Mengenal MBTI : Lebih Dekat dengan Guardian

Kelompok besar selanjutnya dalam MBTI adalah Guardian yang merujuk pada pribadi dengan Sensing dan Judging yang dominan. Sesuai dengan artinya, kelompok Guardian dipercaya untuk mempertahankan suatu hal agar tetap berjalan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Mereka adalah pribadi yang terkendali, disiplin, dan tentunya taat pada peraturan.



Umumnya, kelompok Guardian dapat dikenali melalui beberapa ciri berikut :


  • Tepat waktu
  • Rapih dan bersih
  • Terstruktur
  • Mematuhi prosedur
  • Orientasi detail
  • Akuntabel
  • Skeptis dan waspada
Kelompok Guardian dikenal dengan sikapnya yang cenderung kaku dan tegas. Meskipun demikian, dengan beberapa pendekatan berikut kita dapat menjalin komunikasi baik ;

  • Membuat pembicaraan dengan sistematis
  • Berikan informasi aktual
  • Bersikap teliti 
  • Percaya diri
  • Ikuti prosedur dan hargai hierarki
  • Bertanggung jawab
  • Hindari informasi abstrak
Karena sikap mereka yang cenderung taat peraturan, maka umumnya mereka ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan konsistensi tinggi seperti analis bisnis, akuntan, perencana produksi, perencana manufaktur, layanan konsumen dan lainnya. 

Para kelompok Guardian mengharapkan lingkungan kerja yang stabil dengan masa depan terprediksi yang memungkinkan mereka untuk memberikan kinerja secara konkrit sehingga mampu membuat mereka mampu bekerja secara optimal.

Selain lingkungan kerja yang kondusif, atasan yang supportif tentu sangat menentukan kinerja seseorang. Definisi supportif bagi kelompok Guardian adalah ketika atasan mereka mampu memberikan arahan yang jelas dan menyediakan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengoptimalkan kinerja mereka. 

Lain hal dengan kelompok Idealist yang sensitif, kelompok Guardian justru seringkali dinilai tak berperasaan. Mereka tentu tidak berniat untuk menjadi kejam, hanya saja bagi mereka aturan ataupun rencana yang ditetapkan harus dijalankan. Penyimpangan yang kemungkinan  terjadi pun sebisa mungkin harus dapat dipertanggung jawabkan secara logis. Karena prinsipnya, maka tak heran jika kelompok Guardian dikenal sebagai pelaksana yang baik. Beberapa tokoh yang termasuk dalam kelompok Guardian adalah Basuki Tjahaja Purnama dan Sigmund Freud.


Mengenal MBTI : Lebih Dekat dengan Idealist

Salah satu kelompok besar dalam konsep MBTI adalah Idealist yang merujuk pada individu yang memiliki kepribadian Intuitive dan Feeling. Secara garis besar, mereka umumnya terlihat sebagai pribadi yang hangat, unggul dalam kemampuan interpersonal dan pandai dalam mengubah hal negatif menjadi sesuatu yang positif.




Mereka umumnya mudah dikenali melalui ciri ciri berikut :
  • Cenderung melihat gambaran besar suatu permasalahan
  • Menyukai bersikap hangat dan informal
  • Diplomatis
  • Memiliki keahlian persuasif
  • Merupakan pendengar yang baik
  • Cenderung sensitif terhadap kritik dan menganggapnya sebagai serangan pribadi
  • Cenderung menghindari konflik
  • Fasih dalam kemampuan verbal
Kelompok Idealist dikenal memiliki kemampuan empati yang tinggi namun juga mudah tersinggung karena perasaan mereka yang cenderung lebih halus dibanding kelompok lainnya. 

Untuk mendekati kelompok Idealist bukanlah suatu hal yang sulit mengingat sifat dasar mereka yang hangat pada orang lain. Berikut adalah beberapa cara yang dapat diterapkan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan kelompok Idealist :

  • Pilihlah lingkungan yang harmonis dan kondusif
  • Bangun hubungan personal
  • Dengarkan mereka dengan empati
  • Jalin diskusi yang luwes
  • Gunakan pilihan kata yang positif
  • Batasi fakta mendetail
  • Hindari konflik dan kompetisi
Umumnya, kelompok Idealist menyukai pekerjaan yang dapat memberikan makna bagi mereka seperti membantu orang lain mengembangkan diri, mengajarkan suatu hal yang baru kepada orang lain maupun membantu orang lain menyelesaikan masalahnya. Karena keahlian interpersonal merupakan keunggulan mereka, maka umumnya mereka memilih pekerjaan yang melibatkan orang lain seperti guru, sales, dokter, HR, psikolog, trainer dan pekerjaan sejenis. 

Para kelompok Idealist umumnya mengharapkan lingkungan kerja yang penuh empati, memberikan kepuasan batin karena berhubungan dengan masalahdi masyarakat dimana jerih payah mereka dihargai, dan juga lingkungan yang harmonis yang minim dari konflik. 

Seperti yang diketahui bersama, atasan adalah salah satu faktor penentu kinerja anak buah sehingga kelompok Idealist mengharapkan atasan yang menghargai kinerja mereka dan memberikan perhatian pribadi pada kehidupan mereka disamping mampu melindungi mereka dari konflik kerja.

Dikarenakan hati mereka yang cukup sensitif, seringkali mereka dikenal "baper". Di beberapa sisi mereka memang mudah tersinggung disamping mudah tersentuh. Mereka juga seringkali terlalu peduli dengan masalah orang lain meski sering dipandang aneh. Kebahagiaan terbesar mereka adalah ketika mereka mampu membuat orang lain merasa lebih baik. Beberapa tokoh dunia yang termasuk dalam kelompok Idealist adalah Mahatma Gandi dan Nelson Mandela.

So, jika Anda membutuhkan tempat untuk menceritakan kisah pedih Anda atau orang lain yang mampu membuat Anda merasa lebih baik lagi maka kelompok Idealist adalah orang yang tepat. Sebaliknya, jika Anda membutuhkan tempat untuk merumuskan strategi ataupun orang yang mampu bertindak cepat dalam kondisi darurat jangan jadikan kelompok Idealist sebagai pilihan. 

Mengutip salah satu kalimat bijak milik Albert Einstein, semua orang terlahir jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka dia akan percaya dalam seumur hidupnya bahwa dirinya bodoh. 

Kesempatan : Jika Saja Semua Orang Bisa Mendapatkannya

Hidup ini terkadang mirip seperti monopoli. Setiap orang memiliki tujuannya, namun nyatanya tak semua orang mampu menentukan sejauh mana mereka akan melangkah. Seperti monopoli, langkah kita ditentukan oleh lemparan dadu yang mana dalam hal ini adalah kehendak Tuhan.

Baik dalam hidup maupun monopoli, setiap orang berharap agar diberikan kesempatan yang baik. Sayang seribu sayang, tidak semua orang mendapatkan kesempatan. Sekalipun kita mendapatkan kesempatan, seringkali kita melewatkannya dengan menganggapnya sebagai kesempatan yang tidak kita nantikan.

Mengenai kesempatan, setiap pemain kehidupan setidaknya pernah mendapatkan kesempatan. Semua kembali kepada apakah kita akan memanfaatkannya atau justru melewatkannya. Seringkali kita menyesal karena telah melewatkan sebuah kesempatan yang berharga dan meratapinya terus menerus. Penyesalan ini terkadang membuat kita meratapinya hingga berlarut larut.

Nyatanya, setiap orang tidak hanya berhak menerima kesempatan melainkan memberikan kesempatan. Seringkali kita dengan angkuh melewatkan kesempatan untuk diberikan kepada seseorang yang mengharapkannya dan justru memberikannya kepada seseorang yang tidak mengharapkannya.

Kesempatan, apa arti kesempatan bagi Anda ?



Orang sukses mengatakan bahwa kesuksesan tidaklah diberikan melainkan diciptakan. Namun bagi saya kesempatan adalah sebuah pemberian atau anugerah dari Tuhan. Sayangnya seringkali kita "merasa" melewatkan sebuah kesempatan dengan menganggap sesuatu hal bukanlah sebuah kesempatan.

Saya pernah merasa mendapatkan penolakan akibat saya harus dipindahkan dari bidang pekerjaan yang sangat saya cintai. Saya sempat merasa jatuh dan terpuruk, bagi beberapa orang mungkin apa yang saya rasakan terlampau berlebihan. Namun pekerjaan saya saat itu bukanlah hanya sekedar pekerjaan bagi saya, melainkan kepuasan batin saya, hal yang sangat berharga bagi saya.

Dalam keterpurukan itu, saya berpikir mengapa saya tidak diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri jika memang kinerja saya kurang memuaskan ?

Namun akhirnya saya sadari bahwa kesempatan selalu ada, itulah yang saya artikan bahwa kesempatan itu diciptakan oleh kita karena ada tidaknya sebuah kesempatan tergantung dengan bagaimana kita memaknainya.

Ketika kita merasa melewatkan sebuah kesempatan, cobalah berpikir bahwa kita akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Ada tidaknya kesempatan tergantung dengan bagaimana kita mensyukuri hidup ini. Bukankah ketika setiap pagi kita membuka mata dengan nafas yang melengkapinya adalah sebuah kesempatan ? Bukankah setiap detik yang kita lewati adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik ?

Jika saja semua orang bisa mendapatkan kesempatan.

Tidak, semua orang diberikan kesempatan ! Meski kita berulang kali melewatkan suatu kesempatan maka kesempatan yang lain selalu ada. Karena kesempatan adalah pemberian dan anugerah Tuhan yang kita ciptakan melalui penafsiran kita tentang makna kesempatan.

IT : Setiap Orang Memiliki Rasa Takut

Setiap orang memiliki rasa takut, itulah hal yang ditonjolkan dalam film ini. Film yang diadaptasi dari novel ini disebut sebagai film terhoror sepanjang tahun 2017, dan hal itu harus saya akui. IT mengisahkan sekelompok remaja yang berjuang untuk melawan makhluk misterius berupa badut yang diduga sebagai penyebab hilangnya beberapa orang.



Para tokoh utama dikisahkan memiliki latar belakang yang kurang baik, dimulai dari orang tua yang acuh, terlalu posesif, hingga terlalu keras. IT menghantui setiap tokoh dengan menyerupai hal yang paling ditakutkan para remaja tersebut.

Dimulai dari Ben, siswa pindahan yang sering menghabiskan waktunya di perpustakaan ini dihantui oleh IT dengan menggunakan sosok manusia tanpa kepala yang kisahnya sebelumnya ia baca di salah satu buku sejarah tentang kota Derry.

Stanley, digambarkan sebagai sosok yang lebih pendiam dan cukup matang dibanding teman - temannya. Ia ditekan oleh orang tuanya yang merupakan seorang Rabi untuk menghafal kitab Taurat. Ia sangat takut dengan sosok lukisan yang berada di ruang kerja ayahnya dan sosok itulah yang dimanfaatkan oleh IT untuk menghantui Stanley.

Mike, adalah salah satu korban kebakaran yang berhasil diselamatkan meski akhirnya ia harus kehilangan orang tuanya dalam kejadian naas itu. Hal yang menjadi mimpi buruknya tentu saja saat ia mengingat kedua orang tuanya yang berusaha meraihnya dalam panasnya kobaran api. Pada film ini diceritakan bahwa IT menjelma menjadi sosok orang tuanya yang menggapai Mike dengan tangan yang menghitam untuk menakuti Mike.

Beverly, meski cantik dan seksi ia kerap kali menjadi korban bully di sekolah akibat adanya rumor buruk tentangnya. Ia hidup bersama ayahnya yang bersikap lembut namun mengintimidasi yang cukup membuatnya merasa tertekan.

Richie, adalah tokoh yang paling banyak berbicara dibanding lainnya. Ia paling takut dengan sosok badut yang menjadikan IT menampakkan dirinya di depan Richie tanpa harus menjelma menjadi sosok lain.

Eddie, adalah penderita OCD yang sangat takut kotor. Ia dihantui IT dengan sosok penderita lepra yang tentunya menjadi mimpi buruk bagi Eddie yang sangat menjaga kebersihan.

Terakhir, Billy yang selalu tidak terima dengan hilangnya sang adik, George setahun silam. IT memanfaatkan sosok George untuk menyerang Billy.

Di akhir cerita, mereka melawan IT yang mengubah sosoknya sesuai dengan ketakutan ketujuh remaja tersebut. Namun berbekal rasa setia kawan yang tinggi, mereka mampu mengabaikan rasa takut mereka dengan bahu membahu mengalahkan IT.

Dari segi alur cerita, film ini saya acungi jempol karena mampu membuat jantung saya berdegub kencang hingga saya tak berani melihatnya. Sang sutradara mampu membawa saya sebagai penonton untuk masuk ke dalam cerita tersebut dan ikut merasakan ketakutan mereka.

Hal yang dapat saya ambil dari film ini adalah bahwa setiap orang memiliki ketakutan. Layaknya IT, ketakutan itulah yang seringkali membuat diri kita merasa terancam dan tidak nyaman. Melawan ketakutan memanglah tidak mudah, namun ketakutan kita seringkali dimanfaatkan orang lain untuk menghancurkan kita.

Namun layaknya Billy dan teman temannya yang menyebut diri mereka klub Pecundang, kita dapat melawan rasa takut kita selagi kita memiliki keinginan yang kuat. Dan keinginan dibentuk oleh suatu alasan.

Apapun ketakutan kalian, lawanlah ketakutan itu. Diri kalian, keinginan kalian jauh lebih kuat dibanding monster yang tercipta akibat rasa takut kalian.


Mengenal MBTI : Kesimpulan dan Pengantar

Pada empat minggu terakhir saya telah mengajak Anda mengenal 4 dimensi dalam konsep MBTI. Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, dalam setiap dimensi bukan berarti kita selalu menggunakan tipe tersebut namun secara alamiah kita akan lebih dominan di satu sisi.

Sepanjang usia, setiap manusia akan semakin berkembang dan mengasah sisi lainnya. Entah karena bertemu orang baru, tuntutan lingkungan atau karena alasan lain berubah menjadi lebih baik adalah salah satu hal yang diinginkan setiap orang.

Dalam konsep MBTI kita mengenal 16 kepribadian yang merupakan kombinasi dari setiap dimensi. 16 kepribadian tersebut antara lain ;


Ilustrasi tersebut saya kutip dari https://planetinfj.wordpress.com/tag/mbti/ yang juga membahas konsep MBTI. Namun saya sendiri memilih "Pribadimu Profesimu" karya Paul D. Tieger, Barbara Barron dan Kelly Tiegerserta "Persona" karya Irul Haqqiasmi sebagai referensi. Saya menghabiskan waktu cukup lama untuk memahami konsep MBTI karena konsep ini membagi manusia ke dalam kelompok yang lebih rumit.

Tidak seperti konsep DISC dimana saya bahkan dapat mengidentifikasi seseorang di pertemuan pertama, saya membutuhkan analisa yang cukup dalam untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan konsep MBTI. Namun secara garis besar, konsep MBTI dibagi menjadi 4 kelompok besar yaitu ;



Saya telah membahas gambaran besar dari setiap kelompok pada postingan saya sebelumnya. Namun agar Anda lebih memahami konsep MBTI saya akan menjelaskan ciri khas dari setiap kelompok di postingan selanjutnya. 

Mengenal MBTI : Judging vs Perceiving

Kali ini saya akan membahas dimensi terakhir dalam konsep MBTI yang berhubungan dengan cara hidup kita, apakah terstruktur ataupun spontan. Berdasarkan dimensi ini, konsep MBTI membaginya ke dalam dua kelompok yaitu Judging dan Perceiving.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI


Judging

Satu kata yang menggambarkan Judging adalah "terstruktur". Judging akan menyukai segala kegiatan yang telah diorganisir sejak awal sehingga mereka dapat menjalankannya dengan pasti. Dalam bekerja, mereka akan lebih merasa nyaman dengan lingkungan kerja yang prosedurnya sudah berjalan dengan baik dimana setiap orang menaatinya. Adalah suatu beban bagi seorang Judging ketika mereka diharuskan untuk bekerja di lingkungan yang tidak memiliki prosedur dimana segala hal dapat berubah ubah tanpa kepastian.

Judging selalu menetapkan tujuan di awal dan langkah langkah untuk mencapainya. Mereka berorientasi pada target dan berusaha mencapainya berdasarkan langkah langkah yang telah ditetapkan. Sebagai seorang pemimpin, mereka juga telah menetapkan tujuan dan langkah langkah untuk mencapainya. Ketika seorang Judging tidak dapat mencapai target yang ditentukan, mereka akan merasa terpukul dan merasa gagal.

Baca juga : Introvert vs Ekstrovert

Dalam kehidupan sehari hari, mereka akan merasa lebih tenang ketika telah mengetahui dengan pasti apa yang dihadapi. Dalam lingkungan baru, sebisa mungkin mereka akan mencari tahu bagaimana lingkungan tersebut sebelum akhirnya diterjunkan dalam lingkungan itu. 

Karena kecenderungan hidupnya yang terstruktur, mereka dikenal kaku dan tidak luwes. Menurut buku Pribadimu Profesimu, kelompok Judging senang mengendalikan apa yang sedang terjadi dan senang mengambil keputusan. Mereka melihat segala sesuatu sebagai sisi hitam dan putih. 

Baca juga : Sensing vs Intuition

Kelompok judging menyukai lingkungan kerja yang memberikan mereka tanggung jawab atas suatu proyek dengan disertai pengembangan terus menerus. Dan yang terpenting bagi seorang Judging adalah sistem kerja yang pasti agar tidak membuat merasa dilema dalam bekerja. Bagi mereka, perubahan yang mendadak dan tidak direncanakan dapat membuat mereka merasa tertekan.

Perceiving 

Satu kata yang menggambarkan Perceiving adalah "spontan". Perceiving menyukai ketika segala pilihan tetap terbuka sehingga menyediakan mereka banyak alternatif. Dalam bekerja, mereka justru merasa tertekan dengan adanya peraturan yang terlalu kaku, karena bagi mereka masalah bukanlah suatu hal yang dapat diprediksi dan dapat terjadi sewaktu waktu.

Perceiving sangat mengandalkan kemampuannya dalam berimprovisasi dalam berbagai situasi. Ketika mereka telah mengetahui apa tujuannya, mereka akan mencapainya dengan luwes tanpa dibatasi dengan peraturan peraturan yang dibuat oleh dirinya ataupun orang lain. Ketika mereka tidak dapat mencapai target yang ditentukan, mereka tidak serta merta merasa terpukul karena mereka yakin bahwa tidak selamanya apa yang dilakukan berjalan sesuai rencana.

Dalam kehidupan sehari hari, mereka akan merasa bosan jika dihadapi dengan peraturan atau jadwal yang bersifat kaku. Lingkungan baru ataupun perubahan mendadak bukanlah suatu masalah karena improvisasi adalah kekuatan mereka dan mereka dapat selalu beradaptasi dalam segala situasi.

Baca juga : Thinking vs Feeling

Karena cara hidup mereka yang spontan, mereka dikenal seringkali dikenal sebagai seorang yang plin plan dan tidak berpendirian. Perceiving seringkali kesulitan dalam menetapkan suatu keputusan dan ketika mereka dipaksa harus membuat keputusan, adalah hal yang wajar bagi mereka untuk mengubah keputusan waktu mereka di kemudian hari.

Kelompok perceiving menyukai lingkungan kerja yang demokratis dan fleksibel tanpa aturan yang mengekang. Mereka merasa bersemangat ketika mereka diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dalam pekerjaan mereka.

Untuk memahami perbedaan dari setiap kelompok, Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ;



Kedua kelompok tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Judging tentu akan lebih unggul jika ditempatkan dalam lingkungan yang terstruktur dan Perceiving akan lebih unggul dalam lingkungan yang fleksibel. Sayangnya, dalam kehidupan sehari hari kita tidak selalu berada dalam lingkungan yang kita sukai. 

Adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Itulah mengapa semakin bertambahnya kedewasaan, seorang Judging akan lebih mengembangkan sisi Perceivingnya dan begitupun sebaliknya. Berada dalam lingkungan yang tidak kita sukai tentunya akan membuat kita merasa tertekan, namun terkadang kita tidak dapat serta merta meninggalkan lingkungan yang kita benci itu dan tetap bertahan dengan terus menyesuaikan diri. 

Mengenal MBTI : Thinking vs Feeling

Pada dua postingan sebelumnya, saya telah mengajak Anda untuk mengenali konsep MBTI dari dua dimensi yaitu bagaimana cara seseorang menyalurkan energinya dan cara seseorang menyerap informasi. Kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh konsep MBTI dari dimensi bagaimana cara seseorang mengambil keputusan.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI 

MBTI membagi dua kelompok atas dasar bagaimana cara seseorang mengambil keputusan yaitu kelompok Thinking dan Feeling. Sesuai artinya, Thinking artinya berpikir dan Feeling artinya merasakan, itulah garis besar penjelasan dari dimensi ini. Namun agar Anda dapat lebih memahami perbedaan dari kedua kelompok, maka dengan senang hati saya akan menjabarkannya.



Thinking

Samantha memiliki dua orang anak buah yang bernama Arnold dan Richard dengan masa kerja kurang dari 1 tahun. Arnold berusia 50 tahun dan merupakan ayah dari 3 anak yang masih duduk di bangku sekolah. Sedangkan Richard adalah pria lajang dengan usia 25 tahun. Ketika perusahaan melakukan perampingan dan Samantha diminta untuk mengeluarkan 1 orang dari timnya maka Samantha memilih untuk mempertahankan Richard dengan alasan ia masih berusia muda dan lebih produktif untuk melakukan kegiatan bekerja. 

Begitulah cara berpikir kelompok Thinking. Dapat dikatakan, kelompok Thinking senantiasa mengambil keputusan berdasarkan logika. Kelompok Thinking akan melakukan berbagai analisa tanpa melibatkan emosi terhadap suatu masalah. Singkat kata, mereka bertindak dengan objektif. 

Mereka menempatkan perasaan di urutan ke sekian dalam mengambil keputusan, oleh karena itu mereka seringkali dinilai tidak berperasaan dan tidak peduli terhadap orang lain. Seringkali mereka berbicara terus terang mengenai suatu hal karena bagi mereka akan lebih baik jika orang lain mengetahui kebenaran meskipun itu menyakitkan. Bagi kelompok Thinking, perasaan seseorang dapat dinilai valid jika perasaan tersebut logis dan dapat dicerna oleh akal sehatnya. 

Ungkapan khas yang seringkali keluar dari mulut kelompok Thinking dalam bekerja adalah"Kalau bekerja jangan pakai hati, harus profesional" yang keluar dari mulut kelompok Thinking. Hal yang tentunya juga berlaku bagi diri mereka sendiri yang tidak terpengaruh dengan kritikan atau hujatan dari orang lain.

Mereka tidak tertarik dengan urusan pribadi orang lain dan karenanya siap jika harus terlibat dalam suatu konflik dalam lingkungan kerja karena bagi mereka itu adalah bagian dari profesi.

Kelompok Thinking seringkali ditemukan dalam bidang pekerjaan yang membutuhkan ketegasan dan kepatuhan terhadap suatu standar seperti auditor, akunting, hakim, ataupun profesi lain sejenis. Karena cara berpikir mereka yang logis dan tanpa emosi, mereka dipercaya untuk menepati sebuah posisi yang mengharuskan mereka untuk menegakkan suatu aturan atau standar.

Feeling

Dalam kasus Samantha, seseorang yang dominan Feeling akan lebih memilih untuk mempertahankan Arnold dengan alasan di usianya yang sudah menua akan sulit bagi Arnold untuk mendapatkan pekerjaan baru sedangkan 3 orang anaknya di rumah membutuhkan penghasilan darinya untuk bertahan hidup. 

Begitulah bagaimana kelompok Feeling mengambil keputusan. Mereka memikirkan dampak keputusannya terhadap orang lain, apakah orang lain akan merasa senang atau justru dirugikan dengan keputusan tersebut. Bagi beberapa orang, mereka terlihat subjektif dalam mengambil keputusan. 

Mereka menempatkan perasaan orang di urutan pertama dan karenanya seringkali mereka disebut baper "terbawa perasaan" atau dikritik karena sifatnya yang "tidak enakan" kepada orang lain. Mereka dipandang emosional, tidak logis dan lemah bagi beberapa orang yang karenanya mereka jauh dari kesan tegas. Mengekspresikan amarah dalam bentuk membentak atau teguran keras adalah hal yang sulit bagi kelompok Feeling karena bagi mereka menjaga perasaan orang lain adalah hal yang penting, terlepas dari logis tidaknya perasaan itu. 

Ungkapan "Kalau bekerja jangan pakai hati, harus profesional" adalah hal yang tidak sepenuhnya dapat diterima oleh kelompok Feeling. Bagi mereka, bekerja tanpa hati hanya dapat dilakukan jika mereka dihadapkan dengan robot. Hal ini yang membuat mereka seringkali menganggap kritik adalah serangan pribadi untuk mereka dan membuat mereka seringkali gampang tersinggung. 

Mereka sangat menghargai kehidupan pribadi orang lain dan sangat benci jika harus terlibat konflik meskipun konflik adalah suatu hal yang wajar dalam dunia kerja. 

Karena sifat mereka yang cenderung empatik, mereka seringkali ditemui dalam profesi HRD, psikolog, sales dan profesi lainnya yang sejenis. Kemampuan empati dan kecintaan mereka terhadap harmoni membuat mereka dipercaya untuk terlibat dalam posisi pekerjaan yang membutuhkan kemampuan interpersonal dalam porsi yang cukup besar. 

Untuk lebih memahami perbedaan keduanya, Anda dapat melihatnya dalam bagan berikut. 


Dalam kehidupan sehari hari, kita akan sering menjumpai kedua kelompok tersebut. Karena sifatnya yang bertolak belakang, tidak jarang mereka terlibat konflik ataupun adu pendapat. Namun yang harus dipahami, baik Thinking maupun Feeling mengambil keputusan dengan cukup masuk akal bagi mereka. Yang membuat keputusan mereka tidak masuk akal adalah ketika penjelasan tersebut didengar oleh orang lain yang memiliki kecenderungan berlawanan. 

Menghargai perasaan orang lain adalah penting, mempertimbangkan logika juga tidak kalah penting. Kelompok Thinking bukanlah kejam atau tidak berperasaan, mereka hanya mengambil keputusan dengan mengikuti naluri mereka. Begitupun dengan kelompok Feeling, mereka bukanlah lemah ataupun terlalu emosional, mereka hanya memiliki pola pikir yang berbeda. 

Kita sendiri akan sering bertemu dengan orang lain yang memiliki cara pengambilan keputusan yang bertolak belakang dengan kita. Hal yang harus kita lakukan hanyalah saling menghargai tanpa perlu menghakimi. Cara mereka mengambil keputusan tidaklah salah dan cara kita pun belum tentu benar. Setiap keputusan memiliki dampak positif dan negatifnya, dan ketika kita telah mengambil sebuah keputusan maka kita siap dengan berbagai resiko di dalamnya. 

Mengenal MBTI : Sensing vs Intuition

Pada postingan sebelumnya, saya telah membahas konsep MBTI dari dimensi bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang lain. Kali ini, saya akan mengupas konsep MBTI dari dimensi yang berhubungan dengan jenis informasi yang otomatis menjadi perhatian kita.

Baca juga : Divergent vs Konsep MBTI

Dimensi ini membagi manusia ke dalam dua kelompok yaitu Sensing vs Intuition. Kedua kata tersebut lebih asing dibanding dengan kelompok dari dimensi sebelumnya, oleh karena itu tugas saya saat ini adalah menjabarkan perbedaan dari setiap kelompok tersebut.



Sensing 

Tipe Sensing mengandalkan kelima panca inderanya untuk mendapatkan informasi tentang suatu hal. Mereka memilih untuk mempercayai apa yang dapat mereka lihat, dengar, rasakan secara nyata dan konkret. Bagi tipe Sensing, apa yang mereka saksikan secara konkrit memberikan informasi yang lebih akurat. 

Mereka seringkali mempertimbangkan pengalaman di masa lalunya, namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk mempertimbangkan gagasan baru selagi mereka dapat menemukan penerapan pastinya. Tipe Sensing benar benar berharap menerapkan sesuatu berdasarkan cara yang sudah pasti terbukti, bukan sekedar coba - coba. 

Sebagai contoh, ketika tipe Sensing membeli sebuah peralatan yang harus dirangkai maka hal pertama yang mereka cari adalah buku petunjuk yang berisi instruksi pemasangan. Selanjutnya, tentu saja tipe Sensing akan mengikuti instruksi yang terdapat dalam buku petunjuk tersebut. 

Tipe Sensing sangat mengedepankan kenyataan yang terjadi saat ini dan akal sehat mereka yang bagi mereka dapat dipertanggungjawabkan dengan pasti. Mereka sangat berpikir logis terhadap sesuatu. 

Umumnya, mereka fokus pada satu keahlian dan dengan serius mengembangkan keahlian mereka. Mereka lebih menyukai menguasai satu bidang dan menjadi ahli di bidang tersebut dibanding menguasai banyak bidang dengan biasa biasa saja. 

Dalam memberikan penjelasan, mereka akan menjelaskan dengan spesifik, rinci dan runtut sehingga membuat orang lain dapat dengan mudah memahami apa yang mereka sampaikan dan menerimanya. 

Dikarenakan kemampuan penginderaannya yang cukup baik, kita dapat menemukan tipe Sensing dalam profesi yang cukup mengasah otak seperti penyidik, manajer keuangan, teknisi dan profesi lainnya. 


Intuition

Berbanding terbalik dengan tipe Sensing, tipe Intuition lebih mempercayai imajinasi dan dugaan dibanding mengandalkan kelima indera mereka. Terkadang mereka suka berbicara dengan mengandai - andaikan sesuatu yang terkadang tidak dipikirkan orang lain. 

Tipe Intuition adalah pribadi yang kreatif karena keahlian mereka dalam menciptakan hal hal baru meski belum pernah diuji sebelumnya. Mereka tidak takut gagal, mereka lebih memilih untuk mewujudkan imajinasi mereka dibanding harus mengubur imajinasi mereka. 

Sebagai contoh, ketika tipe Intuition membeli sebuah peralatan yang harus dirangkai maka hal pertama yang mereka lakukan adalah memperhatikan satu per satu alat alat yang perlu disusun dan membayangkan bagaimana peralatan ini dapat terangkai sempurna. Mereka tidak akan pernah menyentuh buku petunjuk dan lebih memilih harus membongkar pasang peralatan mereka hingga akhirnya terpasang sempurna. 

Tipe Intuition tentu saja menghargai kenyataan dan akal sehat, namun mereka lebih menyukai menggunakan imajinasi mereka dalam melakukan sesuatu. Karena menyukai hal baru, tipe Intuition senang mempelajari keahlian baru meski mereka menguasainya dengan biasa biasa saja.

Dalam menyampaikan sesuatu, mereka seringkali menggunakan kata kiasan dengan penyampaian yang bagi orang lain terkesan melompat lompat dan sulit dimengerti. 

Dikarenakan kemampuan imajinasinya cukup baik, tipe Intuition umumnya bekerja dalam bidang seni atau industri kreatif yang membuat mereka dengan mudah menyalurkan ide dan kreatifitasnya. 

Untuk lebih mudah memahami perbedaan antara Sensing dan Intuition Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ; 


65 % populasi masyarakat Amerika terdiri dari tipe Sensing dan menempatkan tipe Intuition sebagai kaum minoritas. Hal ini juga menggambarkan posisi tipe Sensing dan Intuition dalam kehidupan kita sehari hari dimana kita sendiri lebih mempercayai hal hal yang masuk akal yang dikatakan oleh tipe Sensing dibanding perandaian yang dibuat oleh tipe Intuition. 

Kita seringkali meremehkan atau justru mengabaikan apa yang dikatakan oleh tipe Intuition atau menganggap mereka "aneh". Setelah membaca artikel ini saya berharap para pembaca memahami bahwa adanya mereka yang berpikir imajinatif bukanlah sesuatu yang aneh. 

Dan dikarenakan sering mengedepankan imajinasi mereka, penginderaan tipe Intuition seringkali kurang terasah sehingga kurang memperhatikan kejadian tersurat di sekitarnya. Setelah membaca artikel ini pun saya berharap para pembaca yang merasa dirinya dominan sebagai tipe Intuition lebih mengasah penginderaan mereka. 

Mengutip kalimat dalam buku "Pribadimu, Profesimu", dalam kehidupan sehari hari, seringkali kita menyerap informasi melalui penginderaan maupun imajinasi kita. Tapi, semua orang memiliki kecenderungan Sensing atau Intuition. Kita semua menggunakan salah satu proses dengan lebih alami, lebih sering dan dengan lebih berhasil dibandingkan proses yang lain. 


Mengenal MBTI : Ekstrovert vs Introvert

Setelah sebelumnya saya membahas tentang konsep MBTI yang dianalogikan dalam film Divergent, kali ini saya akan membahas lebih detail konsep MBTI dilihat dari cara kita berinteraksi dengan dunia luar dan bagaimana cara kita mengalirkan energi.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI

Berdasarkan dimensi tersebut, MBTI membaginya ke dalam dua kelompok yaitu ekstrovert dan introvert. Apa perbedaan dari kedua kelompok tersebut :



Ekstrovert 

Seringkali kita mengenali ekstrovert sebagai pribadi yang cerewet dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Hal tersebut memang menjadi ciri khas seorang ekstrovert dimana mereka merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam konsep DISC, hal ini dimiliki oleh kepribadian Influence dan Dominance. 

Secara lebih dalam, seorang yang ekstrovert menyukai aktivitas berinteraksi dengan orang lain untuk mengisi kembali energinya. Oleh karena itu, pada jam istirahat mereka memilih menghabiskannya bersama orang terdekatnya untuk berbagi cerita. Begitupun saat mereka berada dalam tekanan, mereka akan mencari orang lain untuk menceritakan perasaannya dan kemudian dapat merasa lebih tenang. Seringkali seorang ekstrovert sudah mengetahui apa yang harus dilakukan, hanya saja mereka membutuhkan orang lain untuk mendengarkannya bukan menasihatinya. 

Seorang ekstrovert memiliki energi yang besar, hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan berbagai aktifitas dengan energik. Aktifitas yang monoton dan statis akan membuat mereka merasa bosan dan tidak produktif. Mereka adalah seorang pemberani yang siap melakukan apapun, sayangnya seringkali mereka bertindak tanpa berpikir. Umumnya, ekstrovert memiliki kelemahan dalam berpikir analitis. 

Mereka adalah pribadi yang terbuka kepada setiap orang, itulah mengapa tidak sulit bagi orang lain untuk mengetahui emosi mereka karena sikapnya yang ekspresif. Mereka menyukai menjadi pusat perhatian dan seringkali menguasai percakapan di dalam sebuah kelompok. Terkadang seorang ekstrovert dapat menjadi sangat mengesalkan karena terkesan lebih mementingkan egonya dibanding orang lain. 

Anda dapat dengan mudah mengenali ekstrovert karena mereka cenderung aktif dan antusias ketika berada dalam sebuah kelompok. Mereka akan mengajukan pertanyaan, pernyataan atau bahkan celetukan yang seharusnya tidak penting namun mengundang tawa dalam sebuah forum. Anda dapat mengenali mereka dengan suaranya yang kencang ataupun tegas, mereka menyukai warna warna terang seperti merah, kuning, orange dan warna sejenis sebagai setelan mereka.


Introvert

Banyak orang yang menafsirkan bahwa seorang introvert adalah seorang pendiam, nyatanya tidak selalu. Pendiam memang ciri khas yang melekat pada seorang introvert namun tidak sedikit seorang introvert yang cukup komunikatif ketika berinteraksi dengan orang lain. Dalam konsep DISC, hal ini dimiliki oleh kepribadian Steadiness dan Compliance. 

Secara lebih dalam, seorang introvert lebih suka menyendiri untuk mengembalikan energinya. Mereka lebih menyukai pergi makan siang seorang diri atau justru menghabiskan santapan makan siangnya di meja kerjanya ketika semua orang pergi. Banyak orang yang memandang mereka sebagai anti sosial, namun nyatanya seorang introvert membutuhkan ruang pribadi tanpa gangguan untuk selanjutnya beraktifitas kembali. 

Tenaga yang mereka miliki tidak sebesar ekstrovert dan mereka menyukai aktifitas kerja yang lebih stabil. Ketika berada dalam tekanan pun mereka lebih suka memendamnya, memikirkannya dengan baik dibanding mengumbarnya. Terkadang sulit sekali untuk memahami apa yang dipikirkan seorang introvert karena mereka selalu menyimpannya dengan baik. Mereka cenderung dinilai lambat bertindak karena mereka terbiasa berpikir kemudian bertindak, namun sebagian besar dari mereka justru sangat ahli dalam menganalisa sesuatu hal. 


Karena sifatnya yang cenderung pasif dan tertutup, sulit bagi orang lain untuk mengetahui emosinya. Namun ketika kita berinteraksi cukup intens dengan mereka, kita dapat mengenali pola perilaku mereka. Meski pendiam, bukan berarti mereka tidak dapat diajak berteman. Terkadang mereka membutuhkan rangsangan untuk dapat melakukan suatu hal. Mereka dapat mengendalikan emosinya dengan baik dan lebih memilih untuk menjadi penonton dalam sebuah kelompok. 

Anda dapat mengenali introvert dengan mudah karena sifatnya yang pasif dan terkadang terlihat santai atau menarik diri. Anda dapat mengenali mereka dari suaranya yang pelan atau pilihan setelannya yang berwarna gelap dan soft seperti hitam, abu - abu, hijau muda dan lainnya. 

Untuk lebih mudah memahami ekstrovert maupun introvert, Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ;



Jika ditanya mana yang lebih baik, apakah ekstrovert atau introvert maka jawabannya adalah relatif. Pada dasarnya keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing, bergantung pada situasi yang ada. Dalam dunia pekerjaan, ekstrovert lebih cocok bekerja di bidang pekerjaan yang mengharuskan interaksi dengan banyak orang seperti sales ataupun purchasing. Sedangkan introvert lebih cocok ditempatkan di bidang pekerjaan yang membutuhkan sedikit interaksi dengan orang lain seperti finance, data analyst dan pekerjaan lain sejenis.

Namun apakah introvert tidak dapat menjadi seorang sales dan ekstrovert tidak dapat menjadi seorang finance, jawabannya pun relatif. Tergantung pada pribadi tersebut, apakah mau berubah dan menyesuaikan diri ? Karena meski kelemahan kita sulit dapat dihilangkan namun kita dapat menguranginya agar tidak mengganggu aktifitas. Dan setiap orang diharuskan untuk mengembangkan diri, saya rasa istilah ini sering didengar, namun Anda harus memilih "Change or Die ?"

Admin Inventory - PT Alvindo Catur Sentosa

Persediaan adalah salah satu unsur penting dalam operasional perusahaan yang perlu diperhatikan. Manajemen persediaan tidak hanya mengenai penempatan persediaan melainkan juga meliputi administrasi pencatatan dari setiap mutasi persediaan.



Dibutuhkan ketelitian untuk memastikan bahwa jumlah persediaan secara fisik sesuai dengan jumlah persediaan yang tercatat dalam sistem. Tidak hanya itu, untuk menangani mutasi keluar – masuk persediaan dengan frekuensi yang cukup tinggi dibutuhkan kesigapan dalam mempersiapkan dokumen administratif dari proses tersebut.

Jika Anda adalah pribadi yang teliti, cekatan dan siap bekerja dengan mobilitas tinggi, maka pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ideal untuk mengembangkan potensi diri Anda.

Job Description :
  • Melakukan pengecekan atas penerimaan barang
  • Menyiapkan dokumen administratif penerimaan, pengeluaran dan retur barang
  • Memeriksa ketersediaan jumlah persediaan

Persyaratan :
  • Memiliki pengalaman di bidang administrasi pergudangan minimal 2 tahun
  • Mahir dalam mengoperasikan Microsoft Excel
  • Pendidikan minimal D3 / S1
  • Bersedia ditempatkan di Pergudangan Kosambi, Dadap