Mau Lamar Pekerjaan Saja Kok Ribet

Apakah saat ini Anda sedang mencari pekerjaan ?

Jika ya, selamat Anda memasuki area pertarungan dalam mencari pekerjaan bersama dengan ribuan orang lain yang memiliki tujuan yang sama dengan Anda. Selamat, Anda telah memasuki sebuah labirin proses rekrutmen yang diciptakan para HRD untuk Anda jelajahi. Jika Anda dinyatakan memenuhi kualifikasi dan diterima, Anda akan memasuki labirin lain yang mengantarkan Anda kepada sengitnya dunia kerja. Dan jika Anda dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi maka Anda harus keluar dari labirin tersebut.



Dan pada postingan saya kali ini, saya akan membahas mengenai labirin proses rekrutmen yang kini telah bertransformasi. Terima kasih kepada teknologi yang memudahkan para pencari kerja dan pemberi kerja dalam proses rekrutmen. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus dipahami para pencari kerja terkait perubahan transformasi proses rekrutmen saat ini.

Mengirimkan CV

Ketika merasa iklan lowongan pekerjaa yang dilihat sesuai dengan kualifikasi maka Anda akan segera mengirimkan CV ke perusahaan tersebut dengan harapan akan mengikuti tahapan proses rekrutmen selanjutnya. 

Namun, saat ini bukan lagi masa dimana para recruiter menunggu berkas lowongan kerja Anda yang dibungkus dalam amplop coklat. Saat ini para recruiter cenderung menyukai duduk di kursi kerjanya dengan menatap ke layar komputernya untuk melihat lamaran yang masuk dan menyortirnya. Bagi para recruiter, cara ini lebih praktis dikarenakan mereka tidak perlu berkutat dengan tumpukan kertas dan menyeleksinya satu per satu. 

Oleh karena itu, pelajaran pertama, manfaatkan situs lowongan kerja seperti Jobstreet, JobsDB, dan sebagainya untuk mengenalkan diri Anda kepada para recruiter. Jika Anda berharap kehadiran Anda dengan amplop coklat akan membuat para recruiter terkesan dan memproses Anda ke tahap berikutnya maka anggapan Anda salah. Yang membuat para recruiter terkesan adalah kompetensi Anda dan tunjukkan kompetensi Anda melalui media yang dipantau secara intens oleh para recruiter.

Hal lainnya dalam proses ini adalah kemungkinan Anda menjumpai halaman atau instruksi yang mewajibkan Anda mengisi informasi di dalamnya dengan lengkap sebagai bagian dari proses melamar pekerjaan. Informasi yang diminta cukup detail, dimulai dari identitas diri Anda hingga pengalaman kerja Anda dan tetek bengek lainnya. 



Tentu saja hal ini tidak sesederhana ketika Anda hanya meng-klik tombol "Lamar". Para recruiter menginginkan informasi yang lengkap mengenai kandidat yang mereka seleksi sehingga kandidat yang mereka loloskan ke proses selanjutnya adalah kandidat yang memenuhi kualifikasi mereka. 

Pelajaran selanjutnya adalah bersabarlah dan tetaplah gigih dalam mengikuti proses mereka. Isilah setiap informasi yang diminta dengan detail. Tentu saja ini menguras waktu dan tenaga Anda, namun semakin lengkap informasi yang Anda isi maka semakin lengkap Anda mengenalkan diri Anda kepada pemberi kerja. Semakin lengkap para recruiter mengetahui diri Anda, maka mereka memiliki dasar pengambilan keputusan yang cukup kuat untuk melanjutkan Anda ke tahap berikutnya atau tidak. 

Ingat, hanya dengan mengisi informasi diri Anda dengan detail tidak serta membantu Anda untuk masuk ke tahap berikutnya karena pemberi kerja tentunya telah memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk posisi yang dibuka yang mungkin tidak dimiliki semua orang. Mengisi informasi diri Anda dengan lengkap membantu Anda mengungkapkan siapa diri Anda dan juga menunjukkan seberapa antusias Anda untuk mengikuti proses selanjutnya yang tentu saja bisa menambah kesan positif dalam diri Anda. 

Informasi Panggilan Tes Awal

Ketika Anda melamar pekerjaan, pastikan untuk senantiasa aktif memeriksa email Anda ataupun akun dari situs lowongan kerja Anda. Sebagian besar recruiter tidak ingin menghabiskan waktunya untuk menelepon satu per satu kandidat yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Posisi pekerjaan yang dibuka suatu perusahaan bisa jadi lebih dari satu, dan jumlah pelamar yang diundang dalam proses tes tentu saja lebih dari satu, sehingga jika mereka diharuskan untuk menelepon satu per satu kandidat berapa banyak biaya dan waktu yang mereka keluarkan ?

Saat ini, situs lowongan kerja telah menyediakan fitur yang membantu para recruiter untuk mengundang para kandidat ke tahapan selanjutnya seperti memberi informasi melalui email, SMS dan inbox di akun situs lowongan kerja tersebut. Pastikan Anda mengeceknya secara berkala dan lupakan anggapan bahwa Anda akan menerima telepon dari recruiter yang mengundang Anda untuk mengikuti tahapan selanjutnya. 


Proses Tes

Beberapa perusahaan kini telah mengembangkan sistem dimana para kandidat dapat mengerjakan tes secara online. Tentu saja hal ini memudahkan para pencari kerja untuk tidak mengeluarkan biaya menuju lokasi tes. Para pemberi kerja pun tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mencetak soal.

Namun di satu sisi, sebagai pencari kerja, Anda selain dituntut untuk memahami teknologi, peluang Anda untuk menunjukkan diri Anda secara langsung kepada pemberi kerja berkurang karena tes secara online membuat diri Anda diukut berdasarkan hasil tes Anda.

Oleh karena itu, pastikan Anda memahami teknologi yang tengah berkembang saat ini karena pemberi kerja pastinya akan memanfaatkan teknologi tersebut untuk mempermudah proses rekrutmen. Di samping itu, pastikan senantiasa mengasah diri Anda sehingga Anda dapat melewati tahapan tes yang diberikan.

Ada banyak hal yang berubah dalam proses rekrutmen yang kini berlangsung di dunia kerja. Namun sebagian besar mengharuskan para pemberi kerja untuk melewati banyak tahapan sebelum akhirnya bertatap muka dengan recruiter sebagai representatif pemberi kerja. Jika dulu Anda dapat bertatap muka dan mengenalkan diri Anda saat mengantarkan berkas lamaran, maka kini sebagian besar recruiter mengharapkan bertatap muka dengan kandidat pada proses interview.

Bagaimana jika ternyata pemberi kerja melewatkan kandidat yang sebetulnya berkualitas ?

Human error tentu tidak dapat dihindari. Namun pastikan sebagai pencari kerja Anda telah menunjukkan kelebihan Anda dengan baik sehingga Anda tidak menjadi kandidat yang dilewatkan.

Selain karena teknologi, dalam proses rekrutmen dikenal istilah Cost per Hire. Yaitu berapa biaya yang dikeluarkan untuk merekrut satu kandidat. Recruiter tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di suatu perusahaan melainkan juga meminimalisir biaya dalam mencapai tujuan tersebut. Biaya pulsa dan waktu yang digunakan untuk mengundang kandidat ke tahap tes, waktu yang digunakan untuk memandu kandidat menjalani tes, hingga waktu yang digunakan untuk menginterview kandidat adalah beberapa komponen dari Cost per Hire.

Oleh karena itu, untuk mengimbangi posisi recruiter yang kini semakin ketat dalam proses rekrutmen, pastikan Anda menjaga kualitas diri Anda sehingga Anda tidak menjadi kandidat yang terlewatkan. Mungkin Anda menjalani proses yang rumit dalam melamar pekerjaan dan kemungkinan di masa yang akan data proses ini akan bertambah rumit. Namun satu hal yang harus diingat, jalan yang akan Anda lalui untuk bertahan dalam dunia kerja akan bertambah berat. Dan sebagai sosok yang berkecimpung dalam kerasnya dunia kerja, hanya ada dua pilihan bagi Anda ; take it or leave it ?

Benarkah Atasan Menyebalkan adalah Takdir Buruk ?


Jika saya meminta Anda untuk menceritakan atasan Anda dalam 3 kata, apa yang akan Anda katakan ? Apakah Anda akan mengawalinya dengan kata kata positif diikuti dengan kata kata negatif, atau sebaliknya ? Saya tidak dapat menerka apa yang Anda pikirkan tentang atasan Anda, sosok yang mungkin mendominasi 8 jam dalam hari Anda bekerja. Apakah mereka memberi kesan yang baik kepada Anda atau justru sebaliknya.

Bicara tentang atasan memang tak ada habisnya. Selalu saja ada hal menarik, entah positif ataupun negatif untuk dibicarakan. Terdapat 2 hal yang sering saya dengan dari orang lain, baik dalam sesi interview maupun interaksi biasa.

Atasan adalah Takdir

Mereka mengatakan bahwa atasan dapat memilih siapa yang akan menjadi anak buahnya namun kita tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi atasan kita. Seolah olah siapapun yang menjadi atasan kita adalah takdir kita. Jika kita mendapatkan atasan baik hati maka kita sedang bernasib baik dan jika kita mendapatkan atasan galak maka kita sedang bernasib buruk.

Hal yang saya rasa salah, karena bagi saya atasan tidak selamanya menjadi sebuah takdir yang tidak dapat diterka namun terkadang kita memiliki kesempatan untuk memilih siapa yang akan menjadi atasan kita.

Dalam sesi interview kemungkinan besar kita akan bertemu dengan user yang kelak akan menjadi atasan kita yang sebaiknya Anda manfaatkan dengan baik untuk mengenal sosoknya lebih jauh. Bagaimana cara mengenalinya ?


Tipe Kepribadian
Sikap yang Ditampilkan dalam Interview
Sikap yang Ditampilkan dalam Kehidupan
Dominan
-          Mendominasi pembicaraan
-          Intonasi suara tegas dan cepat
-          Percaya diri dengan apa yang ditanyakan

-          Tegas
-          Cenderung bossy
-          Berusaha melindungi tim di bawahnya ketika terjadi masalah

Compliance
-          Bertanya dengan detail
-          Intonasi suara stabil
-          Cukup sistematis dalam mengajukan pertanyaan

-          Detail
-          Bijaksana
-          Bertindak objektif ketika terjadi masalah

Influence
-          Menampilkan sikap bersahabat
-          Intonasi suara riang dan cepat
-          Terkadang mengajukan pertanyaan dengan spontan

-          Bersahabat
-          Moody
-          Terkadang plin plan
Steadiness
-          Bersikap low profile
-          Intonasi suara stabil, cenderung lamban
-          Terkadang menampilkan sikap pasif
-          Low profile
-          Pasif
-          Terkadang ragu ragu

Tabel di atas hanyalah beberapa ciri ciri yang ditampilkan seseorang dalam interview untuk menggambarkan kepribadian aslinya. Disamping itu, setelah proses interview, pasti kita memiliki kesan atas sikap interviewer, misalkan “kayanya atasannya galak / kayanya atasanya sabar” dan kesan kesan lainnya. Dari proses interview tersebut juga Anda dapat menilai apakah Anda merasa nyaman atau tidak dengan proses tersebut, apakah Anda merasa tertekan selama interview atau cukup nyaman. Tanpa disadari, Anda juga melakukan penilaian terhadap interviewer.

Dan ketika Anda memutuskan untuk bergabung di suatu perusahaan dengan sebelumnya melewati tahap interview, sadar atau tidak Anda telah memilih sosok yang menjadi atasan Anda. Dan itulah mengapa, atasan Anda seringkali menjadi pilihan Anda bukan hanya sekedar takdir yang hanya bisa diterima.

Atasan yang Menyebalkan

 “Atasan gue sukanya marah marah, masih aja suka nanyain kerjaan pas di luar jam kerja, yah tapi gue suka karena dia selalu bisa backup kita”

“Atasan gue pelit, ngasi kerjaan banyak, tapi dia suka kasih gue motivasi pas gue down sih”

Setidaknya, mereka selalu menyebutkan sifat negatif dari atasannya. Pada dasarnya, atasan bisa menjadi sosok paling menyebalkan yang kita temui dalam lingkungan kerja. Alasannya tidak lain karena atasan terlibat dalam pekerjaan kita lebih intens dibanding orang lain. Atasan lebih dari sekedar rekan kerja, ia mengawasi kinerja kita dan berusaha menjaga kita untuk tetap berada di koridor yang tepat dengan caranya. Itulah mengapa sosok atasan seringkali melekat di ingatan kita dan menjadi subjek yang sering diceritakan kepada orang lain ketika membahas pekerjaan.

Terkadang, sosok atasan juga mendominasi emosi kita. Tentu tidak asing dengan cerita seseorang yang mengundurkan diri karena merasa tidak cocok dengan atasannya, hal tersebut menandakan bahwa atasan bisa mempengaruhi kondisi emosional seseorang. Bahkan, jika Anda memiliki atasan yang sangat sabar, Anda mungkin pernah merasa kesal dengannya karena beberapa hal.

Nyatanya, atasan adalah sosok yang menyebalkan. Seolah olah setiap atasan terlahir dengan sifat menyebalkan dan selalu merasa benar hingga muncul ungkapan “Pasal 1, atasan selalu benar. Pasal 2, jika atasan salah kembali ke pasal 1”. Mungkin, beberapa dari kita merasa bahwa hari ini akan terasa lebih baik jika atasan kita tidak hadir.

Namun, dibalik itu semua, pernahkah Anda menyadari bahwa Anda sendiri tidak kalah menyebalkan dibanding atasan Anda. Pekerjaan yang terlambat diselesaikan, selalu datang terlambat, terlalu banyak bertanya, keras kepala, suka membantah. Tidakkah Anda berpikir bahwa bisa jadi atasan Anda berharap bahwa Anda lebih baik mengundurkan diri karena ia merasa sebal dengan Anda secara personal tapi tidak dapat memecat Anda. Tidakkah Anda berpikir bahwa bisa jadi atasan Anda yang dikenal sabar dan tak pernah marah tiba tiba memutuskan untuk tidak memperpanjanng kontrak kerja Anda karena Anda tidak kompeten.

Nyatanya, manusia terlahir menyebalkan. Sialnya, baik Anda maupun atasan adalah manusia. Ralat, bahkan bekerja dengan robot pun bisa menjadi lebih menyebalkan. Oleh karena itu, baik Anda maupun atasan Anda memiliki kelebihan dan kekurang masing masing yang tidak bisa dihindari.


Kegagalan dalam menyikapi dua hal tersebut bisa menjerumuskan Anda dalam penderitaan selama jam kerja. Perasaan menderita tidak hanya menyerang kondisi emosional Anda melainkan juga produktifitas Anda. Perasaan negatif seperti ini tentunya bukanlah hal yang harus dimiliki karyawan. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memahami satu hal.

Fokus pada Kelebihan

Seorang bijak mengatakan, “Saya hanya fokus pada kelebihan seseorang dan apa yang bisa dilakukan dengan itu. Saya tidak bisa merubah kekurangan orang lain”. Saya rasa, kalimat tersebut tidak hanya sederhana melainkan juga tepat.

Sadar atau tidak, ketika akhirnya kita dipekerjakan maka atasan kita telah mempertimbangkan segala kelebihan dan kekurangan kita dan berusaha menerimanya. Mungkin Anda sering mendengar atasan Anda mengeluh mengenai diri Anda.

“Administrasi kamu berantakan”

“Kamu sangat emosional”

Namun, bukankah itu hanyalah tanda bahwa ia peduli terhadap diri Anda dan menginginkan Anda untuk menjadi lebih baik lagi. Dan fakta dimana saat ini Anda masih bekerja bersamanya bukankah membuktikan bahwa ia menghargai kelebihan Anda dibanding membenci kekurangan Anda.

Sadar atau tidak, ketika akhirnya Anda bekerja di suatu perusahaan dan bertemu dengan atasan Anda maka Anda telah mempertimbangkan segala kelebihan dan kekurangannya dengan berusaha menerimanya. Mungkin Anda sering mengeluh mengenai dirinya.

“Bos gue nyebelin”

“Semoga bos gue hari ini ga masuk”

Namun, bukankah itu adalah respon wajar seseorang ketika melihat sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Dan fakta dimana saat ini Anda tidak mengajukan pengunduran diri bukankah membuktikan bahwa Anda masih nyaman bekerja bersama atasan Anda dibanding berusaha mencari rumput tetangga yang lebih hijau.

Tentu adalah hal yang wajar jika kita mengharapkan orang lain bersikap lebih baik, mengharapkan orang lain mampu membuat kita merasa lebih nyaman. Namun terkadang, sesuatu hal yang tidak kita inginkan tercipta bukan untuk diubah melainkan untuk diterima. Sama seperti kekurangan Anda dan kekurangan dari atasan Anda yang mungkin tercipta untuk diterima dan dipahami bukan untuk ditentang.

Semua kembali kepada diri Anda, apakah Anda akan fokus kepada sikap menyebalkan dari atasan Anda atau memperhatikan sisi lain dari dirinya yang lebih baik ? Tentu Anda tidak dapat memaksakan diri Anda untuk cocok bekerja sama dengan orang lain jika Anda tidak merasa bahagia.

Pertanyaan terakhir, jika Anda diberi kesempatan untuk mengganti atasan Anda, apakah Anda akan mengambil kesempatan tersebut ? Jika ya, semoga Anda bahagia dengan pilihan Anda meski nyatanya Anda akan kembali menemukan atasan yang menyebalkan. Karena nyatanya, tidak ada manusia yang terlahir sempurna.

3 Alasan Mengenai Gagal Resign

Resign.

Kata yang jika mungkin tidak ingin didengar oleh HRD, karyawan resign mengakibatkan HRD kembali bersusah payah menemukan kandidat pengganti yang belum tentu mudah didapatkan. Namun, di tengah banyaknya karyawan yang sibuk mencari rumput hijau tetangga dan recruiter yang sibuk mencari talent, masih ada beberapa orang yang berkutat dengan pertanyaan "jadi resign ga ya ?"



Ketika Anda menyampaikan keinginan resign Anda, kemungkinan atasan dan HRD Anda akan meminta Anda mempertimbangkan kembali keinginan Anda. Faktanya, tidak mudah mencari kandidat yang sesuai saat ini. Atasan Anda dan HRD kemungkinan akan mengingatkan tentang betapa banyaknya hal positif yang Anda dapatkan dengan tetap bertahan. Tentu suatu arahan yang bagus. Namun kembali lagi, yang menjalani adalah Anda dan yang memutuskan adalah Anda.

Sudahkah Anda bertanya pada diri Anda, apakah bertahan membuat Anda bahagia ?

Di Tempat Lain Pun Akan Ada Masalah

Ya, saya sangat setuju dengan pandangan ini. Lalu apa bedanya dengan tetap bertahan jika nyatanya masalah akan tetap ada meski ketika kita pindah ke perusahaan lain ? Faktanya, masalah adalah milik setiap manusia tanpa terkecuali. 

Namun bahagiakah Anda dengan hidup Anda saat ini dimana atasan Anda seringkali mengatakan hal yang menyinggung perasaan. Bahagiakah Anda ketika kinerja Anda tak dihargai dan hanya kesalahan dari Anda yang diingat. Bahagiakah Anda ketika Anda memiliki rekan kerja yang selalu melakukan hal yang mengusik Anda. 

Tentu saja ada kemungkinan permasalahan di perusahaan lain lebih rumit, tapi bagaimana jika tidak. Bagaimana jika di luar sana terdapat sosok atasan yang dapat menghargai perasaan Anda. Bagaimana jika di luar sana terdapat perusahaan dengan sistem reward & punishment yang lebih adil bagi Anda. Bagaimana jika di luar sana terdapat sekelompok orang yang mampu mensupport Anda sebagai sebuah tim. 

Bukankah tidak ada salahnya mencoba meninggalkan hal yang tidak membuat Anda bahagia ? Dan jika ternyata keputusan Anda salah, setidaknya Anda mendapatkan pelajaran baru dibanding terkurung dalam keraguan yang semakin membuat Anda jauh dari rasa bahagia. 

Saya Masih Kuliah, Tidak Banyak Perusahaan Yang Bisa Menerima

Hal ini juga saya akui benar karena memang ada beberapa user yang mengharapkan karyawannya tidak sedang dalam status aktif sebagai mahasiswa karena suatu alasan. Namun, masih banyak juga perusahaan yang menerima karyawan dengan status aktif sebagai mahasiswa. 

Jika Anda mulai terbangun dengan membayangkan beratnya hari ini, merasa senantiasa kesal dengan gaji Anda yang tak kunjung naik, merasa lelah dengan jauhnya jarak yang harus ditempuh, mengapa Anda tidak mulai mencari pekerjaan baru ? Bisa jadi di luar sana terdapat perusahaan lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan Anda. Yang terpenting adalah berkatalah dengan jujur sejak awal, cantumkan bahwa saat ini Anda tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa. Bagi yang bersedia menerima kondisi tersebut akan mengundang Anda untuk tes setelah melalui beberapa pertimbangan lainnya. Dan bagi yang tidak menerima kondisi tersebut tentu sejak awal tidak akan memproses CV Anda. 

Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam perasaan tidak nyaman hanya karena alasan yang mungkin menghambat Anda menemui kebahagiaan Anda. 

Bosen, Tapi Kalau Resign Bisa Dapat Gaji Sebesar Ini Tidak Ya ?

Gaji yang tinggi memang menggiurkan, namun jika nyatanya Anda mulai merasa bosan dan tidak merasa mendapatkan tantangan baru, apakah patut dilanjutkan ?

Tentu saja besaran gaji menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pekerjaan mana yang akan diambil. Namun, ada hal lain yang tidak dapat dibeli dengan uang seperti pengalaman dan juga kebahagiaan. Jika bertahan hanya membuat Anda diam di tempat dan hanya dompet Anda yang menebal, apakah ini benar benar yang Anda inginkan ?

Apakah Anda menikmati saat dimana Anda hanya melakukan hal yang sama ? Apakah Anda mulai kehilangan minat bekerja karena tidak adanya tantangan baru ? Tentu saja jawaban setiap orang berbeda karena kebutuhan setiap orang berbeda. Namun jika pengembangan diri Anda mulai terganggu, apakah Anda yakin gaji yang Anda terima selama ini mampu membayarnya ?

Kemungkinan besar, artikel ini tidak akan dipasang di mading setiap perusahaan karena setiap HRD normalnya mengharapkan karyawannya cukup nyaman bekerja di dalam perusahaan. Namun bertahan tidak selalu menandakan kebahagiaan. Karena waktu terus berputar dan hidup hanyalah satu kali, mengapa tidak kita lakukan hal yang membuat kita bahagia dibanding membuat kita merasa tertekan. 

Resign tidak selalu menandakan Anda menyerah dengan keadaan. Resign, seringkali merupakan satu satunya jalan keluar ketika kita tidak lagi merasa bahagia dalam bekerja. Resign memang merupakan kata yang paling tidak ingin didengar oleh para HRD. Namun dengan resign, bisa jadi Anda menjadi lebih dekat dengan kebahagiaan. 

Berani melangkah, berani mencoba. Jangan gadaikan hidup Anda hanya demi hal hal yang tidak membuat Anda bahagia atau berkembang. Karena resign tidak selalu bermakna buruk, karena resign bisa menjadi sebuah awal baru. 


Talent War : Direkrut Saja Tidak Cukup, Jadilah Kompetitif


Pada postingan sebelumnya saya telah menggambarkan betapa sengitnya pencarian kerja, hal ini tidak hanya dirasakan oleh pencari kerja melainkan oleh pemberi kerja. Suatu hal yang membanggakan ketika akhirnya kita berhasil mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Sayangnya, ternyata talent war tidak berhenti ketika kita telah dinyatakan diterima bekerja, talent war akan terus terjadi sepanjang perjalanan karir kita.


Lalu seperti apakah sengitnya talent war saat kita telah dinyatakan diterima sebagai karyawan ? Anda dapat merasakannya melalui beberapa fenomena berikut ;



Selalu Dibandingkan

Mungkin saja Anda diterima bekerja untuk menggantikan seseorang di perusahaan tersebut. Sayangnya Anda jangan bersenang hati terlebih dahulu. Pemegang jabatan sebelumnya tentu memiliki prestasinya sendiri dalam bekerja yang mau tidak mau membuat orang lain setidaknya berharap Anda melakukan hal yang sama baiknya dengan pemegang jabatan sebelumnya.

Tentu sudah cukup bagus jika Anda berhasil meneruskan apa yang telah dicapai oleh pemegang jabatan sebelumnya. Namun, jika Anda hanya sekedar meneruskan apa yang telah tercipta maka Anda hanya akan berada di bawah bayang bayang pemegang jabatan sebelumnya.

Oleh karena itu, berjuanglah untuk memberikan kinerja yang lebih baik dari pemegang jabatan sebelumnya. Ciptakan prestasi Anda sendiri dengan cara Anda. Berjuanglah untuk menjadi yang terbaik dan dengan begitulah Anda akan dikenang sebagai yang terbaik.

Terus menerus mendengar kata “si A dulu begini” memang menyakitkan, namun yakinlah bahwa Anda memiliki cara berbeda yang juga mampu membawa perubahan lebih baik. Tentu saja Anda dan pemegang jabatan sebelumnya memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda, namun dengan direkrutnya Anda menjadi pengganti karyawan tersebut membuktikan bahwa Anda dianggap sama kompetennya dengan karyawan tersebut.

Karyawan “Master”

Anda pasti memiliki kenalan yang sudah dikenal “master” di pekerjaan yang ia lakukan. Master dalam pengertian yang bersangkutan sudah bekerja cukup lama di posisi tersebut. Si karyawan “master” ini seringkali dianggap lebih menguasai tentang pekerjaan tersebut sehingga seringkali membuat orang lain merasa segan akan kemampuan bekerja yang ia miliki.

Entah karyawan “master” ini adalah Anda atau kenalan Anda, yang jelas menjadi karyawan “master” tidak selalu berada dalam konotasi positif. Tentu saja karyawan “master” memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai budaya kerja di perusahaan, namun tentang kompetensi ?

Karyawan “master” dianggap memiliki konotasi positif jika selama bekerja ia terus mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar dan juga memahami arti pekerjaan yang ia lakukan. Seringkali saya menemui kandidat yang telah bekerja lebih dari 3 tahun di perusahaan yang sama, sebagian dari mereka diberikan tanggung jawab yang lebih besar namun sedikit dari mereka yang memahami pekerjaan yang ia lakukan selama ini.

Saya pernah bertemu dengan seorang stock controller yang telah bekerja selama 5 tahun. Ia mengerti apa yang telah pekerjaan yang ia lakukan namun ketika saya tanya apa yang dapat ia analisa dari laporan yang selama ini ia kerjakan, ia tidak dapat menjelaskan. Ini adalah salah satu contoh karyawan “master” yang memiliki konotasi yang negatif. Dalam hal loyalitas tentu ia unggul, namun secara kompetensi, kemungkinan besar ia hanya melakukan pekerjaan yang sama dan diulang selama 5 tahun dan tentu saja karyawan seperti ini tidak cukup memiliki nilai tambah di mata pemberi kerja.

Jika Anda memang memutuskan untuk menjadi salah satu karyawan “master” dengan tetap tinggal di perusahaan dalam jangka waktu lama, maka pastikan Anda tidak menjadi seseorang yang rugi dengan tidak menyerap informasi sebanyak banyaknya dari pekerjaan Anda. Jika Anda adalah seorang staff procurement, coba analisa kapan pembelian dalam jumlah besar dilakukan dan barang apa yang paling diminati. Jika Anda adalah seorang sales, coba analisa program promosi apa yang paling diminati pelanggan. Pekerjaan kita memiliki nilai yang lebih besar dari apa yang terlihat oleh orang lain dan pastikan Anda menjadi seorang yang cukup beruntung dengan memahami arti nilai tersebut.

Mutasi

Mutasi seringkali dianggap menjadi momok bagi sebagian besar orang. Oh tentu saja, bayangkan saja kita telah nyaman bekerja dan tiba tiba dipindah ke pekerjaan lain yang tidak kita kuasai. Pikiran “apakah saya tidak kompeten”, “yah, saya harus belajar lagi”, dan berbagai pikiran lain tentu datang menghampiri.

Mutasi, yang dianggap sebagai perpindahan posisi seorang karyawan ke posisi lain yang dianggap sejajar seringkali tidak bermakna negatif. Mutasi, jika disikapi dengan baik dapat menjadi sumber pembelajaran bagi diri kita sehingga kemampuan yang kita miliki bertambah.

Misalkan, Anda adalah seorang staff akunting yang berkutat data transaksi tiba tiba dipindah menjadi seorang finance controller yang diharuskan untuk melakukan koordinasi dengan pihak lain. Bagi seorang yang telah terbiasa menjadi seorang staff akunting, ini bukanlah hal yang mudah. Namun jika dilihat kembali, setelah Anda menjalaninya maka Anda akan memiliki kemampuan yang lebih luas. Kemampuan sebagai staff akunting dan finance controller yang menjadi nilai tambah ketika Anda melamar pekerjaan di tempat lain ataupun mendapatkan promosi.

Mutasi juga dianggap sebagai sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Bisa jadi, ketika Anda melewatkan kesempatan ini, Anda tidak mendapatkannya ketika Anda ingin dan justru membuat Anda terperangkan untuk mengerjakan pekerjaan yang sama selama bertahun tahun.

Ketika Karyawan Baru Bergaji Lebih Tinggi

Tentu saja fenomena ini seringkali membuat sakit hati. Itulah mengapa, gaji adalah salah satu hal confidential dan cukup privasi meski seringkali para karyawan sibuk membocorkan gajinya kepada karyawan lainnya, hal yang tidak dapat dicegah.

Namun yang perlu diingat adalah, hal ini takkan terjadi tanpa alasan atau terjadi hanya karena HRD salah memberikan nominal gaji. Akan lebih baik jika Anda mengintrospeksi diri Anda, apa yang sudah Anda lakukan selama ini, bagaimana kinerja Anda, dan apa yang perlu ditingkatkan. Jika Anda tidak dapat menemukan apa alasannya, Anda dapat menanyakannya kepada atasan Anda yang tentu memiliki pemahaman lebih luas dibanding Anda.

Satu hal yang pasti, dalam hal ini bercerita adalah hal yang cukup bijak dibanding hanya memendamnya seorang diri sehingga akhirnya Anda terperangkap dalam prasangka negatif yang menguras emosi. Oleh karena itu, sebelum hal menyakitkan ini terjadi terus tingkatkan kualitas diri Anda sehingga Anda menjadi layak.

Dari 4 fenomena di atas, satu hal yang saya tekankan adalah nilai tambah. Bahkan rasanya hal ini sudah saya tekankan dari postingan saya sebelumnya. Memang bagi sebagian orang terkesan memburu buru, namun itulah kondisi dalam talent war dimana Anda harus terus waspada atau dikalahkan lawan. Dalam hal ini, Anda diminta untuk terus kompetitif atau Anda akan tertinggal oleh karyawan lain.

Apa yang Anda miliki akan menjadi penolong Anda, karena hidup tidak dapat diprediksi, maka bisa jadi Anda harus meninggalkan pekerjaan Anda saat ini. Dan jika ini terjadi, silahkan baca postingan saya sebelumnya, apa yang menjadi nilai tambah Anda sehingga pemberi kerja harus merekrut Anda?

Talent War : Ketika Pemberi dan Pencari Kerja Sama Sama Pusing

Adalah suatu fakta yang sangat miris, dalam 6 bulan terakhir hanya 0,4 % kandidat yang saya rekrut memenuhi ekspektasi. Terkadang saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya telah melakukan kesalahan dalam proses rekrutmen ini ? Apakah saya melewatkan kandidat yang sebetulnya berpotensi ? Namun nyatanya kekhawatiran saya memang hanyalah sebuah kekhawatiran karena saya mampu mempertanggungjawabkan alasan mengapa saya tidak melanjutkan mereka ke tahap interview user.

Hasil tes tidak memenuhi standar
Komunikasi yang berbelit belit
Mental yang tidak sesuai dengan kultur perusahaan

Ketiga alasan di atas adalah alasan dominan yang sering saya temui. Tentu saja setiap perusahaan berharap karyawannya cukup cerdas untuk menangkap suatu pembelajaran, mampu berkomunikasi dengan baik kepada orang lain dan juga memiliki karakter yang dibutuhkan perusahaan.



Saya seringkali ditanya, kenapa saya begitu lama dalam mencari kandidat ? Dulu saya masih ikut bertanya kepada diri saya mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun kini, saya telah menemukan jawabannya. Sebagai perusahaan berbasis profit, tentu kita mengharapkan tenaga kerja terbaik untuk menjadi personil kita. Semakin bagus tenaga kerja di dalamnya maka perusahaan dapat berkembang dengan lebih baik. Oleh karena itu, sebagai recruiter yang merupakan perwakilan perusahaan dalam mencari bibit bibit unggulan, kami dituntut untuk mencari best of the best bukan hanya best of the worst. 

Pusing, pasti. Mungkin sebagian dari kalian berpikir, "rekrut aja sih, yang penting kan bisa kerja, sisanya profesional aja". Oh, saya sungguh sangat ingin melakukannya. Rekrut saja siapapun yang menguasai pekerjaannya lalu kita bentuk agar ia bisa berkembang dan menyesuaikan dengan kultur perusahaan. Lagi lagi sayangnya tidak semudah itu. Bagi Anda yang memiliki pasangan tentu tahu bahwa mencari pacar tidak hanya yang kaya atau tampan melainkan mampu mencintai kita apa adanya. Begitu pula dalam mencari kandidat, tidak asal mencari kandidat yang bisa bekerja namun kami mencari kandidat yang kami anggap sebagai talent. Kandidat di atas rata rata, bukan hanya sekedar kandidat rata rata.

Selagi saya dan rekan rekan sesama recruiter lainnya tengah pusing mencari talent, nyatanya di luar sana masih ada beberapa orang yang juga tengah pusing mencari pekerjaan. Sudah apply disana - sini tapi masih belum ada yang memanggil. Rasanya iri melihat orang lain sudah mendapatkan pekerjaan sedangkan Anda belum. Sudah lulus psikotes, lalu interview HR dan kemudian tiada panggilan lagi.

Fenomena yang lucu bukan. Pemberi kerja pusing mencari talent, sedangkan pencari kerja masih sibuk dengan usahanya mencari kerja. Fenomena lucu namun juga miris. Namun inilah realita. Realita bahwa kini banyak perusahaan yang cukup selektif dalam memilih kandidat, bahwa kini perusahaan berlomba lomba mencari kandidat yang dianggap memiliki potensi disamping memiliki motivasi kerja.

Saya menyebut ini Talent War. Kondisi dimana siapa yang memiliki potensi maka dialah yang selamat sedangkan sisanya kemungkinan akan dipukul mundur oleh lawan. Oleh karena itu, tanyakan pada diri Anda, mengapa Anda layak untuk direkrut ? Apa nilai plus Anda dibanding kandidat lain di luar sana ?

Setidaknya ada beberapa hal yang seringkali gagal dimiliki oleh para pencari kerja saat ini ;

Motivasi Kerja

Apa alasan Anda bekerja ? Lalu akan dijawab dengan, "untuk mengaplikasikan ilmu saya / karena ini memang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang lain seusia saya". Jujur saja, mendengar jawaban tersebut saya kemungkinan akan beranggapan bahwa Anda akan resign dengan mudahnya ketika menghadapi kesulitan. 

Bandingkan dengan seseorang yang bekerja demi menghidupi keluarganya, atau seseorang yang bekerja untuk mengejar mimpinya. Bandingkan dengan seseorang yang menjadikan bekerja sebagai alat untuk mencapai tujuan hidupnya dibanding seseorang yang bahkan tidak memahami kolerasi antara mengapa ia harus bekerja dengan tujuan hidupnya. 

Motivasi kerja inilah yang menentukan bagaimana daya tahan kita dalam menghadapi berbagai rintangan dalam bekerja. Jika Anda memahami alasan Anda memilih sesuatu maka Anda akan bertahan meskipun harus melewati berbagai rintangan. Namun jika Anda tidak memahami alasan Anda untuk melakukan sesuatu, Anda akan mudah berubah pikiran saat dihadapkan dengan tantangan. 

Kita melakukan sesuatu karena adanya suatu alasan, semakin kuat alasan itu semakin giat ia melakukannya. Jika Anda bahkan tidak tahu pasti alasan Anda bekerja, mengapa Anda mengharapakan perusahaan memberi Anda pekerjaan jika Anda hanya coba - coba ?

Inisiatif

Saya masih sering menemui kandidat yang bahkan tidak memahami ia sedang melamar di perusahaan apa. Untuk hal yang berkaitan dengan hidupnya saja ia tidak berpikir panjang bagaimana dengan urusan yang berkaitan dengan orang lain ? Dan apa pribadi yang seperti ini layak disebut dengan talent ?

Seseorang yang tidak memiliki inisiatif bukannya tidak dapat bekerja, tentu saja mereka bisa. Namun jika Anda melihat dalam sudut pandang jangka panjang, maka seseorang tanpa inisiatif akan bekerja terus menerus dalam sebuah lingkaran tanpa pernah bergerak maju. Sebagai perusahaan, tentu kita mengharapkan setiap personil dalam perusahaan dapat berkembang. Sayangnya perusahaan tidak akan berkembang jika personilnya tidak berkembang, dan seseorang tidak akan berkembang jika ia tidak mau berkembang. 

Lalu, jika Anda merasa bahwa lebih nyaman menunggu bola dibandingkan dengan menjemput bola,silahkan saja teruskan. Namun satu hal yang harus Anda pahami bahwa kelak Anda akan menyaksikan bagaimana orang lain dengan inisiatif yang lebih tinggi digaji berkali kali lipat dibanding Anda sedangkan Anda masih berkutat dengan penyesuaian gaji. 

Kemampuan Bekerja yang Mumpuni

Jika ditanya kemampuan seorang supir tentu saja mereka mampu mengendarai mobil dan untuk itulah mereka dipekerjakan. Jika ditanya kemampuan seorang penyanyi tentu saja mereka jago menyanyi dan untuk itulah mereka dibayar.

Maka pastikan hal apa yang Anda miliki sehingga mampu membuat pemberi kerja membutuhkan Anda. Jika Anda melamar pekerjaan sebagai akunting namun Anda sendiri tidak memahami jurnal, bagaimana perusahaan akan mempekerjakan Anda ? Jika Anda melamar pekerjaan sebagai staff administrasi namun Anda bahkan tidak dapat mengoperasikan komputer dengan baik, maka mengapa mereka perlu mempekerjakan Anda ?

Tidak hanya seputar personality Anda, perusahaan juga menginginkan seseorang yang cukup kompeten di bidangnya. Sekali lagi, ini bukan masa dimana seseorang dapat dipekerjakan dengan mudah hanya karena kepepet. Oleh karena itu jangan jadikan diri Anda pilihan ketika pemberi kerja merasa kepepet. Jadikan diri Anda pilihan pertama dengan kemampuan yang Anda miliki. 

Jika semua staff admin bisa mengetik maka jadikan diri Anda bisa mengetik dan menganalisa laporan. Jika semua penyanyi bisa menyanyi maka jadikan diri Anda bisa bernyanyi dan berdansa. Bisa yang dimaksud disini bukan hanya bisa sekedar melakukannya dengan biasa, karena itu tidak akan bermakna apa apa. Jadikan diri Anda bisa, bisa melakukannya melebihi ekspektasi dan untuk itulah Anda dipilih. 

Saya berharap tulisan saya mampu menggugah Anda untuk kembali merenungi diri Anda. Sudahkah Anda bersiap menghadapi Talent War ini ? Kemampuan dan diri Anda adalah senjata Anda untuk bertahan dalam pertempuran ini. Pastikan Anda telah membekali diri Anda dengan senjata termutakhir karena setiap orang memiliki senjatanya masing - masing. Pastikan Anda cukup ahli dalam berperang karena yang Anda hadapi adalah para petarung. Namun jika Anda tidak memiliki senjata dan bahkan tidak dapat berperang, maka bersiaplah Anda menjadi orang pertama yang tersisihkan dalam pertarungan ini. 

Legally Blonde, Kisah Gadis Pirang Yang Memenangkan Mimpinya

Postingan saya kali ini akan membahas tentang kisah Reese Witherspoon dalam film Legally Blonde yang sempat populer di awal tahun 2000-an. Tentu saja sebagian dari Anda mungkin telah menyaksikan film ini sehingga saya tidak perlu menceritakan kembali mengenai kisah yang cukup ringan namun berkesan ini.

Satu hal yang saya ingat dari film ini adalah kisah seorang gadis pirang yang berani memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Ide cerita yang saya rasa sangat sederhana namun cukup memotivasi. Yah, seberapa banyak Elle Woods di dunia ini yang berani memperjuangkan mimpinya ?

Elle memang digambarkan sebagai sosialita yang seringkali dinilai tidak pernah serius. Dalam kehidupan nyata, sosok Elle yang heboh sendiri memang seringkali menjengkelkan. Namun dibalik sosok Elle yang sangat feminim, ada banyak hal lain dari dirinya yang seringkali kita lupakan selama ini.

Pekerja Keras

Awal mula Elle terjun dalam dunia hukum adalah ketika ia mengikuti mantan kekasihnya yang berkuliah di fakultas hukum. Di setiap sekuel Anda menyaksikan bagaimana kerasnya Elle dalam belajar agar lulus tes Harvard, bagaimana Elle mengimbangi waktunya pergi ke salon dengan tetap belajar dan sekian usaha keras Elle lainnya.

Bagi Elle yang memiliki tekad untuk berkuliah di Harvard dan tidak lagi dianggap remeh oleh mantan kekasihnya, segala kerja kerasnya bukanlah hal yang harus dipikir berulang kali untuk dilakukan. Elle tidak hanya memiliki mimpi, namun juga berhasil terbangun dari mimpinya dan mewujudkannya. 

Lalu, sebagian dari kita masih sibuk dengan angan angan kita untuk kelak menjadi dokter, kelak pergi ke negeri sakura dan lainnya tanpa pernah melakukan apapun. Seringkali mimpi benar benar berada 5 cm di depan kita, sangat dekat dan mudah diingat namun tak pernah kita genggam. Seringkali kita sibuk dalam berbagai pertimbangan karena takut gagal dan pada akhirnya tidak kemana mana. Nyatanya perencanaan memang penting, namun melakukan satu tindakan akan membawa Anda ke level yang lebih tinggi menuju mimpi Anda. 

Jadi, apa yang sudah Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi Anda ?

Tetap Menjadi Dirinya Sendiri

Elle merupakan salah satu anggota kelompok sosialita bernama Delta Nu yang seringkali diulas dalam film ini. Meski memiliki teman teman yang cukup setia di komunitasnya, nyatanya Elle kesulitan mendapatkan teman di lingkungan kampus dan kantornya akibat sikapnya yang terlalu girly.

Meski demikian, Elle tetap mempertahankan dirinya yang selalu bersahabat hingga ia mendapatkan beberapa kenalan yang kemudian menjadi teman baiknya dan selalu ada untuk membantunya. Namun meski ia selalu terlihat ramah, Elle tak pernah ragu menyalurkan emosinya ketika ia kesal tanpa berpikir bagaimana jika mereka membencinya. 

Berulang kali saya berpikir mengapa Elle berani bersikap begitu frontal dan emosional, namun nyatanya, Elle hanya berusaha menjadi dirinya sendiri dan ia begitu menghargai dirinya. Jika dipikir kembali, berapa banyak dari kita yang berusaha menahan amarah kita ketika dihina orang lain hanya agar kita tidak dibenci. Berapa banyak dari kita yang enggan bertanya hanya karena takut diacuhkan. Dan Elle mengajarkan kita satu hal, untuk tetap menjadi diri kita sendiri tanpa takut dikritisi orang lain, tanpa terkurung dalam pandangan orang lain karena nyatanya kita tidak dapat disukai semua orang. 

Meyakini Dirinya dan Mimpinya

Berulang kali Elle mendapatkan penolakan dalam proses pengajuan RUU Bruiser yang dianggap tidak penting. Terpukul, tentu saja Elle merasakan emosi semacam itu. Namun nyatanya Elle tetap kembali melanjutkan keinginannya. Meski bagi sebagian orang keberadaan hewan tidak begitu penting, namun Bruiser begitu penting bagi Elle dan Elle tidak peduli dengan hinaan banyak orang tentang mimpinya karena baginya anjing kesayangannya patut diperjuangkan. 

Lalu, berapa banyak dari kita yang akhirnya menghentikan mimpi kita hanya karena orang lain menganggap mimpi kita mustahil. Kita seringkali tidak berani memperjuangkan apa yang kita inginkan dan akhirnya kita hanya menjalani kehidupan yang mungkin biasa biasa saja. Seringkali kita tenggelam dalam rutinitas dan tak pernah memikirkan mimpi kita. Dalam film ini setidaknya Elle mengingatkan kita untuk tetap melanjutkan mimpi kita tanpa peduli hinaan dari orang lain yang bahkan tidak memahami alasan kita. 



Elle dikenal begitu potensial bukan karena ia terlahir cerdas, namun karena ia memiliki semangat untuk meraih apa yang ia inginkan. Di awal film bahkan ia seringkali dinilai bodoh, dan nyatanya ia memang pada awalnya sama sekali tidak memahami dunia hukum. Dan di akhir film Anda akan menyadari bahwa ternyata kegigihan adalah penyelamat kita meski kita tidak memiliki apapun. 

Elle, dengan segala kelebihannya dan kekurangannya sebagai seorang Influencer meyakini mimpinya dan dalam mimpinya ia sama sekali tidak berharap menjadi orang lain selain dirinya. Elle, dengan hobinya mempercantik diri tetap percaya ia cantik dengan rambut pirangnya bukan dengan warna lain. Elle, dengan segala kebodohannya dan juga segala ambisinya mengajarkan kita satu hal, bahwa diri dan mimpi kita adalah hal yang patut diperjuangkan dibanding opini orang lain terhadap kita. 


"Kapan Saya Naik Gaji ?" Pertanyaan yang Dapat Anda Jawab Sendiri

Kapan naik gaji ?

Bagi HRD, itu adalah pertanyaan yang paling sering kami dengar. Gaji saya kurang, gaji saya ga naik naik, saya mau cari gaji lebih besar, itu adalah beberapa hal yang sering dipikirkan karyawan.

Gaji. Uang, uang, dan uang. Bicara tentang uang memang cukup sensitif. Mereka bilang, bagaimana bisa bahagia kalau tidak punya uang ? Ya, ada benarnya meski nyatanya berapapun uang yang kita terima tak pernah cukup. Lalu bagaimana ?

Minggu lalu saya mendapatkan video yang sangat berkesan dari atasan saya. Video berdurasi sekitar 40 menit ini disampaikan oleh Tung Desem Waringin dengan sangat apik, bahasa yang ringan namun cukup menampar. Ia menampilkan, bagaimana caranya agar bisa naik gaji tidak hanya sekali dalam satu tahun namun 3 kali.



Berikut adalah beberapa kiat yang disampaikan oleh Tung Desem Waringin ;


  • Dapat dipercaya
  • Memiliki nilai tambah
  • Berperilaku menyenangkan
  • Dikenal oleh orang yang tepat
Postingan saya kali ini, tidak akan membahas mengenai 4 kiat di atas karena Tung Desem Waringin telah menyampaikannya dengan sangat mengena. Namun, dapat dilihat bahwa 4 kiat di atas berasal dari diri kita, bukan di luar diri kita. Kiat tersebut berasal dari bagaimana kita menciptakan diri kita, bukan berasal dari pengaruh inflasi maupun keuntungan perusahaan. 

Seringkali kita terjebak dengan istilah "naik gaji" dan "penyesuaian gaji". Selama bertahun tahun bekerja besaran gaji kita yang bertambah ternyata merupakan penyesuaian gaji kita dengan inflasi. Besaran gaji kita terlihat bertambah, padahal ternyata kita masih di tempat yang sama dan tidak benar benar "naik gaji" dengan pergi ke tempat yang lebih tinggi.

Namun juga ada yang menyadari bahwa besaran gaji yang semakin bertambah hanyalah penyesuaian dengan inflasi dan mereka kembali mengeluh, "gaji saya tidak naik naik. ini sih cuma penyesuaian ma UMR". Masih ada yang menyalahkan mengapa perusahaan tidak bisa memberikan kenaikan gaji yang bisa membuat mereka cukup puas. 

Dalam kondisi dimana gaji tak kunjung naik, pernahkah Anda berpikir apa yang telah diri Anda miliki hingga Anda layak "dibayar" lebih mahal ?

Dalam kondisi dimana gaji bertambah akibat penyesuaian, pernahkah Anda berpikir mengapa perusahaan harus memberikan gaji lebih tinggi kepada Anda ?

Atau jangan jangan atasan Anda tidak mengenal Anda dengan baik. Karena Anda adalah karyawan rata - rata. Tidak di atas, tidak di bawah, dan itulah mengapa cenderung tidak diingat. 

Pernahkah Anda berpikir, apa yang harus Anda lakukan agar Anda "dibayar" lebih mahal ?

Pernahkah Anda berpikir, berapa banyak potensi diri Anda yang belum digali ?

Pernahkah Anda berpikir, apa yang harus Anda lakukan agar menjadi lebih unggul dibanding rekan Anda lainnya ?

Pertanyaan "Kapan saya naik gaji" ini sebenarnya dapat dengan mudah Anda jawab jika Anda melihat diri Anda sebelum melihat faktor lain di luar diri Anda yang tak pernah bisa diprediksi. Kenaikan gaji memang membutuhkan banyak pertimbangan, namun bukankah dibanding sibuk bertanya "kapan naik gaji ?" akan lebih produktif jika anda bertanya "apa yang harus saya tingkatkan?". Dibanding menunggu kapan naik gaji, bukankah lebih fokus untuk memperbaiki diri kita dan menjadikan diri kita layak untuk dihargai lebih. 

Naik gaji memang indah seolah olah Anda memiliki kekuasaan lebih untuk membeli apa yang Anda inginkan. Sayangnya indahnya naik gaji hanya terasa di bulan pertama dan di bulan selanjutnya kita kembali ingin naik gaji. Dibanding keindahan sementara dari naik gaji, bukankah naik skill jauh lebih menggiurkan. Ketika skill Anda bertambah, manfaatnya tidak hanya terasa di bulan selanjutnya dan justru mempengaruhi hidup Anda kedepannya. 

"Kapan saya naik gaji" hanyalah pertanyaan milik mereka yang hanya ingin menunggu bola di gawang tanpa berniat menggiringnya. Sebagai karyawan, gaji adalah result. Dan prosesnya terdapat ketika Anda melakukan pekerjaan Anda dengan baik, meningkatkan kemampuan Anda serta kemampuan interpersonal Anda. Tentu Anda ingat dengan istilah proses menentukan hasil. Dan berapa hasil yang Anda inginkan tergantung pada proses yang Anda lakukan, proses rata rata atau proses di atas rata rata ?

Selamat merenung !


The Intern, Pentingnya Seseorang untuk Berbagi

Berbagi, adalah satu hal simpel namun seringkali diabaikan. Mungkin terdengar sederhana, hanya menceritakan apa yang kita rasakan kepada orang lain. Namun nyatanya, berbagi tidak semata mata hanya bercerita. Sesuai namanya, berbagi adalah bagaimana kita membagi perasaan kita kepada orang lain agar mereka ikut merasakannya.

Pertanyaan selanjutnya, adalah kepada siapa kita akan berbagi ? Terutama dalam dunia kerja, dinding pun bertelinga. Seseorang yang kita ajak berbagi tentu adalah orang yang dapat kita percaya. Lalu pertanyaan terakhir, apa yang perlu kita bagi kepada orang lain ? Ini pun tidaklah mudah. Seringkali kita terlibat konflik dengan diri kita tentang harus berbagi kepada orang lain atau hanya memendam emosi kita.



Pentingnya berbagi adalah satu hal yang saya tangkap dari The Intern yang dibintangi dengan apik oleh Anne Hathaway dan Robert Deniro. Ben (Robert Deniro) adalah seorang pria yang tengah memasuki masa pensiun dan tengah dilanda kebosanan dengan rutinitasnya yang tidak membuatnya merasa dibutuhkan. Oleh karena itu, ia melamar menjadi seorang senior magang di perusahaan fashion yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anne Hathaway).

Jules adalah seorang wanita karir yang dikarenakan kesibukannya membuat ia melakukan pekerjaannya dengan tidak terorganisir. Akibatnya, Becky (Christina Scherer) sang asisten juga ikut dibuat pusing hingga harus pulang jam 11 malam dan kembali bekerja jam 7 pagi keesokan harinya. Jules merasa baik baik saja dengan ritme kerjanya yang cepat, tidak terstruktur, cenderung membuat orang lain kewalahan, dan dapat terselesaikan.

Sedangkan Ben, yang tengah mengikuti program magang ditempatkan di bawah koordinasi Jules, sang owner yang super sibuk. Dan disinilah kisah mereka dimulai.

Seseorang untuk Berbagi

Dalam film, Jules digambarkan sebagai sosok yang cuek bahkan kepada orang tuanya sendiri. Meski selama di kantor ia berusaha terlihat baik baik saja, nyatanya Jules menyimpan banyak masalah. Suaminya yang berselingkuh dan tuntutan untuk mencari CEO yang lebih berpengalaman darinya untuk ditempatkan sebagai atasannya. 

Awal mulanya, Jules hanya menganggap Ben sebagai pria pensiunan yang tidak perlu diberikan banyak pekerjaan. Jules bahkan merasa terganggu dengan sifat Ben yang menurutnya terlalu perhatian. Namun itulah Ben, penuh inisiatif, disukai semua orang, bersahabat, bijaksana dan tulus. Dalam hal ini Anda dapat menyaksikan adegan dimana Ben menolak untuk pulang dikarenakan Jules, atasannya, belum beranjak pulang. 

Dalam banyak kesempatan, ditunjukkan sisi Ben yang sangat menghormati Jules sebagai atasannya meski usianya jauh di bawahnya. Ben membelikan sup untuk makan siang Jules tanpa diminta, karena Jules sering melewatkan waktu makan siangnya. Meminta supir Jules yang tengah mabuk untuk tidak mengemudi sehingga ia menggantikan supir Jules. 

Meski mulanya merasa terganggu, Jules lama kelamaan menyadari ketulusan hati Ben. Menurut Jules, Ben memiliki sisi dimana ia mampu membuat orang lain merasa lebih tenang. Itulah mengapa Jules mulai berani menceritakan permasalahannya, termasuk kekhawatirannya tentang perselingkuhan suaminya. 

Apakah Ben menggurui Jules ? Yang saya tangkap adalah tidak, yang dilakukan Ben hanyalah mendengarkan dan memberikan tanggapan yang entah mengapa menenangkan tanpa terkesan menggurui. 

Dan begitulah kedekatan Ben dan Jules bermula. Dimana bagi Jules, Ben adalah sahabatnya. Orang lain yang ia percaya untuk berbagi segala kisah hidupnya. Menjadi terbuka itu sulit, begitu pula bagi Jules yang sangat menghargai privasinya. Jules, dan kita seringkali sibuk mencari mana orang yang tulus kepada kita untuk akhirnya kita jadikan sandaran hidup.

Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Jules jika pada akhirnya ia bersikeras memindahkan Ben ke departemen lain. Nyatanya, berbagi mampu meringankan beban di hati. Dan berbagi membuat kita sadar bahwa kita tidak sendiri, ada orang lain yang dengan tulus selalu ada di samping kita. 

Trust Yourself

Setelah berulang kali menemui calon atasan yang akan ia rekrut, Jules menetapkan keputusannya untuk tidak merekrut CEO sebagai atasannya. Alasannya sederhana, karena secara pribadi ia tidak menginginkannya. Jules memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa ia mampu memimpin perusahaannya, "About the Fit" untuk mencapai kesuksesan. Hanya demi rumah tangganya yang hampir hancur akibat kesibukannya, Jules mempertimbangkan untuk merekrut CEO baru. 

Pada akhirnya Jules tersadarkan bahwa ia mempercayai dirinya lebih dari ia mempercayai siapapun bahwa ia mampu memimpin perusahaan yang ia bangun. Tak peduli apa yang dikatakan Cameron (Andrew Ranells) yang awalnya memintanya untuk mempertimbangkan CEO baru, Jules tetap yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukannya sendiri. 

Tim : Saling Mengisi dan Menerima

Film ini juga menampilkan kehidupan Jules sebagai ibu dan istri yang super sibuk sehingga urusan rumah tangga ia serahkan kepada suaminya, Matt (Anders Holm). Meski sempat mengkhianati Jules, pada akhirnya Matt kembali pada Jules dan memahami apa yang membuat wanita yang telah memberikannya 1 putri bahagia. 

Menyesali kesalahannya, Matt meminta Jules untuk melakukan apa yang menurutnya membuatnya bahagia. Sebagai Matt, apakah keputusan itu mudah dibuat ? Jawabannya tidak. Sama seperti ketika Matt melepaskan pekerjaannya saat Jules memulai usahanya. 

Nyatanya, pernikahan Jules dan Matt bukanlah pernikahan suci tanpa bumbu pengkhianatan. Namun melihat apa yang telah dikorbankan Matt demi rumah tangga mereka, kita dapat memahami bahwa dalam tim dibutuhkan saling mengisi dan menerima satu sama lain. Memang bukan hal yang mudah. Namun ketika kita mampu mengisi dan menerima rekan satu tim kita, maka proses mencapai suatu tujuan tidaklah lagi melelahkan karena dijalani bersama. 

The Intern mampu menampilkan berbagai sisi kehidupan Jules dengan apik. Meski klimaks tidak terlalu terlihat nyata, namun film ini menyadarkan diri kita tentang banyak hal terutama interaksi kita dengan diri sendiri dan orang lain. 

Seperti hubungan yang terjalin antara Ben dan Jules, sudahkah Anda menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi ? Sekuat kuatnya Anda, secerdas cerdasnya Anda, nyatanya Anda bukanlah superman yang memiliki kekuatan super untuk melakukan segala hal seorang diri. Anda juga bukanlah benda mati yang tidak memiliki emosi. Disinilah fungsi orang terdekat, orang yang paling Anda percayai, tidak hanya menemani saat Anda bahagia namun juga menguatkan Anda ketika Anda terjatuh. 

What have you done in your life?

Time, i guess it’s the most important thing in this world. Limited dan unable to taken back. For the people who already tried their best, the past can make them remember beautiful moments. But for the people who do nothing, sometimes the past is regretful.

So, as long as you have live, where have you been ?

What have you done ?

Have you live your life like what you wish for ?

And if the answer is disappointing, just remember tomorrow even our remaining day is a secret. Once more, time is unpredictable. So, in our remaining days, what would we do ?

Will we choose to do our routines, and ignore the importance of self development until we realize that we were left behind. Will we let ourself in despite ? And ignore the importance of self forgiveness until happiness is
just a dream. Or maybe we choose to have fun ? And ignore the importance of planing for future and leave
regrets .

Sometimes we forget what we want just because we’re too busy with routines. Sometimes we ignore (what a great we are and what a small we are) just because we’re too busy. And often we ignore the importance of future planning, once again, because we’re too busy. 

Routines is busy. And also tiring. More than that routines is tempting, easy to do, makes everyone feeling hard to do other things. But routines is also disabling, so longer you do that you can’t go ahead. 

I just need you to remember the time that you spent in the past and your time in the future. Have you burn your dreams that can make you feel excited just for endless routines ? I hope you still have your dream, and also your will to make it true. Seize the day because you can’t turn back the time. Catch your happiness, make your own great achievement, so we won’t remember the past as a regret.

4 Hal Dasar yang Patut Dipastikan Setiap Karyawan

Sudah sewajarnya, kita berharap perusahaan memperlakukan kita dengan layak sesuai dengan apa yang kita berikan. Sayangnya seringkali perlakuan layak yang diharapkan lebih menjurus kepada besaran kompensasi yang diberikan. Nah, sebagai pekerja, sudahkah Anda mendapatkan hak Anda ? Atau yang lebih tepatnya, sudahkah Anda memahami bagian mana yang menjadi hak Anda sebagai pekerja.

Bagi beberapa orang, mendapatkan pekerjaan dan penghasilan sudah cukup bagi mereka. Bahkan bagi beberapa orang, mereka menutup mata akan hal lain yang seharusnya mereka dapatkan sebagai pekerja seperti beberapa hal di bawah ini ;


Kejelasan Status Kepegawaian

Salah satu penyebab mengapa karyawan mengundurkan diri adalah karena karyawan merasa tidak mendapat kejelasan status setelah sekian lama bekerja. Ya, status kepegawaian memanglah penting karena hal ini tidak hanya menyangkut status karyawan kontrak / percobaan / tetap namun secara tidak langsung berpengaruh terhadap kompensasi. Sehingga adalah wajar jika Anda mengharapkan pekerjaan lain yang mampu memberikan kejelasan status dan itulah mengapa Anda harus memperjelas bagaimana status Anda kelak ketika akan memutuskan bergabung di sebuah perusahaan. 

Seringkali kita mengabaikan tahap ini, tahap dimana kita mempertanyakan bagaimana status kepegawaian kita di kemudian hari hanya karena terlalu senang mendapatkan pekerjaan. Sudah bukan hal asing lagi di dunia kerja dimana terdapat karyawan yang sepanjang masa kerjanya berstatus kontrak. Atau bahkan yang lebih parah selama bekerja mereka tidak pernah menerima dokumen perjanjian kerja !

Lebih hargai diri Anda dengan mempertanyakan dokumen perjanjian kerja Anda dan bagaimana sistematika perjanjian tersebut. Bersikap kritis adalah wajar untuk kebaikan diri Anda dibanding pada akhirnya Anda akan menyesal karena tidak menanyakannya.

Komponen Gaji

Meski merupakan hal paling penting bagi sebagian besar orang, masih terdapat beberapa orang yang hanya mengetahui kisaran kasar gaji yang mereka terima tanpa memahami bagaimana komponen gaji yang kelak diterima. 

Masih banyak yang merasa bahagia secara cuma cuma ketika mendengar gaji yang diterima per bulan adalah Rp 6.000.000 tanpa mengetahui bahwa ternyata jumlah tersebut diterima jika berhasil mencapai target atau berbagai kondisi lainnya. Pada akhirnya, mereka akan kecewa dengan pemikiran mereka karena tidak mendapat apa yang mereka pikirkan sehingga mengundurkan diri. 

Gaji adalah salah satu hak Anda, dan juga merupakan hak Anda jika Anda ingin mengetahui komponen gaji yang Anda terima. Harus diketahui, upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap, dan tunjangan tidak tetap yang memiliki perlakuan berbeda di setiap komponennya. 

Upah pokok adalah upah yang rutin Anda terima setiap periodenya. Tunjangan tetap adalah tunjangan yang diberikan tanpa bergantung pada suatu kondisi. Sedangkan tunjangan tidak tetap adalah tunjangan yang diberikan dengan bergantung pada suatu kondisi misalkan kehadiran. Karena bersifat menunjang, di beberapa perusahaan bisa jadi tidak terdapat komponen tunjangan yang diatur dalam kebijakan mereka. 

Mintalah HRD untuk menjelaskan atau menjawab setiap pertanyaan Anda mengenai gaji yang akan Anda terima. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari ataupun kesalahpahaman di kemudian hari hanya karena Anda melewatkan untuk memahami komponen gaji. 

BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan

Kedua hal ini adalah hak yang wajib Anda terima sebagai pekerja dimana pemerintah telah mewajibkan para pemberi kerja untuk ikut serta dalam program ini. BPJS Kesehatan memberikan Anda perlindungan ketika kesehatan Anda terganggu. Sedangkan BPJS Ketenagakerjaan memberikan Anda perlindungan jika Anda mengalami kecelakaan kerja atau kematian dan memberi jaminan untuk hari tua dan masa pensiun Anda. 

Pastikan kepada pemberi kerja bahwa Anda disertakan dalam program ini dan juga didaftarkan dalam program ini. 

Paklaring dan Surat Pengunduran Diri ke Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker)

Kini kita beralih ke masa dimana Anda memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan apapun alasannya. Pastikan Anda menerima dua dokumen yaitu paklaring dan surat pengunduran diri yang ditujukan ke Disnaker. 

Apa sih bedanya ?

Paklaring adalah dokumen yang menyatakan bahwa Anda pernah bekerja di suatu perusahaan sesuai dengan periode kerja Anda. Anda dapat menyertakan dokumen ini di setiap proses dimana Anda mencari pekerjaan baru untuk menandakan bahwa pengalaman kerja Anda adalah nyata.

Sedangkan surat pengunduran diri ke Disnaker adalah suatu dokumen yang juga menyatakan bahwa Anda menyatakan pernah bekerja di suatu perusahaan, namun ditujukan ke Disnaker. Dokumen ini digunakan apabila Anda ingin mencairkan dana Jaminan Hari Tua ke BPJS Ketenagakerjaan dan bukan untuk diserahkan dalam proses pencarian kerja. 

Oleh karena itu, pastikan identitas, jabatan dan periode masa kerja Anda telah sesuai. Dan tentunya pastikan Anda menerima dua dokumen ini. Oh iya, dua dokumen ini umumnya diberikan jika Anda mengundurkan diri sesuai prosedur pengunduran diri di perusahaan. Jadi, pastikan Anda menyelesaikan kewajiban Anda sebelum mengundurkan diri sehingga Anda mendapatkan dua dokumen ini sebagai hak Anda. 

Demikian adalah beberapa hal yang sudah sepatutnya menjadi hak setiap karyawan. Dan oleh karena itu, sebagai karyawan sudah sepatutnya Anda cukup cermat untuk memastikan apakah Anda menerima hak hak tersebut. Jika Anda berharap orang lain menghargai Anda, pastikan Anda telah menghargai diri Anda sendiri dengan memastikan Anda mendapatkan apa yang menjadi hak Anda.