Depresi dan Cara Mengakhirinya

Depresi seringkali diartikan sebagai sesuatu hal yang berlebihan oleh sebagian orang, nyatanya kondisi ini juga rawan terjadi di dunia kerja. Depresi diidentikkan dengan perasaan sedih yang terjadi berlarut larut. Saat mengalami depresi, seseorang cenderung merasa bahwa dirinya tidak berharga dan bahkan menjurus pada keinginan menyakiti dirinya sendiri.

Salah satu faktor penyebabnya adalah pengalaman traumatis yang menyerang sesuatu hal berharga dalam diri kita. Demosi, pemutusan hubungan kerja, tidak tercapainya target dan tidak kunjung mendapat pekerjaan adalah beberapa hal dalam dunia kerja yang berpotensi menyebabkan seseorang mengalami depresi.

Saat mengalami depresi, selalu timbul pemikiran bahwa dirinya tidak berharga yang menyebabkan hilangnya kepercayaan diri seseorang. Penderita depresi bisa menjadi sangat sedih hanya karena suatu hal sepele, terutama jika penyebabnya adalah pekerjaan, penderita bisa kehilangan fokus dalam bekerja karena perasaan sedih yang datang. 

Karena timbulnya perasaan tidak berharga, penderita cenderung malu dengan apa yang ia alami sehingga menarik diri dari orang sekitar dan bahkan mulai menutup diri. Mereka juga menjadi kehilangan minat untuk melakukan hal yang mereka sukai karena terlalu larut dengan perasaan sedihnya. 

Terkadang mereka terlalu merasa malu untuk menceritakan perasaannya kepada orang terdekat sehingga mereka memendamnya sendiri. Akan timbul kemungkinan penderita menyakiti diri sendiri dengan pemikiran bahwa sakit fisik dapat menghilangkan rasa sakit yang ia alami secara psikis. Perasaan sedih berlarut ini juga memicu gangguan fisik lainnya seperti sakit kepala dan dada yang sakit.



Depresi adalah suatu kondisi yang membawa seseorang ke dalam lorong yang begitu gelap dan dalam. Sangat mengerikan hingga saya yakin tidak ada satupun orang di dunia ini yang ingin mengalami depresi. Orang lain seringkali menganggap penderita lemah ataupun terlalu sensitif, namun nyatanya tidak demikian. Penderita hanya sedang berada dalam titik terendah dalam hidupnya dan membutuhkan orang lain untuk membantunya bangkit.

Karena depresi bukanlah hal yang dapat dianggap sepele dan belum tentu orang lain memahami apa itu depresi, jika Anda merasa mengalami gejala depresi yang disebabkan oleh pekerjaan, Anda dapat melakukan beberapa cara di bawah ini ;

Hindari Kondisi Sepi

Kondisi yang sepi akan membuat pikiran Anda dipenuhi hal hal negatif yang membuat Anda sedih. Usahakan untuk bekerja di sekitar orang lain dan luangkan waktu makan siang Anda bersama teman Anda yang dapat membuat Anda tertawa sejenak. 

Berkumpul dengan Orang Terdekat

Meski Anda cenderung menarik diri, berkumpul dengan orang terdekat nyatanya tidak membawa pengaruh buruk bagi Anda. Jika Anda merasa tidak nyaman dengan kondisi Anda, Anda dapat menyembunyikannya dari mereka hingga Anda siap. Ketika tertemu dengan teman Anda, Anda akan tertawa bersama mereka atau bahkan menemukan bahwa teman Anda memiliki kesulitan lebih besar dari Anda.

Cari Kesibukan

Intinya adalah jangan biarkan pikiran Anda kosong. Anda bisa melakukan apapun yang membuat Anda tidak memikirkan perasaan sedih Anda seperti membaca buku, memasak, atau hal lainnya. Semakin sibuk Anda, Anda tidak memiliki waktu untuk meratapi kesedihan Anda.

Olahraga

Kemungkinan Anda merasa marah namun tak dapat melampiaskannya, Anda dapat mencoba berolahraga sehingga emosi negatif Anda dapat berkurang. 

Konsumsi Coklat atau Teh Hijau

Saya tidak menyarankan Anda untuk mengkonsumsi obat obatan antidepresan. Sebagai gantinya, ketika emosi sedih Anda menguasai cobalah mengkonsumsi coklat atau teh hijau yang mampu meredam emosi negatif Anda sejenak.

Temui Orang Terkasih

Saat kita memiliki orang yang kita sayangi, kita akan menyadari bahwa mereka menyayangi kita tulus tanpa peduli betapa buruknya kita. Hal ini harus Anda manfaatkan, karena dengan bersama orang yang kita sayangi kita akan merasakan betapa indahnya dicintai dan kemungkinan kita merasa sedih akan berkurang.

Ceritakan kepada Atasan Anda

Karena yang menjadi penyebab adalah pekerjaan, maka atasan Anda sedikit banyak mengetahui masalah Anda. Jangan malu untuk menceritakan betapa sedihnya Anda dan minta bantuan atasan Anda untuk membuat Anda berkembang menjadi lebih baik lagi. Atasan Anda mungkin akan menjelaskan bagian dari kinerja Anda yang perlu diperbaiki dan hal ini akan membuat fokus Anda beralih kepada bagaimana menjadi lebih baik dibanding dengan perasaan terpuruk.

Ceritakan kepada HR

Jika atasan Anda tidak cukup mengakomodir Anda, Anda dapat menceritakan kondisi Anda kepada HR yang akan dengan senang hati mendengarkan Anda dan tentunya bisa memberikan Anda saran untuk menjadi lebih baik lagi.

Buatlah SWOT untuk Diri Anda 

Saat mengalami depresi, kita cenderung lupa dengan betapa berharganya diri kita. Dengan membuat SWOT, kita akan kembali mengingat betapa berharganya diri kita dan perasaan tidak percaya diri yang tadinya muncul akan perlahan menghilang.

Carilah Mentor

Jika Anda merasa atasan ataupun HR masih belum mengakomodir Anda, cobalah untuk mencari orang lain yang Anda rasa lebih kompeten dari Anda. Mintalah orang tersebut untuk membimbing Anda menjadi pribadi yang lebih baik. 

Temui Psikolog

Ini adalah cara terakhir hanya jika orang terdekat, atasan Anda dan HR Anda tidak dapat membuat Anda merasa lebih baik. Psikolog akan dengan sabar mendengarkan Anda dan mereka juga akan memberikan saran saran yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. 

Pada intinya, depresi hanya dapat diselesaikan oleh diri Anda sendiri. Orang lain hanya membantu Anda dan keberhasilan dari proses ini bergantung pada diri Anda. Meskipun orang lain berhasil membantu Anda, ke depannya pun mereka tidak berharap Anda bergantung pada mereka. Oleh karena itu, depresi adalah sebuah momentum bagi Anda untuk berkembang menjadi lebih baik dalam sisi teknikal maupun emosional.

Depresi juga merupakan momentum yang harus Anda manfaatkan untuk semakin mengenali diri Anda agar ke depannya Anda dapat dengan mandiri menghadapi permasalahan. Depresi adalah hal yang dapat dialami setiap orang. Sekali lagi, depresi bukanlah hal yang menyenangkan oleh karena itu keluarlah dari lorong gelap ini dan bantulah orang lain yang juga berada dalam lorong gelap bernama depresi.

Sisi Gelap dan Terang HRD

Sosok HRD tentu sudah tidak asing lagi di mata setiap karyawan. Pada umumnya HRD bertugas untuk mengurus segala tetek bengek urusan karyawan mulai dari karyawan direkrut hingga diberhentikan. Hanya karena perannya yang lekat dalam ingatan karyawan, bukan lantas serta merta sosok HRD mendapat tempat di hati karyawa. Ada saja yang terkadang membuat HRD serba salah.

Sama seperti hal apapun di dunia ini, menjadi HRD memiliki sisi gelap dan terangnya yang diketahui oleh mereka yang menjalaninya. Berikut adalah sisi gelap dan terang HRD ;


Rekrutmen

Sisi Terang :

Bagian terbaik dari rekrutmen adalah karena pekerjaan ini memungkinkan kita untuk bertemu banyak orang dan hal ini tentu membuat pekerjaan sebagai HRD lebih berwarna dibanding hanya berurusan dengan komputer. Tak jarang juga kita menjumpai kandidat yang kompeten atau memiliki personality baik sehingga membawa hal baru bagi kita. Tak jarang juga kita menemukan kandidat yang menyebalkan sehingga kita tau apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan agar tidak ikut menjadi menyebalkan di kemudian hari. 

Sisi Gelap :

Meski menyenangkan bertemu banyak orang, namun presentasi orang yang menyebalkan atau kurang kompeten bisa jadi lebih besar dibanding kandidat yang benar benar kita cari. Hal ini terkadang membuat HRD kesulitan mendapat kandidat yang tidak dimengerti oleh user. Tidak jarang juga user memberikan kualifikasi yang cenderung aneh seperti latar belakang ras atau agama yang semakin menyulitkan HRD. 


Policy & Procedure

Sisi Terang :

Memang sangat menyenangkan jika kita diberi kewenangan untuk membuat kebijakan atau perusahaan seolah olah kita menjadi pihak yang paling berkuasa. Kita juga menjadi pihak pertama yang mengetahui kebijakan dan peraturan apa yang akan diterapkan. Sebelum berpikir terlalu jauh tentang sisi gelapnya, silahkan amati sisi gelapnya dari bagian ini. 

Sisi Gelap :

Sayangnya, setiap kebijakan atau peraturan yang diterapkan akan menuai pro kontra dari berbagai pihak. Bagi yang menentang, mereka akan melakukan penolakan secara halus hingga ekstrem seperti dengan melakukan demo. Hal ini berpotensi membuat citra HRD buruk di mata karyawan. 

Personalia

Sisi Terang :

Pekerjaan ini meliputi administrasi karyawan seperti perhitungan absensi, cuti, pengurusan kontrak kerja, dan dokumen lainnya. Pekerjaan ini bersifat rutin namun juga membutuhkan ketelitian dan kerapihan. Dibanding bidang pekerjaan lain dalam HRD, personalia memiliki level kesulitan paling rendah sehingga fresh graduate pun mampu melakukan pekerjaan ini.

Sisi Gelap :

Saking rutinnya, pekerjaan ini bisa dianggap membosankan dan tidak menantang bagi beberapa orang karena sebagian besar waktu kerja dihabiskan di depan monitor.


Compensation & Benefit 

Sisi Terang :

Tidak banyak sisi terang dari bagian pekerjaan ini selain kita dapat mengetahui gaji yang diperoleh oleh karyawan lain. Selain itu, saya rasa tidak ada. 

Sisi Gelap :

HRD adalah tempat dimana karyawan bertanya "kapan naik gaji ?" atau "kenapa gaji saya ga naik - naik". Sebenarnya mudah saja bagi HRD untuk mengajukan kenaikan gaji atau penambahan kompensasi lainnya bagi karyawan, namun ingat, HRD pun harus meminta persetujuan dari manajemen yang seringkali tidak mudah. Sedangkan HRD yang merupakan jembatan antara manajemen dan karyawan menjadi samsak oleh karyawan yang merasa kesal karena kompensasi yang diterima tidak sesuai harapan. 

Termination

Sisi Terang : 

Saya rasa tidak ada hal yang menyenangkan ketika kita harus berhadapan dengan pemutusan hubungan kerja. 

Sisi Gelap :

Ketika kita berhadapan dengan pemutusan hubungan kerja, terkadang timbul pergolakan batin yang mau tidak mau membuat kita merasa tertekan. Bayangkan saja perasaan HRD ketika harus melakukan PHK kepada 500 orang karyawan dimana setiap karyawan memiliki tanggungan masing masing. Belum lagi jika harus berhadapan dengan karyawan yang bermasalah, tidak hanya menguras otak namun juga menguras hati. 

Jika ditanya mengapa saya memilih karir di bidang HRD meskipun HRD disebut sebagai Messenger of Bad News, alasannya sederhana. Karena bidang pekerjaan HRD cukup luas, Anda dapat menemukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian hingga yang mengharuskan bertemu banyak orang. Dan mengapa saya tetap bertahan, karena saya tau bagian terbaik dari pekerjaan sebagai HRD sehingga hal buruk lainnya adalah satu paket.

Bagi Anda yang hendak memutuskan memilih karir sebagai HRD, cobalah memantapkan diri dengan memahami sisi gelap dan terang dari pekerjaan ini. HRD pun tidak selalu dianggap sebagai musuh karyawan, semua bergantung dengan bagaimana pembawaan sosok HRD. Karena HRD berhadapan dengan karyawan, adalah sebuah keputusan yang bijak jika HRD mampu menempatkan diri sebagai pihak yang ramah, mengayomi namun tegas.

Tak perlu takut menjadi HRD, toh setiap hal memiliki resiko. Tergantung, resiko mana yang ingin Anda ambil.

 

Passion : Penting tapi Terlupakan

Belakangan, perusahaan saya membuka lowongan pekerjaan untuk posisi admin dimana para fresh graduate diberi kesempatan mengisi posisi tersebut. Kualifikasi yang dibutuhkan sederhana, mampu menguasai Microsoft Office karena memang pekerjaan administrasi lebih banyak berkecimpung dalam aplikasi tersebut. Bahkan pekerjaan ini tidak membutuhkan minimal pengalaman kerja ataupun minimal pendidikan.



Sebagai fresh graduate, baik yang baru saja lulus SMA/K ataupun kuliah, pekerjaan ini tentu saja menggiurkan bagi mereka. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan ketika saya merekrut para fresh graduate di lapangan, tak satupun hingga kini fresh graduate yang saya rekrut dengan alasan : tes intelegensi kurang, tes teknikal kurang dan tidak ada passion.

Passion.

S = saya ,  P = pelamar

Contoh kasus 1.

S : Apa sih passion kamu ?
P : Saya suka pekerjaan administrasi
S : Kenapa ?
P : Ya suka aja.
S : Apa yang ada di bayangan kamu waktu kamu kerja di bagian administrasi ?
P : Duduk, input data di komputer, filling dokumen.

Contoh kasus 2.

S : Apa sih passion kamu ?
P : Saya suka kerja kantoran
S : Kenapa ?
P : Dari dulu pengen aja kerja di kantor.
S : Di kantor, mau kerja di bagian apa ?
P : Karna saya baru lulus, saya gatau di kantor ada bagian apa aja. Yang penting bisa kerja dulu untuk nambah pengalaman.


Dari dua contoh kasus yang saya jabarkan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa masih ada para fresh graduate yang tidak memahami apa yang ia inginkan. Dapat disimpulkan bahwa fresh graduate masih belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang apa itu dunia kerja.

Apakah hal ini hanya terjadi kepada fresh graduate ? Nyatanya tidak. Masih ada juga kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja bertahun tahun namun masih tidak memahami apa passionnya.

Contoh kasus 1.

S : Saya lihat Anda pernah kerja jadi sales, pernah juga jadi admin HRD dan juga Finance. Sebenernya passion Anda apa ?
P : Saya sih ga ada pilih pilih pekerjaan. Pekerjaan apapun yang ada akan saya jalanin.

Contoh kasus 2.

S : Sudah 8 tahun ya jadi General Affair. Apa gapengen cari pekerjaan lain diluar General Affair.
P : Sebenernya pengen, tapi selama ini apply selalu dipanggilnya untuk posisi itu.

Dari dua contoh kasus di atas, dapat kita lihat bahwa sebagian pelamar yang telah memiliki pengalaman memulai karirnya karena kecemplung. Apakah ada yang salah dengan kecemplung ? Jawabannya tidak, saya sendiri pun memulai karir karena kecemplung dan begitu juga dengan beberapa rekan seprofesi saya. Yang menjadi masalah adalah ketika Anda kecemplung, Anda lebih memilih pasrah dibanding membuat keputusan apakah akan mengikuti arus atau melawan arus. Terkadang ketika sudah terlanjur kecemplung, kita tidak dapat menilai apakah pekerjaan ini cocok dengan kita dan apakah ada pekerjaan lain yang lebih cocok untuk kita, dan itulah yang menjadi sebuah kesalahan dalam karir.

Awalnya saya sendiri tidak memahami mengapa passion perlu dipertimbangkan dalam merekrut seorang pelamar hingga akhirnya saya mendapat pencerahan dari atasan saya yang tentunya lebih senior. Mengapa passion itu penting ? Ketika kita sadar apa yang kita inginkan dan apa alasannya, apapun masalah yang menimpa kita akan tetap bertahan karena kita tau apa bagian terbaik dari hal itu. Lain halnya jika kita tidak tau apa yang kita inginkan, juga tidak tau apa yang menarik dari hal itu, ketika masalah menimpa kita tidak memiliki alasan untuk bertahan.

Alasan itu cukup menarik untuk dipertimbangkan bagi kita dalam meniti karir. Ketahui apa yang menarik minat Anda dan apa alasannya. Karena setiap hal memiliki sisi gelap dan terang, maka pahamilah keduanya sehingga kita mampu menjalaninya dengan mandiri. Lagipula, hal yang terbaik dalam bekerja adalah ketika kita mengerjakan apa yang kita senangi. Bukan bekerja karena keterpaksaan, apalagi kecemplung tanpa tau arah tujuan.

Jadi, di permulaan tahun 2018 ini, sudahkah Anda menentukan arah dan rencanan untuk karir Anda ?

Mengenal MBTI : Lebih Dekat dengan Guardian

Kelompok besar selanjutnya dalam MBTI adalah Guardian yang merujuk pada pribadi dengan Sensing dan Judging yang dominan. Sesuai dengan artinya, kelompok Guardian dipercaya untuk mempertahankan suatu hal agar tetap berjalan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Mereka adalah pribadi yang terkendali, disiplin, dan tentunya taat pada peraturan.



Umumnya, kelompok Guardian dapat dikenali melalui beberapa ciri berikut :


  • Tepat waktu
  • Rapih dan bersih
  • Terstruktur
  • Mematuhi prosedur
  • Orientasi detail
  • Akuntabel
  • Skeptis dan waspada
Kelompok Guardian dikenal dengan sikapnya yang cenderung kaku dan tegas. Meskipun demikian, dengan beberapa pendekatan berikut kita dapat menjalin komunikasi baik ;

  • Membuat pembicaraan dengan sistematis
  • Berikan informasi aktual
  • Bersikap teliti 
  • Percaya diri
  • Ikuti prosedur dan hargai hierarki
  • Bertanggung jawab
  • Hindari informasi abstrak
Karena sikap mereka yang cenderung taat peraturan, maka umumnya mereka ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan konsistensi tinggi seperti analis bisnis, akuntan, perencana produksi, perencana manufaktur, layanan konsumen dan lainnya. 

Para kelompok Guardian mengharapkan lingkungan kerja yang stabil dengan masa depan terprediksi yang memungkinkan mereka untuk memberikan kinerja secara konkrit sehingga mampu membuat mereka mampu bekerja secara optimal.

Selain lingkungan kerja yang kondusif, atasan yang supportif tentu sangat menentukan kinerja seseorang. Definisi supportif bagi kelompok Guardian adalah ketika atasan mereka mampu memberikan arahan yang jelas dan menyediakan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengoptimalkan kinerja mereka. 

Lain hal dengan kelompok Idealist yang sensitif, kelompok Guardian justru seringkali dinilai tak berperasaan. Mereka tentu tidak berniat untuk menjadi kejam, hanya saja bagi mereka aturan ataupun rencana yang ditetapkan harus dijalankan. Penyimpangan yang kemungkinan  terjadi pun sebisa mungkin harus dapat dipertanggung jawabkan secara logis. Karena prinsipnya, maka tak heran jika kelompok Guardian dikenal sebagai pelaksana yang baik. Beberapa tokoh yang termasuk dalam kelompok Guardian adalah Basuki Tjahaja Purnama dan Sigmund Freud.


Mengenal MBTI : Lebih Dekat dengan Idealist

Salah satu kelompok besar dalam konsep MBTI adalah Idealist yang merujuk pada individu yang memiliki kepribadian Intuitive dan Feeling. Secara garis besar, mereka umumnya terlihat sebagai pribadi yang hangat, unggul dalam kemampuan interpersonal dan pandai dalam mengubah hal negatif menjadi sesuatu yang positif.




Mereka umumnya mudah dikenali melalui ciri ciri berikut :
  • Cenderung melihat gambaran besar suatu permasalahan
  • Menyukai bersikap hangat dan informal
  • Diplomatis
  • Memiliki keahlian persuasif
  • Merupakan pendengar yang baik
  • Cenderung sensitif terhadap kritik dan menganggapnya sebagai serangan pribadi
  • Cenderung menghindari konflik
  • Fasih dalam kemampuan verbal
Kelompok Idealist dikenal memiliki kemampuan empati yang tinggi namun juga mudah tersinggung karena perasaan mereka yang cenderung lebih halus dibanding kelompok lainnya. 

Untuk mendekati kelompok Idealist bukanlah suatu hal yang sulit mengingat sifat dasar mereka yang hangat pada orang lain. Berikut adalah beberapa cara yang dapat diterapkan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan kelompok Idealist :

  • Pilihlah lingkungan yang harmonis dan kondusif
  • Bangun hubungan personal
  • Dengarkan mereka dengan empati
  • Jalin diskusi yang luwes
  • Gunakan pilihan kata yang positif
  • Batasi fakta mendetail
  • Hindari konflik dan kompetisi
Umumnya, kelompok Idealist menyukai pekerjaan yang dapat memberikan makna bagi mereka seperti membantu orang lain mengembangkan diri, mengajarkan suatu hal yang baru kepada orang lain maupun membantu orang lain menyelesaikan masalahnya. Karena keahlian interpersonal merupakan keunggulan mereka, maka umumnya mereka memilih pekerjaan yang melibatkan orang lain seperti guru, sales, dokter, HR, psikolog, trainer dan pekerjaan sejenis. 

Para kelompok Idealist umumnya mengharapkan lingkungan kerja yang penuh empati, memberikan kepuasan batin karena berhubungan dengan masalahdi masyarakat dimana jerih payah mereka dihargai, dan juga lingkungan yang harmonis yang minim dari konflik. 

Seperti yang diketahui bersama, atasan adalah salah satu faktor penentu kinerja anak buah sehingga kelompok Idealist mengharapkan atasan yang menghargai kinerja mereka dan memberikan perhatian pribadi pada kehidupan mereka disamping mampu melindungi mereka dari konflik kerja.

Dikarenakan hati mereka yang cukup sensitif, seringkali mereka dikenal "baper". Di beberapa sisi mereka memang mudah tersinggung disamping mudah tersentuh. Mereka juga seringkali terlalu peduli dengan masalah orang lain meski sering dipandang aneh. Kebahagiaan terbesar mereka adalah ketika mereka mampu membuat orang lain merasa lebih baik. Beberapa tokoh dunia yang termasuk dalam kelompok Idealist adalah Mahatma Gandi dan Nelson Mandela.

So, jika Anda membutuhkan tempat untuk menceritakan kisah pedih Anda atau orang lain yang mampu membuat Anda merasa lebih baik lagi maka kelompok Idealist adalah orang yang tepat. Sebaliknya, jika Anda membutuhkan tempat untuk merumuskan strategi ataupun orang yang mampu bertindak cepat dalam kondisi darurat jangan jadikan kelompok Idealist sebagai pilihan. 

Mengutip salah satu kalimat bijak milik Albert Einstein, semua orang terlahir jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka dia akan percaya dalam seumur hidupnya bahwa dirinya bodoh. 

Kesempatan : Jika Saja Semua Orang Bisa Mendapatkannya

Hidup ini terkadang mirip seperti monopoli. Setiap orang memiliki tujuannya, namun nyatanya tak semua orang mampu menentukan sejauh mana mereka akan melangkah. Seperti monopoli, langkah kita ditentukan oleh lemparan dadu yang mana dalam hal ini adalah kehendak Tuhan.

Baik dalam hidup maupun monopoli, setiap orang berharap agar diberikan kesempatan yang baik. Sayang seribu sayang, tidak semua orang mendapatkan kesempatan. Sekalipun kita mendapatkan kesempatan, seringkali kita melewatkannya dengan menganggapnya sebagai kesempatan yang tidak kita nantikan.

Mengenai kesempatan, setiap pemain kehidupan setidaknya pernah mendapatkan kesempatan. Semua kembali kepada apakah kita akan memanfaatkannya atau justru melewatkannya. Seringkali kita menyesal karena telah melewatkan sebuah kesempatan yang berharga dan meratapinya terus menerus. Penyesalan ini terkadang membuat kita meratapinya hingga berlarut larut.

Nyatanya, setiap orang tidak hanya berhak menerima kesempatan melainkan memberikan kesempatan. Seringkali kita dengan angkuh melewatkan kesempatan untuk diberikan kepada seseorang yang mengharapkannya dan justru memberikannya kepada seseorang yang tidak mengharapkannya.

Kesempatan, apa arti kesempatan bagi Anda ?



Orang sukses mengatakan bahwa kesuksesan tidaklah diberikan melainkan diciptakan. Namun bagi saya kesempatan adalah sebuah pemberian atau anugerah dari Tuhan. Sayangnya seringkali kita "merasa" melewatkan sebuah kesempatan dengan menganggap sesuatu hal bukanlah sebuah kesempatan.

Saya pernah merasa mendapatkan penolakan akibat saya harus dipindahkan dari bidang pekerjaan yang sangat saya cintai. Saya sempat merasa jatuh dan terpuruk, bagi beberapa orang mungkin apa yang saya rasakan terlampau berlebihan. Namun pekerjaan saya saat itu bukanlah hanya sekedar pekerjaan bagi saya, melainkan kepuasan batin saya, hal yang sangat berharga bagi saya.

Dalam keterpurukan itu, saya berpikir mengapa saya tidak diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri jika memang kinerja saya kurang memuaskan ?

Namun akhirnya saya sadari bahwa kesempatan selalu ada, itulah yang saya artikan bahwa kesempatan itu diciptakan oleh kita karena ada tidaknya sebuah kesempatan tergantung dengan bagaimana kita memaknainya.

Ketika kita merasa melewatkan sebuah kesempatan, cobalah berpikir bahwa kita akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Ada tidaknya kesempatan tergantung dengan bagaimana kita mensyukuri hidup ini. Bukankah ketika setiap pagi kita membuka mata dengan nafas yang melengkapinya adalah sebuah kesempatan ? Bukankah setiap detik yang kita lewati adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik ?

Jika saja semua orang bisa mendapatkan kesempatan.

Tidak, semua orang diberikan kesempatan ! Meski kita berulang kali melewatkan suatu kesempatan maka kesempatan yang lain selalu ada. Karena kesempatan adalah pemberian dan anugerah Tuhan yang kita ciptakan melalui penafsiran kita tentang makna kesempatan.

IT : Setiap Orang Memiliki Rasa Takut

Setiap orang memiliki rasa takut, itulah hal yang ditonjolkan dalam film ini. Film yang diadaptasi dari novel ini disebut sebagai film terhoror sepanjang tahun 2017, dan hal itu harus saya akui. IT mengisahkan sekelompok remaja yang berjuang untuk melawan makhluk misterius berupa badut yang diduga sebagai penyebab hilangnya beberapa orang.



Para tokoh utama dikisahkan memiliki latar belakang yang kurang baik, dimulai dari orang tua yang acuh, terlalu posesif, hingga terlalu keras. IT menghantui setiap tokoh dengan menyerupai hal yang paling ditakutkan para remaja tersebut.

Dimulai dari Ben, siswa pindahan yang sering menghabiskan waktunya di perpustakaan ini dihantui oleh IT dengan menggunakan sosok manusia tanpa kepala yang kisahnya sebelumnya ia baca di salah satu buku sejarah tentang kota Derry.

Stanley, digambarkan sebagai sosok yang lebih pendiam dan cukup matang dibanding teman - temannya. Ia ditekan oleh orang tuanya yang merupakan seorang Rabi untuk menghafal kitab Taurat. Ia sangat takut dengan sosok lukisan yang berada di ruang kerja ayahnya dan sosok itulah yang dimanfaatkan oleh IT untuk menghantui Stanley.

Mike, adalah salah satu korban kebakaran yang berhasil diselamatkan meski akhirnya ia harus kehilangan orang tuanya dalam kejadian naas itu. Hal yang menjadi mimpi buruknya tentu saja saat ia mengingat kedua orang tuanya yang berusaha meraihnya dalam panasnya kobaran api. Pada film ini diceritakan bahwa IT menjelma menjadi sosok orang tuanya yang menggapai Mike dengan tangan yang menghitam untuk menakuti Mike.

Beverly, meski cantik dan seksi ia kerap kali menjadi korban bully di sekolah akibat adanya rumor buruk tentangnya. Ia hidup bersama ayahnya yang bersikap lembut namun mengintimidasi yang cukup membuatnya merasa tertekan.

Richie, adalah tokoh yang paling banyak berbicara dibanding lainnya. Ia paling takut dengan sosok badut yang menjadikan IT menampakkan dirinya di depan Richie tanpa harus menjelma menjadi sosok lain.

Eddie, adalah penderita OCD yang sangat takut kotor. Ia dihantui IT dengan sosok penderita lepra yang tentunya menjadi mimpi buruk bagi Eddie yang sangat menjaga kebersihan.

Terakhir, Billy yang selalu tidak terima dengan hilangnya sang adik, George setahun silam. IT memanfaatkan sosok George untuk menyerang Billy.

Di akhir cerita, mereka melawan IT yang mengubah sosoknya sesuai dengan ketakutan ketujuh remaja tersebut. Namun berbekal rasa setia kawan yang tinggi, mereka mampu mengabaikan rasa takut mereka dengan bahu membahu mengalahkan IT.

Dari segi alur cerita, film ini saya acungi jempol karena mampu membuat jantung saya berdegub kencang hingga saya tak berani melihatnya. Sang sutradara mampu membawa saya sebagai penonton untuk masuk ke dalam cerita tersebut dan ikut merasakan ketakutan mereka.

Hal yang dapat saya ambil dari film ini adalah bahwa setiap orang memiliki ketakutan. Layaknya IT, ketakutan itulah yang seringkali membuat diri kita merasa terancam dan tidak nyaman. Melawan ketakutan memanglah tidak mudah, namun ketakutan kita seringkali dimanfaatkan orang lain untuk menghancurkan kita.

Namun layaknya Billy dan teman temannya yang menyebut diri mereka klub Pecundang, kita dapat melawan rasa takut kita selagi kita memiliki keinginan yang kuat. Dan keinginan dibentuk oleh suatu alasan.

Apapun ketakutan kalian, lawanlah ketakutan itu. Diri kalian, keinginan kalian jauh lebih kuat dibanding monster yang tercipta akibat rasa takut kalian.


Mengenal MBTI : Kesimpulan dan Pengantar

Pada empat minggu terakhir saya telah mengajak Anda mengenal 4 dimensi dalam konsep MBTI. Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, dalam setiap dimensi bukan berarti kita selalu menggunakan tipe tersebut namun secara alamiah kita akan lebih dominan di satu sisi.

Sepanjang usia, setiap manusia akan semakin berkembang dan mengasah sisi lainnya. Entah karena bertemu orang baru, tuntutan lingkungan atau karena alasan lain berubah menjadi lebih baik adalah salah satu hal yang diinginkan setiap orang.

Dalam konsep MBTI kita mengenal 16 kepribadian yang merupakan kombinasi dari setiap dimensi. 16 kepribadian tersebut antara lain ;


Ilustrasi tersebut saya kutip dari https://planetinfj.wordpress.com/tag/mbti/ yang juga membahas konsep MBTI. Namun saya sendiri memilih "Pribadimu Profesimu" karya Paul D. Tieger, Barbara Barron dan Kelly Tiegerserta "Persona" karya Irul Haqqiasmi sebagai referensi. Saya menghabiskan waktu cukup lama untuk memahami konsep MBTI karena konsep ini membagi manusia ke dalam kelompok yang lebih rumit.

Tidak seperti konsep DISC dimana saya bahkan dapat mengidentifikasi seseorang di pertemuan pertama, saya membutuhkan analisa yang cukup dalam untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan konsep MBTI. Namun secara garis besar, konsep MBTI dibagi menjadi 4 kelompok besar yaitu ;



Saya telah membahas gambaran besar dari setiap kelompok pada postingan saya sebelumnya. Namun agar Anda lebih memahami konsep MBTI saya akan menjelaskan ciri khas dari setiap kelompok di postingan selanjutnya. 

Mengenal MBTI : Judging vs Perceiving

Kali ini saya akan membahas dimensi terakhir dalam konsep MBTI yang berhubungan dengan cara hidup kita, apakah terstruktur ataupun spontan. Berdasarkan dimensi ini, konsep MBTI membaginya ke dalam dua kelompok yaitu Judging dan Perceiving.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI


Judging

Satu kata yang menggambarkan Judging adalah "terstruktur". Judging akan menyukai segala kegiatan yang telah diorganisir sejak awal sehingga mereka dapat menjalankannya dengan pasti. Dalam bekerja, mereka akan lebih merasa nyaman dengan lingkungan kerja yang prosedurnya sudah berjalan dengan baik dimana setiap orang menaatinya. Adalah suatu beban bagi seorang Judging ketika mereka diharuskan untuk bekerja di lingkungan yang tidak memiliki prosedur dimana segala hal dapat berubah ubah tanpa kepastian.

Judging selalu menetapkan tujuan di awal dan langkah langkah untuk mencapainya. Mereka berorientasi pada target dan berusaha mencapainya berdasarkan langkah langkah yang telah ditetapkan. Sebagai seorang pemimpin, mereka juga telah menetapkan tujuan dan langkah langkah untuk mencapainya. Ketika seorang Judging tidak dapat mencapai target yang ditentukan, mereka akan merasa terpukul dan merasa gagal.

Baca juga : Introvert vs Ekstrovert

Dalam kehidupan sehari hari, mereka akan merasa lebih tenang ketika telah mengetahui dengan pasti apa yang dihadapi. Dalam lingkungan baru, sebisa mungkin mereka akan mencari tahu bagaimana lingkungan tersebut sebelum akhirnya diterjunkan dalam lingkungan itu. 

Karena kecenderungan hidupnya yang terstruktur, mereka dikenal kaku dan tidak luwes. Menurut buku Pribadimu Profesimu, kelompok Judging senang mengendalikan apa yang sedang terjadi dan senang mengambil keputusan. Mereka melihat segala sesuatu sebagai sisi hitam dan putih. 

Baca juga : Sensing vs Intuition

Kelompok judging menyukai lingkungan kerja yang memberikan mereka tanggung jawab atas suatu proyek dengan disertai pengembangan terus menerus. Dan yang terpenting bagi seorang Judging adalah sistem kerja yang pasti agar tidak membuat merasa dilema dalam bekerja. Bagi mereka, perubahan yang mendadak dan tidak direncanakan dapat membuat mereka merasa tertekan.

Perceiving 

Satu kata yang menggambarkan Perceiving adalah "spontan". Perceiving menyukai ketika segala pilihan tetap terbuka sehingga menyediakan mereka banyak alternatif. Dalam bekerja, mereka justru merasa tertekan dengan adanya peraturan yang terlalu kaku, karena bagi mereka masalah bukanlah suatu hal yang dapat diprediksi dan dapat terjadi sewaktu waktu.

Perceiving sangat mengandalkan kemampuannya dalam berimprovisasi dalam berbagai situasi. Ketika mereka telah mengetahui apa tujuannya, mereka akan mencapainya dengan luwes tanpa dibatasi dengan peraturan peraturan yang dibuat oleh dirinya ataupun orang lain. Ketika mereka tidak dapat mencapai target yang ditentukan, mereka tidak serta merta merasa terpukul karena mereka yakin bahwa tidak selamanya apa yang dilakukan berjalan sesuai rencana.

Dalam kehidupan sehari hari, mereka akan merasa bosan jika dihadapi dengan peraturan atau jadwal yang bersifat kaku. Lingkungan baru ataupun perubahan mendadak bukanlah suatu masalah karena improvisasi adalah kekuatan mereka dan mereka dapat selalu beradaptasi dalam segala situasi.

Baca juga : Thinking vs Feeling

Karena cara hidup mereka yang spontan, mereka dikenal seringkali dikenal sebagai seorang yang plin plan dan tidak berpendirian. Perceiving seringkali kesulitan dalam menetapkan suatu keputusan dan ketika mereka dipaksa harus membuat keputusan, adalah hal yang wajar bagi mereka untuk mengubah keputusan waktu mereka di kemudian hari.

Kelompok perceiving menyukai lingkungan kerja yang demokratis dan fleksibel tanpa aturan yang mengekang. Mereka merasa bersemangat ketika mereka diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dalam pekerjaan mereka.

Untuk memahami perbedaan dari setiap kelompok, Anda dapat melihatnya dalam tabel berikut ;



Kedua kelompok tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Judging tentu akan lebih unggul jika ditempatkan dalam lingkungan yang terstruktur dan Perceiving akan lebih unggul dalam lingkungan yang fleksibel. Sayangnya, dalam kehidupan sehari hari kita tidak selalu berada dalam lingkungan yang kita sukai. 

Adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Itulah mengapa semakin bertambahnya kedewasaan, seorang Judging akan lebih mengembangkan sisi Perceivingnya dan begitupun sebaliknya. Berada dalam lingkungan yang tidak kita sukai tentunya akan membuat kita merasa tertekan, namun terkadang kita tidak dapat serta merta meninggalkan lingkungan yang kita benci itu dan tetap bertahan dengan terus menyesuaikan diri. 

Mengenal MBTI : Thinking vs Feeling

Pada dua postingan sebelumnya, saya telah mengajak Anda untuk mengenali konsep MBTI dari dua dimensi yaitu bagaimana cara seseorang menyalurkan energinya dan cara seseorang menyerap informasi. Kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh konsep MBTI dari dimensi bagaimana cara seseorang mengambil keputusan.

Baca juga : Divergent dan Konsep MBTI 

MBTI membagi dua kelompok atas dasar bagaimana cara seseorang mengambil keputusan yaitu kelompok Thinking dan Feeling. Sesuai artinya, Thinking artinya berpikir dan Feeling artinya merasakan, itulah garis besar penjelasan dari dimensi ini. Namun agar Anda dapat lebih memahami perbedaan dari kedua kelompok, maka dengan senang hati saya akan menjabarkannya.



Thinking

Samantha memiliki dua orang anak buah yang bernama Arnold dan Richard dengan masa kerja kurang dari 1 tahun. Arnold berusia 50 tahun dan merupakan ayah dari 3 anak yang masih duduk di bangku sekolah. Sedangkan Richard adalah pria lajang dengan usia 25 tahun. Ketika perusahaan melakukan perampingan dan Samantha diminta untuk mengeluarkan 1 orang dari timnya maka Samantha memilih untuk mempertahankan Richard dengan alasan ia masih berusia muda dan lebih produktif untuk melakukan kegiatan bekerja. 

Begitulah cara berpikir kelompok Thinking. Dapat dikatakan, kelompok Thinking senantiasa mengambil keputusan berdasarkan logika. Kelompok Thinking akan melakukan berbagai analisa tanpa melibatkan emosi terhadap suatu masalah. Singkat kata, mereka bertindak dengan objektif. 

Mereka menempatkan perasaan di urutan ke sekian dalam mengambil keputusan, oleh karena itu mereka seringkali dinilai tidak berperasaan dan tidak peduli terhadap orang lain. Seringkali mereka berbicara terus terang mengenai suatu hal karena bagi mereka akan lebih baik jika orang lain mengetahui kebenaran meskipun itu menyakitkan. Bagi kelompok Thinking, perasaan seseorang dapat dinilai valid jika perasaan tersebut logis dan dapat dicerna oleh akal sehatnya. 

Ungkapan khas yang seringkali keluar dari mulut kelompok Thinking dalam bekerja adalah"Kalau bekerja jangan pakai hati, harus profesional" yang keluar dari mulut kelompok Thinking. Hal yang tentunya juga berlaku bagi diri mereka sendiri yang tidak terpengaruh dengan kritikan atau hujatan dari orang lain.

Mereka tidak tertarik dengan urusan pribadi orang lain dan karenanya siap jika harus terlibat dalam suatu konflik dalam lingkungan kerja karena bagi mereka itu adalah bagian dari profesi.

Kelompok Thinking seringkali ditemukan dalam bidang pekerjaan yang membutuhkan ketegasan dan kepatuhan terhadap suatu standar seperti auditor, akunting, hakim, ataupun profesi lain sejenis. Karena cara berpikir mereka yang logis dan tanpa emosi, mereka dipercaya untuk menepati sebuah posisi yang mengharuskan mereka untuk menegakkan suatu aturan atau standar.

Feeling

Dalam kasus Samantha, seseorang yang dominan Feeling akan lebih memilih untuk mempertahankan Arnold dengan alasan di usianya yang sudah menua akan sulit bagi Arnold untuk mendapatkan pekerjaan baru sedangkan 3 orang anaknya di rumah membutuhkan penghasilan darinya untuk bertahan hidup. 

Begitulah bagaimana kelompok Feeling mengambil keputusan. Mereka memikirkan dampak keputusannya terhadap orang lain, apakah orang lain akan merasa senang atau justru dirugikan dengan keputusan tersebut. Bagi beberapa orang, mereka terlihat subjektif dalam mengambil keputusan. 

Mereka menempatkan perasaan orang di urutan pertama dan karenanya seringkali mereka disebut baper "terbawa perasaan" atau dikritik karena sifatnya yang "tidak enakan" kepada orang lain. Mereka dipandang emosional, tidak logis dan lemah bagi beberapa orang yang karenanya mereka jauh dari kesan tegas. Mengekspresikan amarah dalam bentuk membentak atau teguran keras adalah hal yang sulit bagi kelompok Feeling karena bagi mereka menjaga perasaan orang lain adalah hal yang penting, terlepas dari logis tidaknya perasaan itu. 

Ungkapan "Kalau bekerja jangan pakai hati, harus profesional" adalah hal yang tidak sepenuhnya dapat diterima oleh kelompok Feeling. Bagi mereka, bekerja tanpa hati hanya dapat dilakukan jika mereka dihadapkan dengan robot. Hal ini yang membuat mereka seringkali menganggap kritik adalah serangan pribadi untuk mereka dan membuat mereka seringkali gampang tersinggung. 

Mereka sangat menghargai kehidupan pribadi orang lain dan sangat benci jika harus terlibat konflik meskipun konflik adalah suatu hal yang wajar dalam dunia kerja. 

Karena sifat mereka yang cenderung empatik, mereka seringkali ditemui dalam profesi HRD, psikolog, sales dan profesi lainnya yang sejenis. Kemampuan empati dan kecintaan mereka terhadap harmoni membuat mereka dipercaya untuk terlibat dalam posisi pekerjaan yang membutuhkan kemampuan interpersonal dalam porsi yang cukup besar. 

Untuk lebih memahami perbedaan keduanya, Anda dapat melihatnya dalam bagan berikut. 


Dalam kehidupan sehari hari, kita akan sering menjumpai kedua kelompok tersebut. Karena sifatnya yang bertolak belakang, tidak jarang mereka terlibat konflik ataupun adu pendapat. Namun yang harus dipahami, baik Thinking maupun Feeling mengambil keputusan dengan cukup masuk akal bagi mereka. Yang membuat keputusan mereka tidak masuk akal adalah ketika penjelasan tersebut didengar oleh orang lain yang memiliki kecenderungan berlawanan. 

Menghargai perasaan orang lain adalah penting, mempertimbangkan logika juga tidak kalah penting. Kelompok Thinking bukanlah kejam atau tidak berperasaan, mereka hanya mengambil keputusan dengan mengikuti naluri mereka. Begitupun dengan kelompok Feeling, mereka bukanlah lemah ataupun terlalu emosional, mereka hanya memiliki pola pikir yang berbeda. 

Kita sendiri akan sering bertemu dengan orang lain yang memiliki cara pengambilan keputusan yang bertolak belakang dengan kita. Hal yang harus kita lakukan hanyalah saling menghargai tanpa perlu menghakimi. Cara mereka mengambil keputusan tidaklah salah dan cara kita pun belum tentu benar. Setiap keputusan memiliki dampak positif dan negatifnya, dan ketika kita telah mengambil sebuah keputusan maka kita siap dengan berbagai resiko di dalamnya.