Mengenal MBTI : Judging vs Perceiving

Kali ini saya akan membahas dimensi terakhir dalam konsep MBTI yang berhubungan dengan cara hidup kita, apakah terstruktur ataupun spontan. Berdasarkan dimensi ini, konsep MBTI membaginya ke dalam dua kelompok yaitu Judging dan Perceiving.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI


Judging

Satu kata yang menggambarkan Judging adalah "terstruktur". Judging akan menyukai segala kegiatan yang telah diorganisir sejak awal sehingga mereka dapat menjalankannya dengan pasti. Dalam bekerja, mereka akan lebih merasa nyaman dengan lingkungan kerja yang prosedurnya sudah berjalan dengan baik dimana setiap orang menaatinya. Adalah suatu beban bagi seorang Judging ketika mereka diharuskan untuk bekerja di lingkungan yang tidak memiliki prosedur dimana segala hal dapat berubah ubah tanpa kepastian.

Judging selalu menetapkan tujuan di awal dan langkah langkah untuk mencapainya. Mereka berorientasi pada target dan berusaha mencapainya berdasarkan langkah langkah yang telah ditetapkan. Sebagai seorang pemimpin, mereka juga telah menetapkan tujuan dan langkah langkah untuk mencapainya. Ketika seorang Judging tidak dapat mencapai target yang ditentukan, mereka akan merasa terpukul dan merasa gagal.

Baca juga : Introvert vs Ekstrovert

Dalam kehidupan sehari hari, mereka akan merasa lebih tenang ketika telah mengetahui dengan pasti apa yang dihadapi. Dalam lingkungan baru, sebisa mungkin mereka akan mencari tahu bagaimana lingkungan tersebut sebelum akhirnya diterjunkan dalam lingkungan itu. 

Karena kecenderungan hidupnya yang terstruktur, mereka dikenal kaku dan tidak luwes. Menurut buku Pribadimu Profesimu, kelompok Judging senang mengendalikan apa yang sedang terjadi dan senang mengambil keputusan. Mereka melihat segala sesuatu sebagai sisi hitam dan putih. 

Baca juga : Sensing vs Intuition

Kelompok judging menyukai lingkungan kerja yang memberikan mereka tanggung jawab atas suatu proyek dengan disertai pengembangan terus menerus. Dan yang terpenting bagi seorang Judging adalah sistem kerja yang pasti agar tidak membuat merasa dilema dalam bekerja. Bagi mereka, perubahan yang mendadak dan tidak direncanakan dapat membuat mereka merasa tertekan.

Perceiving 

Satu kata yang menggambarkan Perceiving adalah "spontan". Perceiving menyukai ketika segala pilihan tetap terbuka sehingga menyediakan mereka banyak alternatif. Dalam bekerja, mereka justru merasa tertekan dengan adanya peraturan yang terlalu kaku, karena bagi mereka masalah bukanlah suatu hal yang dapat diprediksi dan dapat terjadi sewaktu waktu.

Perceiving sangat mengandalkan kemampuannya dalam berimprovisasi dalam berbagai situasi. Ketika mereka telah mengetahui apa tujuannya, mereka akan mencapainya dengan luwes tanpa dibatasi dengan peraturan peraturan yang dibuat oleh dirinya ataupun orang lain. Ketika mereka tidak dapat mencapai target yang ditentukan, mereka tidak serta merta merasa terpukul karena mereka yakin bahwa tidak selamanya apa yang dilakukan berjalan sesuai rencana.

Dalam kehidupan sehari hari, mereka akan merasa bosan jika dihadapi dengan peraturan atau jadwal yang bersifat kaku. Lingkungan baru ataupun perubahan mendadak bukanlah suatu masalah karena improvisasi adalah kekuatan mereka dan mereka dapat selalu beradaptasi dalam segala situasi.

Baca juga : Thinking vs Feeling

Karena cara hidup mereka yang spontan, mereka dikenal seringkali dikenal sebagai seorang yang plin plan dan tidak berpendirian. Perceiving seringkali kesulitan dalam menetapkan suatu keputusan dan ketika mereka dipaksa harus membuat keputusan, adalah hal yang wajar bagi mereka untuk mengubah keputusan waktu mereka di kemudian hari.

Kelompok perceiving menyukai lingkungan kerja yang demokratis dan fleksibel tanpa aturan yang mengekang. Mereka merasa bersemangat ketika mereka diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dalam pekerjaan mereka.

Untuk memahami perbedaan dari setiap kelompok, Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ;



Kedua kelompok tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Judging tentu akan lebih unggul jika ditempatkan dalam lingkungan yang terstruktur dan Perceiving akan lebih unggul dalam lingkungan yang fleksibel. Sayangnya, dalam kehidupan sehari hari kita tidak selalu berada dalam lingkungan yang kita sukai. 

Adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Itulah mengapa semakin bertambahnya kedewasaan, seorang Judging akan lebih mengembangkan sisi Perceivingnya dan begitupun sebaliknya. Berada dalam lingkungan yang tidak kita sukai tentunya akan membuat kita merasa tertekan, namun terkadang kita tidak dapat serta merta meninggalkan lingkungan yang kita benci itu dan tetap bertahan dengan terus menyesuaikan diri. 

Mengenal MBTI : Thinking vs Feeling

Pada dua postingan sebelumnya, saya telah mengajak Anda untuk mengenali konsep MBTI dari dua dimensi yaitu bagaimana cara seseorang menyalurkan energinya dan cara seseorang menyerap informasi. Kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh konsep MBTI dari dimensi bagaimana cara seseorang mengambil keputusan.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI 

MBTI membagi dua kelompok atas dasar bagaimana cara seseorang mengambil keputusan yaitu kelompok Thinking dan Feeling. Sesuai artinya, Thinking artinya berpikir dan Feeling artinya merasakan, itulah garis besar penjelasan dari dimensi ini. Namun agar Anda dapat lebih memahami perbedaan dari kedua kelompok, maka dengan senang hati saya akan menjabarkannya.



Thinking

Samantha memiliki dua orang anak buah yang bernama Arnold dan Richard dengan masa kerja kurang dari 1 tahun. Arnold berusia 50 tahun dan merupakan ayah dari 3 anak yang masih duduk di bangku sekolah. Sedangkan Richard adalah pria lajang dengan usia 25 tahun. Ketika perusahaan melakukan perampingan dan Samantha diminta untuk mengeluarkan 1 orang dari timnya maka Samantha memilih untuk mempertahankan Richard dengan alasan ia masih berusia muda dan lebih produktif untuk melakukan kegiatan bekerja. 

Begitulah cara berpikir kelompok Thinking. Dapat dikatakan, kelompok Thinking senantiasa mengambil keputusan berdasarkan logika. Kelompok Thinking akan melakukan berbagai analisa tanpa melibatkan emosi terhadap suatu masalah. Singkat kata, mereka bertindak dengan objektif. 

Mereka menempatkan perasaan di urutan ke sekian dalam mengambil keputusan, oleh karena itu mereka seringkali dinilai tidak berperasaan dan tidak peduli terhadap orang lain. Seringkali mereka berbicara terus terang mengenai suatu hal karena bagi mereka akan lebih baik jika orang lain mengetahui kebenaran meskipun itu menyakitkan. Bagi kelompok Thinking, perasaan seseorang dapat dinilai valid jika perasaan tersebut logis dan dapat dicerna oleh akal sehatnya. 

Ungkapan khas yang seringkali keluar dari mulut kelompok Thinking dalam bekerja adalah"Kalau bekerja jangan pakai hati, harus profesional" yang keluar dari mulut kelompok Thinking. Hal yang tentunya juga berlaku bagi diri mereka sendiri yang tidak terpengaruh dengan kritikan atau hujatan dari orang lain.

Mereka tidak tertarik dengan urusan pribadi orang lain dan karenanya siap jika harus terlibat dalam suatu konflik dalam lingkungan kerja karena bagi mereka itu adalah bagian dari profesi.

Kelompok Thinking seringkali ditemukan dalam bidang pekerjaan yang membutuhkan ketegasan dan kepatuhan terhadap suatu standar seperti auditor, akunting, hakim, ataupun profesi lain sejenis. Karena cara berpikir mereka yang logis dan tanpa emosi, mereka dipercaya untuk menepati sebuah posisi yang mengharuskan mereka untuk menegakkan suatu aturan atau standar.

Feeling

Dalam kasus Samantha, seseorang yang dominan Feeling akan lebih memilih untuk mempertahankan Arnold dengan alasan di usianya yang sudah menua akan sulit bagi Arnold untuk mendapatkan pekerjaan baru sedangkan 3 orang anaknya di rumah membutuhkan penghasilan darinya untuk bertahan hidup. 

Begitulah bagaimana kelompok Feeling mengambil keputusan. Mereka memikirkan dampak keputusannya terhadap orang lain, apakah orang lain akan merasa senang atau justru dirugikan dengan keputusan tersebut. Bagi beberapa orang, mereka terlihat subjektif dalam mengambil keputusan. 

Mereka menempatkan perasaan orang di urutan pertama dan karenanya seringkali mereka disebut baper "terbawa perasaan" atau dikritik karena sifatnya yang "tidak enakan" kepada orang lain. Mereka dipandang emosional, tidak logis dan lemah bagi beberapa orang yang karenanya mereka jauh dari kesan tegas. Mengekspresikan amarah dalam bentuk membentak atau teguran keras adalah hal yang sulit bagi kelompok Feeling karena bagi mereka menjaga perasaan orang lain adalah hal yang penting, terlepas dari logis tidaknya perasaan itu. 

Ungkapan "Kalau bekerja jangan pakai hati, harus profesional" adalah hal yang tidak sepenuhnya dapat diterima oleh kelompok Feeling. Bagi mereka, bekerja tanpa hati hanya dapat dilakukan jika mereka dihadapkan dengan robot. Hal ini yang membuat mereka seringkali menganggap kritik adalah serangan pribadi untuk mereka dan membuat mereka seringkali gampang tersinggung. 

Mereka sangat menghargai kehidupan pribadi orang lain dan sangat benci jika harus terlibat konflik meskipun konflik adalah suatu hal yang wajar dalam dunia kerja. 

Karena sifat mereka yang cenderung empatik, mereka seringkali ditemui dalam profesi HRD, psikolog, sales dan profesi lainnya yang sejenis. Kemampuan empati dan kecintaan mereka terhadap harmoni membuat mereka dipercaya untuk terlibat dalam posisi pekerjaan yang membutuhkan kemampuan interpersonal dalam porsi yang cukup besar. 

Untuk lebih memahami perbedaan keduanya, Anda dapat melihatnya dalam bagan berikut. 


Dalam kehidupan sehari hari, kita akan sering menjumpai kedua kelompok tersebut. Karena sifatnya yang bertolak belakang, tidak jarang mereka terlibat konflik ataupun adu pendapat. Namun yang harus dipahami, baik Thinking maupun Feeling mengambil keputusan dengan cukup masuk akal bagi mereka. Yang membuat keputusan mereka tidak masuk akal adalah ketika penjelasan tersebut didengar oleh orang lain yang memiliki kecenderungan berlawanan. 

Menghargai perasaan orang lain adalah penting, mempertimbangkan logika juga tidak kalah penting. Kelompok Thinking bukanlah kejam atau tidak berperasaan, mereka hanya mengambil keputusan dengan mengikuti naluri mereka. Begitupun dengan kelompok Feeling, mereka bukanlah lemah ataupun terlalu emosional, mereka hanya memiliki pola pikir yang berbeda. 

Kita sendiri akan sering bertemu dengan orang lain yang memiliki cara pengambilan keputusan yang bertolak belakang dengan kita. Hal yang harus kita lakukan hanyalah saling menghargai tanpa perlu menghakimi. Cara mereka mengambil keputusan tidaklah salah dan cara kita pun belum tentu benar. Setiap keputusan memiliki dampak positif dan negatifnya, dan ketika kita telah mengambil sebuah keputusan maka kita siap dengan berbagai resiko di dalamnya. 

Mengenal MBTI : Sensing vs Intuition

Pada postingan sebelumnya, saya telah membahas konsep MBTI dari dimensi bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang lain. Kali ini, saya akan mengupas konsep MBTI dari dimensi yang berhubungan dengan jenis informasi yang otomatis menjadi perhatian kita.

Baca juga : Divergent vs Konsep MBTI

Dimensi ini membagi manusia ke dalam dua kelompok yaitu Sensing vs Intuition. Kedua kata tersebut lebih asing dibanding dengan kelompok dari dimensi sebelumnya, oleh karena itu tugas saya saat ini adalah menjabarkan perbedaan dari setiap kelompok tersebut.



Sensing 

Tipe Sensing mengandalkan kelima panca inderanya untuk mendapatkan informasi tentang suatu hal. Mereka memilih untuk mempercayai apa yang dapat mereka lihat, dengar, rasakan secara nyata dan konkret. Bagi tipe Sensing, apa yang mereka saksikan secara konkrit memberikan informasi yang lebih akurat. 

Mereka seringkali mempertimbangkan pengalaman di masa lalunya, namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk mempertimbangkan gagasan baru selagi mereka dapat menemukan penerapan pastinya. Tipe Sensing benar benar berharap menerapkan sesuatu berdasarkan cara yang sudah pasti terbukti, bukan sekedar coba - coba. 

Sebagai contoh, ketika tipe Sensing membeli sebuah peralatan yang harus dirangkai maka hal pertama yang mereka cari adalah buku petunjuk yang berisi instruksi pemasangan. Selanjutnya, tentu saja tipe Sensing akan mengikuti instruksi yang terdapat dalam buku petunjuk tersebut. 

Tipe Sensing sangat mengedepankan kenyataan yang terjadi saat ini dan akal sehat mereka yang bagi mereka dapat dipertanggungjawabkan dengan pasti. Mereka sangat berpikir logis terhadap sesuatu. 

Umumnya, mereka fokus pada satu keahlian dan dengan serius mengembangkan keahlian mereka. Mereka lebih menyukai menguasai satu bidang dan menjadi ahli di bidang tersebut dibanding menguasai banyak bidang dengan biasa biasa saja. 

Dalam memberikan penjelasan, mereka akan menjelaskan dengan spesifik, rinci dan runtut sehingga membuat orang lain dapat dengan mudah memahami apa yang mereka sampaikan dan menerimanya. 

Dikarenakan kemampuan penginderaannya yang cukup baik, kita dapat menemukan tipe Sensing dalam profesi yang cukup mengasah otak seperti penyidik, manajer keuangan, teknisi dan profesi lainnya. 


Intuition

Berbanding terbalik dengan tipe Sensing, tipe Intuition lebih mempercayai imajinasi dan dugaan dibanding mengandalkan kelima indera mereka. Terkadang mereka suka berbicara dengan mengandai - andaikan sesuatu yang terkadang tidak dipikirkan orang lain. 

Tipe Intuition adalah pribadi yang kreatif karena keahlian mereka dalam menciptakan hal hal baru meski belum pernah diuji sebelumnya. Mereka tidak takut gagal, mereka lebih memilih untuk mewujudkan imajinasi mereka dibanding harus mengubur imajinasi mereka. 

Sebagai contoh, ketika tipe Intuition membeli sebuah peralatan yang harus dirangkai maka hal pertama yang mereka lakukan adalah memperhatikan satu per satu alat alat yang perlu disusun dan membayangkan bagaimana peralatan ini dapat terangkai sempurna. Mereka tidak akan pernah menyentuh buku petunjuk dan lebih memilih harus membongkar pasang peralatan mereka hingga akhirnya terpasang sempurna. 

Tipe Intuition tentu saja menghargai kenyataan dan akal sehat, namun mereka lebih menyukai menggunakan imajinasi mereka dalam melakukan sesuatu. Karena menyukai hal baru, tipe Intuition senang mempelajari keahlian baru meski mereka menguasainya dengan biasa biasa saja.

Dalam menyampaikan sesuatu, mereka seringkali menggunakan kata kiasan dengan penyampaian yang bagi orang lain terkesan melompat lompat dan sulit dimengerti. 

Dikarenakan kemampuan imajinasinya cukup baik, tipe Intuition umumnya bekerja dalam bidang seni atau industri kreatif yang membuat mereka dengan mudah menyalurkan ide dan kreatifitasnya. 

Untuk lebih mudah memahami perbedaan antara Sensing dan Intuition Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ; 


65 % populasi masyarakat Amerika terdiri dari tipe Sensing dan menempatkan tipe Intuition sebagai kaum minoritas. Hal ini juga menggambarkan posisi tipe Sensing dan Intuition dalam kehidupan kita sehari hari dimana kita sendiri lebih mempercayai hal hal yang masuk akal yang dikatakan oleh tipe Sensing dibanding perandaian yang dibuat oleh tipe Intuition. 

Kita seringkali meremehkan atau justru mengabaikan apa yang dikatakan oleh tipe Intuition atau menganggap mereka "aneh". Setelah membaca artikel ini saya berharap para pembaca memahami bahwa adanya mereka yang berpikir imajinatif bukanlah sesuatu yang aneh. 

Dan dikarenakan sering mengedepankan imajinasi mereka, penginderaan tipe Intuition seringkali kurang terasah sehingga kurang memperhatikan kejadian tersurat di sekitarnya. Setelah membaca artikel ini pun saya berharap para pembaca yang merasa dirinya dominan sebagai tipe Intuition lebih mengasah penginderaan mereka. 

Mengutip kalimat dalam buku "Pribadimu, Profesimu", dalam kehidupan sehari hari, seringkali kita menyerap informasi melalui penginderaan maupun imajinasi kita. Tapi, semua orang memiliki kecenderungan Sensing atau Intuition. Kita semua menggunakan salah satu proses dengan lebih alami, lebih sering dan dengan lebih berhasil dibandingkan proses yang lain. 


Mengenal MBTI : Ekstrovert vs Introvert

Setelah sebelumnya saya membahas tentang konsep MBTI yang dianalogikan dalam film Divergent, kali ini saya akan membahas lebih detail konsep MBTI dilihat dari cara kita berinteraksi dengan dunia luar dan bagaimana cara kita mengalirkan energi.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI

Berdasarkan dimensi tersebut, MBTI membaginya ke dalam dua kelompok yaitu ekstrovert dan introvert. Apa perbedaan dari kedua kelompok tersebut :



Ekstrovert 

Seringkali kita mengenali ekstrovert sebagai pribadi yang cerewet dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Hal tersebut memang menjadi ciri khas seorang ekstrovert dimana mereka merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam konsep DISC, hal ini dimiliki oleh kepribadian Influence dan Dominance. 

Secara lebih dalam, seorang yang ekstrovert menyukai aktivitas berinteraksi dengan orang lain untuk mengisi kembali energinya. Oleh karena itu, pada jam istirahat mereka memilih menghabiskannya bersama orang terdekatnya untuk berbagi cerita. Begitupun saat mereka berada dalam tekanan, mereka akan mencari orang lain untuk menceritakan perasaannya dan kemudian dapat merasa lebih tenang. Seringkali seorang ekstrovert sudah mengetahui apa yang harus dilakukan, hanya saja mereka membutuhkan orang lain untuk mendengarkannya bukan menasihatinya. 

Seorang ekstrovert memiliki energi yang besar, hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan berbagai aktifitas dengan energik. Aktifitas yang monoton dan statis akan membuat mereka merasa bosan dan tidak produktif. Mereka adalah seorang pemberani yang siap melakukan apapun, sayangnya seringkali mereka bertindak tanpa berpikir. Umumnya, ekstrovert memiliki kelemahan dalam berpikir analitis. 

Mereka adalah pribadi yang terbuka kepada setiap orang, itulah mengapa tidak sulit bagi orang lain untuk mengetahui emosi mereka karena sikapnya yang ekspresif. Mereka menyukai menjadi pusat perhatian dan seringkali menguasai percakapan di dalam sebuah kelompok. Terkadang seorang ekstrovert dapat menjadi sangat mengesalkan karena terkesan lebih mementingkan egonya dibanding orang lain. 

Anda dapat dengan mudah mengenali ekstrovert karena mereka cenderung aktif dan antusias ketika berada dalam sebuah kelompok. Mereka akan mengajukan pertanyaan, pernyataan atau bahkan celetukan yang seharusnya tidak penting namun mengundang tawa dalam sebuah forum. Anda dapat mengenali mereka dengan suaranya yang kencang ataupun tegas, mereka menyukai warna warna terang seperti merah, kuning, orange dan warna sejenis sebagai setelan mereka.


Introvert

Banyak orang yang menafsirkan bahwa seorang introvert adalah seorang pendiam, nyatanya tidak selalu. Pendiam memang ciri khas yang melekat pada seorang introvert namun tidak sedikit seorang introvert yang cukup komunikatif ketika berinteraksi dengan orang lain. Dalam konsep DISC, hal ini dimiliki oleh kepribadian Steadiness dan Compliance. 

Secara lebih dalam, seorang introvert lebih suka menyendiri untuk mengembalikan energinya. Mereka lebih menyukai pergi makan siang seorang diri atau justru menghabiskan santapan makan siangnya di meja kerjanya ketika semua orang pergi. Banyak orang yang memandang mereka sebagai anti sosial, namun nyatanya seorang introvert membutuhkan ruang pribadi tanpa gangguan untuk selanjutnya beraktifitas kembali. 

Tenaga yang mereka miliki tidak sebesar ekstrovert dan mereka menyukai aktifitas kerja yang lebih stabil. Ketika berada dalam tekanan pun mereka lebih suka memendamnya, memikirkannya dengan baik dibanding mengumbarnya. Terkadang sulit sekali untuk memahami apa yang dipikirkan seorang introvert karena mereka selalu menyimpannya dengan baik. Mereka cenderung dinilai lambat bertindak karena mereka terbiasa berpikir kemudian bertindak, namun sebagian besar dari mereka justru sangat ahli dalam menganalisa sesuatu hal. 


Karena sifatnya yang cenderung pasif dan tertutup, sulit bagi orang lain untuk mengetahui emosinya. Namun ketika kita berinteraksi cukup intens dengan mereka, kita dapat mengenali pola perilaku mereka. Meski pendiam, bukan berarti mereka tidak dapat diajak berteman. Terkadang mereka membutuhkan rangsangan untuk dapat melakukan suatu hal. Mereka dapat mengendalikan emosinya dengan baik dan lebih memilih untuk menjadi penonton dalam sebuah kelompok. 

Anda dapat mengenali introvert dengan mudah karena sifatnya yang pasif dan terkadang terlihat santai atau menarik diri. Anda dapat mengenali mereka dari suaranya yang pelan atau pilihan setelannya yang berwarna gelap dan soft seperti hitam, abu - abu, hijau muda dan lainnya. 

Untuk lebih mudah memahami ekstrovert maupun introvert, Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ;



Jika ditanya mana yang lebih baik, apakah ekstrovert atau introvert maka jawabannya adalah relatif. Pada dasarnya keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing, bergantung pada situasi yang ada. Dalam dunia pekerjaan, ekstrovert lebih cocok bekerja di bidang pekerjaan yang mengharuskan interaksi dengan banyak orang seperti sales ataupun purchasing. Sedangkan introvert lebih cocok ditempatkan di bidang pekerjaan yang membutuhkan sedikit interaksi dengan orang lain seperti finance, data analyst dan pekerjaan lain sejenis.

Namun apakah introvert tidak dapat menjadi seorang sales dan ekstrovert tidak dapat menjadi seorang finance, jawabannya pun relatif. Tergantung pada pribadi tersebut, apakah mau berubah dan menyesuaikan diri ? Karena meski kelemahan kita sulit dapat dihilangkan namun kita dapat menguranginya agar tidak mengganggu aktifitas. Dan setiap orang diharuskan untuk mengembangkan diri, saya rasa istilah ini sering didengar, namun Anda harus memilih "Change or Die ?"

Admin Inventory - PT Alvindo Catur Sentosa

Persediaan adalah salah satu unsur penting dalam operasional perusahaan yang perlu diperhatikan. Manajemen persediaan tidak hanya mengenai penempatan persediaan melainkan juga meliputi administrasi pencatatan dari setiap mutasi persediaan.



Dibutuhkan ketelitian untuk memastikan bahwa jumlah persediaan secara fisik sesuai dengan jumlah persediaan yang tercatat dalam sistem. Tidak hanya itu, untuk menangani mutasi keluar – masuk persediaan dengan frekuensi yang cukup tinggi dibutuhkan kesigapan dalam mempersiapkan dokumen administratif dari proses tersebut.

Jika Anda adalah pribadi yang teliti, cekatan dan siap bekerja dengan mobilitas tinggi, maka pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ideal untuk mengembangkan potensi diri Anda.

Job Description :
  • Melakukan pengecekan atas penerimaan barang
  • Menyiapkan dokumen administratif penerimaan, pengeluaran dan retur barang
  • Memeriksa ketersediaan jumlah persediaan

Persyaratan :
  • Memiliki pengalaman di bidang administrasi pergudangan minimal 2 tahun
  • Mahir dalam mengoperasikan Microsoft Excel
  • Pendidikan minimal D3 / S1
  • Bersedia ditempatkan di Pergudangan Kosambi, Dadap

Sudahkah Anda Mengenali Diri Anda ?

"Apa kelebihan dan kekurangan Anda ?"

Itu adalah pertanyaan yang sering diajukan dalam sesi interview. Tak jarang pula kandidat menjawab "Tidak Tahu" yang sebenarnya menggambarkan bahwa mereka tak mengenali dirinya sendiri. Hal ini pula yang terkadang membuat recruiter enggan melanjutkan kandidat tersebut ke tahap berikutnya.

Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi kita untuk mengenali diri kita dengan baik. Diri kita adalah satu satunya yang akan selalu ada untuk kita. Diri kita adalah satu satunya yang dapat kita andalkan.



Terkadang mengenali diri sendiri membutuhkan sebuah proses, namun dewasa ini telah ditemukan alat tes kepribadian seperti DISC atau MBTI yang dapat membantu kita untuk lebih mengenali diri kita sendiri.

Kenapa mengenali diri sendiri adalah penting ? Berikut ulasannya.

Mengetahui potensi Anda

Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan Anda, Anda akan mampu memaksimalkan diri Anda dengan mengasah kelebihan Anda dan memperbaiki kelemahan Anda. Mengenali diri Anda akan membantu Anda untuk lebih mengembangkan diri menjadi lebih baik. 

Mengetahui pekerjaan yang tepat untuk Anda

Faktanya, kita tidak dapat cocok dengan semua pekerjaan di muka bumi ini. Itulah mengapa Anda harus mengenali diri Anda sebelum Anda menentukan pekerjaan yang tepat untuk Anda. Contohnya, pekerjaan Sales lebih cocok untuk seorang ekstrovert yang handal mempersuasi dan biasanya seorang introvert akan merasa tidak nyaman jika diharuskan bertemu orang baru bahkan membujuknya untuk membeli sebuah produk.

Jangan sampai Anda terjebak dengan pekerjaan Anda dan akhirnya merasa tertekan. Mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan kepribadian akan membuat Anda merasa lebih nyaman dalam menjalaninya. 

Mengetahui pasangan yang tepat untuk Anda 

Pasangan tidak hanya berarti kekasih, pasangan juga bisa berarti rekan kerja atau justru teman dekat. Pertama, terkait dengan kekasih, nyatanya cinta tidak dapat dipaksakan. Ada beberapa orang yang memilih kekasih dengan kepribadian yang sama dengannya atau justru sebaliknya. Dengan mengetahui diri Anda, Anda dapat memilih pasangan yang memiliki karakter yang sama sehingga konflik bisa diminimalisir atau justru memilih pasangan yang memiliki kepribadian berlawanan agar dapat melengkapi diri Anda. Hal yang sama berlaku juga dalam memilih rekan kerja maupun teman dekat.

Divergent dan Konsep MBTI

Kalian tentu tidak asing dengan film Divergent yang dibintangi oleh Shailene Woodley dan Theo James yang sempat booming di tahun 2014. Film yang diadaptasi dari novel karya Veronica Roth ini terdiri dari beberapa series yaitu Divergent, Insurgent, Allegiant dan Four. Tema dari film ini cukup unik dimana mengisahkan tentang adanya pembagian faksi untuk manusia dewasa sesuai dengan karakteristik mereka. 

Faksi tersebut terdiri dari Candor (jujur), Erudite (genius), Amity (suka damai), Dauntless (pemberani) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih). Namun sepanjang film, Anda akan menjumpai faksi lain seperti Factionless (tidak memiliki faksi) dan Divergent (yang memiliki karakteristik dari 5 faksi).

Baca juga : Sinobsis Divergent




5 Faksi dalam Divergent


Faksi Candor menjunjung tinggi kejujuran dan biasanya mereka bekerja dalam bidang politik. Mereka menggunakan pakaian berwarna hitam-putih yang melambangkan cara pandang mereka dalam menilai kejujuran. Faksi ini dikenal dengan sikapnya yang terbiasa bicara blak-blakan. 

Faksi Erudite dikenal dengan kecerdasannya, di dalamnya Anda dapat menjumpai dokter, penemu, professor. Mereka menggunakan pakaian berwarna biru yang dipercaya mampu menstimulasi otak mereka. Faksi ini dikenal dengan kegeniusan dan sikapnya yang ambisius.

Faksi Amity berisikan orang orang cinta damai dan penuh kebahagiaan, mereka bertugas untuk mengelola perkebunan dan menghasilkan makanan untuk seluruh kota. Mereka menggunakan pakaian berwarna kuning - merah yang membuat mereka terlihat lebih cerah dan menggambarkan cara pandang mereka yang selalu memandang segala sesuatu dengan positif. Faksi ini dikenal dengan sifatnya yang selalu memaafkan. 

Faksi Dauntless dikenal dengan sikapnya yang tidak takut pada apapun, mereka dilatih untuk menjadi polisi atau petarung yang bertugas untuk melindungi kota. Mereka menggunakan pakaian berwarna hitam dan dikenal sebagai faksi yang cukup "gila" dan nekat. 

Faksi Abnegation memiliki prinsip untuk selalu rendah hati, tidak egois dan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, mereka dipercaya untuk menjalankan pemerintahan. Mereka menggunakan pakaian berwarna abu-abu dan tidak diperkenankan untuk berlama lama melihat cermin. 

Baca juga : 5 Faksi dalam Divergent

Menonton film ini mengingatkan saya pada salah satu tes kepribadian yang sudah tidak asing lagi di kalangan HR Profesional yaitu tes MBTI. Tes ini membagi manusia ke dalam 16 karakter berdasarkan ;


Bagaimana cara seseorang menyerap informasi dan mengambil keputusan disebut dengan fungsi. Sedangkan bagaimana cara seseorang mengalirkan energi dan memandang kehidupan disebut sikap. 

4 Kelompok Besar MBTI

Meskipun tes ini membagi manusia ke dalam karakter yang cukup banyak, namun agar Anda lebih mudah mengenalinya, 16 karakter ini disederhanakan ke dalam 4 kelompok besar yaitu ; 

Idealist, adalah karakter yang dominan dalam Intuitive dan Feeling. Karakter ini sangat menghargai kreativitas dan menjunjung tinggi perasaan orang lain. Tipe ini sangat berbakat menolong orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Karakter ini biasanya dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai HRD, trainer, hubungan masyarakat, sales, psikolog dan pengajar.

Traditionalist, adalah karakter yang dominan dalam Sensing dan Judging. Karakter ini sangat menghargai sistem dan prosedur. Mereka dikenal praktis dan tegas serta biasanya memiliki nilai yang konservatif. Mereka merasa perlu melakukan hal yang benar dan menghargai stabilitas dan keteraturan. Karakter ini biasanya dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai analis bisnis, akuntan, perencanaan proyek, penegak hukum, manajer, dan pekerjaan administratif. 

Experiencer, adalah karakter yang dominan dalam Sensing dan Perceiving. Mereka paling suka berpetualang, unggul dalam keadaan mendesak dan tidak menyukai struktur atau peraturan. Mereka dapat diibaratkan sebagai "pemadam kebakaran" yang lihai menghadapi situasi krisis dan menanganinya dengan baik. Karakter ini biasanya dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai polisi, staf IT, penanganan krisis, integrasi jaringan dan reparasi.

Conceptualizer, adalah karakter yang dominan dalam Intuitive dan Thinking. Mereka paling mandiri di antara tipe lainnya dan menetapkan standar tinggi dalam berbagai hal. Mereka dapat menjadi inovator yang hebat serta ahli dalam membuat konsep dan rancangan perubahan. Karakter ini biasanya dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai pengajar tingkat universitas, manajemen tingkat atas, bidang sains atau komputer dan posisi lain yang memberikan kesempatan untuk menangani masalah kompleks

Divergent vs MBTI

Berdasakan penjabaran di atas, saya melihat adanya benang merah antara faksi dalam divergent dan juga konsep MBTI. Terdapat beberapa kesamaan di antara keduanya seperti berikut ;

Candor = Traditionalist

Keduanya sama sama menjunjung tinggi kejujuran dan selalu melakukan sesuatu dengan benar. Bahkan di film ini mengisahkan bahwa faksi Candor sering dijumpai di bidang penegakan hukum dimana profesi tersebut merupakan salah satu profesi ideal untuk seorang Traditionalist. Baik faksi Candor maupun Traditionalist berbicara secara blak blakan karena mereka berpikir berdasarkan logika dan kebenaran. Itulah mengapa mereka dikenal tak memiliki perasaan. 

Erudite = Conceptualizer

Erudite digambarkan sebagai faksi yang paling intelek dibanding faksi lainnya. Sama dengan Conceptualizer, dibading kelompok lainnya dapat dikatakan mereka cukup unggul dalam hal intelektual. Itulah mengapa mereka cocok ditempatkan dalam pekerjaan yang menuntut intelektual tinggi dan perancangan strategi. 

Amity & Abnegation = Idealist

Baik Amity dan Abnegation digambarkan sebagai faksi yang menghargai orang lain. Sama halnya dengan Idealist yang memandang setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Ketiganya sebisa mungkin berusaha untuk menghindari konflik dan senantiasa menjaga kerukunan serta kedamaian. 

Dauntless = Experiencer

Keduanya memiliki semangat paling tinggi diantara kelompok lainnya. Baik Dauntless maupun Experiencer menyukai tantangan dan mampu menghadapi berbagai hal yang bersifat mendesak. Di dalam Divergent pun menggambarkan bahwa sebagian besar faksi Dauntless bertugas untuk melindungi kota dimana hal tersebut merupakan salah satu profesi yang sesuai untuk Experiencer, sang "pemadam kebakaran".

Saya sendiri secara pribadi menyukai film Divergent, selain alur ceritanya, saya merasa melalui film ini kita dapat melihat lebih jauh bagaimana konsep MBTI dimana telah diketahui bersama bahwa tes ini sangat berguna untuk menentukan minat dan bakat kita. 

Di atas adalah pengantar saya untuk konsep MBTI, dan untuk memahami bagaimana konsep MBTI akan saya jelaskan dalam postingan berikutnya. 

Semoga bermanfaat.

Ketika Atasan adalah Segalanya

Anda pasti sering mendengar pendapat bahwa "sebagian besar karyawan mengundurkan diri karena tidak cocok dengan atasan". Mendengar pendapat tersebut, bagaimana dengan opini Anda sendiri ?

Sebagian orang akan berpikir bahwa mereka yang mengundurkan diri karena atasan merupakan pribadi yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan atasan. Sebagian orang lainnya akan berpikir bahwa hal tersebut adalah hal yang dapat dimaklumi.



Tidak ada jawaban baku atas benar tidaknya pendapat tersebut. Semua kembali lagi pada cara pandang setiap orang dan karakteristik setiap orang. Namun satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa atasan memegang peranan penting dalam karir kita dikarenakan beberapa hal berikut ;

Atasan memantau kinerja kita secara langsung

Bisa dikatakan bahwa atasan adalah orang terdekat kita dalam bekerja. Selain karena kita mempertanggungjawabkan kinerja kita kepada atasan, atasan juga berperan dalam orientasi kerja dan penyampaian informasi lainnya. 

Dikarenakan sebagian besar interaksi dalam bekerja dilakukan kepada atasan, maka mereka memegang peranan penting dalam perkembangan karir Anda. Bagaimana cara mereka bersikap, bagaimana cara mereka mendelegasikan tugas, dan sikap mereka lainnya akan membentuk diri Anda dalam dunia bekerja. 

Secara tidak disadari, atasan kita memegang peranan penting dalam perkembangan karir kita karena memang mereka diposisikan sebagai pihak yang serba tahu tentang kinerja kita. Bagaimana penilaiannya atas kinerja kita akan mempengaruhi kemajuan karir kita di masa yang akan datang.

Untuk menghindari penilaian secara subyektif dari atasan kepada bawahan, saat ini mulai dikenal berbagai metode penilaian kinerja seperti penilaian 360 derajat.

Baca juga : Metode akurat untuk melakukan penilaian kinerja karyawan

Atasan adalah pelindung kita 

Karena secara hierarki atasan memiliki posisi di atas kita, tentunya mereka bertanggung jawab atas diri kita di lingkungan kerja. Hal ini termasuk ketika Anda dikritik oleh divisi lain, atasan seharusnya mampu memasang badan untuk melindungi kita karena kinerja Anda adalah kinerjanya.

Atasan yang selalu rela memasang badan untuk melindungi Anda tentunya menjadi atasan yang selalu diidamkan setiap orang. Lain halnya dengan atasan yang justru menjatuhkan Anda di hadapan orang lain, tentunya hal ini akan membuat Anda kehilangan kepercayaan kepadanya.

Atasan adalah sumber semangat

Mungkin ini terdengar klise, namun seperti yang telah kita ketahui bahwa mood dapat menular ke orang terdekat. Karena hampir setiap harinya kita berhadapan dengan atasan, tentu bagaimana mood mereka berpotensi menular kepada kita. Tidak hanya mood, namun sebagai bawahan Anda seringkali meyakini apa yang diyakini atasan. 

Contohnya, ketika atasan Anda merasa pesimis dengan kemajuan perusahaan di masa mendatang secara tidak langsung Anda akan turut merasa pesimis. Begitupun ketika atasan Anda datang dengan wajah muram, Anda akan merasa takut untuk mengajaknya interaksi sehingga hari Anda ikut berubah menjadi muram. 

Atasan memang seharusnya menjadi pihak yang dapat memberikan semangat kepada kita, bagaimana mereka bersikap akan menjadi panutan bagi kita. Namun sebagai tim, adalah suatu keharusan untuk menyemangati satu sama lain tanpa melihat posisi. 

Karena perbedaan karakter, memang tidak jarang seseorang akan mengundurkan diri ketika tidak mampu berinteraksi dengan baik terhadap atasannya. Bagi saya pribadi, hal ini tidaklah salah. Karena memang setiap ornag memiliki kepribadian yang berbeda yang tidak dapat dipaksakan untuk berubah hanya dalam satu hari. Semakin lama dipaksakan, perbedaan karakter yang tidak disikapi dengan saling menghargai hanya akan menimbulkan gesekan gesekan yang kelak menjadi sumber api.

Sebaliknya, ketika Anda menemui atasan yang dapat memahami Anda dan menerima Anda apa adanya, Anda akan bekerja menjadi lebih produktif dan tanpa beban. 

Beban Pekerjaan = Badai Pasti Berlalu

Bagi Anda yang telah bekerja tentu pernah merasakan penat saat dikejar deadline pekerjaan. Jangankan untuk santai, waktu untuk makan pun terlupakan. Stress, tertekan dan khawatir adalah perasaan yang wajar dirasakan ketika deadline pekerjaan memburu.

Namun, badai pasti berlalu, dan pekerjaan menumpuk yang saat ini Anda hadapi akan terselesaikan dan berlalu. Dan meski badai itu kembali datang, meski Anda kelak akan dihadapi dengan tumpukan pekerjaan yang membebani, badai itu akan kembali berlalu.

Sebagai seorang karyawan, dan bahkan sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan di dunia, Anda akan diterpa berbagai badai. Baik badai ringan maupun besar. Itulah hakikat kehidupan. Sebagai karyawan Anda digaji untuk bekerja, untuk menghadapi badai badai yang tak berkesudahan. Dan sebagai manusia, hidup Anda tak pernah datar, selama Anda hidup maka Anda akan terus diterpa masalah.



Sebuah ungkapan bijak mengatakan bahwa masalah itu seperti air, tergantung dimana Anda meletakannya. Di tempat besar atau di tempat kecil. Besar kecilnya masalah tergantung bagaimana cara pandang Anda. Dan jika Anda merasa saat ini hidup Anda tengah diterpa badai, ada baiknya melakukan hal berikut ;

Bergaul dengan seseorang yang dapat menyemangati Anda 

Percaya atau tidak, namun stress kerja adalah sesuatu hal yang menular layaknya mood. Jika Anda tengah berada dalam kondisi tertekan maka dekatilah teman Anda yang selalu tampak ceria dan positif, dengan demikian energi positifnya akan menular kepada Anda. 

Jika Anda adalah seorang introvert, tidak ada salahnya pergi makan siang bersama teman Anda yang ekstrovert. Dengan demikian Anda dapat melihat kehidupan dengan perspektif yang lain, bisa jadi yang Anda lihat selama ini adalah rumput dan ketika bersama mereka Anda dapat melihat bunga.

Berkumpul dengan orang terdekat

Berkumpul dan bercengkrama dengan orang terdekat tentunya memberikan rasa hangat dalam diri Anda. Anda dapat sejenak melupakan beban kerja yang menumpuk dan sedikit merasa rileks. Orang terdekat memandang Anda sebagai diri Anda, bukan sebagai Anda dengan posisi xxx dan ketika bersama dengan mereka Anda akan memahami bahwa diri Anda dicintai. 

Tidak hanya itu, dengan berkumpul bersama orang terdekat Anda dapat memahami kondisi mereka, dan mungkin Anda layak bersyukur karena bisa jadi orang terdekat Anda mengalami hal lebih buruk.

Bercerita 

Dengan menceritakan beban Anda kepada orang lain, maka sedikit banyak beban Anda terbagi. Bisa jadi orang lain memberikan masukan yang cukup masuk akal untuk Anda terapkan. Atau bisa jadi dengan bercerita, orang lain akan memberikan motivasi kepada Anda agar tetap tegar. 

Bercerita tidak akan membuat Anda terlihat lemah, bagaimanapun juga Anda adalah seorang manusia yang memiliki kelemahan. Perasaan tertekan yang dibiarkan terlalu lama dapat memicu penyakit yang tentunya akan semakin menambah beban Anda. 

Berolahraga

Cobalah mengalihkan stress Anda dengan berolahraga, meskipun melelahkan olahraga dapat membuat Anda kembali bersemangat. Dibanding hanya diam terpaku memandangi tumpukan pekerjaan Anda, maka olahraga tentu lebih efektif dengan menjadikan Anda lebih produktif. 


Perbanyak ibadah 

Apapun agama Anda, ibadah adalah hal yang menjadi kewajiban sebagai umat beragama. Ibadah menjadi salah satu sarana interaksi dengan Tuhan, Anda tidak dapat memanjatkan doa namun Anda juga dapat menceritakan beban Anda kepada-Nya. 

Sebagai makhluk ciptaan-Nya, tentu ia memiliki kuasa atas hidup kita bahkan atas masalah yang saat ini dihadapi. Tuhan cukup bijaksana dalam memberikan ujian pada hamba-Nya, sehingga patut Anda yakini bahwa apapun masalah yang Anda lalui maka Anda akan mampu menyelesaikannya. 

Demikian beberapa tips yang dapat saya sarankan kepada Anda. Setinggi apapun posisi Anda saat ini, maka ada orang lain yang memiliki posisi lebih tinggi dari Anda. Begitu pun sebaliknya, sebesar apapun beban yang Anda hadapi akan ada orang lain yang memiliki beban lebih berat dari Anda. Bersyukurlah atas apa yang Anda hadapi, jika Anda belum mampu bersyukur maka ujian yang tengah Anda hadapi akan mendewasakan Anda dan mengajari Anda apa itu arti bersyukur.

Resign, Why Not ?

Ada banyak hal, ada banyak alasan bagi kita untuk bertahan di sebuah perusahaan dan tetap setia memberikan kinerja terbaik kita. Sebaliknya, ada banyak hal dan banyak alasan bagi kita untuk meninggalkan perusahaan tempat kita bekerja dan memulai karir baru di perusahaan baru.

Ada banyak pertanyaan yang akan ditanyakan oleh atasan Anda ketika Anda memutuskan untuk mengundurkan diri. Begitupun dengan recruiter, alasan mengapa Anda mengundurkan diri adalah satu dari sekian pertanyaan yang wajib mereka tanyakan.


Mengundurkan diri, bukanlah suatu pilihan yang dapat dibuat dalam sekejap tanpa mempertimbangkan konsekuensi lain. Saya rasa, mengundurkan diri adalah suatu pilihan berat yang tidak hanya mempertaruhkan karir Anda namun juga hidup Anda.

Kembali kepada pernyataan saya di awal, ada banyak alasan untuk bertahan dan banyak alasan untuk mengundurkan diri. Semua kembali kepada diri Anda. Di lingkungan sekitar, ada beberapa orang yang menggunakan perasaannya atau logikanya dalam mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dari keduanya, itu adalah suatu respon alami dan bentuk pertahanan diri seseorang. Maka, gunakanlah perasaan Anda atau logika Anda untuk menentukan apakah Anda akan tetap bertahan.

Jika Anda adalah seorang Thinking, tinjau kembali apakah beban kerja yang Anda terima membuat Anda terbebani ? Apakah kompensasi yang Anda terima masih mencukupi kebutuhan Anda ? Apakah peraturan yang diterapkan dapat diterima akal sehat Anda ?

Untuk Anda yang dominan menggunakan logika dalam berpikir, tidak ada yang salah dengan keputusan Anda juga dengan alasan Anda. Percayalah bahwa Anda memiliki kualifikasi yang mumpuni dan Anda layak diterima di perusahaan yang lebih baik, perusahaan yang dapat memberikan apa yang Anda inginkan.

Jika Anda adalah seorang Feeling, tinjau kembali apakah Anda masih bersemangat ketika bangun di pagi hari dan bersiap untuk bekerja ? Apakah sikap atasan Anda cukup membuat Anda merasa nyaman ? Apakah lingkungan kerja Anda cukup bersahabat ?

Untuk Anda yang dominan menggunakan perasaan dalam berpikir, tidak ada yang salah dengan keputusan Anda dan juga alasan Anda. Anda mengundurkan diri bukan karena Anda tidak mampu bekerja, percayalah bahwa Anda pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dimana Anda dapat merasa dihargai.

Mengundurkan diri bukanlah suatu keputusan yang salah, namun juga bukan keputusan yang biasa biasa saja. Anda tidak harus membuat keputusan yang dirasa benar oleh orang lain, buatlah keputusan demi kenyamanan Anda.

Anda tidak harus mengorbankan diri Anda untuk orang lain jika itu hanya membuat Anda merasa tertekan atau terbebani. Sesekali, Anda berhak untuk lebih memikirkan diri Anda sendiri dibanding memikirkan keadaan orang lain.

Anda berhak untuk meninggalkan tempat yang tidak Anda sukai, Anda juga berhak bahagia. Anda tidak akan tau kehidupan yang lebih baik jika Anda tetap tinggal. Ketika Anda telah memperjuangkan kebebasan diri Anda, Anda akan mendapati kehidupan baru Anda yang lebih bersinar. Kehidupan yang membuat Anda merasa bersyukur atas hari ini dan berterima kasih kepada masa lalu.