Sanguinis vs Melankolis dalam Lingkungan Bekerja

Pada postingan sebelumnya, saya sempat membahas mengenai kepribadian Sanguinis dan Melankolis dengan cukup mendalam. Jika sebelumnya saya membahas kedua kepribadian tersebut dari sudut pandang hubungan interpersonal, maka kali ini saya akan membahas kedua kepribadian tersebut dari sudut pandang hubungan profesional.

Note, dalam konsep DISC, Sanguinis disebut sebagai Influence dan Melankolis disebut sebagai Compliance.

Baca juga : Sanguinis Populer vs Melankolis Sempurna



Sebagai Atasan

Melankolis 

  • Dapat diandalkan. Sosok atasan melankolis akan berusaha menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya, termasuk jika tim di bawahnya mengalami kesulitan. Karena pemikirannya yang analitis, tidak jarang mereka sering memberikan jalan keluar yang mungkin tidak dipikirkan orang lain dalam menghadapi masalah. 
  • Emosi stabil. Anda dapat berlega hati jika mendapatkan atasan melankolis karena membentak - bentak, marah - marah bukanlah hal yang terpikirkan untuk dilakukan oleh mereka. Bagi mereka, emosi yang meledak ledak hanya akan menguras energi mereka. Sebaliknya, mereka mampu menangani emosi tim di bawahnya yang meledak ledak dengan pemikirannya yang logis.
  • Tertutup. Sosok melankolis enggan untuk membagikan apa yang ia rasakan kepada tim dibawahnya. Seperti melankolis pada umumnya, mereka lebih nyaman untuk memendam emosinya seorang diri. Padahal, dengan berbagi bisa jadi orang lain dapat memberikan masukan dan jalan keluar. 
  • Cuek namun perhatian. Jangan berharap ia akan mengucapkan kata kata motivasi ketika Anda sedih, kemungkinan mereka akan menanggapi kesedihan Anda dengan diam atau justru kalimat yang pedas. Namun hal itu tidak menandakan mereka tidak peduli dengan Anda. Setelah Anda sedih dan tidak ditanggapi oleh mereka, jangan kaget jika beberapa hari kemudian mereka mengirimi Anda buku motivasi. Mereka sangat berempati, namun sekali lagi mereka tidak pandai menampilkan ekspresinya. 
  • Dingin namun menyenangkan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu sendiri, bukan karena mereka antisosisal namun berkumpul dengan banyak orang akan menghabiskan energi mereka. Namun bukan berarti mereka sosok yang kaku. Ketika Anda berhasil menciptakan pokok bahasan dengan mereka, Anda akan menyadari bahwa mengobrol dengan mereka sangat menyenangkan dan tak ada habisnya.

Sanguinis

  • Motivator yang baik. Jika Anda sedih dan membutuhkan motivasi, maka datanglah pada sosok Sanguinis yang akan memberikan Anda wejangan dengan wajahnya yang riang gembira. Jika atasan Anda adalah sanguinis populer, Anda akan menyadari bahwa mereka selalu menampilkan sosoknya yang riang dan menularkan moodnya kepada orang lain sehingga orang lain ikut bersemangat. 
  • Moody. Jangan heran jika tiba tiba mereka akan marah marah kepada Anda setelah sebelumnya mereka riang gembira. Perubahan mood mereka cukup ekstrim sehingga Anda tidak dapat menduga kapan mood mereka akan memburuk. Namun, karena mereka cukup ekspresif orang lain selalu dapat mengetahui mood mereka dan bersiap mengambil sikap untuk menghadapinya. 
  • Plin - plan. Berpikir jangka panjang bukanlah salah satu keunggulan mereka, tidak heran jika mereka akan merubah rencana tiba tiba. Semua murni karena mereka tidak mampu memprediksi kemungkinan apa yang akan terjadi. 
  • Royal. Demi menciptakan suasana kerja yang baik, mereka rela merogoh kocek agar orang lain merasa senang seperti mentraktir makanan atau karaoke. Mereka juga bukan orang yang perhitungan dan selalu siap membantu ketika Anda mengalami kesulitan. 
  • Teman bicara yang baik sekaligus pendengar yang buruk. Jika Anda membutuhkan orang lain untuk berbicara, maka mereka adalah orang yang tepat. Atasan sanguinis selalu menempatkan diri sebagai partner Anda, bukan atasan sehingga Anda dapat dengan nyamannya berbagi cerita dan pemikiran dengan mereka. Namun jangan heran jika terkadang mereka cenderung mendominasi pembicaraan. 

Sebagai Bawahan

Melankolis

  • Slow but Sure. Melankolis selalu membuat rencana dalam kegiatannya dan memprediksikan bagaimana  kegiatan itu akan berlangsung. Jangan heran jika Anda memberikan tugas kepada mereka dan mereka terlihat santai karena dibalik itu, mereka sudah mengantisipasinya. Jangan heran juga mereka dapat menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa heboh karena sekali lagi mereka sudah mempersiapkannya dengan baik. 
  • Rapih dan Teliti. Mencari administrator atau analis yang baik, melankolis adalah orang yang tepat. Mereka handal dalam pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan persistensi. Didukung dengan kepribadian dasar mereka yang cenderung rapih, Anda akan nyaris tidak menemukan mereka melakukan pekerjaan dengan berantakan. 
  • Tidak mudah terpengaruh. Melankolis adalah sosok yang percaya pada diri mereka sendiri dan sulit mempercayai orang lain. Ini adalah satu kelebihan karena mereka tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan hanya percaya dengan apa yang menjadi penilaiannya.
  • Cenderung pasif. Seringkali orang lain menilai bahwa melankolis bukanlah sosok yang aktif, hal ini dikarenakan mereka lebih menyukai memikirkan segala sesuatu sebelum merealisasikannya. Dan nyatanya sangat sulit bagi mereka untuk memulai sesuatu karena seringkali mereka dipenuhi kekhawatiran dan banyak pertimbangan lainnya. Nyatanya, mereka bukannya tidak berusaha lebih aktif, namun sebagian besar upaya mereka tersimpan di dirinya sendiri.
  • Seringkali dinilai kaku. Melankolis adalah perencana yang baik sekaligus dikenal tidak adaptif terhadap perubahan. Perubahan mendadak dan tidak terprediksi akan membuat mereka sebal meski tetap pada akhirnya mereka mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. 

Sanguinis 

  • Menyukai tantangan. Ingin mendelegasikan pekerjaan namun bingung kepada siapa akan mendelegasikannya, maka Sanguinis adalah orang yang tepat. Mereka menganggap pekerjaan baru atau tantangan sebagai mainan yang harus mereka selesaikan. Mereka dengan senang hati akan berusaha menyelesaikan tantangan yang diberikannya dengan baik karena penghargaan dari orang lain adalah hal yang penting bagi mereka.
  • Pembicara yang baik. Berbanding lurus dengan sifatnya yang ingin menjadi pusat perhatian, mereka sangat unggul jika ditempatkan di hadapan publik untuk melakukan presentasi ataupun membawakan acara. Tidak hanya itu, sikapnya yang bersahabat membuat orang lain merasa nyaman berbicara dengannya.
  • Perasa. Sanguinis adalah sosok yang sensitif, ketika ia tidak mendapatkan penghargaan atas apa yang mereka capai maka hal tersebut akan mempengaruhi emosi mereka. Karena mereka adalah sosok yang mudah bercerita tanpa perlu ditanya dan mood mereka yang tidak mudah ditebak, jangan heran jika ia selalu mencari Anda hanya untuk sekedar curhat dan menenangkan diri mereka. 
  • Energik sekaligus talkative. Mereka akan selalu menghidupkan suasana di satu sisi menghancurkan konsentrasi. Mereka akan menceritakan segala hal kecil kepada orang yang berada di sekitarnya. Energi mereka tak kunjung habis sehingga jangan heran jika mereka sangat menyukai kegiatan dengan mobilitas tinggi sedangkan mereka masih dengan semangat bercerita tanpa terlihat lelah sedikitpun dan tanpa peduli bagaimana kondiri orang di sekitarnya.
  • Optimis sekaligus tidak realistis. Mereka adalah sosok yang selalu melihat segala sesuatu secara positif. Mereka mungkin tidak akan terpengaruh jika diberikan pekerjaan yang banyak karena mereka akan memandangnya dari sisi positif. Saking optimisnya mereka, seringkali mereka membuat target yang tidak realistis yang kemudian berujung menyusahkan dirinya dan orang di sekitarnya. 

Jika mereka berdua ditempatkan sebagai sesama rekan kerja pun saya rasa tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Pada prinsipnya, mereka memiliki perbedaan yang cukup signifikan. 

Melankolis 

Rekan kerja adalah rekan kerja. Sedangkan lingkungan kerja adalah tempat mencari uang, dimana mereka harus perform atau mereka akan dipecat. 

Sanguinis

Rekan kerja adalah keluarga. Begitu pula lingkungan kerja, dimana mereka harus mendapatkan teman sebanyak mungkin yang akan membantu mereka ke depannya. 

Namun, dengan banyaknya perbedaan dan sifat yang berbanding terbalik apakan mereka tidak dapat bekerja sama ? Nyatanya sanguinis dan melankolis dalam lingkungan kerja adalah partner kerja yang saling melengkapi. Asalkan keduanya saling memahami batasan dimana mereka harus bersikap, maka keduanya dapat menjadi partner kerja yang sempurna. 

Bayangkan saja, melankolis yang terlalu banyak berpikir dengan sanguinis yang selalu ingin memulai. Melankolis yang pesimis dan sanguinis yang optimis. Melankolis yang datar dan sanguinis yang periang. Melankolis si jago data dan sanguinis si pembicara handal. Bukankah untuk melengkapi puzzle dibutuhkan kepingan yang berbeda ? Dan begitu pula hubungan antara sanguinis dan melankolis dalam bekerja, meski tak sama namun dapat saling mengisi.

Benarkah Generasi Milenial Menyebalkan ?

Seperti yang telah diketahui, dunia kerja saat ini mulai diduduki oleh para generasi milenial atau generasi Y yang lahir pada tahun 1981 - 2000. Meski demikian, sebagian besar generasi X yang lahir pada tahun 1961 - 1980 masih mendominasi dunia kerja untuk beberapa posisi. Adanya pertemuan antara generasi X dan Y ini seringkali menimbulkan konflik di antara kedua pihak.

Generasi X menganggap generasi Y sebagai generasi yang sering bertindak tidak sopan dan tidak mau susah. Sebaliknya generasi Y menganggap generasi X sebagai generasi yang kaku dan berpikiran kolot.

Sebagai HRD yang juga merupakan generasi milenial saya menanggapi perbedaan ini sebagai hal yang wajar. Bagi saya, perbedaan dapat terjadi dalam berbagai hal, perbedaan usia adalah salah satunya. Namun bukan berarti karena keduanya terlahir dengan rentang waktu yang berbeda sehingga keduanya tidak dapat bekerja sama. Kuncinya adalah dengan saling memahami dan menerima.



Mari kita pahami beberapa hal berikut agar baik generasi X dan Y dapat saling bersinergi dalam mencapai tujuan perusahaan.

Generasi Y Labil

Sebagai HRD, seringkali saya mendengar user dari generasi X mengatakan "susah sih anak milenial, makanya masih labil". Saya membenarkan bahwa generasi milenial memiliki emosi yang kurang stabil, seringkali mereka tidak memahami apa yang ingin mereka capai dan cenderung menginginkan cara instan. Namun saya menggarisbawahi, hal ini terjadi bukan karena mereka terlahir pada periode tahun 1981 - 2000 melainkan karena pada saat mereka memasuki dunia kerja, usia mereka masih muda sehingga belum bisa bersikap dengan dewasa dibandingkan para generasi X yang telah lebih dulu memasuki dunia kerja. 

Saya rasa, ini adalah respon alami dari setiap pribadi yang masih belum memiliki pengalaman kerja yang cukup. Dan saya rasa, hal ini juga terjadi para generasi X pada awal mereka mulai bekerja. 

Jadi, bukan karena mereka lahir di tahun apa. Generasi X dan Y sama sama pernah mengalami masa labil ketika mereka mulai bekerja.

Generasi Y Mau Enaknya Saja

Saya memang kerapkali menjumpai generasi saya yang melamar kerja namun mengharapkan gaji tinggi padahal pengalaman kerja saja tidak punya. Saya juga sering menjumpai generasi angkatan saya yang mengajukan resign ketika pekerjaannya banyak. Saya sering menemukan generasi Y seangkatan saya bertindak menyebalkan dalam bekerja. Sering absen, kerja malas malasan, suka memprovokasi. Jujur saja, seringkali hal ini tidak hanya membuat para generasi X jengkel melainkan juga mampu membuat pihak perusahaan kesal. 

Meski saya tidak dapat melihat apa yang terjadi pada generasi X saat bekerja, namun saya yakin hal ini juga dialami oleh para generasi X. Saya yakin, di setiap generasi pastilah ada kelompok orang yang rajin dan orang yang malas. Kelompok orang yang serius mencari kerja dan kelompok orang yang hanya mau enaknya saja. 

Jadi, sekali lagi bukan karena mereka lahir di tahun apa. Nyatanya, kelompok orang serius bekerja dan kelompok orang yang serius senang senang ada di generasi X dan Y. 

Generasi X Kaku

Hal ini seringkali saya dengar dari karyawan seusia saya. Mereka mengeluh dengan sikap atasannya atau bos dari divisi lain yang bersikap bossy dan gila hormat. Yah, saya juga merasakan hal yang sama. Namun, ini bukan karena mereka adalah generasi X melainkan karena mereka memiliki usia lebih tua dari kita sehingga sudah sepatutnya kita menghargai mereka. 

Akan tiba saatnya dimana para generasi Y akan bekerja berdampingan dengan generasi Z yang lahir di tahun 2000 - 2010. Dan saya sangat yakin bahwa generasi Y akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan generasi Z yaitu berharap mereka memperlakukannya dengan sopan. 

Jadi, kembali saya tegaskan bukan karena mereka lahir di tahun apa. Memang sudah sepatutnya, yang lebih muda menghargai dan menghormati yang lebih tua. 

Generasi X Ketinggalan Jaman

Ini juga menjadi hambatan dalam suatu perusahaan dimana di dalamnya masih didominasi para generasi X dan tidak mampu mengimbangi perkembangan teknologi yang ada. Sering juga disebut bahwa para generasi X memaksakan pemikirannya yang sudah kelewat jaman kepada para generasi Y.

Menyebalkan ? Ya, tentu saja. Namun perlu Anda pahami, generasi X dan Y hidup di zaman yang berbeda sehingga mempengaruhi cara mereka berpikir. Lalu, apakah semua generasi X memiliki pemikiran kuno ? Nyatanya tidak. Justru terkadang generasi X lebih handal dalam hal teknologi dan pola pikir. Lalu, apakah semua generasi Y lebih update terhadap perkembangan teknologi ? Nyatanya juga tidak. Justru masih bisa ditemui generasi Y yang takut pada perubahan atau tidak mau menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

Jadi, untuk terakhir kalinya saya katakan bahwa bukan karena mereka lahir di tahun apa. Lahir di tahun berapa tidak mempengaruhi bagaimana cara seseorang berpikir dan bertindak. 

Setelah membaca ini, apakah Anda masih ingin memandang dunia kerja Anda dalam dua kubu, generasi X dan Y ? Saya harap tidak. Karena sejatinya bagaimana seseorang bersikap tidak dipengaruhi oleh usia. Karena para generasi X pernah menjadi generasi Y pada masanya, dan generasi Y akan menjadi generasi X pada masanya. 

Mau Marah Marah, Cek Dulu Saldo Tabungan Emosi Anda

Dalam dunia kerja, adalah wajar jika terjadi sebuah konflik antar individu. Konflik bisa tercipta mulai dari hal berbau profesional hingga personal. Tidak jarang juga, dalam sebuah rapat seseorang akan menghardik orang lain karena menurutnya kinerjanya tidak memuaskan. Sebagian besar berprinsip, ini adalah lingkungan kerja, semua dibicarakan dengan profesional dan jangan dimasukkan ke hati.

Tapi, ketika Anda marah marah apakah saldo tabungan emosi Anda cukup ? Jangan jangan malah minus ?

Hah, saldo tabungan emosi ? Maksudnya ?

Ya, tidak hanya uang saja yang bisa ditabung, emosi juga bisa ditabung. Bedanya, rekening tabungan emosi bisa tercipta tanpa harus Anda minta karena kita adalah makhluk sosial yang pasti memiliki transaksi emosional dengan orang lain.

Lantas, apa yang dikategorikan sebagai setoran dalam tabungan emosi. Pujian, senyuman, sapaan, bantuan dan interaksi positif lainnya dapat dikategorikan sebagai setoran ke dalam tabungan emosi Anda dalam berinteraksi dengan seseorang. Sedangkan sindiran, hardikan, dan segala emosi dikategorikan sebagai tarikan.

Silahkan Anda introspeksi kembali, dalam berinteraksi dengan seseorang mana yang lebih banyak ? Setoran atau tarikan ? Jika lebih banyak tarikannya, jangan heran jika Anda akan menjadi orang yang dihindari dalam lingkungan sosial. Begitupun jika setoran Anda sudah banyak, satu tarikan Anda masih menyisakan saldo yang cukup agar orang lain masih memberikan respeknya kepada Anda.

Masalahnya, dalam bekerja kita seringkali sibuk dengan kedok profesionalisme yang membuat kita melakukan apapun asal kinerja kita tetap baik. Berapa banyak dari kita yang memikirkan perasaan orang lain dan berusaha menjaganya. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menjauhi seseorang karena menurut kita ia menyebalkan.

Sadarilah, dalam dunia kerja yang dihadapi adalah sekumpulan manusia yang memiliki hati bukan robot yang digerakkan mesin. Jika Anda ingin dihargai, maka jagalah perasaan orang lain. Toh dalam bekerja, yang harus kita kalahkan bukan orang lain yang berada di organisasi yang sama dengan kita melainkan kita berjuang untuk mengalahkan diri kita yang kemarin. Jadi, untuk apa sih melakukan tarikan emosi yang berakibat hilangnya respek seseorang pada Anda. Harus dipahami, bahwa menjadi orang baik lebih penting daripada menjadi orang pintar.

Kontrol emosi Anda, jaga sikap dan ucapan Anda, dan perbanyak saldo tabungan emosi Anda. Tidak hanya untuk hari ini, tapi tentang bagaimana Anda menciptakan citra diri Anda. Positive person or negative person ? Pilihan ada di tangan Anda.

#CuriStart, Jadikan Dirimu Rebutan Banyak Perusahaan

Kali ini saya akan sharing pengalaman saya hari ini saat menghadiri sebuah peluncuran buku berjudul #CuriStart yang ditulis oleh Soegeanto Tan di Gramedia Central Park. Karena saya memang menyukai buku dan menulis, maka saya aktif mengikuti event terkait keduanya. Namun disamping saya menyukai buku, alasan saya mendatangi acara ini adalah karena saya tertarik dengan bukunya setelah mendapatkan infonya dari salah satu komunitas menulis yang saya ikuti.

Kenapa buku ini menarik perhatian saya ?



Sebagai praktisi HR, saya merasakan pahitnya menemui ratusan orang yang akhirnya tidak saya terima karena tidak cukup kompeten untuk dipekerjakan. Fakta yang sangat miris, dalam satu kuartal saya bisa menginterview 470 kandidat dan jumlah kandidat yang direkrut hanyalah 16 orang. Fakta yang sangat memprihatinkan, dan rupanya Pak Soegeanto juga berpikir yang sama dengan saya. Beliau menyampaikan bahwa ia ingin menyiapkan generasi muda Indonesia dalam menghadapi bonus demografi pada tahun 2030 agar peristiwa ini dapat membawa efek positif bagi Indonesia.

Saya pribadi sangat merekomendasikan kepada para pembaca untuk membeli buku ini dan menerapkan isinya. Bukan tanpa alasan, tanpa harus berpikir ke skala yang lebih besar, pernahkah Anda berpikir cukup pantaskah Anda untuk dipekerjakan ? Sudah sejauh mana Anda mengenali diri Anda dan menjadikan diri Anda lebih kompeten ? Jika belum, maka bagaimana Anda mempersiapkan diri menuju masa depan yang Anda idamkan.

Buku ini mengajak kita untuk memperbaiki diri dan memantaskan diri dalam dunia kerja. Kedua hal inilah yang seringkali dilupakan sehingga terjadilah fenomena dimana pencari kerja tinggi dan perusahaan sibuk mencari tenaga kerja yang kompeten.

Salah satu hal yang disinggung dalam buku ini adalah passion saja tidak cukup ! Dan passion Anda belum tentu menjadi karir Anda.

Nah, yang sudah memiliki passion pun belum tentu memiliki karir cemerlang, bagaimana dengan yang masih meraba passionnya ?

Baik Pak Soegeanto dan saya pribadi mengajak teman teman untuk kembali merenung, siapa diri Anda sebenarnya. Setelah mengenal diri Anda, tentukan apa yang ingin Anda capai dengan begitu Anda akan mulai memahami langkah apa yang harus Anda tempuh. Jangan pernah sepelekan hal ini karena kita tidak memiliki mesin waktu yang membuat kita mampu kembali ke masa lalu.

Galilah apa yang Anda sukai, jadikan Anda kompeten di bidang itu dan pastikan apa yang Anda sukai adalah hal yang dibutuhkan. Karena passion dan kompeten namun tidak dibutuhkan hanya akan menjadi sekedar hobi. Karena passion dan dibutuhkan namun tidak didukung kompetensi akan menjadikan Anda seorang yang standar. Dan karena kompeten dan dibutuhkan namun tidak disertai passion hanya akan membuat Anda stuck.

Silahkan perhatikan sekeliling Anda, dimana dunia kerja mulai didominasi oleh tenaga kerja asing dan mungkin orang orang yang sibuk meningkatkan kompetensinya. Silahkan saja Anda pilih, mau jadi rebutan perusahaan dengan sibuk mempersiapkan diri atau diabaikan perusahaan karena orang lain yang lebih siap dari Anda ?

Karena ini adalah hidup Anda, maka Anda bebas menentukan pilihan hidup Anda. Namun satu yang perlu diingat, waktu tidak dapat diputar.


Depresi dan Cara Mengakhirinya

Depresi seringkali diartikan sebagai sesuatu hal yang berlebihan oleh sebagian orang, nyatanya kondisi ini juga rawan terjadi di dunia kerja. Depresi diidentikkan dengan perasaan sedih yang terjadi berlarut larut. Saat mengalami depresi, seseorang cenderung merasa bahwa dirinya tidak berharga dan bahkan menjurus pada keinginan menyakiti dirinya sendiri.

Salah satu faktor penyebabnya adalah pengalaman traumatis yang menyerang sesuatu hal berharga dalam diri kita. Demosi, pemutusan hubungan kerja, tidak tercapainya target dan tidak kunjung mendapat pekerjaan adalah beberapa hal dalam dunia kerja yang berpotensi menyebabkan seseorang mengalami depresi.

Saat mengalami depresi, selalu timbul pemikiran bahwa dirinya tidak berharga yang menyebabkan hilangnya kepercayaan diri seseorang. Penderita depresi bisa menjadi sangat sedih hanya karena suatu hal sepele, terutama jika penyebabnya adalah pekerjaan, penderita bisa kehilangan fokus dalam bekerja karena perasaan sedih yang datang. 

Karena timbulnya perasaan tidak berharga, penderita cenderung malu dengan apa yang ia alami sehingga menarik diri dari orang sekitar dan bahkan mulai menutup diri. Mereka juga menjadi kehilangan minat untuk melakukan hal yang mereka sukai karena terlalu larut dengan perasaan sedihnya. 

Terkadang mereka terlalu merasa malu untuk menceritakan perasaannya kepada orang terdekat sehingga mereka memendamnya sendiri. Akan timbul kemungkinan penderita menyakiti diri sendiri dengan pemikiran bahwa sakit fisik dapat menghilangkan rasa sakit yang ia alami secara psikis. Perasaan sedih berlarut ini juga memicu gangguan fisik lainnya seperti sakit kepala dan dada yang sakit.



Depresi adalah suatu kondisi yang membawa seseorang ke dalam lorong yang begitu gelap dan dalam. Sangat mengerikan hingga saya yakin tidak ada satupun orang di dunia ini yang ingin mengalami depresi. Orang lain seringkali menganggap penderita lemah ataupun terlalu sensitif, namun nyatanya tidak demikian. Penderita hanya sedang berada dalam titik terendah dalam hidupnya dan membutuhkan orang lain untuk membantunya bangkit.

Karena depresi bukanlah hal yang dapat dianggap sepele dan belum tentu orang lain memahami apa itu depresi, jika Anda merasa mengalami gejala depresi yang disebabkan oleh pekerjaan, Anda dapat melakukan beberapa cara di bawah ini ;

Hindari Kondisi Sepi

Kondisi yang sepi akan membuat pikiran Anda dipenuhi hal hal negatif yang membuat Anda sedih. Usahakan untuk bekerja di sekitar orang lain dan luangkan waktu makan siang Anda bersama teman Anda yang dapat membuat Anda tertawa sejenak. 

Berkumpul dengan Orang Terdekat

Meski Anda cenderung menarik diri, berkumpul dengan orang terdekat nyatanya tidak membawa pengaruh buruk bagi Anda. Jika Anda merasa tidak nyaman dengan kondisi Anda, Anda dapat menyembunyikannya dari mereka hingga Anda siap. Ketika tertemu dengan teman Anda, Anda akan tertawa bersama mereka atau bahkan menemukan bahwa teman Anda memiliki kesulitan lebih besar dari Anda.

Cari Kesibukan

Intinya adalah jangan biarkan pikiran Anda kosong. Anda bisa melakukan apapun yang membuat Anda tidak memikirkan perasaan sedih Anda seperti membaca buku, memasak, atau hal lainnya. Semakin sibuk Anda, Anda tidak memiliki waktu untuk meratapi kesedihan Anda.

Olahraga

Kemungkinan Anda merasa marah namun tak dapat melampiaskannya, Anda dapat mencoba berolahraga sehingga emosi negatif Anda dapat berkurang. 

Konsumsi Coklat atau Teh Hijau

Saya tidak menyarankan Anda untuk mengkonsumsi obat obatan antidepresan. Sebagai gantinya, ketika emosi sedih Anda menguasai cobalah mengkonsumsi coklat atau teh hijau yang mampu meredam emosi negatif Anda sejenak.

Temui Orang Terkasih

Saat kita memiliki orang yang kita sayangi, kita akan menyadari bahwa mereka menyayangi kita tulus tanpa peduli betapa buruknya kita. Hal ini harus Anda manfaatkan, karena dengan bersama orang yang kita sayangi kita akan merasakan betapa indahnya dicintai dan kemungkinan kita merasa sedih akan berkurang.

Ceritakan kepada Atasan Anda

Karena yang menjadi penyebab adalah pekerjaan, maka atasan Anda sedikit banyak mengetahui masalah Anda. Jangan malu untuk menceritakan betapa sedihnya Anda dan minta bantuan atasan Anda untuk membuat Anda berkembang menjadi lebih baik lagi. Atasan Anda mungkin akan menjelaskan bagian dari kinerja Anda yang perlu diperbaiki dan hal ini akan membuat fokus Anda beralih kepada bagaimana menjadi lebih baik dibanding dengan perasaan terpuruk.

Ceritakan kepada HR

Jika atasan Anda tidak cukup mengakomodir Anda, Anda dapat menceritakan kondisi Anda kepada HR yang akan dengan senang hati mendengarkan Anda dan tentunya bisa memberikan Anda saran untuk menjadi lebih baik lagi.

Buatlah SWOT untuk Diri Anda 

Saat mengalami depresi, kita cenderung lupa dengan betapa berharganya diri kita. Dengan membuat SWOT, kita akan kembali mengingat betapa berharganya diri kita dan perasaan tidak percaya diri yang tadinya muncul akan perlahan menghilang.

Carilah Mentor

Jika Anda merasa atasan ataupun HR masih belum mengakomodir Anda, cobalah untuk mencari orang lain yang Anda rasa lebih kompeten dari Anda. Mintalah orang tersebut untuk membimbing Anda menjadi pribadi yang lebih baik. 

Temui Psikolog

Ini adalah cara terakhir hanya jika orang terdekat, atasan Anda dan HR Anda tidak dapat membuat Anda merasa lebih baik. Psikolog akan dengan sabar mendengarkan Anda dan mereka juga akan memberikan saran saran yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. 

Pada intinya, depresi hanya dapat diselesaikan oleh diri Anda sendiri. Orang lain hanya membantu Anda dan keberhasilan dari proses ini bergantung pada diri Anda. Meskipun orang lain berhasil membantu Anda, ke depannya pun mereka tidak berharap Anda bergantung pada mereka. Oleh karena itu, depresi adalah sebuah momentum bagi Anda untuk berkembang menjadi lebih baik dalam sisi teknikal maupun emosional.

Depresi juga merupakan momentum yang harus Anda manfaatkan untuk semakin mengenali diri Anda agar ke depannya Anda dapat dengan mandiri menghadapi permasalahan. Depresi adalah hal yang dapat dialami setiap orang. Sekali lagi, depresi bukanlah hal yang menyenangkan oleh karena itu keluarlah dari lorong gelap ini dan bantulah orang lain yang juga berada dalam lorong gelap bernama depresi.

Sisi Gelap dan Terang HRD

Sosok HRD tentu sudah tidak asing lagi di mata setiap karyawan. Pada umumnya HRD bertugas untuk mengurus segala tetek bengek urusan karyawan mulai dari karyawan direkrut hingga diberhentikan. Hanya karena perannya yang lekat dalam ingatan karyawan, bukan lantas serta merta sosok HRD mendapat tempat di hati karyawa. Ada saja yang terkadang membuat HRD serba salah.

Sama seperti hal apapun di dunia ini, menjadi HRD memiliki sisi gelap dan terangnya yang diketahui oleh mereka yang menjalaninya. Berikut adalah sisi gelap dan terang HRD ;


Rekrutmen

Sisi Terang :

Bagian terbaik dari rekrutmen adalah karena pekerjaan ini memungkinkan kita untuk bertemu banyak orang dan hal ini tentu membuat pekerjaan sebagai HRD lebih berwarna dibanding hanya berurusan dengan komputer. Tak jarang juga kita menjumpai kandidat yang kompeten atau memiliki personality baik sehingga membawa hal baru bagi kita. Tak jarang juga kita menemukan kandidat yang menyebalkan sehingga kita tau apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan agar tidak ikut menjadi menyebalkan di kemudian hari. 

Sisi Gelap :

Meski menyenangkan bertemu banyak orang, namun presentasi orang yang menyebalkan atau kurang kompeten bisa jadi lebih besar dibanding kandidat yang benar benar kita cari. Hal ini terkadang membuat HRD kesulitan mendapat kandidat yang tidak dimengerti oleh user. Tidak jarang juga user memberikan kualifikasi yang cenderung aneh seperti latar belakang ras atau agama yang semakin menyulitkan HRD. 


Policy & Procedure

Sisi Terang :

Memang sangat menyenangkan jika kita diberi kewenangan untuk membuat kebijakan atau perusahaan seolah olah kita menjadi pihak yang paling berkuasa. Kita juga menjadi pihak pertama yang mengetahui kebijakan dan peraturan apa yang akan diterapkan. Sebelum berpikir terlalu jauh tentang sisi gelapnya, silahkan amati sisi gelapnya dari bagian ini. 

Sisi Gelap :

Sayangnya, setiap kebijakan atau peraturan yang diterapkan akan menuai pro kontra dari berbagai pihak. Bagi yang menentang, mereka akan melakukan penolakan secara halus hingga ekstrem seperti dengan melakukan demo. Hal ini berpotensi membuat citra HRD buruk di mata karyawan. 

Personalia

Sisi Terang :

Pekerjaan ini meliputi administrasi karyawan seperti perhitungan absensi, cuti, pengurusan kontrak kerja, dan dokumen lainnya. Pekerjaan ini bersifat rutin namun juga membutuhkan ketelitian dan kerapihan. Dibanding bidang pekerjaan lain dalam HRD, personalia memiliki level kesulitan paling rendah sehingga fresh graduate pun mampu melakukan pekerjaan ini.

Sisi Gelap :

Saking rutinnya, pekerjaan ini bisa dianggap membosankan dan tidak menantang bagi beberapa orang karena sebagian besar waktu kerja dihabiskan di depan monitor.


Compensation & Benefit 

Sisi Terang :

Tidak banyak sisi terang dari bagian pekerjaan ini selain kita dapat mengetahui gaji yang diperoleh oleh karyawan lain. Selain itu, saya rasa tidak ada. 

Sisi Gelap :

HRD adalah tempat dimana karyawan bertanya "kapan naik gaji ?" atau "kenapa gaji saya ga naik - naik". Sebenarnya mudah saja bagi HRD untuk mengajukan kenaikan gaji atau penambahan kompensasi lainnya bagi karyawan, namun ingat, HRD pun harus meminta persetujuan dari manajemen yang seringkali tidak mudah. Sedangkan HRD yang merupakan jembatan antara manajemen dan karyawan menjadi samsak oleh karyawan yang merasa kesal karena kompensasi yang diterima tidak sesuai harapan. 

Termination

Sisi Terang : 

Saya rasa tidak ada hal yang menyenangkan ketika kita harus berhadapan dengan pemutusan hubungan kerja. 

Sisi Gelap :

Ketika kita berhadapan dengan pemutusan hubungan kerja, terkadang timbul pergolakan batin yang mau tidak mau membuat kita merasa tertekan. Bayangkan saja perasaan HRD ketika harus melakukan PHK kepada 500 orang karyawan dimana setiap karyawan memiliki tanggungan masing masing. Belum lagi jika harus berhadapan dengan karyawan yang bermasalah, tidak hanya menguras otak namun juga menguras hati. 

Jika ditanya mengapa saya memilih karir di bidang HRD meskipun HRD disebut sebagai Messenger of Bad News, alasannya sederhana. Karena bidang pekerjaan HRD cukup luas, Anda dapat menemukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian hingga yang mengharuskan bertemu banyak orang. Dan mengapa saya tetap bertahan, karena saya tau bagian terbaik dari pekerjaan sebagai HRD sehingga hal buruk lainnya adalah satu paket.

Bagi Anda yang hendak memutuskan memilih karir sebagai HRD, cobalah memantapkan diri dengan memahami sisi gelap dan terang dari pekerjaan ini. HRD pun tidak selalu dianggap sebagai musuh karyawan, semua bergantung dengan bagaimana pembawaan sosok HRD. Karena HRD berhadapan dengan karyawan, adalah sebuah keputusan yang bijak jika HRD mampu menempatkan diri sebagai pihak yang ramah, mengayomi namun tegas.

Tak perlu takut menjadi HRD, toh setiap hal memiliki resiko. Tergantung, resiko mana yang ingin Anda ambil.

 

Passion : Penting tapi Terlupakan

Belakangan, perusahaan saya membuka lowongan pekerjaan untuk posisi admin dimana para fresh graduate diberi kesempatan mengisi posisi tersebut. Kualifikasi yang dibutuhkan sederhana, mampu menguasai Microsoft Office karena memang pekerjaan administrasi lebih banyak berkecimpung dalam aplikasi tersebut. Bahkan pekerjaan ini tidak membutuhkan minimal pengalaman kerja ataupun minimal pendidikan.



Sebagai fresh graduate, baik yang baru saja lulus SMA/K ataupun kuliah, pekerjaan ini tentu saja menggiurkan bagi mereka. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan ketika saya merekrut para fresh graduate di lapangan, tak satupun hingga kini fresh graduate yang saya rekrut dengan alasan : tes intelegensi kurang, tes teknikal kurang dan tidak ada passion.

Passion.

S = saya ,  P = pelamar

Contoh kasus 1.

S : Apa sih passion kamu ?
P : Saya suka pekerjaan administrasi
S : Kenapa ?
P : Ya suka aja.
S : Apa yang ada di bayangan kamu waktu kamu kerja di bagian administrasi ?
P : Duduk, input data di komputer, filling dokumen.

Contoh kasus 2.

S : Apa sih passion kamu ?
P : Saya suka kerja kantoran
S : Kenapa ?
P : Dari dulu pengen aja kerja di kantor.
S : Di kantor, mau kerja di bagian apa ?
P : Karna saya baru lulus, saya gatau di kantor ada bagian apa aja. Yang penting bisa kerja dulu untuk nambah pengalaman.


Dari dua contoh kasus yang saya jabarkan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa masih ada para fresh graduate yang tidak memahami apa yang ia inginkan. Dapat disimpulkan bahwa fresh graduate masih belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang apa itu dunia kerja.

Apakah hal ini hanya terjadi kepada fresh graduate ? Nyatanya tidak. Masih ada juga kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja bertahun tahun namun masih tidak memahami apa passionnya.

Contoh kasus 1.

S : Saya lihat Anda pernah kerja jadi sales, pernah juga jadi admin HRD dan juga Finance. Sebenernya passion Anda apa ?
P : Saya sih ga ada pilih pilih pekerjaan. Pekerjaan apapun yang ada akan saya jalanin.

Contoh kasus 2.

S : Sudah 8 tahun ya jadi General Affair. Apa gapengen cari pekerjaan lain diluar General Affair.
P : Sebenernya pengen, tapi selama ini apply selalu dipanggilnya untuk posisi itu.

Dari dua contoh kasus di atas, dapat kita lihat bahwa sebagian pelamar yang telah memiliki pengalaman memulai karirnya karena kecemplung. Apakah ada yang salah dengan kecemplung ? Jawabannya tidak, saya sendiri pun memulai karir karena kecemplung dan begitu juga dengan beberapa rekan seprofesi saya. Yang menjadi masalah adalah ketika Anda kecemplung, Anda lebih memilih pasrah dibanding membuat keputusan apakah akan mengikuti arus atau melawan arus. Terkadang ketika sudah terlanjur kecemplung, kita tidak dapat menilai apakah pekerjaan ini cocok dengan kita dan apakah ada pekerjaan lain yang lebih cocok untuk kita, dan itulah yang menjadi sebuah kesalahan dalam karir.

Awalnya saya sendiri tidak memahami mengapa passion perlu dipertimbangkan dalam merekrut seorang pelamar hingga akhirnya saya mendapat pencerahan dari atasan saya yang tentunya lebih senior. Mengapa passion itu penting ? Ketika kita sadar apa yang kita inginkan dan apa alasannya, apapun masalah yang menimpa kita akan tetap bertahan karena kita tau apa bagian terbaik dari hal itu. Lain halnya jika kita tidak tau apa yang kita inginkan, juga tidak tau apa yang menarik dari hal itu, ketika masalah menimpa kita tidak memiliki alasan untuk bertahan.

Alasan itu cukup menarik untuk dipertimbangkan bagi kita dalam meniti karir. Ketahui apa yang menarik minat Anda dan apa alasannya. Karena setiap hal memiliki sisi gelap dan terang, maka pahamilah keduanya sehingga kita mampu menjalaninya dengan mandiri. Lagipula, hal yang terbaik dalam bekerja adalah ketika kita mengerjakan apa yang kita senangi. Bukan bekerja karena keterpaksaan, apalagi kecemplung tanpa tau arah tujuan.

Jadi, di permulaan tahun 2018 ini, sudahkah Anda menentukan arah dan rencanan untuk karir Anda ?

Mengenal MBTI : Lebih Dekat dengan Guardian

Kelompok besar selanjutnya dalam MBTI adalah Guardian yang merujuk pada pribadi dengan Sensing dan Judging yang dominan. Sesuai dengan artinya, kelompok Guardian dipercaya untuk mempertahankan suatu hal agar tetap berjalan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Mereka adalah pribadi yang terkendali, disiplin, dan tentunya taat pada peraturan.



Umumnya, kelompok Guardian dapat dikenali melalui beberapa ciri berikut :


  • Tepat waktu
  • Rapih dan bersih
  • Terstruktur
  • Mematuhi prosedur
  • Orientasi detail
  • Akuntabel
  • Skeptis dan waspada
Kelompok Guardian dikenal dengan sikapnya yang cenderung kaku dan tegas. Meskipun demikian, dengan beberapa pendekatan berikut kita dapat menjalin komunikasi baik ;

  • Membuat pembicaraan dengan sistematis
  • Berikan informasi aktual
  • Bersikap teliti 
  • Percaya diri
  • Ikuti prosedur dan hargai hierarki
  • Bertanggung jawab
  • Hindari informasi abstrak
Karena sikap mereka yang cenderung taat peraturan, maka umumnya mereka ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan konsistensi tinggi seperti analis bisnis, akuntan, perencana produksi, perencana manufaktur, layanan konsumen dan lainnya. 

Para kelompok Guardian mengharapkan lingkungan kerja yang stabil dengan masa depan terprediksi yang memungkinkan mereka untuk memberikan kinerja secara konkrit sehingga mampu membuat mereka mampu bekerja secara optimal.

Selain lingkungan kerja yang kondusif, atasan yang supportif tentu sangat menentukan kinerja seseorang. Definisi supportif bagi kelompok Guardian adalah ketika atasan mereka mampu memberikan arahan yang jelas dan menyediakan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengoptimalkan kinerja mereka. 

Lain hal dengan kelompok Idealist yang sensitif, kelompok Guardian justru seringkali dinilai tak berperasaan. Mereka tentu tidak berniat untuk menjadi kejam, hanya saja bagi mereka aturan ataupun rencana yang ditetapkan harus dijalankan. Penyimpangan yang kemungkinan  terjadi pun sebisa mungkin harus dapat dipertanggung jawabkan secara logis. Karena prinsipnya, maka tak heran jika kelompok Guardian dikenal sebagai pelaksana yang baik. Beberapa tokoh yang termasuk dalam kelompok Guardian adalah Basuki Tjahaja Purnama dan Sigmund Freud.


Mengenal MBTI : Lebih Dekat dengan Idealist

Salah satu kelompok besar dalam konsep MBTI adalah Idealist yang merujuk pada individu yang memiliki kepribadian Intuitive dan Feeling. Secara garis besar, mereka umumnya terlihat sebagai pribadi yang hangat, unggul dalam kemampuan interpersonal dan pandai dalam mengubah hal negatif menjadi sesuatu yang positif.




Mereka umumnya mudah dikenali melalui ciri ciri berikut :
  • Cenderung melihat gambaran besar suatu permasalahan
  • Menyukai bersikap hangat dan informal
  • Diplomatis
  • Memiliki keahlian persuasif
  • Merupakan pendengar yang baik
  • Cenderung sensitif terhadap kritik dan menganggapnya sebagai serangan pribadi
  • Cenderung menghindari konflik
  • Fasih dalam kemampuan verbal
Kelompok Idealist dikenal memiliki kemampuan empati yang tinggi namun juga mudah tersinggung karena perasaan mereka yang cenderung lebih halus dibanding kelompok lainnya. 

Untuk mendekati kelompok Idealist bukanlah suatu hal yang sulit mengingat sifat dasar mereka yang hangat pada orang lain. Berikut adalah beberapa cara yang dapat diterapkan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan kelompok Idealist :

  • Pilihlah lingkungan yang harmonis dan kondusif
  • Bangun hubungan personal
  • Dengarkan mereka dengan empati
  • Jalin diskusi yang luwes
  • Gunakan pilihan kata yang positif
  • Batasi fakta mendetail
  • Hindari konflik dan kompetisi
Umumnya, kelompok Idealist menyukai pekerjaan yang dapat memberikan makna bagi mereka seperti membantu orang lain mengembangkan diri, mengajarkan suatu hal yang baru kepada orang lain maupun membantu orang lain menyelesaikan masalahnya. Karena keahlian interpersonal merupakan keunggulan mereka, maka umumnya mereka memilih pekerjaan yang melibatkan orang lain seperti guru, sales, dokter, HR, psikolog, trainer dan pekerjaan sejenis. 

Para kelompok Idealist umumnya mengharapkan lingkungan kerja yang penuh empati, memberikan kepuasan batin karena berhubungan dengan masalahdi masyarakat dimana jerih payah mereka dihargai, dan juga lingkungan yang harmonis yang minim dari konflik. 

Seperti yang diketahui bersama, atasan adalah salah satu faktor penentu kinerja anak buah sehingga kelompok Idealist mengharapkan atasan yang menghargai kinerja mereka dan memberikan perhatian pribadi pada kehidupan mereka disamping mampu melindungi mereka dari konflik kerja.

Dikarenakan hati mereka yang cukup sensitif, seringkali mereka dikenal "baper". Di beberapa sisi mereka memang mudah tersinggung disamping mudah tersentuh. Mereka juga seringkali terlalu peduli dengan masalah orang lain meski sering dipandang aneh. Kebahagiaan terbesar mereka adalah ketika mereka mampu membuat orang lain merasa lebih baik. Beberapa tokoh dunia yang termasuk dalam kelompok Idealist adalah Mahatma Gandi dan Nelson Mandela.

So, jika Anda membutuhkan tempat untuk menceritakan kisah pedih Anda atau orang lain yang mampu membuat Anda merasa lebih baik lagi maka kelompok Idealist adalah orang yang tepat. Sebaliknya, jika Anda membutuhkan tempat untuk merumuskan strategi ataupun orang yang mampu bertindak cepat dalam kondisi darurat jangan jadikan kelompok Idealist sebagai pilihan. 

Mengutip salah satu kalimat bijak milik Albert Einstein, semua orang terlahir jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka dia akan percaya dalam seumur hidupnya bahwa dirinya bodoh. 

Kesempatan : Jika Saja Semua Orang Bisa Mendapatkannya

Hidup ini terkadang mirip seperti monopoli. Setiap orang memiliki tujuannya, namun nyatanya tak semua orang mampu menentukan sejauh mana mereka akan melangkah. Seperti monopoli, langkah kita ditentukan oleh lemparan dadu yang mana dalam hal ini adalah kehendak Tuhan.

Baik dalam hidup maupun monopoli, setiap orang berharap agar diberikan kesempatan yang baik. Sayang seribu sayang, tidak semua orang mendapatkan kesempatan. Sekalipun kita mendapatkan kesempatan, seringkali kita melewatkannya dengan menganggapnya sebagai kesempatan yang tidak kita nantikan.

Mengenai kesempatan, setiap pemain kehidupan setidaknya pernah mendapatkan kesempatan. Semua kembali kepada apakah kita akan memanfaatkannya atau justru melewatkannya. Seringkali kita menyesal karena telah melewatkan sebuah kesempatan yang berharga dan meratapinya terus menerus. Penyesalan ini terkadang membuat kita meratapinya hingga berlarut larut.

Nyatanya, setiap orang tidak hanya berhak menerima kesempatan melainkan memberikan kesempatan. Seringkali kita dengan angkuh melewatkan kesempatan untuk diberikan kepada seseorang yang mengharapkannya dan justru memberikannya kepada seseorang yang tidak mengharapkannya.

Kesempatan, apa arti kesempatan bagi Anda ?



Orang sukses mengatakan bahwa kesuksesan tidaklah diberikan melainkan diciptakan. Namun bagi saya kesempatan adalah sebuah pemberian atau anugerah dari Tuhan. Sayangnya seringkali kita "merasa" melewatkan sebuah kesempatan dengan menganggap sesuatu hal bukanlah sebuah kesempatan.

Saya pernah merasa mendapatkan penolakan akibat saya harus dipindahkan dari bidang pekerjaan yang sangat saya cintai. Saya sempat merasa jatuh dan terpuruk, bagi beberapa orang mungkin apa yang saya rasakan terlampau berlebihan. Namun pekerjaan saya saat itu bukanlah hanya sekedar pekerjaan bagi saya, melainkan kepuasan batin saya, hal yang sangat berharga bagi saya.

Dalam keterpurukan itu, saya berpikir mengapa saya tidak diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri jika memang kinerja saya kurang memuaskan ?

Namun akhirnya saya sadari bahwa kesempatan selalu ada, itulah yang saya artikan bahwa kesempatan itu diciptakan oleh kita karena ada tidaknya sebuah kesempatan tergantung dengan bagaimana kita memaknainya.

Ketika kita merasa melewatkan sebuah kesempatan, cobalah berpikir bahwa kita akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Ada tidaknya kesempatan tergantung dengan bagaimana kita mensyukuri hidup ini. Bukankah ketika setiap pagi kita membuka mata dengan nafas yang melengkapinya adalah sebuah kesempatan ? Bukankah setiap detik yang kita lewati adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik ?

Jika saja semua orang bisa mendapatkan kesempatan.

Tidak, semua orang diberikan kesempatan ! Meski kita berulang kali melewatkan suatu kesempatan maka kesempatan yang lain selalu ada. Karena kesempatan adalah pemberian dan anugerah Tuhan yang kita ciptakan melalui penafsiran kita tentang makna kesempatan.