Pengalaman Kerja : Sumber Inspirasi atau Bendera Lama


Bagi Anda yang telah bekerja di berbagai perusahaan, tentu Anda memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan orang lain yang baru saja bekerja untuk pertama kalinya. Anda memahami bagaimana lingkungan kerja di perusahaan lain, setidaknya di perusahaan yang pernah menjadi sumber nafkah Anda. Anda memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai proses bisnis di beberapa perusahaan.



Sayangnya, pengalaman berharga Anda dari perusahaan sebelumnya dapat menjadi pisau bermata dua. Satu sisinya dapat menjadi sumber inspirasi yang mampu mendongkrak produktifitas Anda sedang sisi lainnya dapat menjadi “bendera lama” yang menjauhkan Anda dari rasa syukur.
Apa yang dimaksud dengan sumber inspirasi ? Dan apa maksudnya dengan bendera lama ?

Bendera lama


“Rekrutmen di kantor lama saya dulu cepet. Ga kaya disini lama banget.”

“Di kantor saudara saya, mereka sudah punya buku aturan sendiri untuk karyawan baru. Disini ga punya ya ?”

Bendera lama, adalah kata kiasan yang mengungkapkan bahwa sebenarnya Anda belum “move on” dari perusahaan sebelumnya. Gagal “move on” ini seringkali membuat Anda membandingkan kondisi Anda saat ini dengan kondisi di perusahaan Anda sebelumnya. Sayangnya, membanding bandingkan perusahaan Anda saat ini dengan sebelumnya hanya akan mendekatkan energi negatif pada diri Anda.

Alasannya sederhana.

Dibanding bandingkan dapat menyakiti perasaan orang lain yang Anda tuju.

Meski Anda tidak berniat untuk menyakiti perasaan orang lain, membanding bandingkan memberikan dua akibat pada orang yang dituju ; melakukan perbaikan dan sakit hati.

Setiap perusahaan memiliki budayanya masing masing.  

Anda tidak dapat membandingkan perusahaan Anda saat ini dengan sebelumnya karena mereka berbeda. Sama seperti manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan masing masing, begitu juga perusahaan. Setiap perusahaan memiliki ceritanya masing masing yang harus Anda hargai jika Anda memutuskan untuk bertahan. Jika saat ini Anda membanding bandingkan perusahaan Anda saat ini dengan sebelumnya, maka ingatlah bahwa perusahaan Anda sebelumnya juga memiliki kekurangan yang membuat Anda mencari pekerjaan lain.

Melupakan rasa syukur

Mungkin Anda seringkali mengeluhkan gaji yang tidak sepadan bagi Anda, namun seringkali Anda menjumpai rekan kerja Anda yang tidak berkomentar apa apa tentang gajinya karena baginya diterima kerja adalah hal yang cukup baginya. Ketika Anda begitu kesal dengan berbagai hal di perusahaan Anda saat ini, ingatlah bagaimana perjuangan Anda untuk mendapatkan pekerjaan saat ini. Juga jangan lupakan banyaknya pencari kerja yang sibuk untuk mendapatkan pekerjaan, mereka bahkan rela melakukan apapun asalkan mendapatkan uang. Jika diingat kembali, bukankah Anda sudah cukup beruntung dengan memiliki pekerjaan ?

Memang kita tidak dapat memaksakan diri untuk terus menerima berbagai kondisi yang terjadi di pekerjaan kita. Pilihannya ada dua ; take it or leave it. Jika berbagai kondisi yang ada tidak mampu Anda hadapi, maka sebaiknya Anda meninggalkan pekerjaan yang justru membuat Anda tidak bahagia dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik bagi Anda. Namun jika Anda masih mampu menghadapinya, ada baiknya Anda menjadikan pengalaman Anda di perusahaan sebelumnya sebagai sumber inspirasi Anda di perusahaan saat ini.

Sumber Inspirasi

“Di kantor saya dulu, prosedur untuk perjalanan dinas seperti ini. Saya rasa ada beberapa bagian yang bisa kita terapkan disini.”

Dibanding mengeluhkan keadaan saat ini, akan lebih baik jika Anda menjadikan pengalaman Anda untuk memperbaiki keadaan. Saya rasa Anda tidak asing dengan istilah ; pengalaman adalah guru terbaik. Itulah yang dimaksud dengan jadikan pengalaman Anda sebagai sumber inspirasi Anda.

Jadikan pengalaman Anda sebagai sesuatu hal yang dapat menjadi nilai tambah bagi diri Anda. Misalkan, di perusahaan sebelumnya Anda terbiasa dengan prosedur pengadaan barang yang terstruktur. Maka pengalaman ini dapat memberikan gambaran bagi Anda, apakah prosedur pengadaan di tempat Anda saat ini sudah cukup efektif ? Jika tidak, Anda dapat melakukan perbaikan berdasarkan pengalaman Anda di tempat sebelumnya.

Seringkali saya bertanya kepada kandidat yang saya wawancarai, “Jika kamu diterima, apa yang bisa kamu berikan ke perusahaan kami?”

Tentu saya tidak mengharapkan “uang terima kasih” dan tentunya kami mengharapkan ia dapat bekerja sesuai target yang diberikan. Bukan masalah besar jika Anda tidak dapat memberikan hal lain kepada perusahaan selain mengikuti aturan perusahaan dan bekerja sesuai target yang diberikan. Namun, tanpa disadari pengalaman Anda di perusahaan sebelumnya memberikan Anda pengetahuan baru yang bisa Anda terapkan di perusahaan Anda saat ini.

Dan Anda memiliki pilihan, apakah Anda akan menggunakan pengalaman Anda sebagai sumber inspirasi ke arah lebih baik atau hanya menggunakannya sebagai bendera lama tanpa benar benar memberikan dampak positif bagi permasalahan.

Satu yang perlu diingat, tidak ada perusahaan yang sempurna karena bagi perusahaan pun tidak ada karyawan yang sempurna. Perusahaan Anda mempekerjakan Anda karena yakin dengan kelebihan yang Anda miliki meskipun paham bahwa Anda memiliki kelemahan. Lalu, apakah Anda akan fokus pada kelebihan perusahaan Anda saat ini atau justru pada kelemahannya yang tidak dimiliki oleh perusahaan Anda sebelumnya.

Pilihan ada di tangan Anda, namun jika harus membandingkan, sampai kapanpun tidak ada pengalaman yang sebanding.

Technical Skill & Soft Skill, Bukan Menu A La Carte


Beberapa hari lalu, saya menerima telepon dari salah seorang pencari kerja, sebut saja Bunga. Saya kira hanya panggilan masuk seperti biasa, menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan atau menanyakan kelanjutan proses rekrutmen. Namun nyatanya yang saya dengar sungguh membuat saya merasa miris sekaligus berpikir keras. Dengan agresif, ia memohon untuk diberikan pekerjaan karena ia sangat membutuhkan uang untuk orang tuanya di kampung. Ia menceritakan bahwa ia merupakan salah satu lulusan universitas termuka di Indonesia dan ia juga menguasai Microsoft Office, ia bahkan menceritakan bahwa ia memiliki lahan di kampung halamannya sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan.

Tak lama kemudian, saya menemukan sebuah email masuk dari seseorang yang baru saja menelepon saya, yaitu Bunga. Ternyata ia adalah seorang fresh graduate sejak satu tahun lalu. Akhirnya saya memutuskan untuk memperlakukannya seperti saya memperlakukan kandidat pada umumnya dengan memberikan sejumlah tes online. Hasilnya tidak terlalu buruk. Namun yang mengganggu saya adalah balasan – balasan email dari pelamar tersebut yang kurang sopan diucapkan dalam dunia kerja yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya ke tahap berikutnya.
Dalam kasus ini, pelamar tersebut tidak hanya belum memiliki kemampuan teknikal yang terbukti melainkan juga tidak menunjukkan sopan santun. Dan karena kedua hal itu, saya merasa tidak memiliki alasan untuk memberikan kesempatan lebih jauh.



Lalu, manakah yang lebih baik ? Memiliki kemampuan teknikal yang cukup atau soft skill yang baik ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan menceritakan beberapa kisah lain yang pernah saya alami.

Sebut saja Budi. Salah satu pelamar yang akhirnya saya rekrut menjadi karyawan karena dinilai oleh user memiliki sopan santun dan memiliki kemauan untuk melayani. Nyatanya, kesan pertama yang dipenuhi rasa menghargai dan sopan santun cukup berhasil membuat lawan bicara merasa nyaman. Dan nyatanya, selama bekerja pun Budi senantiasa bersikap sopan kepada orang lain di sekitarnya. Disinilah berlaku ungkapan, attitude adalah segalanya meski nyatanya Budi tidak memiliki pengalaman administrasi yang dibutuhkan dalam pekerjaannya. Cerita yang cukup sempurna hingga akhirnya beberapa bulan selanjutnya Budi mengundurkan diri tanpa memberikan kabar kepada atasan dan juga tim HRD. Usut punya usut, Budi mengundurkan diri karena merasa terbebani dengan pekerjaan yang ia terima. Ternyata, sopan santun saja tidak cukup untuk membuat diri kita mapan dalam meniti karir.

Sebut saja Eko. Eko adalah salah satu karyawan yang cukup kompeten di perusahaan saya bekerja beberapa tahun silam. Eko tidak hanya menguasai teknik negosiasi untuk menekan budget, ia juga memahami banyak hal dalam kegiatan operasional dalam perusahaan hingga membuat direktur kami cukup bergantung padanya. Menjadi karyawan yang kompeten, memiliki komitmen terhadap pekerjaan, hingga mendapatkan kepercayaan dari orang nomor satu di perusahaan tentu menjadikan Eko salah satu karyawan yang layak dipertahankan. Sangat layak, sebelum akhirnya Eko kembali diketahui memasukkan sejumlah uang perusahaan untuk keperluan pribadinya. Ketidakjujuran Eko dengan mudahnya menghancurkan kesempatannya untuk meniti karir yang lebih baik. Dan ketidakjujuran Eko dengan praktis mengubah statusnya dari seorang pekerja menjadi pencari kerja.

Memiliki technical skill saja tidak cukup, dan memiliki soft skill saja tidak cukup jika Anda ingin menjadi seseorang yang layak untuk diperjuangkan. Memiliki salah satunya tidak cukup membuat Anda mendapatkan kenaikan karir. Baik technical skill dan soft skill bukanlah menu a la carte yang bisa dibeli secara terpisah untuk membuat Anda kenyang. Dalam hal peningkatan karir, technical skill dan soft skill adalah menu paket yang harus Anda miliki keduanya.

Bukan hal yang salah jika Anda lebih menguasai soft skill dibanding technical skill. Kemampuan memotivasi diri, rasa ingin tahu yang tinggi dan terbuka terhadap masukkan membantu Anda untuk mempelajari hal baru dengan cepat. Memiliki sopan santun yang baik, proaktif dan selalu fokus pada pekerjaan bisa jadi membantu Anda untuk mendapatkan perhatian dari atasan Anda. Namun tanpa diimbangi dengan pencapaian target kinerja Anda, akan sulit untuk dikenal menjadi karyawan yang kompeten. Bagaimanapun juga, perusahaan mengharapkan karyawannya memberikan kerja nyata bukan hanya kerja keras.

Sebaliknya, pencapaian kinerja yang melebihi target tidak serta merta mengantarkan Anda untuk mendapatkan kenaikan jabatan menjadi supervisor. Jika Anda tidak memperlakukan orang lain dengan baik, jika Anda tidak mampu memotivasi diri Anda sendiri dan jika Anda tidak mampu menangani stress maka akan sulit membuat orang lain percaya bahwa Anda layak diberikan kepercayaan untuk memimpin. Bagaimanapun juga, perusahaan akan lebih mempercayai orang yang dapat diajak bekerja sama bukan hanya dapat bekerja.

Jika Anda hanya ingin berada di posisi Anda saat ini tanpa berniat meraih posisi yang lebih, Anda dapat membeli technical skill dan soft skill sebagai menu a la carte dengan harga yang lebih murah namun tidak cukup membuat Anda kenyang. Sayangnya, dunia kerja menjadi semakin liar. Seolah tidak pernah ada kata cukup, baik pemberi kerja dan pencari kerja. Fakta yang amat menyakitkan adalah bahwa mencari pekerjaan bisa jadi begitu sulit, bahwa bertahan di pekerjaan kita saat ini bisa jadi begitu penuh perjuangan, dan Anda tidak akan pernah tahu cobaan apa yang sedang menanti Anda.

Liarnya dunia kerja mulai melahirkan para pencari kerja seperti Bunga yang mulai putus asa dalam upaya mempertahankan hidupnya. Kejamnya dunia kerja menuntut Anda untuk terus memacu motor Anda agar tidak disalip oleh pembalap lainnya dalam puluhan putaran yang membuat Anda pusing. Jika Anda salah mengambil strategi, Anda dapat didahului oleh pembalap lain di belakang Anda. Dan untuk terus berkonsentrasi dalam lomba balap ini, technical skill dan soft skill yang disajikan dalam menu paket akan lebih mengenyangkan dibanding jika Anda membelinya dalam menu a la carte.

Memiliki technical skill yang mumpuni dan soft skill yang baik bukanlah hal yang mudah. Memiliki nilai KPI memuaskan dan dianggap mampu bekerja sama lintas divisi dengan baik juga cukup menguras tenaga. Dan sayangnya, nyaris semua perusahaan selalu mengharapkan setiap karyawannya memiliki keduanya, technical skill dan soft skill. Sungguh kenyataan yang tidak mudah untuk dihadapi namun memaksa kita untuk tetap menghadapinya.

Networking : Bukan Mencari Teman Biasa

Banyak yang mengatakan bahwa semakin dewasa, kita hanya akan memiliki sedikit teman. Teman yang tentunya mampu menerima diri kita apa adanya dan memiliki "irama" yang sama dengan kita. Sahabat selalu mendengarkan apa masalah Anda dan menjadi cheerleader saat Anda terpuruk. Sahabat tentu merupakan hal yang baik untuk dimiliki, sahabat dapat menjadi penopang mental kita yang selalu mengatakan bahwa kita tidak sendirian.

Setelah kita memasuki dunia kerja, memiliki sahabat tidaklah cukup untuk meningkatkan karir kita. Selain dengan memberikan kinerja terbaik, mengikuti training hard skill, atau hal lain yang berbau teknikal, memperluas jaringan pertemanan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan karir kita. Tentu saja tanpa harus memasuki dunia kerja, perluasan jaringan pertemanan sudah terjadi. Namun jaringan pertemanan yang dimaksud bukanlah teman yang selalu memberikan dukungan kepada kita atau teman yang menjadi pendengar baik. Jaringan pertemanan yang dimaksud adalah teman yang kelak dapat "memuluskan" karir kita atau Anda dapat menyebutnya professional network.



Networking yang baik tidak datang begitu saja. Professional network lebih dari sekedar rekan  kerja yang Anda temui setiap hari ketika bekerja atau rekan kerja yang Anda kenal saat bekerja di perusahaan sebelumnya. Lebih luas dari sekedar teman sekelas Anda ketika masih menempuh pendidikan.

Jika Anda menginginkan networking yang menunjang karir Anda, rajinlah bersosialisasi. Bukan sekedar rajin beraktifitas di media sosial. Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan ;


  • Mengikuti komunitas sesuai profesi Anda
  • Mengikuti seminar / training 
  • Memanfaatkan akun Linkedin
  • Dst
Networking tidak terjalin dengan singkat. Sama seperti mempopulerkan akun facebook Anda, setidaknya beberapa aturan juga berlaku dalam aktifitas networking

Self Branding

Jika dalam facebook Anda memasang foto profil semenarik mungkin, dalam aktifitas networking Self Branding berarti menunjukkan sisi profesional dalam diri Anda. Entah dengan rajin mengikuti seminar, aktif dalam pemecahan kasus di komunitas Anda, sesekali berbagi tentang pekerjaan Anda (menyebarkan lowongan kerja, mempromosikan produk, dst) dan banyak aktifitas lainnya.

Sama halnya dengan facebook dimana foto profil dimaksudkan agar orang lain tertarik menjadi teman Anda, maka semakin baik Anda dalam melakukan self branding maka semakin menarik Anda di mata professional network.

Berkenalan

Mengandalkan self branding tidaklah cukup. Apalah arti foto profil yang menakjubkan jika Anda tidak menambahkan seseorang untuk menjadi teman Anda. Begitu pula dalam networking. Mulailah mencari teman dan bangun komunikasi yang berkesan. Ubahlah perkenalan singkat menjadi sebuah percakapan yang menarik. 

Karena itu, komunikasi via WhatsApp tidaklah cukup jika ingin aktifitas ini berjalan baik. Ada baiknya Anda rajin mengikuti aktifitas kopi darat dari komunitas Anda agar lebih mengenal member lain. Jika Anda sedang melakukan networking melalui acara seminar, akan lebih baik jika Anda meminta kartu nama atau kontak dari kenalan Anda tersebut dan tidak ada salahnya untuk mengucap "Hai" di lain kesempatan. 

Menjalin Komunikasi Rutin

Perkenalan tidak ada artinya jika kemudian hari Anda melupakannya atau justru Anda dilupakan. Meski terkesan networking merupakan sebuah alat, namun nyatanya aktifitas ini juga sama dengan aktifitas pertemanan pada umumnya. Jika Anda hanya datang sesekali mungkin Anda akan mudah dilupakan. Jika Anda hanya datang sesekali maka jaringan pertemanan yang dibangun membutuhkan waktu lama untuk menjadi lebih kuat. Dan hal yang sama juga berlaku bagi aktifitas networking

Lalu, apa yang diberikan aktifitas ini sehingga mampu "memuluskan" karir Anda ?

Berbagi Ilmu 

Dalam networking, setiap orang di dalamnya akan berbagi berbagai macam hal. Jika Anda mencari network sesuai profesi Anda sebagai penulis, tentu mereka akan membahas berbagai macam hal terkait kepenulisan. Anda tidak hanya mengetahui permasalahan yang terjadi di luar dan cara penyelesaiannya, Anda juga dapat menanyakan permasalahan yang sedang Anda alami dalam pekerjaan berikut cara penyelesaiannya. 

Misalkan, Anda sedang membutuhkan vendor yang bagus untuk membuat kaos, maka network Anda dapat memberikan informasi. Ketika Anda sedang bingung untuk perhitungan THR, maka network Anda dapat membantu. Atau mungkin tiba tiba Anda mendapatkan buku yang sudah lama Anda idam-idamkan sejak lama. Ada banyak hal yang dapat dilakukan professional network yang Anda miliki untuk membantu Anda dalam pekerjaan. 

Membantu Anda Memahami Pekerjaan Lebih Luas

Jika selama ini Anda hanya melihat pekerjaan Anda dari apa yang Anda lakukan setiap hari, maka aktifitas ini dapat membuka pikiran Anda bahwa pekerjaan yang saat ini Anda lakukan memiliki tantangan yang berbeda di masing masing tempat. Bisa jadi, ketika Anda menjadi seorang finance di perusahaan Anda saat ini Anda hanya mengetahui bagaimana transaksi di bidang usaha dari perusahaan Anda. Namun ketika Anda melakukan networking Anda akan mengetahui berbagai transaksi di bidang usaha di luar dari yang perusahaan Anda jalankan saat ini. 

Networking juga memacu Anda untuk terus belajar karena nyatanya, apa yang saat ini Anda kerjakan tidaklah cukup untuk membuat Anda memahami pekerjaan Anda secara keseluruhan. Dan kabar baiknya adalah, networking menyediakan para professional network yang memiliki keinginan besar untuk terus berbagi.

Membantu Menemukan Karir Lebih Baik

Di samping membantu Anda dalam pekerjaan saat ini, aktifitas networking juga memberikan jalan ketika Anda sedang ingin mencari pekerjaan baru. Selain rutin berbagi informasi lowongan pekerjaan, jika self branding Anda cukup baik jangan heran jika salah satu network Anda menawarkan Anda untuk menjadi bagian dari timnya.

Apa yang saya sebutkan di atas mungkin hanyalah sedikit dari apa yang bisa diberikan melalui aktifitas networking. Namun satu hal yang pasti adalah aktifitas networking adalah aktifitas yang memberikan dampak positif bagi karir Anda. Anda tidak hanya sedang mencari teman untuk mengatakan bahwa "Anda sudah cukup baik". Aktifitas networking membantu Anda untuk menemukan network atau teman untuk terus mengatakan bahwa "yang Anda lakukan belum cukup, dan mari belajar bersama". 

Hasil Penilaian Kinerja Tidak Memenuhi Standar, Bad Dream or Bad Life ?

Dalam dunia kerja, Anda tentunya tidak asing dengan istilah Key Performance Indicator (KPI) yang sesuai namanya berisikan indikator indikator yang menentukan bagus tidaknya kinerja Anda dalam suatu periode. Pencapaian KPI ini akan direview secara berkala untuk mengetahui apakah Anda berhasil mencapai target yang diberikan atau justru sebaliknya. Hasil dari penilaian kinerja ini seringkali berdampak pada kompensasi yang Anda terima, besaran bonus, kesempatan promosi dan lain sebagainya.

Semua orang tentunya berharap mendapatkan hasil penilaian kinerja yang memuaskan. Sayangnya, hasil penilaian kinerja yang memuaskan tidak turun begitu saja dari langit, Anda perlu bersikeras untuk mendapatkannya. Sayangnya juga, usaha keras Anda belum tentu membuahkan hasil sesuai yang Anda harapkan dan tidak jarang tidak membuahkan apapun.



Sebagai seorang karyawan tentu Anda telah berusaha menjalankan pekerjaannya secara maksimal. Lalu, bagaimana jika Anda telah berusaha memberikan yang terbaik, namun ternyata hasil penilaian kinerja Anda masih belum memenuhi standar ?

Kecewa, sedih, malu, marah dan segala emosi negatif kemungkinan besar akan menghampiri Anda. Kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa memberikan yang terbaik. Sedih karena tidak mendapatkan apa yang Anda harapkan. Malu karena ternyata rekan kerja Anda lainnya mampu memberikan kinerja lebih baik dibanding Anda. Marah karena merasa tidak mendapatkan hasil sebesar apa yang telah Anda berikan. Anda dapat merasakan berbagai macam emosi negatif dan itu adalah hal yang normal.

Hasil penilaian kinerja yang tidak memuaskan bukanlah hal yang diharapkan. Hal ini seperti merupakan tiket menuju berbagai hal yang tidak diinginkan lainnya. Tidak mendapatkan bonus, demosi hingga pemutusan hubungan kerja seolah merupakan pintu tersembunyi dibalik hasil penilaian kinerja yang tidak memuaskan. Bagi beberapa orang, hal ini merupakan hal yang buruk.

Sebagian menganggap hasil penilaian kinerja yang buruk sebagai bad life, seolah olah hasil penilaian kinerja merusak citra diri Anda dan melukai harga diri Anda di depan rekan rekan Anda. Sebagian lagi menganggap hasil penilaian kinerja yang buruk sebagai bad dream, seolah olah penilaian kinerja yang buruk adalah suatu hal yang akan mudah dilupakan segera setelah terbangun dari tidur.

Menganggap hal tidak diharapkan ini sebagai bad dream sepertinya terdengar lebih menyenangkan meski kemungkinan hal ini juga mengarahkan Anda kepada bad life. Nyatanya bagi sebagian orang menganggap hal ini sebagai bad dream  membutuhkan effort lebih besar dibanding menerimanya sebagai bad life. Tapi toh, semua ini bergantung pada pilihan Anda, apakah Anda menganggapnya sebagai bad life yang membebani Anda atau bad dream yang sama sekali tidak mengganggu. Oleh karena itu, bagaimana jika kita anggap hasil penilaian kinerja buruk sebagai bad dream semata karena memang hal ini tidak akan benar benar menghancurkan Anda karena beberapa hal berikut ; 

Hasil Penilaian Kinerja = Kenyataan dari Sekian Kenyataan yang Ada

Nyatanya hasil penilaian kinerja merupakan kenyataan yang harus Anda hadapi. Terimalah kenyataan bahwa saat itu Anda belum melakukannya dengan baik. Sadari emosi yang timbul saat itu, bahkan bukan hal yang salah jika Anda berusaha melampiaskan emosi Anda selagi tidak merugikan orang lain. Lagipula Anda hanyalah manusia, makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Di kehidupan yang keras ini tentu Anda telah melakukan banyak kesalahan, dan tentu saja Anda telah menghadapi banyak kenyataan pahit akibat kesalahan Anda. Oleh karena itu, bukankah hasil penilaian kinerja Anda yang buruk hanyalah satu dari sekian banyak kenyataan pahit yang berhasil Anda hadapi ?

Hasil Penilaian Kinerja Adalah Sebuah Nilai yang Terukur

Darimana Anda mengetahui kinerja Anda tidak memuaskan ? Tentu saja dari standar penilaian tersebut yang membatasi hasil penilaian kinerja yang memenuhi standar dan tidak. Dapat dikatakan bahwa nilai yang tertera dalam penilaian kinerja Anda adalah suatu nilai yang terukur berdasarkan measurement yang telah ditetapkan. 

Sesuai namanya, Key Performance Indicator mengukur hal hal yang dianggap kunci dari pekerjaan Anda. Oleh karena itu, ketika Anda tidak berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan hal ini tidak serta merta menunjukkan bahwa Anda tidak kompeten dalam melaksanakan pekerjaan Anda. 

Hasil Penilaian Kinerja Menunjukkan Hasil dari Kegiatan di Masa Lalu

Penilaian kinerja menilai kinerja Anda di beberapa periode yang telah berlalu. Nilai ini menunjukkan masa lalu yang tidak dapat diubah, bukan masa depan yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, dibanding fokus meratapi hasil penilaian kinerja Anda, bukankah akan lebih baik jika Anda mengintrospeksi diri dari kesalahan Anda sehingga hal ini tidak kembali terulang di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, nilai tersebut bukanlah nilai yang didapat begitu saja. Hasil penilaian kinerja Anda merupakan reaksi dari aksi yang telah Anda upayakan. 

Hari ketika Anda mengetahui hasil penilaian kinerja Anda bisa jadi bukan merupakan hari yang indah, bisa jadi hal ini memporak porandakan suasana hati Anda. Oleh karena itu, Anda harus segera melupakannya layaknya Anda melupakan bad dream. Lakukan sesuatu yang lebih baik, agar hal buruk yang Anda alami tidak kembali berulang karena ketika Anda terus menerus mengulangi kesalahan yang sama, Anda telah berjalan menuju bad life. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan ketika Anda menemui hal yang mengacaukan perasaan Anda, ingatlah bahwa : it's just a bad day not a bad life.  


Mau Lamar Pekerjaan Saja Kok Ribet

Apakah saat ini Anda sedang mencari pekerjaan ?

Jika ya, selamat Anda memasuki area pertarungan dalam mencari pekerjaan bersama dengan ribuan orang lain yang memiliki tujuan yang sama dengan Anda. Selamat, Anda telah memasuki sebuah labirin proses rekrutmen yang diciptakan para HRD untuk Anda jelajahi. Jika Anda dinyatakan memenuhi kualifikasi dan diterima, Anda akan memasuki labirin lain yang mengantarkan Anda kepada sengitnya dunia kerja. Dan jika Anda dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi maka Anda harus keluar dari labirin tersebut.



Dan pada postingan saya kali ini, saya akan membahas mengenai labirin proses rekrutmen yang kini telah bertransformasi. Terima kasih kepada teknologi yang memudahkan para pencari kerja dan pemberi kerja dalam proses rekrutmen. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus dipahami para pencari kerja terkait perubahan transformasi proses rekrutmen saat ini.

Mengirimkan CV

Ketika merasa iklan lowongan pekerjaa yang dilihat sesuai dengan kualifikasi maka Anda akan segera mengirimkan CV ke perusahaan tersebut dengan harapan akan mengikuti tahapan proses rekrutmen selanjutnya. 

Namun, saat ini bukan lagi masa dimana para recruiter menunggu berkas lowongan kerja Anda yang dibungkus dalam amplop coklat. Saat ini para recruiter cenderung menyukai duduk di kursi kerjanya dengan menatap ke layar komputernya untuk melihat lamaran yang masuk dan menyortirnya. Bagi para recruiter, cara ini lebih praktis dikarenakan mereka tidak perlu berkutat dengan tumpukan kertas dan menyeleksinya satu per satu. 

Oleh karena itu, pelajaran pertama, manfaatkan situs lowongan kerja seperti Jobstreet, JobsDB, dan sebagainya untuk mengenalkan diri Anda kepada para recruiter. Jika Anda berharap kehadiran Anda dengan amplop coklat akan membuat para recruiter terkesan dan memproses Anda ke tahap berikutnya maka anggapan Anda salah. Yang membuat para recruiter terkesan adalah kompetensi Anda dan tunjukkan kompetensi Anda melalui media yang dipantau secara intens oleh para recruiter.

Hal lainnya dalam proses ini adalah kemungkinan Anda menjumpai halaman atau instruksi yang mewajibkan Anda mengisi informasi di dalamnya dengan lengkap sebagai bagian dari proses melamar pekerjaan. Informasi yang diminta cukup detail, dimulai dari identitas diri Anda hingga pengalaman kerja Anda dan tetek bengek lainnya. 



Tentu saja hal ini tidak sesederhana ketika Anda hanya meng-klik tombol "Lamar". Para recruiter menginginkan informasi yang lengkap mengenai kandidat yang mereka seleksi sehingga kandidat yang mereka loloskan ke proses selanjutnya adalah kandidat yang memenuhi kualifikasi mereka. 

Pelajaran selanjutnya adalah bersabarlah dan tetaplah gigih dalam mengikuti proses mereka. Isilah setiap informasi yang diminta dengan detail. Tentu saja ini menguras waktu dan tenaga Anda, namun semakin lengkap informasi yang Anda isi maka semakin lengkap Anda mengenalkan diri Anda kepada pemberi kerja. Semakin lengkap para recruiter mengetahui diri Anda, maka mereka memiliki dasar pengambilan keputusan yang cukup kuat untuk melanjutkan Anda ke tahap berikutnya atau tidak. 

Ingat, hanya dengan mengisi informasi diri Anda dengan detail tidak serta membantu Anda untuk masuk ke tahap berikutnya karena pemberi kerja tentunya telah memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk posisi yang dibuka yang mungkin tidak dimiliki semua orang. Mengisi informasi diri Anda dengan lengkap membantu Anda mengungkapkan siapa diri Anda dan juga menunjukkan seberapa antusias Anda untuk mengikuti proses selanjutnya yang tentu saja bisa menambah kesan positif dalam diri Anda. 

Informasi Panggilan Tes Awal

Ketika Anda melamar pekerjaan, pastikan untuk senantiasa aktif memeriksa email Anda ataupun akun dari situs lowongan kerja Anda. Sebagian besar recruiter tidak ingin menghabiskan waktunya untuk menelepon satu per satu kandidat yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Posisi pekerjaan yang dibuka suatu perusahaan bisa jadi lebih dari satu, dan jumlah pelamar yang diundang dalam proses tes tentu saja lebih dari satu, sehingga jika mereka diharuskan untuk menelepon satu per satu kandidat berapa banyak biaya dan waktu yang mereka keluarkan ?

Saat ini, situs lowongan kerja telah menyediakan fitur yang membantu para recruiter untuk mengundang para kandidat ke tahapan selanjutnya seperti memberi informasi melalui email, SMS dan inbox di akun situs lowongan kerja tersebut. Pastikan Anda mengeceknya secara berkala dan lupakan anggapan bahwa Anda akan menerima telepon dari recruiter yang mengundang Anda untuk mengikuti tahapan selanjutnya. 


Proses Tes

Beberapa perusahaan kini telah mengembangkan sistem dimana para kandidat dapat mengerjakan tes secara online. Tentu saja hal ini memudahkan para pencari kerja untuk tidak mengeluarkan biaya menuju lokasi tes. Para pemberi kerja pun tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mencetak soal.

Namun di satu sisi, sebagai pencari kerja, Anda selain dituntut untuk memahami teknologi, peluang Anda untuk menunjukkan diri Anda secara langsung kepada pemberi kerja berkurang karena tes secara online membuat diri Anda diukut berdasarkan hasil tes Anda.

Oleh karena itu, pastikan Anda memahami teknologi yang tengah berkembang saat ini karena pemberi kerja pastinya akan memanfaatkan teknologi tersebut untuk mempermudah proses rekrutmen. Di samping itu, pastikan senantiasa mengasah diri Anda sehingga Anda dapat melewati tahapan tes yang diberikan.

Ada banyak hal yang berubah dalam proses rekrutmen yang kini berlangsung di dunia kerja. Namun sebagian besar mengharuskan para pemberi kerja untuk melewati banyak tahapan sebelum akhirnya bertatap muka dengan recruiter sebagai representatif pemberi kerja. Jika dulu Anda dapat bertatap muka dan mengenalkan diri Anda saat mengantarkan berkas lamaran, maka kini sebagian besar recruiter mengharapkan bertatap muka dengan kandidat pada proses interview.

Bagaimana jika ternyata pemberi kerja melewatkan kandidat yang sebetulnya berkualitas ?

Human error tentu tidak dapat dihindari. Namun pastikan sebagai pencari kerja Anda telah menunjukkan kelebihan Anda dengan baik sehingga Anda tidak menjadi kandidat yang dilewatkan.

Selain karena teknologi, dalam proses rekrutmen dikenal istilah Cost per Hire. Yaitu berapa biaya yang dikeluarkan untuk merekrut satu kandidat. Recruiter tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di suatu perusahaan melainkan juga meminimalisir biaya dalam mencapai tujuan tersebut. Biaya pulsa dan waktu yang digunakan untuk mengundang kandidat ke tahap tes, waktu yang digunakan untuk memandu kandidat menjalani tes, hingga waktu yang digunakan untuk menginterview kandidat adalah beberapa komponen dari Cost per Hire.

Oleh karena itu, untuk mengimbangi posisi recruiter yang kini semakin ketat dalam proses rekrutmen, pastikan Anda menjaga kualitas diri Anda sehingga Anda tidak menjadi kandidat yang terlewatkan. Mungkin Anda menjalani proses yang rumit dalam melamar pekerjaan dan kemungkinan di masa yang akan data proses ini akan bertambah rumit. Namun satu hal yang harus diingat, jalan yang akan Anda lalui untuk bertahan dalam dunia kerja akan bertambah berat. Dan sebagai sosok yang berkecimpung dalam kerasnya dunia kerja, hanya ada dua pilihan bagi Anda ; take it or leave it ?

Benarkah Atasan Menyebalkan adalah Takdir Buruk ?


Jika saya meminta Anda untuk menceritakan atasan Anda dalam 3 kata, apa yang akan Anda katakan ? Apakah Anda akan mengawalinya dengan kata kata positif diikuti dengan kata kata negatif, atau sebaliknya ? Saya tidak dapat menerka apa yang Anda pikirkan tentang atasan Anda, sosok yang mungkin mendominasi 8 jam dalam hari Anda bekerja. Apakah mereka memberi kesan yang baik kepada Anda atau justru sebaliknya.

Bicara tentang atasan memang tak ada habisnya. Selalu saja ada hal menarik, entah positif ataupun negatif untuk dibicarakan. Terdapat 2 hal yang sering saya dengan dari orang lain, baik dalam sesi interview maupun interaksi biasa.

Atasan adalah Takdir

Mereka mengatakan bahwa atasan dapat memilih siapa yang akan menjadi anak buahnya namun kita tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi atasan kita. Seolah olah siapapun yang menjadi atasan kita adalah takdir kita. Jika kita mendapatkan atasan baik hati maka kita sedang bernasib baik dan jika kita mendapatkan atasan galak maka kita sedang bernasib buruk.

Hal yang saya rasa salah, karena bagi saya atasan tidak selamanya menjadi sebuah takdir yang tidak dapat diterka namun terkadang kita memiliki kesempatan untuk memilih siapa yang akan menjadi atasan kita.

Dalam sesi interview kemungkinan besar kita akan bertemu dengan user yang kelak akan menjadi atasan kita yang sebaiknya Anda manfaatkan dengan baik untuk mengenal sosoknya lebih jauh. Bagaimana cara mengenalinya ?


Tipe Kepribadian
Sikap yang Ditampilkan dalam Interview
Sikap yang Ditampilkan dalam Kehidupan
Dominan
-          Mendominasi pembicaraan
-          Intonasi suara tegas dan cepat
-          Percaya diri dengan apa yang ditanyakan

-          Tegas
-          Cenderung bossy
-          Berusaha melindungi tim di bawahnya ketika terjadi masalah

Compliance
-          Bertanya dengan detail
-          Intonasi suara stabil
-          Cukup sistematis dalam mengajukan pertanyaan

-          Detail
-          Bijaksana
-          Bertindak objektif ketika terjadi masalah

Influence
-          Menampilkan sikap bersahabat
-          Intonasi suara riang dan cepat
-          Terkadang mengajukan pertanyaan dengan spontan

-          Bersahabat
-          Moody
-          Terkadang plin plan
Steadiness
-          Bersikap low profile
-          Intonasi suara stabil, cenderung lamban
-          Terkadang menampilkan sikap pasif
-          Low profile
-          Pasif
-          Terkadang ragu ragu

Tabel di atas hanyalah beberapa ciri ciri yang ditampilkan seseorang dalam interview untuk menggambarkan kepribadian aslinya. Disamping itu, setelah proses interview, pasti kita memiliki kesan atas sikap interviewer, misalkan “kayanya atasannya galak / kayanya atasanya sabar” dan kesan kesan lainnya. Dari proses interview tersebut juga Anda dapat menilai apakah Anda merasa nyaman atau tidak dengan proses tersebut, apakah Anda merasa tertekan selama interview atau cukup nyaman. Tanpa disadari, Anda juga melakukan penilaian terhadap interviewer.

Dan ketika Anda memutuskan untuk bergabung di suatu perusahaan dengan sebelumnya melewati tahap interview, sadar atau tidak Anda telah memilih sosok yang menjadi atasan Anda. Dan itulah mengapa, atasan Anda seringkali menjadi pilihan Anda bukan hanya sekedar takdir yang hanya bisa diterima.

Atasan yang Menyebalkan

 “Atasan gue sukanya marah marah, masih aja suka nanyain kerjaan pas di luar jam kerja, yah tapi gue suka karena dia selalu bisa backup kita”

“Atasan gue pelit, ngasi kerjaan banyak, tapi dia suka kasih gue motivasi pas gue down sih”

Setidaknya, mereka selalu menyebutkan sifat negatif dari atasannya. Pada dasarnya, atasan bisa menjadi sosok paling menyebalkan yang kita temui dalam lingkungan kerja. Alasannya tidak lain karena atasan terlibat dalam pekerjaan kita lebih intens dibanding orang lain. Atasan lebih dari sekedar rekan kerja, ia mengawasi kinerja kita dan berusaha menjaga kita untuk tetap berada di koridor yang tepat dengan caranya. Itulah mengapa sosok atasan seringkali melekat di ingatan kita dan menjadi subjek yang sering diceritakan kepada orang lain ketika membahas pekerjaan.

Terkadang, sosok atasan juga mendominasi emosi kita. Tentu tidak asing dengan cerita seseorang yang mengundurkan diri karena merasa tidak cocok dengan atasannya, hal tersebut menandakan bahwa atasan bisa mempengaruhi kondisi emosional seseorang. Bahkan, jika Anda memiliki atasan yang sangat sabar, Anda mungkin pernah merasa kesal dengannya karena beberapa hal.

Nyatanya, atasan adalah sosok yang menyebalkan. Seolah olah setiap atasan terlahir dengan sifat menyebalkan dan selalu merasa benar hingga muncul ungkapan “Pasal 1, atasan selalu benar. Pasal 2, jika atasan salah kembali ke pasal 1”. Mungkin, beberapa dari kita merasa bahwa hari ini akan terasa lebih baik jika atasan kita tidak hadir.

Namun, dibalik itu semua, pernahkah Anda menyadari bahwa Anda sendiri tidak kalah menyebalkan dibanding atasan Anda. Pekerjaan yang terlambat diselesaikan, selalu datang terlambat, terlalu banyak bertanya, keras kepala, suka membantah. Tidakkah Anda berpikir bahwa bisa jadi atasan Anda berharap bahwa Anda lebih baik mengundurkan diri karena ia merasa sebal dengan Anda secara personal tapi tidak dapat memecat Anda. Tidakkah Anda berpikir bahwa bisa jadi atasan Anda yang dikenal sabar dan tak pernah marah tiba tiba memutuskan untuk tidak memperpanjanng kontrak kerja Anda karena Anda tidak kompeten.

Nyatanya, manusia terlahir menyebalkan. Sialnya, baik Anda maupun atasan adalah manusia. Ralat, bahkan bekerja dengan robot pun bisa menjadi lebih menyebalkan. Oleh karena itu, baik Anda maupun atasan Anda memiliki kelebihan dan kekurang masing masing yang tidak bisa dihindari.


Kegagalan dalam menyikapi dua hal tersebut bisa menjerumuskan Anda dalam penderitaan selama jam kerja. Perasaan menderita tidak hanya menyerang kondisi emosional Anda melainkan juga produktifitas Anda. Perasaan negatif seperti ini tentunya bukanlah hal yang harus dimiliki karyawan. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memahami satu hal.

Fokus pada Kelebihan

Seorang bijak mengatakan, “Saya hanya fokus pada kelebihan seseorang dan apa yang bisa dilakukan dengan itu. Saya tidak bisa merubah kekurangan orang lain”. Saya rasa, kalimat tersebut tidak hanya sederhana melainkan juga tepat.

Sadar atau tidak, ketika akhirnya kita dipekerjakan maka atasan kita telah mempertimbangkan segala kelebihan dan kekurangan kita dan berusaha menerimanya. Mungkin Anda sering mendengar atasan Anda mengeluh mengenai diri Anda.

“Administrasi kamu berantakan”

“Kamu sangat emosional”

Namun, bukankah itu hanyalah tanda bahwa ia peduli terhadap diri Anda dan menginginkan Anda untuk menjadi lebih baik lagi. Dan fakta dimana saat ini Anda masih bekerja bersamanya bukankah membuktikan bahwa ia menghargai kelebihan Anda dibanding membenci kekurangan Anda.

Sadar atau tidak, ketika akhirnya Anda bekerja di suatu perusahaan dan bertemu dengan atasan Anda maka Anda telah mempertimbangkan segala kelebihan dan kekurangannya dengan berusaha menerimanya. Mungkin Anda sering mengeluh mengenai dirinya.

“Bos gue nyebelin”

“Semoga bos gue hari ini ga masuk”

Namun, bukankah itu adalah respon wajar seseorang ketika melihat sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Dan fakta dimana saat ini Anda tidak mengajukan pengunduran diri bukankah membuktikan bahwa Anda masih nyaman bekerja bersama atasan Anda dibanding berusaha mencari rumput tetangga yang lebih hijau.

Tentu adalah hal yang wajar jika kita mengharapkan orang lain bersikap lebih baik, mengharapkan orang lain mampu membuat kita merasa lebih nyaman. Namun terkadang, sesuatu hal yang tidak kita inginkan tercipta bukan untuk diubah melainkan untuk diterima. Sama seperti kekurangan Anda dan kekurangan dari atasan Anda yang mungkin tercipta untuk diterima dan dipahami bukan untuk ditentang.

Semua kembali kepada diri Anda, apakah Anda akan fokus kepada sikap menyebalkan dari atasan Anda atau memperhatikan sisi lain dari dirinya yang lebih baik ? Tentu Anda tidak dapat memaksakan diri Anda untuk cocok bekerja sama dengan orang lain jika Anda tidak merasa bahagia.

Pertanyaan terakhir, jika Anda diberi kesempatan untuk mengganti atasan Anda, apakah Anda akan mengambil kesempatan tersebut ? Jika ya, semoga Anda bahagia dengan pilihan Anda meski nyatanya Anda akan kembali menemukan atasan yang menyebalkan. Karena nyatanya, tidak ada manusia yang terlahir sempurna.

3 Alasan Mengenai Gagal Resign

Resign.

Kata yang jika mungkin tidak ingin didengar oleh HRD, karyawan resign mengakibatkan HRD kembali bersusah payah menemukan kandidat pengganti yang belum tentu mudah didapatkan. Namun, di tengah banyaknya karyawan yang sibuk mencari rumput hijau tetangga dan recruiter yang sibuk mencari talent, masih ada beberapa orang yang berkutat dengan pertanyaan "jadi resign ga ya ?"



Ketika Anda menyampaikan keinginan resign Anda, kemungkinan atasan dan HRD Anda akan meminta Anda mempertimbangkan kembali keinginan Anda. Faktanya, tidak mudah mencari kandidat yang sesuai saat ini. Atasan Anda dan HRD kemungkinan akan mengingatkan tentang betapa banyaknya hal positif yang Anda dapatkan dengan tetap bertahan. Tentu suatu arahan yang bagus. Namun kembali lagi, yang menjalani adalah Anda dan yang memutuskan adalah Anda.

Sudahkah Anda bertanya pada diri Anda, apakah bertahan membuat Anda bahagia ?

Di Tempat Lain Pun Akan Ada Masalah

Ya, saya sangat setuju dengan pandangan ini. Lalu apa bedanya dengan tetap bertahan jika nyatanya masalah akan tetap ada meski ketika kita pindah ke perusahaan lain ? Faktanya, masalah adalah milik setiap manusia tanpa terkecuali. 

Namun bahagiakah Anda dengan hidup Anda saat ini dimana atasan Anda seringkali mengatakan hal yang menyinggung perasaan. Bahagiakah Anda ketika kinerja Anda tak dihargai dan hanya kesalahan dari Anda yang diingat. Bahagiakah Anda ketika Anda memiliki rekan kerja yang selalu melakukan hal yang mengusik Anda. 

Tentu saja ada kemungkinan permasalahan di perusahaan lain lebih rumit, tapi bagaimana jika tidak. Bagaimana jika di luar sana terdapat sosok atasan yang dapat menghargai perasaan Anda. Bagaimana jika di luar sana terdapat perusahaan dengan sistem reward & punishment yang lebih adil bagi Anda. Bagaimana jika di luar sana terdapat sekelompok orang yang mampu mensupport Anda sebagai sebuah tim. 

Bukankah tidak ada salahnya mencoba meninggalkan hal yang tidak membuat Anda bahagia ? Dan jika ternyata keputusan Anda salah, setidaknya Anda mendapatkan pelajaran baru dibanding terkurung dalam keraguan yang semakin membuat Anda jauh dari rasa bahagia. 

Saya Masih Kuliah, Tidak Banyak Perusahaan Yang Bisa Menerima

Hal ini juga saya akui benar karena memang ada beberapa user yang mengharapkan karyawannya tidak sedang dalam status aktif sebagai mahasiswa karena suatu alasan. Namun, masih banyak juga perusahaan yang menerima karyawan dengan status aktif sebagai mahasiswa. 

Jika Anda mulai terbangun dengan membayangkan beratnya hari ini, merasa senantiasa kesal dengan gaji Anda yang tak kunjung naik, merasa lelah dengan jauhnya jarak yang harus ditempuh, mengapa Anda tidak mulai mencari pekerjaan baru ? Bisa jadi di luar sana terdapat perusahaan lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan Anda. Yang terpenting adalah berkatalah dengan jujur sejak awal, cantumkan bahwa saat ini Anda tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa. Bagi yang bersedia menerima kondisi tersebut akan mengundang Anda untuk tes setelah melalui beberapa pertimbangan lainnya. Dan bagi yang tidak menerima kondisi tersebut tentu sejak awal tidak akan memproses CV Anda. 

Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam perasaan tidak nyaman hanya karena alasan yang mungkin menghambat Anda menemui kebahagiaan Anda. 

Bosen, Tapi Kalau Resign Bisa Dapat Gaji Sebesar Ini Tidak Ya ?

Gaji yang tinggi memang menggiurkan, namun jika nyatanya Anda mulai merasa bosan dan tidak merasa mendapatkan tantangan baru, apakah patut dilanjutkan ?

Tentu saja besaran gaji menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pekerjaan mana yang akan diambil. Namun, ada hal lain yang tidak dapat dibeli dengan uang seperti pengalaman dan juga kebahagiaan. Jika bertahan hanya membuat Anda diam di tempat dan hanya dompet Anda yang menebal, apakah ini benar benar yang Anda inginkan ?

Apakah Anda menikmati saat dimana Anda hanya melakukan hal yang sama ? Apakah Anda mulai kehilangan minat bekerja karena tidak adanya tantangan baru ? Tentu saja jawaban setiap orang berbeda karena kebutuhan setiap orang berbeda. Namun jika pengembangan diri Anda mulai terganggu, apakah Anda yakin gaji yang Anda terima selama ini mampu membayarnya ?

Kemungkinan besar, artikel ini tidak akan dipasang di mading setiap perusahaan karena setiap HRD normalnya mengharapkan karyawannya cukup nyaman bekerja di dalam perusahaan. Namun bertahan tidak selalu menandakan kebahagiaan. Karena waktu terus berputar dan hidup hanyalah satu kali, mengapa tidak kita lakukan hal yang membuat kita bahagia dibanding membuat kita merasa tertekan. 

Resign tidak selalu menandakan Anda menyerah dengan keadaan. Resign, seringkali merupakan satu satunya jalan keluar ketika kita tidak lagi merasa bahagia dalam bekerja. Resign memang merupakan kata yang paling tidak ingin didengar oleh para HRD. Namun dengan resign, bisa jadi Anda menjadi lebih dekat dengan kebahagiaan. 

Berani melangkah, berani mencoba. Jangan gadaikan hidup Anda hanya demi hal hal yang tidak membuat Anda bahagia atau berkembang. Karena resign tidak selalu bermakna buruk, karena resign bisa menjadi sebuah awal baru. 


Talent War : Direkrut Saja Tidak Cukup, Jadilah Kompetitif


Pada postingan sebelumnya saya telah menggambarkan betapa sengitnya pencarian kerja, hal ini tidak hanya dirasakan oleh pencari kerja melainkan oleh pemberi kerja. Suatu hal yang membanggakan ketika akhirnya kita berhasil mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Sayangnya, ternyata talent war tidak berhenti ketika kita telah dinyatakan diterima bekerja, talent war akan terus terjadi sepanjang perjalanan karir kita.


Lalu seperti apakah sengitnya talent war saat kita telah dinyatakan diterima sebagai karyawan ? Anda dapat merasakannya melalui beberapa fenomena berikut ;



Selalu Dibandingkan

Mungkin saja Anda diterima bekerja untuk menggantikan seseorang di perusahaan tersebut. Sayangnya Anda jangan bersenang hati terlebih dahulu. Pemegang jabatan sebelumnya tentu memiliki prestasinya sendiri dalam bekerja yang mau tidak mau membuat orang lain setidaknya berharap Anda melakukan hal yang sama baiknya dengan pemegang jabatan sebelumnya.

Tentu sudah cukup bagus jika Anda berhasil meneruskan apa yang telah dicapai oleh pemegang jabatan sebelumnya. Namun, jika Anda hanya sekedar meneruskan apa yang telah tercipta maka Anda hanya akan berada di bawah bayang bayang pemegang jabatan sebelumnya.

Oleh karena itu, berjuanglah untuk memberikan kinerja yang lebih baik dari pemegang jabatan sebelumnya. Ciptakan prestasi Anda sendiri dengan cara Anda. Berjuanglah untuk menjadi yang terbaik dan dengan begitulah Anda akan dikenang sebagai yang terbaik.

Terus menerus mendengar kata “si A dulu begini” memang menyakitkan, namun yakinlah bahwa Anda memiliki cara berbeda yang juga mampu membawa perubahan lebih baik. Tentu saja Anda dan pemegang jabatan sebelumnya memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda, namun dengan direkrutnya Anda menjadi pengganti karyawan tersebut membuktikan bahwa Anda dianggap sama kompetennya dengan karyawan tersebut.

Karyawan “Master”

Anda pasti memiliki kenalan yang sudah dikenal “master” di pekerjaan yang ia lakukan. Master dalam pengertian yang bersangkutan sudah bekerja cukup lama di posisi tersebut. Si karyawan “master” ini seringkali dianggap lebih menguasai tentang pekerjaan tersebut sehingga seringkali membuat orang lain merasa segan akan kemampuan bekerja yang ia miliki.

Entah karyawan “master” ini adalah Anda atau kenalan Anda, yang jelas menjadi karyawan “master” tidak selalu berada dalam konotasi positif. Tentu saja karyawan “master” memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai budaya kerja di perusahaan, namun tentang kompetensi ?

Karyawan “master” dianggap memiliki konotasi positif jika selama bekerja ia terus mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar dan juga memahami arti pekerjaan yang ia lakukan. Seringkali saya menemui kandidat yang telah bekerja lebih dari 3 tahun di perusahaan yang sama, sebagian dari mereka diberikan tanggung jawab yang lebih besar namun sedikit dari mereka yang memahami pekerjaan yang ia lakukan selama ini.

Saya pernah bertemu dengan seorang stock controller yang telah bekerja selama 5 tahun. Ia mengerti apa yang telah pekerjaan yang ia lakukan namun ketika saya tanya apa yang dapat ia analisa dari laporan yang selama ini ia kerjakan, ia tidak dapat menjelaskan. Ini adalah salah satu contoh karyawan “master” yang memiliki konotasi yang negatif. Dalam hal loyalitas tentu ia unggul, namun secara kompetensi, kemungkinan besar ia hanya melakukan pekerjaan yang sama dan diulang selama 5 tahun dan tentu saja karyawan seperti ini tidak cukup memiliki nilai tambah di mata pemberi kerja.

Jika Anda memang memutuskan untuk menjadi salah satu karyawan “master” dengan tetap tinggal di perusahaan dalam jangka waktu lama, maka pastikan Anda tidak menjadi seseorang yang rugi dengan tidak menyerap informasi sebanyak banyaknya dari pekerjaan Anda. Jika Anda adalah seorang staff procurement, coba analisa kapan pembelian dalam jumlah besar dilakukan dan barang apa yang paling diminati. Jika Anda adalah seorang sales, coba analisa program promosi apa yang paling diminati pelanggan. Pekerjaan kita memiliki nilai yang lebih besar dari apa yang terlihat oleh orang lain dan pastikan Anda menjadi seorang yang cukup beruntung dengan memahami arti nilai tersebut.

Mutasi

Mutasi seringkali dianggap menjadi momok bagi sebagian besar orang. Oh tentu saja, bayangkan saja kita telah nyaman bekerja dan tiba tiba dipindah ke pekerjaan lain yang tidak kita kuasai. Pikiran “apakah saya tidak kompeten”, “yah, saya harus belajar lagi”, dan berbagai pikiran lain tentu datang menghampiri.

Mutasi, yang dianggap sebagai perpindahan posisi seorang karyawan ke posisi lain yang dianggap sejajar seringkali tidak bermakna negatif. Mutasi, jika disikapi dengan baik dapat menjadi sumber pembelajaran bagi diri kita sehingga kemampuan yang kita miliki bertambah.

Misalkan, Anda adalah seorang staff akunting yang berkutat data transaksi tiba tiba dipindah menjadi seorang finance controller yang diharuskan untuk melakukan koordinasi dengan pihak lain. Bagi seorang yang telah terbiasa menjadi seorang staff akunting, ini bukanlah hal yang mudah. Namun jika dilihat kembali, setelah Anda menjalaninya maka Anda akan memiliki kemampuan yang lebih luas. Kemampuan sebagai staff akunting dan finance controller yang menjadi nilai tambah ketika Anda melamar pekerjaan di tempat lain ataupun mendapatkan promosi.

Mutasi juga dianggap sebagai sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Bisa jadi, ketika Anda melewatkan kesempatan ini, Anda tidak mendapatkannya ketika Anda ingin dan justru membuat Anda terperangkan untuk mengerjakan pekerjaan yang sama selama bertahun tahun.

Ketika Karyawan Baru Bergaji Lebih Tinggi

Tentu saja fenomena ini seringkali membuat sakit hati. Itulah mengapa, gaji adalah salah satu hal confidential dan cukup privasi meski seringkali para karyawan sibuk membocorkan gajinya kepada karyawan lainnya, hal yang tidak dapat dicegah.

Namun yang perlu diingat adalah, hal ini takkan terjadi tanpa alasan atau terjadi hanya karena HRD salah memberikan nominal gaji. Akan lebih baik jika Anda mengintrospeksi diri Anda, apa yang sudah Anda lakukan selama ini, bagaimana kinerja Anda, dan apa yang perlu ditingkatkan. Jika Anda tidak dapat menemukan apa alasannya, Anda dapat menanyakannya kepada atasan Anda yang tentu memiliki pemahaman lebih luas dibanding Anda.

Satu hal yang pasti, dalam hal ini bercerita adalah hal yang cukup bijak dibanding hanya memendamnya seorang diri sehingga akhirnya Anda terperangkap dalam prasangka negatif yang menguras emosi. Oleh karena itu, sebelum hal menyakitkan ini terjadi terus tingkatkan kualitas diri Anda sehingga Anda menjadi layak.

Dari 4 fenomena di atas, satu hal yang saya tekankan adalah nilai tambah. Bahkan rasanya hal ini sudah saya tekankan dari postingan saya sebelumnya. Memang bagi sebagian orang terkesan memburu buru, namun itulah kondisi dalam talent war dimana Anda harus terus waspada atau dikalahkan lawan. Dalam hal ini, Anda diminta untuk terus kompetitif atau Anda akan tertinggal oleh karyawan lain.

Apa yang Anda miliki akan menjadi penolong Anda, karena hidup tidak dapat diprediksi, maka bisa jadi Anda harus meninggalkan pekerjaan Anda saat ini. Dan jika ini terjadi, silahkan baca postingan saya sebelumnya, apa yang menjadi nilai tambah Anda sehingga pemberi kerja harus merekrut Anda?

Talent War : Ketika Pemberi dan Pencari Kerja Sama Sama Pusing

Adalah suatu fakta yang sangat miris, dalam 6 bulan terakhir hanya 0,4 % kandidat yang saya rekrut memenuhi ekspektasi. Terkadang saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya telah melakukan kesalahan dalam proses rekrutmen ini ? Apakah saya melewatkan kandidat yang sebetulnya berpotensi ? Namun nyatanya kekhawatiran saya memang hanyalah sebuah kekhawatiran karena saya mampu mempertanggungjawabkan alasan mengapa saya tidak melanjutkan mereka ke tahap interview user.

Hasil tes tidak memenuhi standar
Komunikasi yang berbelit belit
Mental yang tidak sesuai dengan kultur perusahaan

Ketiga alasan di atas adalah alasan dominan yang sering saya temui. Tentu saja setiap perusahaan berharap karyawannya cukup cerdas untuk menangkap suatu pembelajaran, mampu berkomunikasi dengan baik kepada orang lain dan juga memiliki karakter yang dibutuhkan perusahaan.



Saya seringkali ditanya, kenapa saya begitu lama dalam mencari kandidat ? Dulu saya masih ikut bertanya kepada diri saya mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun kini, saya telah menemukan jawabannya. Sebagai perusahaan berbasis profit, tentu kita mengharapkan tenaga kerja terbaik untuk menjadi personil kita. Semakin bagus tenaga kerja di dalamnya maka perusahaan dapat berkembang dengan lebih baik. Oleh karena itu, sebagai recruiter yang merupakan perwakilan perusahaan dalam mencari bibit bibit unggulan, kami dituntut untuk mencari best of the best bukan hanya best of the worst. 

Pusing, pasti. Mungkin sebagian dari kalian berpikir, "rekrut aja sih, yang penting kan bisa kerja, sisanya profesional aja". Oh, saya sungguh sangat ingin melakukannya. Rekrut saja siapapun yang menguasai pekerjaannya lalu kita bentuk agar ia bisa berkembang dan menyesuaikan dengan kultur perusahaan. Lagi lagi sayangnya tidak semudah itu. Bagi Anda yang memiliki pasangan tentu tahu bahwa mencari pacar tidak hanya yang kaya atau tampan melainkan mampu mencintai kita apa adanya. Begitu pula dalam mencari kandidat, tidak asal mencari kandidat yang bisa bekerja namun kami mencari kandidat yang kami anggap sebagai talent. Kandidat di atas rata rata, bukan hanya sekedar kandidat rata rata.

Selagi saya dan rekan rekan sesama recruiter lainnya tengah pusing mencari talent, nyatanya di luar sana masih ada beberapa orang yang juga tengah pusing mencari pekerjaan. Sudah apply disana - sini tapi masih belum ada yang memanggil. Rasanya iri melihat orang lain sudah mendapatkan pekerjaan sedangkan Anda belum. Sudah lulus psikotes, lalu interview HR dan kemudian tiada panggilan lagi.

Fenomena yang lucu bukan. Pemberi kerja pusing mencari talent, sedangkan pencari kerja masih sibuk dengan usahanya mencari kerja. Fenomena lucu namun juga miris. Namun inilah realita. Realita bahwa kini banyak perusahaan yang cukup selektif dalam memilih kandidat, bahwa kini perusahaan berlomba lomba mencari kandidat yang dianggap memiliki potensi disamping memiliki motivasi kerja.

Saya menyebut ini Talent War. Kondisi dimana siapa yang memiliki potensi maka dialah yang selamat sedangkan sisanya kemungkinan akan dipukul mundur oleh lawan. Oleh karena itu, tanyakan pada diri Anda, mengapa Anda layak untuk direkrut ? Apa nilai plus Anda dibanding kandidat lain di luar sana ?

Setidaknya ada beberapa hal yang seringkali gagal dimiliki oleh para pencari kerja saat ini ;

Motivasi Kerja

Apa alasan Anda bekerja ? Lalu akan dijawab dengan, "untuk mengaplikasikan ilmu saya / karena ini memang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang lain seusia saya". Jujur saja, mendengar jawaban tersebut saya kemungkinan akan beranggapan bahwa Anda akan resign dengan mudahnya ketika menghadapi kesulitan. 

Bandingkan dengan seseorang yang bekerja demi menghidupi keluarganya, atau seseorang yang bekerja untuk mengejar mimpinya. Bandingkan dengan seseorang yang menjadikan bekerja sebagai alat untuk mencapai tujuan hidupnya dibanding seseorang yang bahkan tidak memahami kolerasi antara mengapa ia harus bekerja dengan tujuan hidupnya. 

Motivasi kerja inilah yang menentukan bagaimana daya tahan kita dalam menghadapi berbagai rintangan dalam bekerja. Jika Anda memahami alasan Anda memilih sesuatu maka Anda akan bertahan meskipun harus melewati berbagai rintangan. Namun jika Anda tidak memahami alasan Anda untuk melakukan sesuatu, Anda akan mudah berubah pikiran saat dihadapkan dengan tantangan. 

Kita melakukan sesuatu karena adanya suatu alasan, semakin kuat alasan itu semakin giat ia melakukannya. Jika Anda bahkan tidak tahu pasti alasan Anda bekerja, mengapa Anda mengharapakan perusahaan memberi Anda pekerjaan jika Anda hanya coba - coba ?

Inisiatif

Saya masih sering menemui kandidat yang bahkan tidak memahami ia sedang melamar di perusahaan apa. Untuk hal yang berkaitan dengan hidupnya saja ia tidak berpikir panjang bagaimana dengan urusan yang berkaitan dengan orang lain ? Dan apa pribadi yang seperti ini layak disebut dengan talent ?

Seseorang yang tidak memiliki inisiatif bukannya tidak dapat bekerja, tentu saja mereka bisa. Namun jika Anda melihat dalam sudut pandang jangka panjang, maka seseorang tanpa inisiatif akan bekerja terus menerus dalam sebuah lingkaran tanpa pernah bergerak maju. Sebagai perusahaan, tentu kita mengharapkan setiap personil dalam perusahaan dapat berkembang. Sayangnya perusahaan tidak akan berkembang jika personilnya tidak berkembang, dan seseorang tidak akan berkembang jika ia tidak mau berkembang. 

Lalu, jika Anda merasa bahwa lebih nyaman menunggu bola dibandingkan dengan menjemput bola,silahkan saja teruskan. Namun satu hal yang harus Anda pahami bahwa kelak Anda akan menyaksikan bagaimana orang lain dengan inisiatif yang lebih tinggi digaji berkali kali lipat dibanding Anda sedangkan Anda masih berkutat dengan penyesuaian gaji. 

Kemampuan Bekerja yang Mumpuni

Jika ditanya kemampuan seorang supir tentu saja mereka mampu mengendarai mobil dan untuk itulah mereka dipekerjakan. Jika ditanya kemampuan seorang penyanyi tentu saja mereka jago menyanyi dan untuk itulah mereka dibayar.

Maka pastikan hal apa yang Anda miliki sehingga mampu membuat pemberi kerja membutuhkan Anda. Jika Anda melamar pekerjaan sebagai akunting namun Anda sendiri tidak memahami jurnal, bagaimana perusahaan akan mempekerjakan Anda ? Jika Anda melamar pekerjaan sebagai staff administrasi namun Anda bahkan tidak dapat mengoperasikan komputer dengan baik, maka mengapa mereka perlu mempekerjakan Anda ?

Tidak hanya seputar personality Anda, perusahaan juga menginginkan seseorang yang cukup kompeten di bidangnya. Sekali lagi, ini bukan masa dimana seseorang dapat dipekerjakan dengan mudah hanya karena kepepet. Oleh karena itu jangan jadikan diri Anda pilihan ketika pemberi kerja merasa kepepet. Jadikan diri Anda pilihan pertama dengan kemampuan yang Anda miliki. 

Jika semua staff admin bisa mengetik maka jadikan diri Anda bisa mengetik dan menganalisa laporan. Jika semua penyanyi bisa menyanyi maka jadikan diri Anda bisa bernyanyi dan berdansa. Bisa yang dimaksud disini bukan hanya bisa sekedar melakukannya dengan biasa, karena itu tidak akan bermakna apa apa. Jadikan diri Anda bisa, bisa melakukannya melebihi ekspektasi dan untuk itulah Anda dipilih. 

Saya berharap tulisan saya mampu menggugah Anda untuk kembali merenungi diri Anda. Sudahkah Anda bersiap menghadapi Talent War ini ? Kemampuan dan diri Anda adalah senjata Anda untuk bertahan dalam pertempuran ini. Pastikan Anda telah membekali diri Anda dengan senjata termutakhir karena setiap orang memiliki senjatanya masing - masing. Pastikan Anda cukup ahli dalam berperang karena yang Anda hadapi adalah para petarung. Namun jika Anda tidak memiliki senjata dan bahkan tidak dapat berperang, maka bersiaplah Anda menjadi orang pertama yang tersisihkan dalam pertarungan ini. 

Legally Blonde, Kisah Gadis Pirang Yang Memenangkan Mimpinya

Postingan saya kali ini akan membahas tentang kisah Reese Witherspoon dalam film Legally Blonde yang sempat populer di awal tahun 2000-an. Tentu saja sebagian dari Anda mungkin telah menyaksikan film ini sehingga saya tidak perlu menceritakan kembali mengenai kisah yang cukup ringan namun berkesan ini.

Satu hal yang saya ingat dari film ini adalah kisah seorang gadis pirang yang berani memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Ide cerita yang saya rasa sangat sederhana namun cukup memotivasi. Yah, seberapa banyak Elle Woods di dunia ini yang berani memperjuangkan mimpinya ?

Elle memang digambarkan sebagai sosialita yang seringkali dinilai tidak pernah serius. Dalam kehidupan nyata, sosok Elle yang heboh sendiri memang seringkali menjengkelkan. Namun dibalik sosok Elle yang sangat feminim, ada banyak hal lain dari dirinya yang seringkali kita lupakan selama ini.

Pekerja Keras

Awal mula Elle terjun dalam dunia hukum adalah ketika ia mengikuti mantan kekasihnya yang berkuliah di fakultas hukum. Di setiap sekuel Anda menyaksikan bagaimana kerasnya Elle dalam belajar agar lulus tes Harvard, bagaimana Elle mengimbangi waktunya pergi ke salon dengan tetap belajar dan sekian usaha keras Elle lainnya.

Bagi Elle yang memiliki tekad untuk berkuliah di Harvard dan tidak lagi dianggap remeh oleh mantan kekasihnya, segala kerja kerasnya bukanlah hal yang harus dipikir berulang kali untuk dilakukan. Elle tidak hanya memiliki mimpi, namun juga berhasil terbangun dari mimpinya dan mewujudkannya. 

Lalu, sebagian dari kita masih sibuk dengan angan angan kita untuk kelak menjadi dokter, kelak pergi ke negeri sakura dan lainnya tanpa pernah melakukan apapun. Seringkali mimpi benar benar berada 5 cm di depan kita, sangat dekat dan mudah diingat namun tak pernah kita genggam. Seringkali kita sibuk dalam berbagai pertimbangan karena takut gagal dan pada akhirnya tidak kemana mana. Nyatanya perencanaan memang penting, namun melakukan satu tindakan akan membawa Anda ke level yang lebih tinggi menuju mimpi Anda. 

Jadi, apa yang sudah Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi Anda ?

Tetap Menjadi Dirinya Sendiri

Elle merupakan salah satu anggota kelompok sosialita bernama Delta Nu yang seringkali diulas dalam film ini. Meski memiliki teman teman yang cukup setia di komunitasnya, nyatanya Elle kesulitan mendapatkan teman di lingkungan kampus dan kantornya akibat sikapnya yang terlalu girly.

Meski demikian, Elle tetap mempertahankan dirinya yang selalu bersahabat hingga ia mendapatkan beberapa kenalan yang kemudian menjadi teman baiknya dan selalu ada untuk membantunya. Namun meski ia selalu terlihat ramah, Elle tak pernah ragu menyalurkan emosinya ketika ia kesal tanpa berpikir bagaimana jika mereka membencinya. 

Berulang kali saya berpikir mengapa Elle berani bersikap begitu frontal dan emosional, namun nyatanya, Elle hanya berusaha menjadi dirinya sendiri dan ia begitu menghargai dirinya. Jika dipikir kembali, berapa banyak dari kita yang berusaha menahan amarah kita ketika dihina orang lain hanya agar kita tidak dibenci. Berapa banyak dari kita yang enggan bertanya hanya karena takut diacuhkan. Dan Elle mengajarkan kita satu hal, untuk tetap menjadi diri kita sendiri tanpa takut dikritisi orang lain, tanpa terkurung dalam pandangan orang lain karena nyatanya kita tidak dapat disukai semua orang. 

Meyakini Dirinya dan Mimpinya

Berulang kali Elle mendapatkan penolakan dalam proses pengajuan RUU Bruiser yang dianggap tidak penting. Terpukul, tentu saja Elle merasakan emosi semacam itu. Namun nyatanya Elle tetap kembali melanjutkan keinginannya. Meski bagi sebagian orang keberadaan hewan tidak begitu penting, namun Bruiser begitu penting bagi Elle dan Elle tidak peduli dengan hinaan banyak orang tentang mimpinya karena baginya anjing kesayangannya patut diperjuangkan. 

Lalu, berapa banyak dari kita yang akhirnya menghentikan mimpi kita hanya karena orang lain menganggap mimpi kita mustahil. Kita seringkali tidak berani memperjuangkan apa yang kita inginkan dan akhirnya kita hanya menjalani kehidupan yang mungkin biasa biasa saja. Seringkali kita tenggelam dalam rutinitas dan tak pernah memikirkan mimpi kita. Dalam film ini setidaknya Elle mengingatkan kita untuk tetap melanjutkan mimpi kita tanpa peduli hinaan dari orang lain yang bahkan tidak memahami alasan kita. 



Elle dikenal begitu potensial bukan karena ia terlahir cerdas, namun karena ia memiliki semangat untuk meraih apa yang ia inginkan. Di awal film bahkan ia seringkali dinilai bodoh, dan nyatanya ia memang pada awalnya sama sekali tidak memahami dunia hukum. Dan di akhir film Anda akan menyadari bahwa ternyata kegigihan adalah penyelamat kita meski kita tidak memiliki apapun. 

Elle, dengan segala kelebihannya dan kekurangannya sebagai seorang Influencer meyakini mimpinya dan dalam mimpinya ia sama sekali tidak berharap menjadi orang lain selain dirinya. Elle, dengan hobinya mempercantik diri tetap percaya ia cantik dengan rambut pirangnya bukan dengan warna lain. Elle, dengan segala kebodohannya dan juga segala ambisinya mengajarkan kita satu hal, bahwa diri dan mimpi kita adalah hal yang patut diperjuangkan dibanding opini orang lain terhadap kita.