah memenangkan pertandingan sebanyak dua kali. Berbanding terbalik dengan masa mudanya yang penuh kejayaan, Ching Fai kini harus menjalani hidupnya sebagai seorang sopir taxi. Dikarenakan dijerat hutang, Ching Fai memutuskan untuk pergi ke Macau dan memulai hidupnya sebagai pelatih gym bersama sahabatnya. Hari pertama di Macau, Ching Fai bersama sahabatnya, Yeung Hin Sun (Philip Keung) menyaksikan pertandingan MMA yang membuatnya kembali mengingat masa kejayaannya.

Lin Si Qi selalu menjemput ayahnya yang tengah mabuk di bar dan membopongnya pulang. Dalam perjalanan pulang, Lin Si Qi melihat iklan pertandingan MMA dengan hadiah cukup menggiurkan yang dapat ia gunakan untuk membayar hutang ayahnya. Tanpa disadari pada suatu malam Lin Si Qi berpapasan dengan Ching Fai yang tengah berjalan menuju kamar kosnya dengan Gwen sebagai pemilik rumah.



Ching Fai disambut oleh Dani, putri sulung Gwen yang sangat mandiri dan tegas di usianya. Dani menuturkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Ching Fai, termasuk larangan untuk membuka papan yang menutupi bathup tempat adiknya meninggal.

Keesokan harinya, Ching Fai memulai hari pertamanya sebagai pelatih gym dengan mengajarkan beberapa gerakan kepada ibu ibu. Bagi Ching Fai, gerakan yang sangat sederhana itu merupakan suatu penghinaan. Pada hari itu juga, Ching Fai bertemu dengan Lin Si Qi yang mendaftar kelas MMA untuk mengikuti pertandingan MMA meskipun ia belum pernah memiliki pengalaman bertanding. Hal ini membuat Lin Si Qi cukup diremehkan.

Di samping itu, sepulang kerja Gwen menjemput Dani dari sekolahnya di suatu taman yang membuatnya kembali teringat akan kenangannya bersama Dani dan putranya yang telah meninggal. Tak peduli akan hujan yang mengguyur, Gwen tetap menunggu Dani meskipun ia harus basah kuyup. Sesampainya di rumah, Gwen dan Dani dikejutkan dengan atap rumahnya yang bocor. Ching Fai berusaha menampung bocoran air hujan dan memindahkannya ke bathup yang dilaran untuk dibuka. Hal ini membuat Gwen hilang kendali dan mencakar Ching Fai.

Setelah suasana tenang, Dani menceritakan alasan mengapa ibunya bertindak kasar. Hal ini disebabkan rasa frustasinya karena ditinggalkan suami yang memilih wanita lain dan kepergian anaknya. Dani bahkan sempat dirawat oleh Rumah Sosial dan Gwen dirawat di Rumah Sakit Jiwa untuk sementara waktu. Mendengar hal itu, Ching Fai berjanji pada Dani untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat Dani, termasuk untuk tidak membuka bathup.



Di sela waktu kerjanya, Ching Fai teringat akan masa lalunya yang kelam dan dipenuhi penyesalan. Saat itu, Ching Fai memalsukan pertandingan MMA dengan sengaja mengalah demi uang. Hal ini membuat guru Ching Fai marah dan mengakibatkan ia dipenjara atas tuduhan mafia, pencucian uang dan pemalsuan pertandingan.

Lamunannya buyar saat ia menerima telepon dari Dani yang memintanya untuk menjemput ibunya di taman karena ia terlambat pulang dan sedang turun hujan. Ching Fai pun memenuhi permintaan Dani, namun sayangnya headphone kesayangan Gwen rusak terinjak saat ia berlari di tengah hujan. Malamnya, Ching Fai membelikan headphone baru untuk Gwen dan juga sebuah lagu.

Di tempat lain, Lin Si Qi yang seperti biasanya menjemput ayahnya di bar dikejutkan dengan kondisi ayahnya yang sedang meracau dan memukulinya. Ayahnya mengatakan bahwa ia tak habis pikir mengapa di usia hampir 30 tahun, Lin Si Qi masih tidak dapat melakukan apa apa. Di mata ayahnya, Lin Si Qi bukanlah apa apa dan bahkan tidak mengerti apa arti tanggung jawab. Berbanding terbalik dengan kondisi ayahnya yang bahkan telah sukses di usia 30 tahun.

Perdebatan ayah - anak itu membuat suasana gaduh hingga membuat Ching Fai memutuskan untuk menengahi mereka dengan memukul ayah Lin Si Qi hingga pingsan. Ching Fai membantu Lin Si Qi membopong ayahnya ke rumah. Pada saat itu pula, Lin Si Qi meminta Ching Fai  untuk melatihnya dalam pertandingan MMA. Meski awalnya enggan, Ching Fai menerima ajakan tersebut dengan syarat ia memperoleh 40 % dari hadiah.

Semenjak kesepakatan tersebut, Ching Fai dengan serius melatih Lin Si Qi yang sangat bertekad memenangkan pertandingan untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia telah bangkit. Lin Si Qi dengan tekun menjalani serangkaian latihan yang diberikan Ching Fai, dimulai dari berlari, latihan meninju dan memukul speed bag. Ching Fai mengatakan bahwa Lin Si Qi harus memiliki ritmenya sendiri dalam bertanding. 

Tak hanya itu, hubungan antara Ching Fai, Dani dan Gwen semakin erat. Ching Fai bahkan tak ragu menperagakan sebuah cerita bersama Dani untuk Gwen, mendirikan tenda bersama, dan mengecat rumah bersama. Kesehariannya yang berwarna membuat Ching Fai jauh lebih bersemangat dalam melatih senam.

Menjelang pertandingan, Lin Si Qi semakin serius berlatih. Bahkan sahabat Ching Fai mengagumi semangat dan dedikasi yang dimiliki Lin Si Qi dalam berlatih. Lin Si Qi tak hanya berlatih di gym, ia juga memanfaatkan benda berat di lokasi kerjanya sebagai kuli bangunan.



Setelah dirasa cukup, Lin Si Qi pun diajari teknik kunci meski sebelumnya Ching Fai harus berjuang mengalahkan pelatih Rock agar ia mau mengajari Lin Si Qi.



Selang beberapa waktu, pertandingan MMA pun resmi dimulai. Ching Fai mengajak Lin Si Qi untuk menyaksikan pertandingan dengan memberikan berbagai tips dalam bertanding. Salah satu tips yang diberikan adalah jangan mudah terpancing emosi jika ingin mengalahkan lawan. 

Nama Lin Si Qi pun terpilih untuk bertarung dalam sesi berikutnya melawan pemenang sebelumnya. Hal ini membuatnya semakin giat berlatih. Menjelang pertandingan, Ching Fai menasihati Lin Si Qi untuk tetap mengingat apa tujuannya bertanding dan jangan pernah takut, karena sekali takut maka ia akan dikalahkan.

Pada pertandingan, Lin Si Qi berhasil untuk tidak KO selama dua ronde sehingga ia dinyatakan menang. Sang ayah yang awalnya acuh pada Lin Si Qi pun turut menyaksikan pertandingan tersebut. Lin Si Qi dan Ching Fai pun berpelukan untuk merayakan kemenangan.



Sayangnya, wajah Ching Fai yang terliput di televisi mengundang debt collector untuk menagih hutang kepadanya. Malam yang seharusnya dihabiskan dengan bahagia antara Ching Fai, Dani dan Gwen pun berakhir dengan tragis dimana para debt collector itu mendatangi kediaman Ching Fai dan membuat Gwen serta Dani ketakutan. Dani yang berusaha melarikan diri jatuh terguling di tangga sedangkan Gwen demi mempertahankan diri menusuk salah satu debt collector.

Meski pada akhirnya nyawa Dani dapat diselamatkan, namun Gwen harus diperiksa untuk memastikan kondisi kejiwaannya.

Sementara itu, Lin Si Qi kembali melakukan pertandingan, kali ini melawan Alberto. Lin Si Qi kembali berhasil memenangkan pertandingan setelah mengalahkan Alberto dengan saling mengunci di lantai. Tak lupa, ayah Lin Si Qi pun kembali menyaksikan pertandingan.

Sedangkan Gwen justru diharuskan untuk kembali tinggal di Rumah Sakit Jiwa dan Dani kembali ke pengasuhan ayahnya setelah sebelumnya terancam untuk kembali dipindahkan ke Rumah Sosial. Ching Fai yang sangat peduli akan keadaan Gwen dibuat risau.

Dalam pertandingan ketiga, semakin banyak penonton yang bertaruh untuk kemenangan Lin Si Qi. Lin Si Qi mengatakan alasan dibalik kegigihannya bahwa ia ingin menunjukkan pada seseorang (yaitu ayahnya) bahwa sesuatu yang tidak mungkin bisa saja terjadi dan ia ingin agar ayahnya juga meyakininya.

Sayangnya, pada pertandingan tersebut Lin Si Qi tidak dapat mengalahkan lawannya, Lee Zi Tian. Tak hanya kalah, ia juga mengalami sejumlah cedera yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Namun justru kejadian ini membuat ayahnya menunjukkan sisi kepeduliannya dan rasa sayangnya kepada Lin Si Qi dengan terus mendampinginnya.



Sepeninggal Gwen dan Dani, Ching Fai hanya dapat meratapi kenangannya bersama Gwen dan Dani. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengikuti MMA di usianya yang tak lagi muda. Meski sempat ditentang oleh Yeung Hin Sun, Ching Fai tetap pada keputusannya dengan alasan ia tidak melakukan apapun selama 20 tahun terakhir dan ia tidak mau mati tanpa meninggalkan kenangan indah di hidupnya. Baginya, menang atau kalah tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang.

Ching Fai pun berlatih keras menjelang pertandingan. Meskipun ia mengaku takut setiap berada di ring, ia selalu mengatakan pada dirinya bahwa ia bisa. Menjelang pertandingan, ayah Dani datang dan mengatakan bahwa Dani tidak menuruti ayahnya dan hanya ingin bersama Ching Fai. Ayah Dani mengatakan bahwa Dani akan menuruti ayahnya jika Ching Fai memenangkan pertandingan.

Hari yang ditunggu pun tiba. Ching Fai pun bertanding melawan Lee Zi Tian yang merupakan pemenang di musim sebelumnya. Meski tenaganya tak sehebat saat ia masih muda, berbekal pengalaman dan tekad Ching Fai berhasil menang meski sebelumnya sempat tersudutkan.



Film ini berakhir bahagia. Diceritakan bahwa Lin Si Qi kembali mengikuti MMA dan dinyatakan menang sebagai juara di musim tersebut. Lain halnya dengan Ching Fai, setelah memenangkan 3 pertandingan ia memutuskan untuk pergi dari dunia MMA dan menjalani kehidupan barunya bersama Gwen dan Dani.

Meski alur cerita cukup mudah ditebak, namun sepertinya pilihan mengusung tema MMA bukanlah hal yang buruk. Olahraga mengajarkan kita bagaimana memotivasi diri untuk mencapai tujuan. Sama seperti Ching Fai dan Lin Si Qi yang bertekad memenangkan pertandingan untuk membuktikan diri, kita sendiri pun perlu memenangkan masalah yang kita hadapi dan membuktikan bahwa kita kompeten. Kemenangan bukanlah hal yang mudah, contoh sederhana dapat kita lihat dari film ini dimana kedua bintang utama berlatih keras setiap harinya untuk melatih otot mereka. Meski membutuhkan perjuangan, kemenangan adalah milik mereka yang mau memperjuangkannya. 

Sedangkan dari sosok Dani kita memahami arti sebuah ketegaran, dimana di film ini diperlihatkan sosok Dani yang kemungkinan duduk di bangku SD (tidak dijelaskan usianya dalam cerita) begitu cekatannya mengurus rumah, merawat ibunya yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan memastikan Ching Fai bertindak sesuai ketentuan dirumahnya. Begitupun dengan kita, tak peduli apa yang telah kita lalui, kita harus tetap berdiri tegar dan berani menghadapi masalah yang ada.

Secara keseluruhan, saya memberikan rating 9 untuk film ini karena meski alur cerita yang sederhana, film ini tetap mampu membakar semangat penontonnya termasuk saya. Bagi kalian yang tengah merasa putus asa, saya rekomendasikan untuk menyaksikan film ini.

Sinopsis - Nerve (Spoiler Alert !)

Film ini bercerita tentang sosok Vee (Emma Robert), gadis introvert dan cerdas yang menerima kabar beasiswa kuliah dari CalArt. Seharusnya ini menjadi kabar bahagia untuknya, sayangnya ia justru merasa sedih karena ia mengetahui bahwa ibunya tidak akan mengizinkannya untuk pergi ke kota.



Di satu sisi, Vee adalah seorang siswa yang memiliki bakat dalam hal fotografi. Pagi itu, ia pergi untuk mengabadikan moment pertandingan basket di sekolahnya bersama sahabatnya yaitu Thomas (Miles Heizer) yang juga seorang peretas. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk memotret JP Guerrero (Brian Marc), pria yang diam diam ia taksir.

Di tengah tengah permainan, terdapat suatu atraksi yang menghebohkan. Sydney, salah satu pemandu sorak sekaligus sahabat karib Vee (Emily Meade) menunjukkan pantatnya kepada para penonton yang tentu saja membuat riuh penonton.



Rupanya hal tersebut dilakukan oleh Sydney sebagai bagian dari suatu permainan bernama Nerve. Ya, Nerve. Permainan itu sedang naik daun di kalangan remaja di Staten Island. Terdapat 2 kategori dalam Nerve, yaitu pemain dan penonton.

Penonton diharuskan untuk membayar sejumlah biaya untuk dapat menyaksikan pemain selama 24 jam dan berhak untuk menentukan tantangan bagi pemain. Sedangkan pemain diharuskan untuk menyelesaikan tantangan yang apabila berhasil maka pemain akan diberikan sejumlah hadiah berupa uang, Sebaliknya, apabila gagal pemain akan dikeluarkan dari permainan. Permainan ini akan menyisakan 2 pemain untuk melaju di final.

Saat jeda, Sydney, Vee, Thomas dan kedua teman lainnya berkumpul di kantin. Terjadi perdebatan antara Sydney dan Vee, Sydney mengatakan bahwa Vee adalah seseorang yang tidak pernah berani mengambil resiko dan keluar dari zona nyamannya terbukti dengan ia menolak tantangan dari teman temannya untuk menyapa JP. Hingga akhirnya Sydney mengatakan secara langsung kepada JP bahwa Vee menyukainya yang dibalas negatif oleh JP dengan mengatakan bahwa Vee bukan tipe nya.



Hal ini membuat Vee terpukul dan meninggalkan Sydney beserta teman temannya. Sesampainya ia di rumah, karena kesal dengan perbuatan Sydney ia pun mendaftar menjadi pemain di Nerve. Ia ingin membuktikan pada Sydney bahwa ia juga bisa menjadi pemain bukan hanya sebagai penonton.

Tantangan pertama yang harus ia lakukan adalah pergi ke Colonnade Dinner dalam 15 menit. Tantangan selanjutnya adalah ia harus mencium seorang pria yang tak ia kenal. Tantangan itu juga yang membuatnya mengenal Ian (Dave Franco), pria yang diciumnya yang ternyata juga merupakan pemain.

Melihat chemistri antara Vee dan Ian, penonton pun memberikan tantangan lainnya yaitu pergi ke kota bersama. Meski sempat dilarang oleh Thomas, Vee tetap memenuhi tantangan tersebut. Lambat laun, Vee yang tadinya hanya ingin mencoba 1 tantangan akhirnya ketagihan melihat jumlah nominal yang ditransfer ke rekeningnya.

Dimulai dari mencoba sebuah gaun. keluar dari toko tanpa busana karena bajunya dicuri, pergi ke Saint Mark's dalam 10 menit dan metato tubuhnya. Di sisi lain, Thomas mengkhawatirkan kondisi Vee yang pergi dengan Ian dimana diketahui bahwa Ian terlibat dalam suatu insiden di Seattle yang mengakibatkan seseorang meninggal karena jatuh dari ketinggian 200 kaki demi melaksanakan tantangan Nerve.



Tak hanya itu, ibu Vee (Juliette Lewis) merasa heran dengan nominal besar yang masuk ke rekeningnya. Sydney juga merasa was was dengan Vee yang memasuki top 10 dalam Nerve selain juga merasa khawatir dengan sahabatnya.

Di tengah keasyikannya dalam permainan, Ian mendapatkan tantangan untuk mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/ jam dengan mata tertutup. Meski enggan pada akhirnya Vee setuju untuk menjadi penujuk arah bagi Ian. Pada awalnya motor melaju dengan tidak stabil dan nyaris menabrak taksi dan ranting pohon, Namun Vee mengendalikan arah motor dengan menekan tubuhnya ke arah yang dituju sehingga Ian mampu mengimbanginya. Mereka bahkan nyaris menabrak mobil saat melintasi lampu merah, menabrak taksi yang berhenti sembarangan, bahkan melintas di antara 2 mobil yang melaju cepat hingga pada akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tantangan itu.



Setelah mengakhirinya dengan baik, Ian dan Vee memutuskan untuk berjalan jalan dengan Ian di taman bermain. Disitulah Vee mengungkapkan unek uneknya terhadap Sydney dimana ia lelah menjadi teman Sydney yang bertingkah liar dan menyedihkan. Tanpa disadari apa yang diucapkan Vee disaksikan secara online oleh para penonton termasuk Sydney yang saat itu sedang berada dalam pesta bersama beberapa teman lainnya.

Sydney pun panas mendengar pernyataan Vee. Melihat tingkah Sydney yang terbakar api kekesalan, penonton pun memberi tantangan pada Sydney untuk menyebrangi apartment dengan menggunakan tangga yang di julurkan secara horizontal antara satu jendela ke jendela di seberangnya. Sydney yang phobia ketinggian pun menerima tantangan itu demi mendongkrak ratingnya di Nerve meski pada akhirnya ia menyerah dan keluar dari permainan.

Sesaat kemudian Vee datang ke pesta tersebut dengan ajakan dari Ian. Disanalah Vee dan Sydney terlibat perkelahian dimana Sydney mengatakan bahwa Vee adalah orang yang paling tertindas. Vee merasa selama pertemanan mereka, Vee selalu melakukan apa yang diinginkan Sydney. Sedangkan Sydney mengatakan bahwa mereka berteman karena ia menyenangkan dan Vee membosankan dan tidak akan pernah bisa menjadi pemain.

Kesal dengan sikap Sydney, Vee menerima tantangan yang diberikan Sydney untuk menyeberangi apartment sesuai dengan tantangan yang gagal dilakukan oleh Sydney namun ternyata berhasil dilakukan oleh Vee. Disitulah Thomas membongkar identitas Ian pada Vee dan mengatakan bahwa Ian lah yang membuat Vee dan Sydney bertengkar dengan memenuhi tantangan penonton untuk membawah Vee untuk bertengkar dengan Sydney.

Vee pun marah dengan Ian dan berusaha melaporkan Nerve kepada polisi meski sebelumnya telah dilarang oleh Ian. Polisi pun mengacuhkan laporan Vee karena permainan itu tidak mengandung perbuatan kriminal. Penonton pun melaporkan Vee sebagai seorang pengadu. Rekening Vee pun terkuras habis sebagai konsekuensi Vee karena telah menjadi pengadu.

Ibu Vee pun panik dan menelepon Vee, di tengah perjalanan Vee dihadang oleh Ty (Machine Gun Kelly) yang menonjoknnya hingga membuat Vee pingsan. Ketika Vee tersadar, ia telah berada di suatu tempat dan menyadari bahwa kini ia telah menjadi tawanan Nerve dan Nerve telah mengontrol hidupnya. Satu satunya cara untuk terbebas adalah memenangkan pertandingan. 

Tak lama kemudian Vee bertemu dengan Ian yang mencarinya. Ian pun membeberkan kenyataan bahwa ia memang terlibat dalam tragedi Seattle bersama Ty. Mereka berdua pun mengadukan kejadian itu kepada polisi yan membuat mereka menjadi tawanan. Karena hal itu, hidup Ian menjadi kacau. Pekerjaan orang tuanya menjadi kacau dan foto adiknya tersebar di internet. Meski demikian, Ian membantu Vee untuk memenangkan pertandingan setelah sebelumnya ia harus bertanding melawan Ty. 

Ian pun membawa Vee ke suatu tempat dimana selanjutnya ia berjumpa dengan Thomas dan Sydney. Vee pun meminta bantuan Thomas untuk meretas sistem Nerve dan Sydney untuk mengulur permainan. 

Sementara Ian berhasil menggantung di tiang derek selama 5 detik dan masuk ke dalam babak final. Setelah mengambil senjata masing - masing, Ian dan Vee bertemu di suatu arena bertanding.




Di tempat lainnya, Thomas sedang mencoba meretas sistem Nerve dan Ibu Vee mengetahui bahwa Vee terlibat dalam suatu permainan. 

Tantangan di babak final adalah baik Ian maupun Vee harus menembak lawan mainnya dimana pemain yang lebih dulu menembak akan menang. Meski Ian membiarkan Vee untuk menembaknya, Vee justru menembak ke arah lain yang memancing riuh penonton dan Ty untuk menyelesaikan permainan.



Ty dan Ian pun terlibat cekcok dan Vee berusaha menengahinya, Pada akhirnya Vee pun menantang Ty untuk menembaknya. Setelah menerima alamat dari Thomas, Ibu Nancy pun bertemu dengan Thomas dan menyaksikan anak perempuan satu satunya tengah berada dalam bahaya.

Melalui voting, penonton pun setuju agar Ty menembak Ty. Tanpa pikir panjang Ty pun menembak Vee yang membuatnya jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu, Thomas bersama rekannya berhasil meretas sistem dan membuat notifikasi kepada penonton bahwa mereka telah terlibat dalam suatu pembunuhan hingga akhirnya mereka keluar dari permainan.

Di saat arena pertandingan telah ditinggalkan oleh para penonton, Vee bangun dari "kematian bohongannya" dan mengatakan bahwa Ty terlibat dalam rencana untuk mengakhiri Nerve. Pada akhirnya, Ian dan Ty berjabat tangan dan menyadari bahwa mereka sudah tidak menjadi tawanan Nerve. Ketika seluruh penonton telah keluar, sistem Nerve pun rusak.

Setelah kejadian itupun, Vee melanjutkan pendidikannya di CalArt dengan persetujuan ibunya dan hubungannya dengan Ian pun semakin dekat.

Ulasan :

Dari segi cerita, Nerve mengangkat ide yang cukup brilian dengan tetap menyesuaikannya dengan perkembangan media sosial saat ini. Lagu pengiring yang dipilih pun mengasyikan, mampu membawa suasana penonton dan juga sesuai dengan tema yang diangkat.

Untuk pemainnya pun tak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Emma Roberts yang sebelumnya memerankan Jill Roberts dalam Scream 4 mampu memainkan sosok gadis introvert dengan sempurna. Sedangkan Dave Franco, setelah sukses memerankan Jack Wilder dalam Now You See Me, kali ini ia kembali berhasil memerankan sosok pria yang misterius, cool  dan cukup seksi.

Sayangnya, dalam film ini tidak dijelaskan, siapa dalam dibalik Nerve. Selain itu juga tidak dijelaskan bagaimana Ty bisa tersingkir dari permainan.

Pesan yang Dapat Diambil :

  • Dalam hidup kita dihadapkan dalam 2 pilihan, menjadi Pemain atau Penonton. Jika Anda hanya menjadi seorang penonton, maka Anda hanya akan menjadi sosok anonim dalam permainan kehidupan dimana tak ada seorang pun yang mengetahui identitas Anda dan tak seorang pun benar benar peduli dengan kehadiran Anda. Selain itu, dengan menjadi penonton Anda tak melakukan perubahan atau pergerakan dalam hidup Anda selain menyaksikan pemain, memiliki peluang untuk menang pun tidak. Lain hal nya dengan pemain, meskipun kalah, setidaknya semua orang pun tahu bahwa mereka pernah berjuang dan memiliki usaha untuk menang.
  • Sahabat sejati adalah mereka yang akan menemani Anda dalam titik terendah dalam hidup Anda. Tak peduli sehebat apapun pertengkaran yang kalian lalui, mereka akan tetap berlari untuk membantu Anda menyelesaikan masalah. 
  • Kasih sayang seorang ibu takkan ada habisnya. Meski seringkali mereka mengungkapkannya dengan cara yang membuat kita merasa terkekang. 
  • Jujurlah pada diri sendiri dan orang lain. Jangan memendam apapun dalam diri Anda karena hanya akan menjadi beban dan bom bagi diri Anda yang dapat meledak sewaktu waktu. 


Overall, dari skala 1 - 10, saya memberikan rating 9 dan merekomendasikan film ini kepada para pembaca. Ingat, jadilah pemain jika Anda ingin menjadi seorang pemenang.

Apresiasi Film Cold Eyes

Apresiasi Film Cold Eyes - Pada postingan kali ini saya akan memaparkan resensi dari film "Cold Eyes" dari negeri ginseng, Korea Selatan. 

Film ini bercerita tentang sekelompok pengintai yang bekerja sama untuk mengungkap identitas pihak yang bertanggung jawab atas kasus pencurian di suatu bank. 


Kelompok pengintai terdiri dari sekitar 6 orang. Kelompok ini diketuai oleh seorang pria paruh baya yang dipanggil "Ketua" (diperankan oleh Sol Kyung Gu). Uniknya, anggota pengintai ini diberi nama panggilan berupa nama hewan sesuai dengan keahlian masing masing, seperti tupai, ayam, bunga babi, bunga ular, dsb.

Sedangkan pihak yang diburu adalah sekelompok orang yang terdiri dari 6 orang yang bertugas untuk melakukan eksekusi di tempat kejadian dan 1 orang (diperankan oleh Jung Woo Sung) yang mengawasi kejadian dari atap gedung.

Judul Cold Eyes dipilih untuk menggambarkan kemampuan penglihatan dari para kelompok pengintai yang selalu fokus dalam mengamati namun tanpa mencurigakan. Terutama kemampuan dari si "bunga babi" (diperankan oleh Han Hyo Joo) yang memiliki ingatan tajam atas penglihatannya. Dalam cerita ini "bunga babi" berperan dalam penangkapan pelaku.

Dari sisi cerita, film ini memiliki jalan cerita yang cukup mudah ditebak. Ceritanya hampir sama dengan film bertema serupa yang menampilkan adegan kejar kejaran antara pengintai dan pelaku. Meski demikian film ini tak dapat serta merta dibilang membosankan. Adegan pengintaian yang dilakukan cukup menegangkan.
Adegan favorit saya dalam film ini ketika "tupai" menyamar sebagai kasir di salah satu minimarket untuk dapat mengenali wajah anggota pelaku kejahatan.

Peran pun dimainkan dengan cukup apik oleh para pemeran. Han Hyo Joo mampu memerankan sosok wanita yang cukup cerdas dengan kemampuan ingatan dan penglihatannya (terbukti ketika ia menggambarkan peta kota yang telah dijelajahi dan kemungkinan tempat pelaku bersarang) namun sedikit ceroboh.

Sol Kyung Go sendiri memainkan peran yang sedikit mengecoh, dimana pada awalnya ia terlihat sebagai pria ceroboh (terbukti pada adegan dimana ia tertidur dalam kereta dan menabrak seorang wanita) namun ternyata ia adalah seorang pemimpin yang tangkas dan handal.

Sedangkan sang tokoh antagonis, Jung Woo Sung, mampu menampilkan sosok yang dingin, tanpa ampun dan penuh perhitungan.

Kutipan favorit saya adalah ketika Ketua mengatakan pada "bunga babi" bahwa untuk menjadi menang kita perlu menjadi gila.

Film ini mengajarkan apa arti kerja sama sebuah tim seperti yang diceritakan bahwa seluruh tim bekerja keras, baik yang di lapangan dengan pembagian tugas pengintaian dan saling memback up sesama tim, dan juga tim di office yang gesit menyediakan informasi kepada tim di lapangan.

Over all, film ini cukup disarankan untuk disaksikan karena alur kejar kejarannya yang cukup menegangkan. Saya sendiri was was hanya dengan melihatnya, dan ternyata menjadi seorang pengintai cukup mendebarkan dan butuh kesabaran ya.

Apa yang dikatakan Ketua benar, bahwa untuk menjadi menang kita perlu gila. Ya gila ! Berani mengambil resiko dan bekerja keras tanpa kenal lelah. 

Demikian, sekilas apresiasi dan resensi film "Cold Eyes".