Talent War : Ketika Pemberi dan Pencari Kerja Sama Sama Pusing

Adalah suatu fakta yang sangat miris, dalam 6 bulan terakhir hanya 0,4 % kandidat yang saya rekrut memenuhi ekspektasi. Terkadang saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya telah melakukan kesalahan dalam proses rekrutmen ini ? Apakah saya melewatkan kandidat yang sebetulnya berpotensi ? Namun nyatanya kekhawatiran saya memang hanyalah sebuah kekhawatiran karena saya mampu mempertanggungjawabkan alasan mengapa saya tidak melanjutkan mereka ke tahap interview user.

Hasil tes tidak memenuhi standar
Komunikasi yang berbelit belit
Mental yang tidak sesuai dengan kultur perusahaan

Ketiga alasan di atas adalah alasan dominan yang sering saya temui. Tentu saja setiap perusahaan berharap karyawannya cukup cerdas untuk menangkap suatu pembelajaran, mampu berkomunikasi dengan baik kepada orang lain dan juga memiliki karakter yang dibutuhkan perusahaan.



Saya seringkali ditanya, kenapa saya begitu lama dalam mencari kandidat ? Dulu saya masih ikut bertanya kepada diri saya mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun kini, saya telah menemukan jawabannya. Sebagai perusahaan berbasis profit, tentu kita mengharapkan tenaga kerja terbaik untuk menjadi personil kita. Semakin bagus tenaga kerja di dalamnya maka perusahaan dapat berkembang dengan lebih baik. Oleh karena itu, sebagai recruiter yang merupakan perwakilan perusahaan dalam mencari bibit bibit unggulan, kami dituntut untuk mencari best of the best bukan hanya best of the worst. 

Pusing, pasti. Mungkin sebagian dari kalian berpikir, "rekrut aja sih, yang penting kan bisa kerja, sisanya profesional aja". Oh, saya sungguh sangat ingin melakukannya. Rekrut saja siapapun yang menguasai pekerjaannya lalu kita bentuk agar ia bisa berkembang dan menyesuaikan dengan kultur perusahaan. Lagi lagi sayangnya tidak semudah itu. Bagi Anda yang memiliki pasangan tentu tahu bahwa mencari pacar tidak hanya yang kaya atau tampan melainkan mampu mencintai kita apa adanya. Begitu pula dalam mencari kandidat, tidak asal mencari kandidat yang bisa bekerja namun kami mencari kandidat yang kami anggap sebagai talent. Kandidat di atas rata rata, bukan hanya sekedar kandidat rata rata.

Selagi saya dan rekan rekan sesama recruiter lainnya tengah pusing mencari talent, nyatanya di luar sana masih ada beberapa orang yang juga tengah pusing mencari pekerjaan. Sudah apply disana - sini tapi masih belum ada yang memanggil. Rasanya iri melihat orang lain sudah mendapatkan pekerjaan sedangkan Anda belum. Sudah lulus psikotes, lalu interview HR dan kemudian tiada panggilan lagi.

Fenomena yang lucu bukan. Pemberi kerja pusing mencari talent, sedangkan pencari kerja masih sibuk dengan usahanya mencari kerja. Fenomena lucu namun juga miris. Namun inilah realita. Realita bahwa kini banyak perusahaan yang cukup selektif dalam memilih kandidat, bahwa kini perusahaan berlomba lomba mencari kandidat yang dianggap memiliki potensi disamping memiliki motivasi kerja.

Saya menyebut ini Talent War. Kondisi dimana siapa yang memiliki potensi maka dialah yang selamat sedangkan sisanya kemungkinan akan dipukul mundur oleh lawan. Oleh karena itu, tanyakan pada diri Anda, mengapa Anda layak untuk direkrut ? Apa nilai plus Anda dibanding kandidat lain di luar sana ?

Setidaknya ada beberapa hal yang seringkali gagal dimiliki oleh para pencari kerja saat ini ;

Motivasi Kerja

Apa alasan Anda bekerja ? Lalu akan dijawab dengan, "untuk mengaplikasikan ilmu saya / karena ini memang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang lain seusia saya". Jujur saja, mendengar jawaban tersebut saya kemungkinan akan beranggapan bahwa Anda akan resign dengan mudahnya ketika menghadapi kesulitan. 

Bandingkan dengan seseorang yang bekerja demi menghidupi keluarganya, atau seseorang yang bekerja untuk mengejar mimpinya. Bandingkan dengan seseorang yang menjadikan bekerja sebagai alat untuk mencapai tujuan hidupnya dibanding seseorang yang bahkan tidak memahami kolerasi antara mengapa ia harus bekerja dengan tujuan hidupnya. 

Motivasi kerja inilah yang menentukan bagaimana daya tahan kita dalam menghadapi berbagai rintangan dalam bekerja. Jika Anda memahami alasan Anda memilih sesuatu maka Anda akan bertahan meskipun harus melewati berbagai rintangan. Namun jika Anda tidak memahami alasan Anda untuk melakukan sesuatu, Anda akan mudah berubah pikiran saat dihadapkan dengan tantangan. 

Kita melakukan sesuatu karena adanya suatu alasan, semakin kuat alasan itu semakin giat ia melakukannya. Jika Anda bahkan tidak tahu pasti alasan Anda bekerja, mengapa Anda mengharapakan perusahaan memberi Anda pekerjaan jika Anda hanya coba - coba ?

Inisiatif

Saya masih sering menemui kandidat yang bahkan tidak memahami ia sedang melamar di perusahaan apa. Untuk hal yang berkaitan dengan hidupnya saja ia tidak berpikir panjang bagaimana dengan urusan yang berkaitan dengan orang lain ? Dan apa pribadi yang seperti ini layak disebut dengan talent ?

Seseorang yang tidak memiliki inisiatif bukannya tidak dapat bekerja, tentu saja mereka bisa. Namun jika Anda melihat dalam sudut pandang jangka panjang, maka seseorang tanpa inisiatif akan bekerja terus menerus dalam sebuah lingkaran tanpa pernah bergerak maju. Sebagai perusahaan, tentu kita mengharapkan setiap personil dalam perusahaan dapat berkembang. Sayangnya perusahaan tidak akan berkembang jika personilnya tidak berkembang, dan seseorang tidak akan berkembang jika ia tidak mau berkembang. 

Lalu, jika Anda merasa bahwa lebih nyaman menunggu bola dibandingkan dengan menjemput bola,silahkan saja teruskan. Namun satu hal yang harus Anda pahami bahwa kelak Anda akan menyaksikan bagaimana orang lain dengan inisiatif yang lebih tinggi digaji berkali kali lipat dibanding Anda sedangkan Anda masih berkutat dengan penyesuaian gaji. 

Kemampuan Bekerja yang Mumpuni

Jika ditanya kemampuan seorang supir tentu saja mereka mampu mengendarai mobil dan untuk itulah mereka dipekerjakan. Jika ditanya kemampuan seorang penyanyi tentu saja mereka jago menyanyi dan untuk itulah mereka dibayar.

Maka pastikan hal apa yang Anda miliki sehingga mampu membuat pemberi kerja membutuhkan Anda. Jika Anda melamar pekerjaan sebagai akunting namun Anda sendiri tidak memahami jurnal, bagaimana perusahaan akan mempekerjakan Anda ? Jika Anda melamar pekerjaan sebagai staff administrasi namun Anda bahkan tidak dapat mengoperasikan komputer dengan baik, maka mengapa mereka perlu mempekerjakan Anda ?

Tidak hanya seputar personality Anda, perusahaan juga menginginkan seseorang yang cukup kompeten di bidangnya. Sekali lagi, ini bukan masa dimana seseorang dapat dipekerjakan dengan mudah hanya karena kepepet. Oleh karena itu jangan jadikan diri Anda pilihan ketika pemberi kerja merasa kepepet. Jadikan diri Anda pilihan pertama dengan kemampuan yang Anda miliki. 

Jika semua staff admin bisa mengetik maka jadikan diri Anda bisa mengetik dan menganalisa laporan. Jika semua penyanyi bisa menyanyi maka jadikan diri Anda bisa bernyanyi dan berdansa. Bisa yang dimaksud disini bukan hanya bisa sekedar melakukannya dengan biasa, karena itu tidak akan bermakna apa apa. Jadikan diri Anda bisa, bisa melakukannya melebihi ekspektasi dan untuk itulah Anda dipilih. 

Saya berharap tulisan saya mampu menggugah Anda untuk kembali merenungi diri Anda. Sudahkah Anda bersiap menghadapi Talent War ini ? Kemampuan dan diri Anda adalah senjata Anda untuk bertahan dalam pertempuran ini. Pastikan Anda telah membekali diri Anda dengan senjata termutakhir karena setiap orang memiliki senjatanya masing - masing. Pastikan Anda cukup ahli dalam berperang karena yang Anda hadapi adalah para petarung. Namun jika Anda tidak memiliki senjata dan bahkan tidak dapat berperang, maka bersiaplah Anda menjadi orang pertama yang tersisihkan dalam pertarungan ini. 

Legally Blonde, Kisah Gadis Pirang Yang Memenangkan Mimpinya

Postingan saya kali ini akan membahas tentang kisah Reese Witherspoon dalam film Legally Blonde yang sempat populer di awal tahun 2000-an. Tentu saja sebagian dari Anda mungkin telah menyaksikan film ini sehingga saya tidak perlu menceritakan kembali mengenai kisah yang cukup ringan namun berkesan ini.

Satu hal yang saya ingat dari film ini adalah kisah seorang gadis pirang yang berani memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Ide cerita yang saya rasa sangat sederhana namun cukup memotivasi. Yah, seberapa banyak Elle Woods di dunia ini yang berani memperjuangkan mimpinya ?

Elle memang digambarkan sebagai sosialita yang seringkali dinilai tidak pernah serius. Dalam kehidupan nyata, sosok Elle yang heboh sendiri memang seringkali menjengkelkan. Namun dibalik sosok Elle yang sangat feminim, ada banyak hal lain dari dirinya yang seringkali kita lupakan selama ini.

Pekerja Keras

Awal mula Elle terjun dalam dunia hukum adalah ketika ia mengikuti mantan kekasihnya yang berkuliah di fakultas hukum. Di setiap sekuel Anda menyaksikan bagaimana kerasnya Elle dalam belajar agar lulus tes Harvard, bagaimana Elle mengimbangi waktunya pergi ke salon dengan tetap belajar dan sekian usaha keras Elle lainnya.

Bagi Elle yang memiliki tekad untuk berkuliah di Harvard dan tidak lagi dianggap remeh oleh mantan kekasihnya, segala kerja kerasnya bukanlah hal yang harus dipikir berulang kali untuk dilakukan. Elle tidak hanya memiliki mimpi, namun juga berhasil terbangun dari mimpinya dan mewujudkannya. 

Lalu, sebagian dari kita masih sibuk dengan angan angan kita untuk kelak menjadi dokter, kelak pergi ke negeri sakura dan lainnya tanpa pernah melakukan apapun. Seringkali mimpi benar benar berada 5 cm di depan kita, sangat dekat dan mudah diingat namun tak pernah kita genggam. Seringkali kita sibuk dalam berbagai pertimbangan karena takut gagal dan pada akhirnya tidak kemana mana. Nyatanya perencanaan memang penting, namun melakukan satu tindakan akan membawa Anda ke level yang lebih tinggi menuju mimpi Anda. 

Jadi, apa yang sudah Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi Anda ?

Tetap Menjadi Dirinya Sendiri

Elle merupakan salah satu anggota kelompok sosialita bernama Delta Nu yang seringkali diulas dalam film ini. Meski memiliki teman teman yang cukup setia di komunitasnya, nyatanya Elle kesulitan mendapatkan teman di lingkungan kampus dan kantornya akibat sikapnya yang terlalu girly.

Meski demikian, Elle tetap mempertahankan dirinya yang selalu bersahabat hingga ia mendapatkan beberapa kenalan yang kemudian menjadi teman baiknya dan selalu ada untuk membantunya. Namun meski ia selalu terlihat ramah, Elle tak pernah ragu menyalurkan emosinya ketika ia kesal tanpa berpikir bagaimana jika mereka membencinya. 

Berulang kali saya berpikir mengapa Elle berani bersikap begitu frontal dan emosional, namun nyatanya, Elle hanya berusaha menjadi dirinya sendiri dan ia begitu menghargai dirinya. Jika dipikir kembali, berapa banyak dari kita yang berusaha menahan amarah kita ketika dihina orang lain hanya agar kita tidak dibenci. Berapa banyak dari kita yang enggan bertanya hanya karena takut diacuhkan. Dan Elle mengajarkan kita satu hal, untuk tetap menjadi diri kita sendiri tanpa takut dikritisi orang lain, tanpa terkurung dalam pandangan orang lain karena nyatanya kita tidak dapat disukai semua orang. 

Meyakini Dirinya dan Mimpinya

Berulang kali Elle mendapatkan penolakan dalam proses pengajuan RUU Bruiser yang dianggap tidak penting. Terpukul, tentu saja Elle merasakan emosi semacam itu. Namun nyatanya Elle tetap kembali melanjutkan keinginannya. Meski bagi sebagian orang keberadaan hewan tidak begitu penting, namun Bruiser begitu penting bagi Elle dan Elle tidak peduli dengan hinaan banyak orang tentang mimpinya karena baginya anjing kesayangannya patut diperjuangkan. 

Lalu, berapa banyak dari kita yang akhirnya menghentikan mimpi kita hanya karena orang lain menganggap mimpi kita mustahil. Kita seringkali tidak berani memperjuangkan apa yang kita inginkan dan akhirnya kita hanya menjalani kehidupan yang mungkin biasa biasa saja. Seringkali kita tenggelam dalam rutinitas dan tak pernah memikirkan mimpi kita. Dalam film ini setidaknya Elle mengingatkan kita untuk tetap melanjutkan mimpi kita tanpa peduli hinaan dari orang lain yang bahkan tidak memahami alasan kita. 



Elle dikenal begitu potensial bukan karena ia terlahir cerdas, namun karena ia memiliki semangat untuk meraih apa yang ia inginkan. Di awal film bahkan ia seringkali dinilai bodoh, dan nyatanya ia memang pada awalnya sama sekali tidak memahami dunia hukum. Dan di akhir film Anda akan menyadari bahwa ternyata kegigihan adalah penyelamat kita meski kita tidak memiliki apapun. 

Elle, dengan segala kelebihannya dan kekurangannya sebagai seorang Influencer meyakini mimpinya dan dalam mimpinya ia sama sekali tidak berharap menjadi orang lain selain dirinya. Elle, dengan hobinya mempercantik diri tetap percaya ia cantik dengan rambut pirangnya bukan dengan warna lain. Elle, dengan segala kebodohannya dan juga segala ambisinya mengajarkan kita satu hal, bahwa diri dan mimpi kita adalah hal yang patut diperjuangkan dibanding opini orang lain terhadap kita. 


"Kapan Saya Naik Gaji ?" Pertanyaan yang Dapat Anda Jawab Sendiri

Kapan naik gaji ?

Bagi HRD, itu adalah pertanyaan yang paling sering kami dengar. Gaji saya kurang, gaji saya ga naik naik, saya mau cari gaji lebih besar, itu adalah beberapa hal yang sering dipikirkan karyawan.

Gaji. Uang, uang, dan uang. Bicara tentang uang memang cukup sensitif. Mereka bilang, bagaimana bisa bahagia kalau tidak punya uang ? Ya, ada benarnya meski nyatanya berapapun uang yang kita terima tak pernah cukup. Lalu bagaimana ?

Minggu lalu saya mendapatkan video yang sangat berkesan dari atasan saya. Video berdurasi sekitar 40 menit ini disampaikan oleh Tung Desem Waringin dengan sangat apik, bahasa yang ringan namun cukup menampar. Ia menampilkan, bagaimana caranya agar bisa naik gaji tidak hanya sekali dalam satu tahun namun 3 kali.



Berikut adalah beberapa kiat yang disampaikan oleh Tung Desem Waringin ;


  • Dapat dipercaya
  • Memiliki nilai tambah
  • Berperilaku menyenangkan
  • Dikenal oleh orang yang tepat
Postingan saya kali ini, tidak akan membahas mengenai 4 kiat di atas karena Tung Desem Waringin telah menyampaikannya dengan sangat mengena. Namun, dapat dilihat bahwa 4 kiat di atas berasal dari diri kita, bukan di luar diri kita. Kiat tersebut berasal dari bagaimana kita menciptakan diri kita, bukan berasal dari pengaruh inflasi maupun keuntungan perusahaan. 

Seringkali kita terjebak dengan istilah "naik gaji" dan "penyesuaian gaji". Selama bertahun tahun bekerja besaran gaji kita yang bertambah ternyata merupakan penyesuaian gaji kita dengan inflasi. Besaran gaji kita terlihat bertambah, padahal ternyata kita masih di tempat yang sama dan tidak benar benar "naik gaji" dengan pergi ke tempat yang lebih tinggi.

Namun juga ada yang menyadari bahwa besaran gaji yang semakin bertambah hanyalah penyesuaian dengan inflasi dan mereka kembali mengeluh, "gaji saya tidak naik naik. ini sih cuma penyesuaian ma UMR". Masih ada yang menyalahkan mengapa perusahaan tidak bisa memberikan kenaikan gaji yang bisa membuat mereka cukup puas. 

Dalam kondisi dimana gaji tak kunjung naik, pernahkah Anda berpikir apa yang telah diri Anda miliki hingga Anda layak "dibayar" lebih mahal ?

Dalam kondisi dimana gaji bertambah akibat penyesuaian, pernahkah Anda berpikir mengapa perusahaan harus memberikan gaji lebih tinggi kepada Anda ?

Atau jangan jangan atasan Anda tidak mengenal Anda dengan baik. Karena Anda adalah karyawan rata - rata. Tidak di atas, tidak di bawah, dan itulah mengapa cenderung tidak diingat. 

Pernahkah Anda berpikir, apa yang harus Anda lakukan agar Anda "dibayar" lebih mahal ?

Pernahkah Anda berpikir, berapa banyak potensi diri Anda yang belum digali ?

Pernahkah Anda berpikir, apa yang harus Anda lakukan agar menjadi lebih unggul dibanding rekan Anda lainnya ?

Pertanyaan "Kapan saya naik gaji" ini sebenarnya dapat dengan mudah Anda jawab jika Anda melihat diri Anda sebelum melihat faktor lain di luar diri Anda yang tak pernah bisa diprediksi. Kenaikan gaji memang membutuhkan banyak pertimbangan, namun bukankah dibanding sibuk bertanya "kapan naik gaji ?" akan lebih produktif jika anda bertanya "apa yang harus saya tingkatkan?". Dibanding menunggu kapan naik gaji, bukankah lebih fokus untuk memperbaiki diri kita dan menjadikan diri kita layak untuk dihargai lebih. 

Naik gaji memang indah seolah olah Anda memiliki kekuasaan lebih untuk membeli apa yang Anda inginkan. Sayangnya indahnya naik gaji hanya terasa di bulan pertama dan di bulan selanjutnya kita kembali ingin naik gaji. Dibanding keindahan sementara dari naik gaji, bukankah naik skill jauh lebih menggiurkan. Ketika skill Anda bertambah, manfaatnya tidak hanya terasa di bulan selanjutnya dan justru mempengaruhi hidup Anda kedepannya. 

"Kapan saya naik gaji" hanyalah pertanyaan milik mereka yang hanya ingin menunggu bola di gawang tanpa berniat menggiringnya. Sebagai karyawan, gaji adalah result. Dan prosesnya terdapat ketika Anda melakukan pekerjaan Anda dengan baik, meningkatkan kemampuan Anda serta kemampuan interpersonal Anda. Tentu Anda ingat dengan istilah proses menentukan hasil. Dan berapa hasil yang Anda inginkan tergantung pada proses yang Anda lakukan, proses rata rata atau proses di atas rata rata ?

Selamat merenung !


The Intern, Pentingnya Seseorang untuk Berbagi

Berbagi, adalah satu hal simpel namun seringkali diabaikan. Mungkin terdengar sederhana, hanya menceritakan apa yang kita rasakan kepada orang lain. Namun nyatanya, berbagi tidak semata mata hanya bercerita. Sesuai namanya, berbagi adalah bagaimana kita membagi perasaan kita kepada orang lain agar mereka ikut merasakannya.

Pertanyaan selanjutnya, adalah kepada siapa kita akan berbagi ? Terutama dalam dunia kerja, dinding pun bertelinga. Seseorang yang kita ajak berbagi tentu adalah orang yang dapat kita percaya. Lalu pertanyaan terakhir, apa yang perlu kita bagi kepada orang lain ? Ini pun tidaklah mudah. Seringkali kita terlibat konflik dengan diri kita tentang harus berbagi kepada orang lain atau hanya memendam emosi kita.



Pentingnya berbagi adalah satu hal yang saya tangkap dari The Intern yang dibintangi dengan apik oleh Anne Hathaway dan Robert Deniro. Ben (Robert Deniro) adalah seorang pria yang tengah memasuki masa pensiun dan tengah dilanda kebosanan dengan rutinitasnya yang tidak membuatnya merasa dibutuhkan. Oleh karena itu, ia melamar menjadi seorang senior magang di perusahaan fashion yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anne Hathaway).

Jules adalah seorang wanita karir yang dikarenakan kesibukannya membuat ia melakukan pekerjaannya dengan tidak terorganisir. Akibatnya, Becky (Christina Scherer) sang asisten juga ikut dibuat pusing hingga harus pulang jam 11 malam dan kembali bekerja jam 7 pagi keesokan harinya. Jules merasa baik baik saja dengan ritme kerjanya yang cepat, tidak terstruktur, cenderung membuat orang lain kewalahan, dan dapat terselesaikan.

Sedangkan Ben, yang tengah mengikuti program magang ditempatkan di bawah koordinasi Jules, sang owner yang super sibuk. Dan disinilah kisah mereka dimulai.

Seseorang untuk Berbagi

Dalam film, Jules digambarkan sebagai sosok yang cuek bahkan kepada orang tuanya sendiri. Meski selama di kantor ia berusaha terlihat baik baik saja, nyatanya Jules menyimpan banyak masalah. Suaminya yang berselingkuh dan tuntutan untuk mencari CEO yang lebih berpengalaman darinya untuk ditempatkan sebagai atasannya. 

Awal mulanya, Jules hanya menganggap Ben sebagai pria pensiunan yang tidak perlu diberikan banyak pekerjaan. Jules bahkan merasa terganggu dengan sifat Ben yang menurutnya terlalu perhatian. Namun itulah Ben, penuh inisiatif, disukai semua orang, bersahabat, bijaksana dan tulus. Dalam hal ini Anda dapat menyaksikan adegan dimana Ben menolak untuk pulang dikarenakan Jules, atasannya, belum beranjak pulang. 

Dalam banyak kesempatan, ditunjukkan sisi Ben yang sangat menghormati Jules sebagai atasannya meski usianya jauh di bawahnya. Ben membelikan sup untuk makan siang Jules tanpa diminta, karena Jules sering melewatkan waktu makan siangnya. Meminta supir Jules yang tengah mabuk untuk tidak mengemudi sehingga ia menggantikan supir Jules. 

Meski mulanya merasa terganggu, Jules lama kelamaan menyadari ketulusan hati Ben. Menurut Jules, Ben memiliki sisi dimana ia mampu membuat orang lain merasa lebih tenang. Itulah mengapa Jules mulai berani menceritakan permasalahannya, termasuk kekhawatirannya tentang perselingkuhan suaminya. 

Apakah Ben menggurui Jules ? Yang saya tangkap adalah tidak, yang dilakukan Ben hanyalah mendengarkan dan memberikan tanggapan yang entah mengapa menenangkan tanpa terkesan menggurui. 

Dan begitulah kedekatan Ben dan Jules bermula. Dimana bagi Jules, Ben adalah sahabatnya. Orang lain yang ia percaya untuk berbagi segala kisah hidupnya. Menjadi terbuka itu sulit, begitu pula bagi Jules yang sangat menghargai privasinya. Jules, dan kita seringkali sibuk mencari mana orang yang tulus kepada kita untuk akhirnya kita jadikan sandaran hidup.

Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Jules jika pada akhirnya ia bersikeras memindahkan Ben ke departemen lain. Nyatanya, berbagi mampu meringankan beban di hati. Dan berbagi membuat kita sadar bahwa kita tidak sendiri, ada orang lain yang dengan tulus selalu ada di samping kita. 

Trust Yourself

Setelah berulang kali menemui calon atasan yang akan ia rekrut, Jules menetapkan keputusannya untuk tidak merekrut CEO sebagai atasannya. Alasannya sederhana, karena secara pribadi ia tidak menginginkannya. Jules memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa ia mampu memimpin perusahaannya, "About the Fit" untuk mencapai kesuksesan. Hanya demi rumah tangganya yang hampir hancur akibat kesibukannya, Jules mempertimbangkan untuk merekrut CEO baru. 

Pada akhirnya Jules tersadarkan bahwa ia mempercayai dirinya lebih dari ia mempercayai siapapun bahwa ia mampu memimpin perusahaan yang ia bangun. Tak peduli apa yang dikatakan Cameron (Andrew Ranells) yang awalnya memintanya untuk mempertimbangkan CEO baru, Jules tetap yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukannya sendiri. 

Tim : Saling Mengisi dan Menerima

Film ini juga menampilkan kehidupan Jules sebagai ibu dan istri yang super sibuk sehingga urusan rumah tangga ia serahkan kepada suaminya, Matt (Anders Holm). Meski sempat mengkhianati Jules, pada akhirnya Matt kembali pada Jules dan memahami apa yang membuat wanita yang telah memberikannya 1 putri bahagia. 

Menyesali kesalahannya, Matt meminta Jules untuk melakukan apa yang menurutnya membuatnya bahagia. Sebagai Matt, apakah keputusan itu mudah dibuat ? Jawabannya tidak. Sama seperti ketika Matt melepaskan pekerjaannya saat Jules memulai usahanya. 

Nyatanya, pernikahan Jules dan Matt bukanlah pernikahan suci tanpa bumbu pengkhianatan. Namun melihat apa yang telah dikorbankan Matt demi rumah tangga mereka, kita dapat memahami bahwa dalam tim dibutuhkan saling mengisi dan menerima satu sama lain. Memang bukan hal yang mudah. Namun ketika kita mampu mengisi dan menerima rekan satu tim kita, maka proses mencapai suatu tujuan tidaklah lagi melelahkan karena dijalani bersama. 

The Intern mampu menampilkan berbagai sisi kehidupan Jules dengan apik. Meski klimaks tidak terlalu terlihat nyata, namun film ini menyadarkan diri kita tentang banyak hal terutama interaksi kita dengan diri sendiri dan orang lain. 

Seperti hubungan yang terjalin antara Ben dan Jules, sudahkah Anda menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi ? Sekuat kuatnya Anda, secerdas cerdasnya Anda, nyatanya Anda bukanlah superman yang memiliki kekuatan super untuk melakukan segala hal seorang diri. Anda juga bukanlah benda mati yang tidak memiliki emosi. Disinilah fungsi orang terdekat, orang yang paling Anda percayai, tidak hanya menemani saat Anda bahagia namun juga menguatkan Anda ketika Anda terjatuh. 

What have you done in your life?

Time, i guess it’s the most important thing in this world. Limited dan unable to taken back. For the people who already tried their best, the past can make them remember beautiful moments. But for the people who do nothing, sometimes the past is regretful.

So, as long as you have live, where have you been ?

What have you done ?

Have you live your life like what you wish for ?

And if the answer is disappointing, just remember tomorrow even our remaining day is a secret. Once more, time is unpredictable. So, in our remaining days, what would we do ?

Will we choose to do our routines, and ignore the importance of self development until we realize that we were left behind. Will we let ourself in despite ? And ignore the importance of self forgiveness until happiness is
just a dream. Or maybe we choose to have fun ? And ignore the importance of planing for future and leave
regrets .

Sometimes we forget what we want just because we’re too busy with routines. Sometimes we ignore (what a great we are and what a small we are) just because we’re too busy. And often we ignore the importance of future planning, once again, because we’re too busy. 

Routines is busy. And also tiring. More than that routines is tempting, easy to do, makes everyone feeling hard to do other things. But routines is also disabling, so longer you do that you can’t go ahead. 

I just need you to remember the time that you spent in the past and your time in the future. Have you burn your dreams that can make you feel excited just for endless routines ? I hope you still have your dream, and also your will to make it true. Seize the day because you can’t turn back the time. Catch your happiness, make your own great achievement, so we won’t remember the past as a regret.

4 Hal Dasar yang Patut Dipastikan Setiap Karyawan

Sudah sewajarnya, kita berharap perusahaan memperlakukan kita dengan layak sesuai dengan apa yang kita berikan. Sayangnya seringkali perlakuan layak yang diharapkan lebih menjurus kepada besaran kompensasi yang diberikan. Nah, sebagai pekerja, sudahkah Anda mendapatkan hak Anda ? Atau yang lebih tepatnya, sudahkah Anda memahami bagian mana yang menjadi hak Anda sebagai pekerja.

Bagi beberapa orang, mendapatkan pekerjaan dan penghasilan sudah cukup bagi mereka. Bahkan bagi beberapa orang, mereka menutup mata akan hal lain yang seharusnya mereka dapatkan sebagai pekerja seperti beberapa hal di bawah ini ;


Kejelasan Status Kepegawaian

Salah satu penyebab mengapa karyawan mengundurkan diri adalah karena karyawan merasa tidak mendapat kejelasan status setelah sekian lama bekerja. Ya, status kepegawaian memanglah penting karena hal ini tidak hanya menyangkut status karyawan kontrak / percobaan / tetap namun secara tidak langsung berpengaruh terhadap kompensasi. Sehingga adalah wajar jika Anda mengharapkan pekerjaan lain yang mampu memberikan kejelasan status dan itulah mengapa Anda harus memperjelas bagaimana status Anda kelak ketika akan memutuskan bergabung di sebuah perusahaan. 

Seringkali kita mengabaikan tahap ini, tahap dimana kita mempertanyakan bagaimana status kepegawaian kita di kemudian hari hanya karena terlalu senang mendapatkan pekerjaan. Sudah bukan hal asing lagi di dunia kerja dimana terdapat karyawan yang sepanjang masa kerjanya berstatus kontrak. Atau bahkan yang lebih parah selama bekerja mereka tidak pernah menerima dokumen perjanjian kerja !

Lebih hargai diri Anda dengan mempertanyakan dokumen perjanjian kerja Anda dan bagaimana sistematika perjanjian tersebut. Bersikap kritis adalah wajar untuk kebaikan diri Anda dibanding pada akhirnya Anda akan menyesal karena tidak menanyakannya.

Komponen Gaji

Meski merupakan hal paling penting bagi sebagian besar orang, masih terdapat beberapa orang yang hanya mengetahui kisaran kasar gaji yang mereka terima tanpa memahami bagaimana komponen gaji yang kelak diterima. 

Masih banyak yang merasa bahagia secara cuma cuma ketika mendengar gaji yang diterima per bulan adalah Rp 6.000.000 tanpa mengetahui bahwa ternyata jumlah tersebut diterima jika berhasil mencapai target atau berbagai kondisi lainnya. Pada akhirnya, mereka akan kecewa dengan pemikiran mereka karena tidak mendapat apa yang mereka pikirkan sehingga mengundurkan diri. 

Gaji adalah salah satu hak Anda, dan juga merupakan hak Anda jika Anda ingin mengetahui komponen gaji yang Anda terima. Harus diketahui, upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap, dan tunjangan tidak tetap yang memiliki perlakuan berbeda di setiap komponennya. 

Upah pokok adalah upah yang rutin Anda terima setiap periodenya. Tunjangan tetap adalah tunjangan yang diberikan tanpa bergantung pada suatu kondisi. Sedangkan tunjangan tidak tetap adalah tunjangan yang diberikan dengan bergantung pada suatu kondisi misalkan kehadiran. Karena bersifat menunjang, di beberapa perusahaan bisa jadi tidak terdapat komponen tunjangan yang diatur dalam kebijakan mereka. 

Mintalah HRD untuk menjelaskan atau menjawab setiap pertanyaan Anda mengenai gaji yang akan Anda terima. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari ataupun kesalahpahaman di kemudian hari hanya karena Anda melewatkan untuk memahami komponen gaji. 

BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan

Kedua hal ini adalah hak yang wajib Anda terima sebagai pekerja dimana pemerintah telah mewajibkan para pemberi kerja untuk ikut serta dalam program ini. BPJS Kesehatan memberikan Anda perlindungan ketika kesehatan Anda terganggu. Sedangkan BPJS Ketenagakerjaan memberikan Anda perlindungan jika Anda mengalami kecelakaan kerja atau kematian dan memberi jaminan untuk hari tua dan masa pensiun Anda. 

Pastikan kepada pemberi kerja bahwa Anda disertakan dalam program ini dan juga didaftarkan dalam program ini. 

Paklaring dan Surat Pengunduran Diri ke Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker)

Kini kita beralih ke masa dimana Anda memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan apapun alasannya. Pastikan Anda menerima dua dokumen yaitu paklaring dan surat pengunduran diri yang ditujukan ke Disnaker. 

Apa sih bedanya ?

Paklaring adalah dokumen yang menyatakan bahwa Anda pernah bekerja di suatu perusahaan sesuai dengan periode kerja Anda. Anda dapat menyertakan dokumen ini di setiap proses dimana Anda mencari pekerjaan baru untuk menandakan bahwa pengalaman kerja Anda adalah nyata.

Sedangkan surat pengunduran diri ke Disnaker adalah suatu dokumen yang juga menyatakan bahwa Anda menyatakan pernah bekerja di suatu perusahaan, namun ditujukan ke Disnaker. Dokumen ini digunakan apabila Anda ingin mencairkan dana Jaminan Hari Tua ke BPJS Ketenagakerjaan dan bukan untuk diserahkan dalam proses pencarian kerja. 

Oleh karena itu, pastikan identitas, jabatan dan periode masa kerja Anda telah sesuai. Dan tentunya pastikan Anda menerima dua dokumen ini. Oh iya, dua dokumen ini umumnya diberikan jika Anda mengundurkan diri sesuai prosedur pengunduran diri di perusahaan. Jadi, pastikan Anda menyelesaikan kewajiban Anda sebelum mengundurkan diri sehingga Anda mendapatkan dua dokumen ini sebagai hak Anda. 

Demikian adalah beberapa hal yang sudah sepatutnya menjadi hak setiap karyawan. Dan oleh karena itu, sebagai karyawan sudah sepatutnya Anda cukup cermat untuk memastikan apakah Anda menerima hak hak tersebut. Jika Anda berharap orang lain menghargai Anda, pastikan Anda telah menghargai diri Anda sendiri dengan memastikan Anda mendapatkan apa yang menjadi hak Anda.

4 Kesalahan Fresh Graduate dalam Mencari Kerja

Dalam setiap lowongan pekerjaan, tidak dapat dipungkiri bahwa kalangan fresh graduate nyaris tak pernah absen dalam daftar pencari kerja. Kalangan fresh graduate adalah para pencari kerja yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas / Kejuruan maupun Universitas yang belum memiliki pengalaman kerja.

Meski nyatanya kalangan fresh graduate belum memiliki pengalaman bekerja, selalu ada posisi dalam dunia kerja yang terbuka untuk fresh graduate. Dengan beberapa pertimbangan, maka fresh graduate kini mulai tampil dalam proses interview kerja di perusahaan. Namun, masih ada sebagian fresh graduate yang tidak lolos dalam proses interview tersebut. Dan kenyataan yang lebih miris adalah masih ada sebagian fresh graduate yang cukup lama menyandang gelar pengangguran semenjak dinyatakan lulus.



Banyaknya pengangguran dan banyaknya perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan menandakan bahwa tenaga kerja yang tersedia masih belum memenuhi kebutuhan industri. Berikut adalah beberapa kesalahan yang tanpa disadari dilakukan fresh graduate dalam mencari kerja ;

Tidak Menyiapkan Diri dengan Baik 

Pertanyaan "Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan kami ?" adalah pertanyaan yang nyaris tak pernah absen diucapkan recruiter dalam proses interview kerja yang kemudian disusul dengan pertanyaan "Apa yang Anda ketahui tentang pekerjaan yang Anda lamar?".

Meski sebagian dari fresh graduate mampu menjawabnya dengan baik, masih saja ada fresh graduate yang menjawab asal yang tentunya tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Memang terkesa sepele, namun hal ini menggambarkan betapa kandidat menyiapkan diri dengan baik dalam menghadapi sesuatu hal yang cukup serius. Hal ini juga menandakan bagaimana kandidat mengambil keputusan akan suatu hal. 

Mereka yang tidak tau sedang melamar apa dan di perusahaan seperti apa menandakan pribadi yang bodo amat atau terkesan asal asalan dalam menghadapi sesuatu. Meski belum tentu berakhir dengan kegagalan, namun dapat dipastikan bahwa ketidaktauan kandidat terhadap pekerjaan dan perusahaan yang dilamar memberikan poin minus dalam proses interview. 

Sekedar Mencari Perusahaan Bonafit / Gaji Tinggi, bukan Pengalaman

Ini adalah salah satu hal yang sering dijumpai dalam dunia pencarian kerja para fresh graduate. Sebagian memilih melamar di perusahaan ternama / dunia perbankan yang mereka yakini memberikan penghasilan yang tinggi. Ketika ditanya berapa gaji yang diinginkan, masih ada yang berpikir keras dengan menentukan nominalnya dibanding menjawab "Di atas UMR dan sesuai standar perusahaan".

"Minta gaji berapa ya ? Bukannya itu perusahaan gede, nanti kalo minta segini kekecilan padahal standar mereka gede"

"Berapa gaji yang akan saya terima ? Berapa tunjangan yang saya terima ? Apakah jika lembur saya dibayar ?"

Kalimat di atas adalah pernyataan atau pertanyaan yang setidaknya pernah dipikirkan oleh para fresh graduate. Percayalah, recruiter tidak mencari seseorang yang money oriented tanpa diimbangi dengan keahlian kerja yang bisa dibuktikan. Mindset ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kandidat dalam menjalani proses interview, entah melalui jawaban yang diberikan maupun pertanyaan yang diajukan. 

Dengan minimnya pengalaman yang dimiliki, jadikan perusahaan sebagai tempat berburu ilmu pengetahuan dan pengalaman kerja yang selanjutnya mampu membuat diri Anda lebih bernilai. Jangan sekalipun berpikir menjadikan perusahaan sebagai tempat dimana Anda mendapatkan sebanyak banyaknya uang ketika Anda tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan. 

Tidak Memahami Passionnya

"Kenapa melamar di pekerjaan ini ?" 

Setidaknya pertanyaan di atas berada di daftar pertanyaan para recruiter. Kemungkinan para fresh graduate akan menjawab bahwa pekerjaan yang dilamar sesuai dengan jurusan yang mereka ambil semasa menempuh pendidikan. Kemungkinan juga mereka akan menjawab dengan berbelit belit seperti "ya pokoknya kerja kantoran". 

Meski nyaris dapat dimaklumi dikarenakan mereka tidak memiliki pengalaman kerja, namun juga harus diingat bahwa seringkali karyawan baru dari fresh graduate mengundurkan diri karena "kaget dengan dunia kerja". Setidaknya pertanyaan ini diajukan untuk memastikan apakah mereka dapat bertahan jika dihadapkan dalam situasi sulit. Dan juga setidaknya, dengan memahami apa yang mereka sukai dari pekerjaan yang dilamar mampu membuat mereka bertahan ketika dihadapkan dengan kesulitan karena mengingat apa yang menyenangkan dari pekerjaan tersebut. 

Tidak Pernah Berorganisasi 

Organisasi, baik besar maupun kecil, mengharuskan kita untuk berinteraksi dengan orang lain yang berbeda sifat dengan kita. Sesuai namanya, organisasi merupakan sekumpulan orang sama memiliki tujuan yang sama. Dengan memiliki pengalaman dalam berorganisasi, setidaknya kandidat mengetahui bagaimana proses mencapai tujuan bersama orang orang dengan kepribadian yang beragam.

Meski hal ini tidak menjadi hal mutlak, saya harap Anda selalu mengingat bahwa pencari kerja bukanlah Anda seorang sedangkan posisi kosong yang tersedia tidaklah banyak. Kenyataan ini mengingatkan Anda untuk berlomba lomba mendapatkan yang terbaik, sama dengan perusahaan yang berlomba lomba mendapatkan kandidat terbaik. 

4 kondisi di atas adalah beberapa dari sekian banyak alasan mengapa fresh graduate seringkali tersingkir dalam proses interview. Saya pribadi pernah mendengar ungkapan "kalau fresh graduate tidak diberi kesempatan bagaimana mereka akan belajar?". Pertanyaan yang tidak salah, namun mohon untuk diingat setiap perusahaan juga selalu berharap mendapatkan kandidat terbaik untuk mendongkrak kesuksesan mereka. 

Perusahaan bukanlah universitas atau sekolah yang memberikan ilmu atau tempat dimana siapa saja bisa datang untuk belajar. Setiap perusahaan mengharapkan yang terbaik, seperti para kandidat yang mengharapkan yang terbaik. Masalah kesempatan di dunia kerja, bukanlah diterima begitu saja melainkan diperjuangkan. Jika Anda berharap diberikan kesempatan untuk bekerja, siapkan diri sedari dini agar diri Anda layak diberi kesempatan. 

Dalam dunia kerja, "relasi" bukanlah penentu apakah Anda layak diterima bekerja. Anda adalah satu satunya yang dapat menentukan apakah Anda layak diterima kerja atau tidak. Anda dan segenap usaha yang Anda lakukan adalah satu satunya penentu bagaimana masa depan Anda di kemudian hari. Jadi, berhenti berharap akan datangnya keajaiban atau kesempatan yang datang tiba tiba karena kesempatan hanya diberikan pada mereka yang bersungguh sungguh. 

Up In The Air - Tidak Semua Beban Harus Dibawa

Saya mungkin merupakan orang ke sekian yang menulis mengenai film yang dirilis tahun 2009 ini. Film ini mengisahkan seorang pria yang menghabiskan hampir sepanjang waktunya di pesawat untuk melakukan perjalanan dinas dengan pekerjaannya yang unik yaitu memecat orang.

George Clooney didapuk sebagai pemeran utama dalam film ini dan memerankan Ryan Bingham, seorang pria yang sangat menikmati pekerjaannya dan nyaris tidak memiliki waktu untuk keluarganya. Seringkali Ryan mengisi sebuah seminar motivasi yang berjudul "What's in Your Backpack" yang menekankan bahwa kita tak seharusnya membawa beban yang membuat kita sulit melangkah ke depan. 




Meski mulanya Ryan tidak menginginkan pernikahan, pandangannya berubah sejak mengenal Alex Goran (Vera Farmiga) yang ia kenal saat melakukan perjalanan. Dimulai dari pertemuan yang cukup intens, Ryan mulai menyadari bahwa Alex adalah bagian dari kehidupan nyatanya. Mirisnya, hal ini tidak sejalan dengan Alex yang menganggap Ryan hanyalah sebuah jeda dan pelarian.

Film ini tidak hanya mengisahkan tentang kehidupan pribadi Ryan atau kisahnya dengan Alex. Dalam film ini Anda akan mengetahui bahwa dipecat dan memecat adalah suatu hal yang sulit. Itulah mengapa banyak pimpinan perusahaan yang menggunakan jasa perusahaan tempat Ryan bekerja untuk memecat karyawannya.

Dalam film ini Anda juga akan mengenal Natalie Kenner (Anna Kendrick), wanita muda yang ambisius dalam mengejar karirnya. Ia mencanangkan sebuah program dimana proses pemecatan dapat dilakukan melalui video call sehingga biaya perjalanan dinas dapat diminimalisir.

Dengan beberapa pertimbangan, Natalie ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas bersama Ryan dan menyaksikan bagaimana Ryan melakukan pekerjaannya yang sebagian besar mampu membuat orang yang ia pecat melihat secercah harapan dibalik berita buruk yang mereka terima.

Saya tidak akan menceritakan tentang bagaimana alur cerita dari film ini yang tentunya sudah dibahas lebih dulu. Dibanding itu, saya lebih tertarik membagikan apa yang saya peroleh dari film ini yang bagi saya pribadi cukup mengandung banyak pesan positif.

What's in your Backpack

I want you to stuff it all into that backpack. Now try to walk. It's kind of hard, isn't it? This is what we do to ourselves on a daily basis. We weigh ourselves down until we can't even move. 

Kalimat di atas adalah kalimat yang saya kutip dari sesi motivasi yang diberikan Ryan dalam film tersebut. Ya, tanpa disadari kita seringkali membebani diri kita dengan berbagai hal yang membuat kita lelah sendiri. Tidak hanya dengan apa yang kita hadapi saat ini, kita bahkan membebani diri kita dengan rasa bersalah dari masa lalu atau bahkan hal yang belum pasti di masa depan. 

Akhirnya pikiran kita dipenuhi dengan berbagai rasa cemas yang tidak hanya menggerogoti pikiran kita melainkan juga fisik kita. Sesuai saran Ryan, bagaimana kalau kita tinggalkan saja rasa bersalah kita dari masa lalu. Lalu kita buang juga hal yang belum pasti yang akan terjadi di masa depan. Fokus saja dengan apa yang terjadi hari ini, beban Anda lebih ringan bukan ?

Semua Pekerjaan Memiliki Nilai

Ryan Bingham: Natalie, what is it you think we do here?
Natalie Keener: We prepare the newly unemployed for the emotional and physical hurdles of job hunting, while minimizing legal blow-back.
Ryan Bingham: That's what we're selling. It's not what we're doing.
Natalie Keener: Okay, what are we doing?
Ryan Bingham: We are here to make limbo tolerable, to ferry wounded souls across the river of dread until the point were hope is dimly visible. And then stop the boat, shove them in the water and make them swim.

Kutipan di atas adalah salah satu ucapan yang dikatakan oleh Ryan kepada Natalie saat mereka tengah melakukan perjalanan di pesawat. Bagi Ryan, pekerjaannya bukanlah memecat orang, melainkan membantu orang lain untuk tetap melanjutkan hidupnya meski mereka telah kehilangan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Ryan berpikiran bahwa pekerjaannya tidak sekedar hanya dapat dilakukan melalui video call untuk sekedar mengatakan bahwa "Anda dipecat".

Begitu juga dengan apa yang kita kerjakan saat ini. Entah apapun pekerjaan Anda, pekerjaan Anda memiliki nilai lebih dibanding sekedar apa yang Anda kerjakan. Dengan memahami nilai dari apa yang kita kerjakan, kita akan lebih memahami mengapa pekerjaan yang kita lakukan penting dan apa efeknya jika pekerjaan ini tidak kita lakukan.

Bayangkan jika Anda tidak memahami nilai dari pekerjaan Anda. Mungkin Anda akan biasa saja dalam menjalankan pekerjaan Anda, begitu juga jika tidak menjalankannya. Bukankah dengan memahami nilai dari apa yang Anda kerjakan membuat Anda lebih bersemangat ?

Help Yourself

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Itulah yang ditekankan Ryan kepada para karyawan yang ia pecat. Ia selalu mengatakan bahwa kegagalan yang mereka alami adalah wajar dan bahkan orang sukses pun pernah berada di posisi mereka. Dalam film ini diceritakan bahwa salah satu karyawan yang Ryan dan Natalie pecat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan loncat dari sebuah jembatan, memang menjadi depresi di saat kehilangan pekerjaan adalah hal yang mungkin terjadi. 

Namun nyatanya, banyak juga orang yang mampu melewati masa masa sulit dengan tetap menunjukkan sisi terbaiknya. Seperti kata Ryan, kegagalan bukanlah akhir bahkan bisa jadi menjadi sebuah awal dari kesuksesan kita yang tidak kita sadari. Kegagalan akan benar benar menjadi sebuah kegagalan jika Anda tak mampu mengambil pelajaran darinya.

Berhasil tidaknya kita dalam melewati sebuah kegagalan bergantung pada kemampuan diri kita. Meskipun ada banyak orang yang memberikan motivasi semua tidak akan berhasil jika kita tidak berkeinginan untuk menolong diri kita sendiri. Sama seperti soundtrack dari film ini yang menekankan diri kita untuk menolong diri kita sendiri sebelum kita menolong orang lain. 

Jangan Lupakan Keluarga

Dalam film ini diceritakan bahwa Ryan jarang menghabiskan waktunya dengan keluarga hingga ia mengatakan bahwa pesawat adalah rumahnya. Ketika di usianya yang tak lagi muda ia jatuh cinta pada Alex dan terlambat menyadari bahwa Alex telah memiliki keluarga. 

Jika film ini dimulai dengan berbagai cuplikan tentang bagaimana emosi seseorang ketika dipecat, film ini juga ditutup dengan berbagai cuplikan tentang bagaimana karyawan yang dipecat bangkit dari keterpurukannya. 

Ketika melihat keluarga, aku melihat adanya tujuan. Itu adalah salah satu kalimat yang saya ingat dari cuplikan tersebut. Film ini mengingatkan bahwa keluarga tetap merupakan hal terpenting yang membuat kita tetap bersemangat menjalani hidup. 

Film ini juga mengingatkan kita untuk tidak terlalu sibuk dan larut dalam pekerjaan hingga mengabaikan keluarga. Kita dapat melihatnya pada Ryan, yang karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya ia menomorduakan keluarganya dan pada akhirnya ia menyadari bahwa tanpa adanya keluarga ia merasa kosong. 

Film ini sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang ingin menyaksikan film ringan namun berbobot. Tidak hanya menyadarkan kita arti keluarga, film ini juga mengingatkan kita pada sesi motivasi dari Mr. Empty Backpack (nama julukan Ryan) yang mengatakan bahwa kita tidak perlu membawa semua beban yang akhirnya justru menyulitkan kita untuk melangkah ke depan. 

Terlalu Cemas dan Minder, Wajar atau Tidak sih ?

Dalam dunia kerja, apakah terlalu cemas dan minder masih dianggap wajar ? Jawaban saya, ya wajar, namun berpotensi mengganggu. Rasa cemas berlebihan dan minder terhadap diri sendiri berpotensi mengganggu produktifitas seseorang dalam bekerja. Hal ini tentu bukan hal yang diharapkan perusahaan ketika terdapat salah seorang karyawannya yang tidak dapat bekerja sesuai target. Namun apakah karyawan yang tidak produktif ini sepenuhnya salah ?


Perasaan cemas dan minder adalah sebagian kecil bentuk emosi seserang. Emosi erat kaitannya dengan mental seseorang. Sebagai seorang makhluk sosial, kita dituntut untuk lebih peka mengenai kondisi orang lain di sekitar kita, tidak hanya sebatas fisik melainkan mental.

Seringkali kita menganggap orang yang terlalu cemas sebagai orang yang "parnoan", padahal bisa jadi ia mengidap anxiety disorder. Menganggap orang yang mudah tersinggung sebagai orang yang "terbawa perasaan", padahal bisa jadi ia tengah mengalami depresi. Menganggap orang suka bersih bersih sebagai "maniak kebersihan", padahal bisa jadi ia mengidap obsessive compulsive disorder. Dan banyak hal lain yang dilakukan orang sekitar kita, namun kita tanggapi yang mereka lakukan adalah berlebihan dan tidak perlu.

Beberapa gangguan kesehatan mental biasanya tidak hanya dipengaruhi oleh genetika melainkan juga dipengaruhi pengalaman masa lalu yang bisa jadi menimbulkan trauma. Pernahkan Anda berpikir, bagaimana jika tim di bawah Anda yang selalu menarik diri sering berusaha mengakhiri hidupnya ? Bagaimana jika tim di bawah Anda yang sangat moody ternyata merupakan penderita bipolar ? Pernahkah Anda berpikir bahwa ternyata teman Anda yang seringkali merasa minder ternyata dulu pernah mengalami bullying yang membuatnya malu berhadapan dengan orang lain.

Saya pribadi bukanlah psikolog maupun psikiater yang sangat memahami kepribadian orang lain. Namun melalui tulisan saya kali ini, saya mengajak para pembaca sekalian untuk lebih peka dengan orang lain di sekitar kita. Setiap orang memiliki pertarungannya masing masing. Dalam dunia kerja kita memang dituntut profesional, tapi jangan lupa kita juga bekerja dengan manusia yang punya hati. Meski secara profesional mereka tidak diperbolehkan untuk membawa bawa perasaan, nyatanya mereka juga manusia yang rentan "sakit" (baik mental maupun fisik).

Saya hanya ingin menekankan dua hal ;

Jaga Lisan


Pernah mendengar ungkapan "mulutmu harimaumu" ? Saya yakin iya. Jika Anda bukanlah dokter atau mungkin Anda tidak tertarik dengan perasaan orang lain, maka akan lebih baik jika Anda mulai menjaga lisan Anda. Jika kata kata tidak bermakna apa apa, mengapa kita seringkali merasa senang ketika mendapat pujian. Begitu hal nya ketika kita mengucapkan kalimat pedas yang tentunya bisa memberi makna kepada orang lain yang dituju. Bagaimana jika sebenarnya ia sedang berjuang namun Anda justru membuatnya jatuh ?

Lebih Peduli dengan Sekitar


Ketika SD, salah satu kalimat bahasa Inggris yang diajarkan oleh guru kita adalah "How are you ?". Yah, bagaimana kabar Anda ? Kalimat sepele, namun jika diucapkan kepada seseorang bisa jadi membuatnya merasa lebih diperhatikan dan dihargai. Bisa jadi saat itu ia sedang sedih dan merasa tak ada teman berbagi ketika Anda menanyakan kalimat sederhana itu. Bisa jadi setelah mendengar pertanyaan "basa-basi" Anda, ia tergerak untuk menceritakan kepada Anda beban yang selama ini ia pendam.

Oh, saya tidak punya waktu untuk ikut campur urusan orang lain, mungkin sebagian dari Anda berprinsip seperti ini. Namun ayolah, kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan orang lain.

Anda pasti pernah mendengar ungkapan "1 orang bisa membawa perubahan positif bagi orang lain". 1 hal sederhana yang Anda lakukan mungkin mampu merubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Dan begitu pula 1 hal sepele yang Anda lakukan bisa jadi merubah hidup seseorang menjadi lebih buruk.

Jangan berpura - pura buta ketika Anda menyaksikan orang lain jelas jelas membutuhkan pertolongan Anda. Jangan berpura pura tuli ketika Anda mendengar orang lain mengeluh di depan Anda. Dan jangan berpura pura bisu, jika ternyata satu ungkapan Anda mampu memotivasi orang lain untuk bangkit dari keterpurukannya.

Sanguinis vs Melankolis dalam Lingkungan Bekerja

Pada postingan sebelumnya, saya sempat membahas mengenai kepribadian Sanguinis dan Melankolis dengan cukup mendalam. Jika sebelumnya saya membahas kedua kepribadian tersebut dari sudut pandang hubungan interpersonal, maka kali ini saya akan membahas kedua kepribadian tersebut dari sudut pandang hubungan profesional.

Note, dalam konsep DISC, Sanguinis disebut sebagai Influence dan Melankolis disebut sebagai Compliance.

Baca juga : Sanguinis Populer vs Melankolis Sempurna



Sebagai Atasan

Melankolis 

  • Dapat diandalkan. Sosok atasan melankolis akan berusaha menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya, termasuk jika tim di bawahnya mengalami kesulitan. Karena pemikirannya yang analitis, tidak jarang mereka sering memberikan jalan keluar yang mungkin tidak dipikirkan orang lain dalam menghadapi masalah. 
  • Emosi stabil. Anda dapat berlega hati jika mendapatkan atasan melankolis karena membentak - bentak, marah - marah bukanlah hal yang terpikirkan untuk dilakukan oleh mereka. Bagi mereka, emosi yang meledak ledak hanya akan menguras energi mereka. Sebaliknya, mereka mampu menangani emosi tim di bawahnya yang meledak ledak dengan pemikirannya yang logis.
  • Tertutup. Sosok melankolis enggan untuk membagikan apa yang ia rasakan kepada tim dibawahnya. Seperti melankolis pada umumnya, mereka lebih nyaman untuk memendam emosinya seorang diri. Padahal, dengan berbagi bisa jadi orang lain dapat memberikan masukan dan jalan keluar. 
  • Cuek namun perhatian. Jangan berharap ia akan mengucapkan kata kata motivasi ketika Anda sedih, kemungkinan mereka akan menanggapi kesedihan Anda dengan diam atau justru kalimat yang pedas. Namun hal itu tidak menandakan mereka tidak peduli dengan Anda. Setelah Anda sedih dan tidak ditanggapi oleh mereka, jangan kaget jika beberapa hari kemudian mereka mengirimi Anda buku motivasi. Mereka sangat berempati, namun sekali lagi mereka tidak pandai menampilkan ekspresinya. 
  • Dingin namun menyenangkan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu sendiri, bukan karena mereka antisosisal namun berkumpul dengan banyak orang akan menghabiskan energi mereka. Namun bukan berarti mereka sosok yang kaku. Ketika Anda berhasil menciptakan pokok bahasan dengan mereka, Anda akan menyadari bahwa mengobrol dengan mereka sangat menyenangkan dan tak ada habisnya.

Sanguinis

  • Motivator yang baik. Jika Anda sedih dan membutuhkan motivasi, maka datanglah pada sosok Sanguinis yang akan memberikan Anda wejangan dengan wajahnya yang riang gembira. Jika atasan Anda adalah sanguinis populer, Anda akan menyadari bahwa mereka selalu menampilkan sosoknya yang riang dan menularkan moodnya kepada orang lain sehingga orang lain ikut bersemangat. 
  • Moody. Jangan heran jika tiba tiba mereka akan marah marah kepada Anda setelah sebelumnya mereka riang gembira. Perubahan mood mereka cukup ekstrim sehingga Anda tidak dapat menduga kapan mood mereka akan memburuk. Namun, karena mereka cukup ekspresif orang lain selalu dapat mengetahui mood mereka dan bersiap mengambil sikap untuk menghadapinya. 
  • Plin - plan. Berpikir jangka panjang bukanlah salah satu keunggulan mereka, tidak heran jika mereka akan merubah rencana tiba tiba. Semua murni karena mereka tidak mampu memprediksi kemungkinan apa yang akan terjadi. 
  • Royal. Demi menciptakan suasana kerja yang baik, mereka rela merogoh kocek agar orang lain merasa senang seperti mentraktir makanan atau karaoke. Mereka juga bukan orang yang perhitungan dan selalu siap membantu ketika Anda mengalami kesulitan. 
  • Teman bicara yang baik sekaligus pendengar yang buruk. Jika Anda membutuhkan orang lain untuk berbicara, maka mereka adalah orang yang tepat. Atasan sanguinis selalu menempatkan diri sebagai partner Anda, bukan atasan sehingga Anda dapat dengan nyamannya berbagi cerita dan pemikiran dengan mereka. Namun jangan heran jika terkadang mereka cenderung mendominasi pembicaraan. 

Sebagai Bawahan

Melankolis

  • Slow but Sure. Melankolis selalu membuat rencana dalam kegiatannya dan memprediksikan bagaimana  kegiatan itu akan berlangsung. Jangan heran jika Anda memberikan tugas kepada mereka dan mereka terlihat santai karena dibalik itu, mereka sudah mengantisipasinya. Jangan heran juga mereka dapat menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa heboh karena sekali lagi mereka sudah mempersiapkannya dengan baik. 
  • Rapih dan Teliti. Mencari administrator atau analis yang baik, melankolis adalah orang yang tepat. Mereka handal dalam pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan persistensi. Didukung dengan kepribadian dasar mereka yang cenderung rapih, Anda akan nyaris tidak menemukan mereka melakukan pekerjaan dengan berantakan. 
  • Tidak mudah terpengaruh. Melankolis adalah sosok yang percaya pada diri mereka sendiri dan sulit mempercayai orang lain. Ini adalah satu kelebihan karena mereka tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan hanya percaya dengan apa yang menjadi penilaiannya.
  • Cenderung pasif. Seringkali orang lain menilai bahwa melankolis bukanlah sosok yang aktif, hal ini dikarenakan mereka lebih menyukai memikirkan segala sesuatu sebelum merealisasikannya. Dan nyatanya sangat sulit bagi mereka untuk memulai sesuatu karena seringkali mereka dipenuhi kekhawatiran dan banyak pertimbangan lainnya. Nyatanya, mereka bukannya tidak berusaha lebih aktif, namun sebagian besar upaya mereka tersimpan di dirinya sendiri.
  • Seringkali dinilai kaku. Melankolis adalah perencana yang baik sekaligus dikenal tidak adaptif terhadap perubahan. Perubahan mendadak dan tidak terprediksi akan membuat mereka sebal meski tetap pada akhirnya mereka mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. 

Sanguinis 

  • Menyukai tantangan. Ingin mendelegasikan pekerjaan namun bingung kepada siapa akan mendelegasikannya, maka Sanguinis adalah orang yang tepat. Mereka menganggap pekerjaan baru atau tantangan sebagai mainan yang harus mereka selesaikan. Mereka dengan senang hati akan berusaha menyelesaikan tantangan yang diberikannya dengan baik karena penghargaan dari orang lain adalah hal yang penting bagi mereka.
  • Pembicara yang baik. Berbanding lurus dengan sifatnya yang ingin menjadi pusat perhatian, mereka sangat unggul jika ditempatkan di hadapan publik untuk melakukan presentasi ataupun membawakan acara. Tidak hanya itu, sikapnya yang bersahabat membuat orang lain merasa nyaman berbicara dengannya.
  • Perasa. Sanguinis adalah sosok yang sensitif, ketika ia tidak mendapatkan penghargaan atas apa yang mereka capai maka hal tersebut akan mempengaruhi emosi mereka. Karena mereka adalah sosok yang mudah bercerita tanpa perlu ditanya dan mood mereka yang tidak mudah ditebak, jangan heran jika ia selalu mencari Anda hanya untuk sekedar curhat dan menenangkan diri mereka. 
  • Energik sekaligus talkative. Mereka akan selalu menghidupkan suasana di satu sisi menghancurkan konsentrasi. Mereka akan menceritakan segala hal kecil kepada orang yang berada di sekitarnya. Energi mereka tak kunjung habis sehingga jangan heran jika mereka sangat menyukai kegiatan dengan mobilitas tinggi sedangkan mereka masih dengan semangat bercerita tanpa terlihat lelah sedikitpun dan tanpa peduli bagaimana kondiri orang di sekitarnya.
  • Optimis sekaligus tidak realistis. Mereka adalah sosok yang selalu melihat segala sesuatu secara positif. Mereka mungkin tidak akan terpengaruh jika diberikan pekerjaan yang banyak karena mereka akan memandangnya dari sisi positif. Saking optimisnya mereka, seringkali mereka membuat target yang tidak realistis yang kemudian berujung menyusahkan dirinya dan orang di sekitarnya. 

Jika mereka berdua ditempatkan sebagai sesama rekan kerja pun saya rasa tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Pada prinsipnya, mereka memiliki perbedaan yang cukup signifikan. 

Melankolis 

Rekan kerja adalah rekan kerja. Sedangkan lingkungan kerja adalah tempat mencari uang, dimana mereka harus perform atau mereka akan dipecat. 

Sanguinis

Rekan kerja adalah keluarga. Begitu pula lingkungan kerja, dimana mereka harus mendapatkan teman sebanyak mungkin yang akan membantu mereka ke depannya. 

Namun, dengan banyaknya perbedaan dan sifat yang berbanding terbalik apakan mereka tidak dapat bekerja sama ? Nyatanya sanguinis dan melankolis dalam lingkungan kerja adalah partner kerja yang saling melengkapi. Asalkan keduanya saling memahami batasan dimana mereka harus bersikap, maka keduanya dapat menjadi partner kerja yang sempurna. 

Bayangkan saja, melankolis yang terlalu banyak berpikir dengan sanguinis yang selalu ingin memulai. Melankolis yang pesimis dan sanguinis yang optimis. Melankolis yang datar dan sanguinis yang periang. Melankolis si jago data dan sanguinis si pembicara handal. Bukankah untuk melengkapi puzzle dibutuhkan kepingan yang berbeda ? Dan begitu pula hubungan antara sanguinis dan melankolis dalam bekerja, meski tak sama namun dapat saling mengisi.