5 Cara Menjadi Karyawan Terkenal


Saya yakin, Anda tidak asing dengan sosok Mila Kunis yang menarik ataupun sosok Joe Taslim yang memukau. Saya rasa, hampir semua orang mengenal artis papan atas seperti mereka melalui layar kaca kita. Bagi beberapa orang, menjadi terkenal itu mengasyikkan dimana semua yang mereka lakukan menjadi sorotan publik. Bagi beberapa orang lainnya, menjadi terkenal itu memuaskan karena hasil kerja keras mereka dihargai. 

Menjadi terkenal adalah hal yang diinginkan bagi banyak orang. Alasannya masuk akal, karena penghasilan yang didapat cukup menggiurkan atau karena menjadi terkenal memberikan kepuasan batin. Apapun alasannya, menjadi terkenal bukanlah hal yang mustahil meski kita tidak memiliki paras rupawan bak Dian Sastro dan juga tidak memiliki suara emas layaknya Celine Dion.



Sebagai seorang karyawan dan juga seorang profesional, menjadi terkenal bukan berarti kita harus dikenal melalui layar kaca. Karena kita adalah seorang karyawan maka kita mampu menjadi sosok yang dikenal oleh orang lain yang memiliki latar belakang sama dengan kita.

Jika Anda adalah seorang Staff Accounting maka Anda dapat menjadi sosok yang memahami seluk beluk penjurnalan beserta standarnya sehingga ketika ada sebuah perusahaan yang membutuhkan Staff Accounting, maka perusahaan tersebut tidak memiliki alasan untuk menolak Anda.

Contoh lain, jika Anda adalah seorang trainer maka Anda dapat menjadi sosok yang mampu membawa suasana peserta dan membawakan materi yang memotivasi, bukan tidak mungkin seseorang akan mereferensikan Anda untuk mengisi acara training lain yang sebelumnya tidak pernah Anda bayangkan.

Meski tidak melalui media yang sama, menjadi artis yang dikenal dan menjadi karyawan yang dikenal memiliki banyak kesamaan ;

Kompeten


Sammy Simorangkir dikenal karena suaranya yang khas dan Reza Rahardian dikenal karena penjiwaannya terhadap peran yang dimainkan. Bayangkan jika mereka tidak pandai melakukan pekerjaannya, apakah kita masih menjumpai mereka di layar kaca ?

Begitu pula kita, untuk menjadi terkenal kita harus mampu menjalankan tugas kita dengan baik. Jika Anda adalah seorang General Affair maka laksanakan tugas Anda sebaik mungkin dengan menjadi cepat tanggap terhadap kebutuhan perusahaan. Jika Anda adalah seorang IT Staff maka jadilah sosok yang handal dengan mampu menyelesaikan setiap permasalahan IT di perusahaan. Menjadi kompeten adalah sebuah alasan mengapa orang lain perlu mengenal kita.

Memiliki Ciri Khas


Saya yakin Anda ingat dengan acara Indonesian Idol, sebuah acara pencarian bakat untuk menemukan sosok bersuara emas yang layak diidolakan masyarakat di Indonesia. Acara tersebut memberi kita kesempatan untuk menyaksikan proses audisi yang mereka lakukan di banyak kota. Tidak sedikit peserta audisi yang ditolak, dan tidak sedikit dari peserta yang menerima penolakan memiliki suara yang bagus dan enak didengar. Nyatanya, para dewan juri membutuhkan suara yang khas bukan hanya suara yang bagus.

Begitu pula kita. Jika Anda adalah seorang Staff Administrasi, maka Anda dan Staff Administrasi lainnya memiliki keahlian yang sama yaitu mampu mengoperasikan Microsoft Office dan lihai dalam melakukan kegiatan administratif. Namun, tidak semua Staff Administrasi mampu menganalisa sebuah data dan tidak semua Staff Administrasi mampu mempresentasikan sebuah materi. Hal yang tidak dimiliki banyak orang namun berhasil kita miliki mampu mendongkrak citra kita untuk lebih dikenal.

Berkomitmen


Beberapa hari lalu, saya bertukar cerita dengan teman saya. Saat itu ia dianjurkan oleh atasannya untuk melamar sebagai Accounting & Tax Supervisor di sebuah perusahaan, ia diminta untuk mengirimkan lamaran langsung ke email Finance Director perusahaan tersebut. Teman saya yang penasaran pun mencari tahu sosok Finance Director tersebut melalui Linkedin. Ia dibuat terpukau oleh sepak terjang direktur tersebut yang telah malang melintang di berbagai perusahaan dengan prestasi yang ia miliki, bahkan kemampuannya diakui oleh banyak orang yang memiliki jabatan yang cukup berpengaruh.

Satu hal yang saya dapatkan dari cerita teman saya, bahwa sosok direktur itu tidak hanya memiliki kompetensi dan pengalaman. Komitmen, satu hal yang membuat sosok direktur itu tetap menjalani pekerjaannya dalam ruang linkup Finance hingga ia mampu menduduki posisinya saat ini. Posisi yang ia miliki, tentu tidak hanya diraih dalam 1 tahun. Mungkin ia butuh berpuluh puluh tahun hingga ia mampu menjadi Finance Director. Bukan waktu yang sebentar dan juga bukan masa yang datar datar saja, ia mampu menjadi dirinya yang sekarang karena tetap berpegang teguh pada komitmennya untuk menjadi seorang profesional di bidangnya meski ia tahu jalan yang dihadapi tidaklah mudah.

Profil direktur itu juga mengingatkan saya pada salah satu band ternama di Indonesia yaitu Sheila on 7 yang melahirkan banyak lagu sejak tahun 1990-an. Sheila on 7 tidak hanya dikenal karena mampu melahirkan lagu lagu hits melainkan karena mereka mampu bertahan dalam dunia musik Indonesia ketika band lain seusianya telah hilang dan tetap bersaing meski band – band baru telah muncul.

Jika Anda ingin menjadi sosok sales yang kawakan, maka tantangan berupa produk yang sulit laku di pasaran adalah suatu hal yang mampu membawa Anda ke level lebih tinggi. Ingat, seorang sales handal memulai karirnya dari sosok sales yang kesulitan melakukan penjualan.

Ciptakan Prestasi

Dalam dunia MotoGP, sosok Valentino Rossi bukanlah sosok asing bagi kalangan pecinta MotoGP. Ada banyak pebalap lain yang lebih muda di sirkuit motoGP, namun sosok Rossi masih menjadi sosok legendaris di dunia MotoGP dengan julukan The Doctor. Menjadi juara dunia berkali kali secara berturut turut menjadi alasan yang cukup kuat mengapa sosok Rossi masih tetap dikenang meski ia tidak muda lagi.

Begitu pula kita, memenuhi KPI mungkin menjadi hal biasa, namun jika kita mampu menciptakan sebuah perubahan positif yang berdampak pada operasional Anda, maka Anda akan menjadi sosok yang dikenang. Jika Anda adalah seorang supervisor, maka buatlah sebuah prosedur baru untuk memudahkan kinerja tim Anda. Jika Anda adalah seorang Staff HRD yang setiap harinya kewalahan untuk memberikan instruksi tes pada pelamar, Anda dapat menciptakan sebuah tes online yang lebih menghemat tenaga dan waktu Anda. Menjadi biasa biasa saja seringkali terlupakan, namun prestasi yang gemilang seringkali sulit dilupakan oleh orang lain.

Kooperatif

Ivan Gunawan, sosok designer yang seringkali dipercaya oleh para selebriti tanah air untuk berkontribusi dalam hari istimewanya. Kompeten sudah pasti dimiliki oleh Ivan Gunawan. Namun sosok hangat dari Ivan mampu membuat orang lain merasa nyaman untuk berada di dekatnya, dan hal tersebut cukup membuktikan bahwa sosoknya mudah untuk diajak bekerja sama.

Dalam dunia kerja, atasan, rekan kerja dan user kita adalah hal yang tak lepas dari keseharian. Jadilah sosok karyawan yang mudah diajak kerja sama oleh orang lain. Jika atasan Anda meminta Anda untuk membuat laporan, maka segera berikan laporan tersebut sesuai tenggat waktu. Jika Anda adalah seorang Staff IT maka layani user Anda dengan cepat tanggap dan ramah. Buatlah orang lain merasa nyaman dalam bekerja bersama Anda, karena kenyamanan seringkali menjadi alasan mengapa orang lain perlu mempercayai kita.

Lalu bagaimana cara agar Anda dapat dikenal setelah melakukan hal tersebut ?

Referensi

Seringkali ketika kita melamar kerja kita diminta untuk mencantumkan kontak seseorang yang mampu memberikan referensi terkait kinerja kita. Biasanya referensi merujuk pada atasan atau orang lain yang berinteraksi secara intens dengan kita. Ketika seseorang mereferensikan orang lain, mereka telah mempertaruhkan nama baiknya, itulah mereka tidak akan mereferensikan orang lain secara asal asalan dan hanya mereferensikan orang yang mereka percaya. Dan ketika orang lain bersedia mereferensikan kita, ia telah membantu kita agar kita memiliki citra positif di mata orang lain.

Diajak Bekerja Sama Kembali oleh Mantan Atasan / Rekan Kerja

Bisa jadi kita dan atasan saat ini tidak berada di satu perusahaan yang sama. Bukan tidak mungkin jika atasan / rekan kerja kita akan memulai suatu usaha baru, kita diminta untuk menjadi bagian dari usahanya. Ingat, seseorang tidak akan mengajak orang yang tidak ia percayai untuk bekerja sama. Dan ketika seseorang mengajak kita untuk bekerja sama kembali, ia telah membantu mengenalkan kita kepada rekan kerjanya yang lain bahwa kita adalah sosok profesional.

Berbagi

Dengan berbagi, kita telah memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengenal kemampuan kita lebih dalam. Kita dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain melalui banyak media, aktif di komunitas, aktif di media sosial atau mungkin membagikannya ke dalam bentuk sebuah tulisan. Bisa jadi, ada seseorang yang tertarik merekrut kita karena ia melihat kita memahami sesuatu bidang dengan baik. Berbagi dengan orang lain membantu kita untuk menunjukkan bahwa diri kita adalah sosok yang mampu.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi seorang profesional yang dikenal. Kita tidak perlu membuat sensasi hanya untuk dikenal, buatlah prestasi dan kita akan dikenang. Menjadi terkenal bukan hanya tentang menjadi pusat perhatian, menjadi terkenal juga menunjukkan bahwa kita layak untuk dihargai.

Mungkin kita pernah mendengar pertanyaan, “di akhir hidup, kita ingin dikenal sebagai sosok seperti apa ?”. Mari kita sama sama bertanya pada diri kita, kita ingin dikenal sebagai apa ? Ada banyak jawaban tentang pertanyaan itu. Namun jika Anda ingin dikenal sebagai sosok dengan karir cemerlang, maka tidak ada salahnya menerapkan beberapa tips di atas.

Jika hidup ini adalah sebuah layar kaca, maka kita bebas memilih ; menjadi pemain dalam suatu acara atau menjadi penonton dalam setiap acara. Keduanya memiliki resiko dan keduanya tidaklah mudah. Karena kita bertanggung jawab atas hidup kita, maka ada baiknya kita menentukannya sejak dini. Karena masa kini adalah milik kita dan masa depan adalah sebuah rahasia yang tidak pernah kita ketahui apa isi di dalamnya.

5 Fakta Tentang Penilaian Kinerja



Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan salah satu teman saya. Kami membincangkan beberapa hal terkait pekerjaan kami, salah satunya adalah kenaikan gaji. Teman saya mengatakan bahwa ia mengharapkan kenaikan gaji (di luar penyesuaian dengan UMR) di tahun ini. Saya cukup tertarik mendengar pernyatannya, kemudian saya bertanya kepadanya, “memangnya bagaimana caranya supaya kamu bisa dapat kenaikan gaji ?”. Hal yang lebih membuat saya tertarik adalah jawabannya, dimana saat itu ia menjawab “tidak tahu”.

Selanjutnya saya kembali bertanya kepadanya ; bagaimana hasil penilaian kinerjanya, apa target kerjanya, dan kondisi seperti apa yang menyatakan kinerjanya kurang – cukup – luar biasa. Saat itu teman saya tidak dapat menjawabnya dengan pasti.

Percakapan saya dengannya saat itu membuat saya teringat satu hal yang selalu menjadi trending topic di beberapa perusahaan tempat saya bekerja ; penilaian kinerja. Ternyata, penilaian kinerja cukup populer. Mungkin karena prosesnya yang menantang, atau mungkin juga karena ada banyak hal menarik di dalamnya untuk dibahas.

Penilaian kinerja seringkali dinilai rumit

Ketika berbicara penilaian kinerja, seringkali Anda juga mendengar Key Performance Indicator. Hubungan keduanya cukup erat. Penilaian kinerja seperti sebuah proses persiapan bahan dalam membuat kue dimana setiap bahan baku perlu ditimbang sesuai dengan proporsi yang dibutuhkan.
Jika komposisi terigu kurang, maka kue akan menjadi terlalu lembek dan jika komposisi keju terlalu banyak, maka kue akan menjadi terlalu gurih. Dalam hal ini, alat timbang memegang peranan penting, apakah komposisi bahan baku sudah pas sehingga menghasilkan kue sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini, alat timbang tersebut adalah Key Performance Indicator (KPI).

Sayangnya, tidak semua orang menikmati proses penilaian kinerja karena dinilai rumit. Nyatanya, penilaian kinerja adalah hal yang mudah jika kita telah menyusun KPI dengan tepat. Penilaian kinerja menjadi rumit untuk dihadapi jika ;

a. KPI yang belum dirumuskan

Meski KPI sendiri bukanlah hal asing lagi di dunia kerja, belum tentu setiap orang menjalankannya. Di suatu perusahaan sendiri, terkadang masih saja beberapa bagian yang belum memahami cara kerjanya atau mungkin sudah paham namun belum menjalankannya.

Rutinitas pekerjaan dan pekerjaan mendesak seringkali menghabiskan fokus dan tenaga untuk berkonsentrasi dalam pembuatan KPI. Akibatnya, proses pembuatan KPI menjadi terlupakan dan tanpa terasa masa penilaian kinerja tiba padahal pihak yang terkait (pihak yang menilai dan pihak yang dinilai) sendiri belum paham harus menilai / dinilai berdasarkan apa. Hal inilah yang membuat pihak yang terkait menjadi tergopoh gopoh atau mungkin menilai dengan asal saja.

b. KPI tidak measurable

Salah satu syarat KPI adalah measurable. Kesalahan yang seringkali dilakukan adalah menyusun KPI yang tidak dapat diukur. Misalkan, Andi adalah seorang office boy di sebuah perusaaan. Salah satu indikator dari pekerjaannya yang perlu dinilai tentu adalah perihal kebersihan.

Bandingkan dua hal ini ;

Contoh A.
Indicator
Criteria
Measurement
Kebersihan
Seluruh ruangan dibersihkan setiap hari
Tidak ada sampah berserakan di lantai

Contoh B.
Indicator
Criteria
Measurement
Kebersihan
Tidak ada sampah berserakan di lantai pada saat jam kerja dimulai selama hari kerja
Checklist kebersihan

Bandingkan measurement dari kedua contoh tersebut. Jika Anda adalah atasan Andi, cukupkah menilai kinerja Andi dengan measurement dari contoh A, apakah Anda selalu mengingat kapan ada sampah berserakan di lantai ketika Andi melaksanakan tugasnya ? Sebaliknya, contoh B memberikan measurement yang lebih detail yaitu dengan checklist kebersihan. Dengan checklist kebersihan, Anda harus memonitor pekerjaan Andi setiap harinya di setiap ruangan, akumulasi dari hasil checklist tersebut dapat digunakan sebagai achievement Andi dalam menjalankan tugasnya.

Sayangnya, seringkali dalam perusahaan ditemukan indikator seperti contoh A dalam KPI yang masih membuat pihak yang terkait bingung. Menerapkan contoh A akan membuat penilai berpikir keras karena tidak memiliki data yang akurat yang dapat dijadikan dasar penilaian.

Data belum siap

Bicara mengenai measurement, maka hal yang dibutuhkan selanjutnya adalah data. Hal yang seringkali menjadi kendala adalah ketika data yang harus diukur tidak siap. Bisa jadi karena pihak terkait tidak mengumpulkan datanya selama periode penilaian tersebut, data dari sistem yang belum tersedia, atau mungkin data sudah ada hanya saja pihak yang terkait tidak mengerti bagaimana membacanya.

Misalkan, Bunga adalah seorang HR Supervisor dengan target menyelesaikan peraturan perusahaan sebagai salah satu indikator dalam KPI nya. Target tersebut dianggap done jika peraturan perusahaan telah disosialisasikan kepada seluruh karyawan setelah mendapatkan persetujuan dari Disnaker. Saat ini, draft peraturan perusahaan tersebut sedang dalam tahap direview oleh setiap divisi dan belum ada feedback dari mereka. Yang jadi pertanyaan dalam penilaian kinerja Bunga, berapakah persentase kinerja Bunga atas indicator tersebut ?

Untuk mempermudah cara mengukurnya, dapat menyiapkan data dengan menyusun aktifitas dan subaktifitas apa yang perlu ia lakukan seperti berikut ;

Indikator
Aktifitas
Sub-Aktifitas
Persentase Sub-Aktifitas
Persentase Aktifitas
Persentase Indikator
Pembuatan Peraturan Perusahaan
Membuat draft
Bab 1
100 %
100 %
40 %
Bab 2
100 %
Bab ...
100%
Persetujuan
HR Manager
100%
20 %
Sales Manager
0 %
Finance Manager
0 %
IT Manager
0 %
Dsb
0 %
Sosialisasi
Pengajuan berkas ke disnaker
0 %
0 %
Persetujuan disnaker
0 %
Sosialisasi ke karyawan
0 %

Dengan melakukan cara tersebut, pihak yang terkait dapat mengetahui berapa persentase kinerja Bunga atas indikator tersebut dengan pasti dan tanpa kira-kira.

Karena adanya kebutuhan terkait data, maka KPI tidak dapat dibuat mendadak. KPI perlu dirumuskan di awal periode sehingga pada periode berjalan data yang dibutuhkan dapat dikumpulkan dan diolah di akhir periode.

Penilaian kinerja tidak transparan

Sudah sewajarnya setiap karyawan perlu memahami indikator dari pekerjaannya dan tidak hanya bekerja sesuai prosedur. Judulnya adalah Key Performance Indicator, maka indikator yang dinilai adalah indikator yang memegang peranan kunci. Dengan memahami indikator kunci dari pekerjaan mereka maka mereka dapat mengatur prioritas dan strategi kerja sehingga dapat mencapai hasil yang memuaskan. Hal itu juga menjadi salah satu alasan mengapa KPI tidak dapat dirumuskan mendadak.

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah hasil kinerja kita memuaskan atau tidak. Ingat, memuaskan atau tidak adalah relatif, sama seperti cantik dan tampan yang tidak ada indikatornya. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu standar untuk mengatur kapan suatu kinerja dinilai kurang – cukup – memuaskan. 

Misalkan ;
0 – 59 = tidak memenuhi standar
60 – 89 = memenuhi standar
90 – 100 = di atas standar

Dengan demikian setiap karyawan memahami dimana kondisinya saat ini dan dapat melakukan perbaikan atas kinerjanya. Selanjutnya, karyawan juga perlu memahami reward & punishment apa yang mereka dapatkan berdasarkan hasil kinerja mereka. Jika karyawan tidak memahami dampak dari kinerja mereka, maka lambat laun mereka akan kehilangan minat untuk mencapai hasil optimal dalam bekerja. Misalkan ;

Hasil Penilaian Kinerja
Dampak Penilaian Kinerja
Karyawan dalam Masa Percobaan
Karyawan Tetap
0 – 59
Tidak lulus masa percobaan
Masa kerja tidak dilanjutkan
60 – 89
Lulus masa percobaan
Masa kerja dilanjutkan di level yang sama
90 – 100
Lulus masa percobaan
Masa kerja dilanjutkan ke level lebih tinggi

Proses penilaian kinerja yang transparan meminimalisir pertanyaan pertanyaan setiap karyawan ; apakah kinerja saya memuaskan, kapan saya mendapatkan promosi, apa target saya, dsb. Tidak hanya menjawab apa yang harus dilakukan setiap karyawan, proses ini juga menyampaikan apa yang diharapkan perusahaan dari setiap karyawannya.

Semakin sering semakin baik

Periode penilaian kinerja di setiap perusahaan berbeda satu sama lain tergantung kebutuhan. Ada yang per tahun, per semester, atau per kuartal. Penilaian kinerja tidak hanya bertujuan untuk menilai hasil kinerja seseorang dan dampak dari kinerjanya, namun juga mengevaluasi kinerja seseorang terhadap target yang ingin dicapai.

Misalkan, meski penilaian kinerja di PT ABC dilakukan per semester divisi Finance rutin melakukan penilaian kinerja setiap bulannya. Tujuannya adalah jika terdapat salah satu karyawan yang pada bulan tersebut kinerjanya dianggap tidak memenuhi standar, maka dapat segera digali akar permasalahannya agar tidak berulang di bulan selanjutnya dan mempengaruhi hasil penilaian kinerja di semester tersebut.

Tentu saja proses ini membutuhkan tenaga dan waktu lebih, namun karena bertindak sebagai suatu upaya preventif maka proses dan hasilnya dapat dianggap sepadan.

Baik tidaknya kinerja tidak hanya bergantung pada KPI

“Walaupun hasil kerja saya jelek, tapi saya selalu berusaha semaksimal mungkin. Kan bukan berarti kinerja saya jelek, saya kan sudah usaha.”

Ya, KPI tidak serta merta menentukan baik tidaknya kinerja kita. Seringkali dalam penilaian kinerja, ada komponen lain yang diperhitungkan selain kinerja yaitu soft skill. Hal ini menandakan bahwa KPI yang menggambarkan pencapaian kemampuan teknikal tidak 100 % berpengaruh atas penilaian kinerja. Bisa jadi hasil KPI bagus namun soft skillnya jelek sehingga hasil penilaian kinerjanya tidak memuaskan.

Nah, apa saja soft skill yang dinilai pun berbeda di setiap perusahaan tergantung budaya kerja yang diterapkan. Begitu pula bobot perhitungan antara hasil KPI dan penilaian soft skill. Bisa jadi sama besarnya atau mungkin salah satu memiliki bobot lebih tinggi.

Hasil penilaian kinerja adalah angka

Keberhasilan adalah relatif, setiap orang memiliki takaran masing masing dalam menggambarkan kondisi dimana mereka merasa berhasil. Bagi beberapa orang, melakukan sesuatu yang memberikan dampak ke orang lain adalah suatu keberhasilan. Bagi beberapa lainnya, mereka membutuhkan suatu data untuk menunjukkan bahwa mereka berhasil. Tidak ada yang salah dari keduanya karena semua bergantung pada perspektif setiap orang.

Bagi mereka yang membutuhkan data sebagai alat ukur keberhasilan mereka dalam bekerja, maka hasil dari penilaian kinerja adalah jawabannya. Hasil penilaian kinerja atau hasil KPI memberikan data aktual atas kinerja karyawan di suatu periode.



Demikian beberapa hal dari banyak hal menarik dari proses penilaian kinerja yang dapat saya sampaikan. Meski hasil penilaian kinerja mempengaruhi banyak hal seperti  kenaikan gaji / kelanjutan masa kerja, hasil penilaian kinerja tidak berarti segalanya. Mendapatkan hasil penilaian kinerja yang memuaskan bukan berarti kita telah hebat, hal hal yang perlu kita pelajari tidak akan pernah habis. Dan ketika kita mendapatkan hasil penilaian yang kurang memuaskan bukan berarti kita gagal, ada banyak hal yang tanpa disadari telah kita capai dalam periode tersebut.

Dengan atau tanpa hasil dari penilaian kinerja, kita berhak memilik merasa bahagia atau tertekan. Karena KPI adalah angka yang dapat diukur sedangkan ada banyak hal di dunia ini yang tidak dapat diukur seperti lingkungan yang mendukung, atasan yang selalu berbagi ilmu dan pekerjaan yang menantang.

Dunia Kerja : Kompetisi Tiada Henti

Saat duduk di bangku sekolah, Anda tentu mengingat bagaimana perasaan Anda saat menjelang pengambilan rapor ? Bagaimana nilai saya, peringkat berapakah saya, dan apakah saya naik kelas ?Bagi beberapa orang, hal yang paling menyeramkan dalam pengambilan rapor bukanlah deretan nilai dalam buku tersebut melainkan bagaimana respon orang tua saat menerimanya. Apakah akan tersenyum puas atau justru merasa kecewa hingga berujung pada pemotongan uang saku. Bagi beberapa orang lainnya, mereka justru merasa khawatir dengan nilai mereka dibandingkan reaksi orang tuanya. Peringkat berapa yang kali ini berhasil diraih dan apakah nilai tersebut meningkat ?

Ketika pengumuman kelulusan, Anda bisa mengingat bahwa kebahagiaan yang dirasakan setiap siswa yang berhasil lulus tidaklah sama. Beberapa merasa bahagia karena berhasil lulus dan beberapa lainnya merasa bahagia karena berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Namun dibalik pengumuman kelulusan, nyatanya tidak semua orang merasa bahagia. Beberapa merasa sedih karena tidak berhasil lulus dan beberapa merasa kecewa karena tidak mendapat nilai sesuai yang diharapkan.



Semasa kuliah, beberapa mahasiswa sangat mengkhawatirkan nilai IPK dan beberapa lainnya justru menghadapinya dengan santai. Ketika memasuki masa pembuatan skripsi di semester akhir, Anda menjumpai teman teman Anda yang mulai sibuk. Sibuk merevisi skripsi, sibuk menyesuaikan jadwal dengan dosen pembimbing dan sibuk kabur dari dosen pembimbing. Setelah dinyatakan lulus dan transkrip nilai dicetak, nilai IPK mulai berbicara banyak kepada para HRD membuat HRD merasa takjub, merasa biasa biasa saja atau justru merasa heran.

Saat sekolah, di kelas Anda tentulah memiliki siswa yang dikenal pintar seolah olah ia menangkap semua pelajaran dengan cepat. Di kelas Anda juga terdapat siswa yang berada di zona nyaman, yah tidak bodoh tapi juga tidak terlalu pintar. Terakhir, di kelas Anda juga terdapat siswa pembuat onar, kelakuan yang membuat guru emosi dengan disertai nilai pas - pasan.

Semasa sekolah mungkin kita pernah berpikir,

"Dia mah emang dari sananya pinter ga kaya kita"

"Dapat nilai segini juga uda syukur"

"Kenapa mereka cuma mau nyontek ? Kenapa ga belajar aja sih?"

Pemikiran pemikiran itu sedikit banyak menghilang ketika kita memasuki dunia kerja. Dunia yang selalu kita idamkan saat masih menempuh pendidikan. Tidak ada PR, tidak ada terima rapot, tidak ada ulangan.

Sayangnya, setelah terjun ke dunia kerja kita kembali merindukan masa masa sekolah. Alasannya sederhana, tidak ada atasan menyebalkan, tidak ada pekerjaan menumpuk, tidak ada ancaman dipecat.

Miris.

Padahal baik sekolah dan kerja sama saja.

Yang selalu berusaha keras akan bersinar. Yang berusaha seadanya akan biasa biasa saja. Yang tidak berusaha akan dicibir.

Yang memiliki performa terbaik diberikan reward. Yang biasa biasa saja tidak memancing perhatian. Yang memiliki performa buruk lambat laun akan dipecat.

Selama kerja, seringkali kita lupa bahwa bekerja adalah bagian dari hidup dan hidup adalah kompetisi tiada akhir.

Bahwa bisa bekerja saja sudah cukup karena dunia kerja hanyalah sumber pemasukan uang untuk mencukupi kehidupan sehari hari. Ada ribuan alasan bagi sebagian besar orang untuk memilih berada di zona aman dengan terus bekerja sesuai prosedur ; merasa posisinya saat ini sudah aman, tidak ada saingan dalam kerja, terbuai dengan gaji yang sudah besar, dan alasan alasan lainnya.

Sebagian berharap segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginannya. Menjadikan bos cerewet dan pekerjaan yang terlalu banyak sebagai alasan mengapa performanya buruk. Ada banyak alasan untuk tidak memberikan kinerja yang baik ; pekerjaan terlalu berat, fasilitas tidak memadai, prosedur yang berantakan.

Sebagian lainnya sibuk bekerja keras agar target kinerjanya tercapai dan mendapatkan kesempatan untuk promosi. Setidaknya ada satu alasan bagi mereka untuk terus memberikan suatu hal yang lebih dalam pekerjaannya ; peningkatan gaji, aktualisasi diri, reward yang menggoda dan alasan alasan lain.

Anda memiliki hak untuk menetapkan jalan hidup Anda. Nyatanya, kepuasan tergantung pada bagaimana cara pandang Anda. Yang perlu diingat, usaha yang Anda berikan mempengaruhi hasil yang Anda peroleh. Jika Anda ingin bekerja sekedarnya, jangan heran jika tidak kunjung mendapat promosi. Jika malas bekerja, jangan heran jika Anda dipecat. Jika ingin mendapat promosi, jangan heran jika Anda harus bekerja hingga babak belur.

Baca Juga : Talent War : Direkrut Saja Tidak Cukup, Jadilah Kompetitif

Hidup adalah kompetisi. Begitu pula dunia kerja. Dalam kompetisi ini Anda bebas menentukan tempat finish Anda, di barisan depan, barisan tengah atau barisan belakang. Namun, kalau bekerja sekedar bekerja, bukankah monyet juga bekerja ?

Pengalaman Kerja : Sumber Inspirasi atau Bendera Lama


Bagi Anda yang telah bekerja di berbagai perusahaan, tentu Anda memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan orang lain yang baru saja bekerja untuk pertama kalinya. Anda memahami bagaimana lingkungan kerja di perusahaan lain, setidaknya di perusahaan yang pernah menjadi sumber nafkah Anda. Anda memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai proses bisnis di beberapa perusahaan.



Sayangnya, pengalaman berharga Anda dari perusahaan sebelumnya dapat menjadi pisau bermata dua. Satu sisinya dapat menjadi sumber inspirasi yang mampu mendongkrak produktifitas Anda sedang sisi lainnya dapat menjadi “bendera lama” yang menjauhkan Anda dari rasa syukur.
Apa yang dimaksud dengan sumber inspirasi ? Dan apa maksudnya dengan bendera lama ?

Bendera lama


“Rekrutmen di kantor lama saya dulu cepet. Ga kaya disini lama banget.”

“Di kantor saudara saya, mereka sudah punya buku aturan sendiri untuk karyawan baru. Disini ga punya ya ?”

Bendera lama, adalah kata kiasan yang mengungkapkan bahwa sebenarnya Anda belum “move on” dari perusahaan sebelumnya. Gagal “move on” ini seringkali membuat Anda membandingkan kondisi Anda saat ini dengan kondisi di perusahaan Anda sebelumnya. Sayangnya, membanding bandingkan perusahaan Anda saat ini dengan sebelumnya hanya akan mendekatkan energi negatif pada diri Anda.

Alasannya sederhana.

Dibanding bandingkan dapat menyakiti perasaan orang lain yang Anda tuju.

Meski Anda tidak berniat untuk menyakiti perasaan orang lain, membanding bandingkan memberikan dua akibat pada orang yang dituju ; melakukan perbaikan dan sakit hati.

Setiap perusahaan memiliki budayanya masing masing.  

Anda tidak dapat membandingkan perusahaan Anda saat ini dengan sebelumnya karena mereka berbeda. Sama seperti manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan masing masing, begitu juga perusahaan. Setiap perusahaan memiliki ceritanya masing masing yang harus Anda hargai jika Anda memutuskan untuk bertahan. Jika saat ini Anda membanding bandingkan perusahaan Anda saat ini dengan sebelumnya, maka ingatlah bahwa perusahaan Anda sebelumnya juga memiliki kekurangan yang membuat Anda mencari pekerjaan lain.

Melupakan rasa syukur

Mungkin Anda seringkali mengeluhkan gaji yang tidak sepadan bagi Anda, namun seringkali Anda menjumpai rekan kerja Anda yang tidak berkomentar apa apa tentang gajinya karena baginya diterima kerja adalah hal yang cukup baginya. Ketika Anda begitu kesal dengan berbagai hal di perusahaan Anda saat ini, ingatlah bagaimana perjuangan Anda untuk mendapatkan pekerjaan saat ini. Juga jangan lupakan banyaknya pencari kerja yang sibuk untuk mendapatkan pekerjaan, mereka bahkan rela melakukan apapun asalkan mendapatkan uang. Jika diingat kembali, bukankah Anda sudah cukup beruntung dengan memiliki pekerjaan ?

Memang kita tidak dapat memaksakan diri untuk terus menerima berbagai kondisi yang terjadi di pekerjaan kita. Pilihannya ada dua ; take it or leave it. Jika berbagai kondisi yang ada tidak mampu Anda hadapi, maka sebaiknya Anda meninggalkan pekerjaan yang justru membuat Anda tidak bahagia dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik bagi Anda. Namun jika Anda masih mampu menghadapinya, ada baiknya Anda menjadikan pengalaman Anda di perusahaan sebelumnya sebagai sumber inspirasi Anda di perusahaan saat ini.

Sumber Inspirasi

“Di kantor saya dulu, prosedur untuk perjalanan dinas seperti ini. Saya rasa ada beberapa bagian yang bisa kita terapkan disini.”

Dibanding mengeluhkan keadaan saat ini, akan lebih baik jika Anda menjadikan pengalaman Anda untuk memperbaiki keadaan. Saya rasa Anda tidak asing dengan istilah ; pengalaman adalah guru terbaik. Itulah yang dimaksud dengan jadikan pengalaman Anda sebagai sumber inspirasi Anda.

Jadikan pengalaman Anda sebagai sesuatu hal yang dapat menjadi nilai tambah bagi diri Anda. Misalkan, di perusahaan sebelumnya Anda terbiasa dengan prosedur pengadaan barang yang terstruktur. Maka pengalaman ini dapat memberikan gambaran bagi Anda, apakah prosedur pengadaan di tempat Anda saat ini sudah cukup efektif ? Jika tidak, Anda dapat melakukan perbaikan berdasarkan pengalaman Anda di tempat sebelumnya.

Seringkali saya bertanya kepada kandidat yang saya wawancarai, “Jika kamu diterima, apa yang bisa kamu berikan ke perusahaan kami?”

Tentu saya tidak mengharapkan “uang terima kasih” dan tentunya kami mengharapkan ia dapat bekerja sesuai target yang diberikan. Bukan masalah besar jika Anda tidak dapat memberikan hal lain kepada perusahaan selain mengikuti aturan perusahaan dan bekerja sesuai target yang diberikan. Namun, tanpa disadari pengalaman Anda di perusahaan sebelumnya memberikan Anda pengetahuan baru yang bisa Anda terapkan di perusahaan Anda saat ini.

Dan Anda memiliki pilihan, apakah Anda akan menggunakan pengalaman Anda sebagai sumber inspirasi ke arah lebih baik atau hanya menggunakannya sebagai bendera lama tanpa benar benar memberikan dampak positif bagi permasalahan.

Satu yang perlu diingat, tidak ada perusahaan yang sempurna karena bagi perusahaan pun tidak ada karyawan yang sempurna. Perusahaan Anda mempekerjakan Anda karena yakin dengan kelebihan yang Anda miliki meskipun paham bahwa Anda memiliki kelemahan. Lalu, apakah Anda akan fokus pada kelebihan perusahaan Anda saat ini atau justru pada kelemahannya yang tidak dimiliki oleh perusahaan Anda sebelumnya.

Pilihan ada di tangan Anda, namun jika harus membandingkan, sampai kapanpun tidak ada pengalaman yang sebanding.

Technical Skill & Soft Skill, Bukan Menu A La Carte


Beberapa hari lalu, saya menerima telepon dari salah seorang pencari kerja, sebut saja Bunga. Saya kira hanya panggilan masuk seperti biasa, menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan atau menanyakan kelanjutan proses rekrutmen. Namun nyatanya yang saya dengar sungguh membuat saya merasa miris sekaligus berpikir keras. Dengan agresif, ia memohon untuk diberikan pekerjaan karena ia sangat membutuhkan uang untuk orang tuanya di kampung. Ia menceritakan bahwa ia merupakan salah satu lulusan universitas termuka di Indonesia dan ia juga menguasai Microsoft Office, ia bahkan menceritakan bahwa ia memiliki lahan di kampung halamannya sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan.

Tak lama kemudian, saya menemukan sebuah email masuk dari seseorang yang baru saja menelepon saya, yaitu Bunga. Ternyata ia adalah seorang fresh graduate sejak satu tahun lalu. Akhirnya saya memutuskan untuk memperlakukannya seperti saya memperlakukan kandidat pada umumnya dengan memberikan sejumlah tes online. Hasilnya tidak terlalu buruk. Namun yang mengganggu saya adalah balasan – balasan email dari pelamar tersebut yang kurang sopan diucapkan dalam dunia kerja yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya ke tahap berikutnya.
Dalam kasus ini, pelamar tersebut tidak hanya belum memiliki kemampuan teknikal yang terbukti melainkan juga tidak menunjukkan sopan santun. Dan karena kedua hal itu, saya merasa tidak memiliki alasan untuk memberikan kesempatan lebih jauh.



Lalu, manakah yang lebih baik ? Memiliki kemampuan teknikal yang cukup atau soft skill yang baik ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan menceritakan beberapa kisah lain yang pernah saya alami.

Sebut saja Budi. Salah satu pelamar yang akhirnya saya rekrut menjadi karyawan karena dinilai oleh user memiliki sopan santun dan memiliki kemauan untuk melayani. Nyatanya, kesan pertama yang dipenuhi rasa menghargai dan sopan santun cukup berhasil membuat lawan bicara merasa nyaman. Dan nyatanya, selama bekerja pun Budi senantiasa bersikap sopan kepada orang lain di sekitarnya. Disinilah berlaku ungkapan, attitude adalah segalanya meski nyatanya Budi tidak memiliki pengalaman administrasi yang dibutuhkan dalam pekerjaannya. Cerita yang cukup sempurna hingga akhirnya beberapa bulan selanjutnya Budi mengundurkan diri tanpa memberikan kabar kepada atasan dan juga tim HRD. Usut punya usut, Budi mengundurkan diri karena merasa terbebani dengan pekerjaan yang ia terima. Ternyata, sopan santun saja tidak cukup untuk membuat diri kita mapan dalam meniti karir.

Sebut saja Eko. Eko adalah salah satu karyawan yang cukup kompeten di perusahaan saya bekerja beberapa tahun silam. Eko tidak hanya menguasai teknik negosiasi untuk menekan budget, ia juga memahami banyak hal dalam kegiatan operasional dalam perusahaan hingga membuat direktur kami cukup bergantung padanya. Menjadi karyawan yang kompeten, memiliki komitmen terhadap pekerjaan, hingga mendapatkan kepercayaan dari orang nomor satu di perusahaan tentu menjadikan Eko salah satu karyawan yang layak dipertahankan. Sangat layak, sebelum akhirnya Eko kembali diketahui memasukkan sejumlah uang perusahaan untuk keperluan pribadinya. Ketidakjujuran Eko dengan mudahnya menghancurkan kesempatannya untuk meniti karir yang lebih baik. Dan ketidakjujuran Eko dengan praktis mengubah statusnya dari seorang pekerja menjadi pencari kerja.

Memiliki technical skill saja tidak cukup, dan memiliki soft skill saja tidak cukup jika Anda ingin menjadi seseorang yang layak untuk diperjuangkan. Memiliki salah satunya tidak cukup membuat Anda mendapatkan kenaikan karir. Baik technical skill dan soft skill bukanlah menu a la carte yang bisa dibeli secara terpisah untuk membuat Anda kenyang. Dalam hal peningkatan karir, technical skill dan soft skill adalah menu paket yang harus Anda miliki keduanya.

Bukan hal yang salah jika Anda lebih menguasai soft skill dibanding technical skill. Kemampuan memotivasi diri, rasa ingin tahu yang tinggi dan terbuka terhadap masukkan membantu Anda untuk mempelajari hal baru dengan cepat. Memiliki sopan santun yang baik, proaktif dan selalu fokus pada pekerjaan bisa jadi membantu Anda untuk mendapatkan perhatian dari atasan Anda. Namun tanpa diimbangi dengan pencapaian target kinerja Anda, akan sulit untuk dikenal menjadi karyawan yang kompeten. Bagaimanapun juga, perusahaan mengharapkan karyawannya memberikan kerja nyata bukan hanya kerja keras.

Sebaliknya, pencapaian kinerja yang melebihi target tidak serta merta mengantarkan Anda untuk mendapatkan kenaikan jabatan menjadi supervisor. Jika Anda tidak memperlakukan orang lain dengan baik, jika Anda tidak mampu memotivasi diri Anda sendiri dan jika Anda tidak mampu menangani stress maka akan sulit membuat orang lain percaya bahwa Anda layak diberikan kepercayaan untuk memimpin. Bagaimanapun juga, perusahaan akan lebih mempercayai orang yang dapat diajak bekerja sama bukan hanya dapat bekerja.

Jika Anda hanya ingin berada di posisi Anda saat ini tanpa berniat meraih posisi yang lebih, Anda dapat membeli technical skill dan soft skill sebagai menu a la carte dengan harga yang lebih murah namun tidak cukup membuat Anda kenyang. Sayangnya, dunia kerja menjadi semakin liar. Seolah tidak pernah ada kata cukup, baik pemberi kerja dan pencari kerja. Fakta yang amat menyakitkan adalah bahwa mencari pekerjaan bisa jadi begitu sulit, bahwa bertahan di pekerjaan kita saat ini bisa jadi begitu penuh perjuangan, dan Anda tidak akan pernah tahu cobaan apa yang sedang menanti Anda.

Liarnya dunia kerja mulai melahirkan para pencari kerja seperti Bunga yang mulai putus asa dalam upaya mempertahankan hidupnya. Kejamnya dunia kerja menuntut Anda untuk terus memacu motor Anda agar tidak disalip oleh pembalap lainnya dalam puluhan putaran yang membuat Anda pusing. Jika Anda salah mengambil strategi, Anda dapat didahului oleh pembalap lain di belakang Anda. Dan untuk terus berkonsentrasi dalam lomba balap ini, technical skill dan soft skill yang disajikan dalam menu paket akan lebih mengenyangkan dibanding jika Anda membelinya dalam menu a la carte.

Memiliki technical skill yang mumpuni dan soft skill yang baik bukanlah hal yang mudah. Memiliki nilai KPI memuaskan dan dianggap mampu bekerja sama lintas divisi dengan baik juga cukup menguras tenaga. Dan sayangnya, nyaris semua perusahaan selalu mengharapkan setiap karyawannya memiliki keduanya, technical skill dan soft skill. Sungguh kenyataan yang tidak mudah untuk dihadapi namun memaksa kita untuk tetap menghadapinya.

Networking : Bukan Mencari Teman Biasa

Banyak yang mengatakan bahwa semakin dewasa, kita hanya akan memiliki sedikit teman. Teman yang tentunya mampu menerima diri kita apa adanya dan memiliki "irama" yang sama dengan kita. Sahabat selalu mendengarkan apa masalah Anda dan menjadi cheerleader saat Anda terpuruk. Sahabat tentu merupakan hal yang baik untuk dimiliki, sahabat dapat menjadi penopang mental kita yang selalu mengatakan bahwa kita tidak sendirian.

Setelah kita memasuki dunia kerja, memiliki sahabat tidaklah cukup untuk meningkatkan karir kita. Selain dengan memberikan kinerja terbaik, mengikuti training hard skill, atau hal lain yang berbau teknikal, memperluas jaringan pertemanan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan karir kita. Tentu saja tanpa harus memasuki dunia kerja, perluasan jaringan pertemanan sudah terjadi. Namun jaringan pertemanan yang dimaksud bukanlah teman yang selalu memberikan dukungan kepada kita atau teman yang menjadi pendengar baik. Jaringan pertemanan yang dimaksud adalah teman yang kelak dapat "memuluskan" karir kita atau Anda dapat menyebutnya professional network.



Networking yang baik tidak datang begitu saja. Professional network lebih dari sekedar rekan  kerja yang Anda temui setiap hari ketika bekerja atau rekan kerja yang Anda kenal saat bekerja di perusahaan sebelumnya. Lebih luas dari sekedar teman sekelas Anda ketika masih menempuh pendidikan.

Jika Anda menginginkan networking yang menunjang karir Anda, rajinlah bersosialisasi. Bukan sekedar rajin beraktifitas di media sosial. Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan ;


  • Mengikuti komunitas sesuai profesi Anda
  • Mengikuti seminar / training 
  • Memanfaatkan akun Linkedin
  • Dst
Networking tidak terjalin dengan singkat. Sama seperti mempopulerkan akun facebook Anda, setidaknya beberapa aturan juga berlaku dalam aktifitas networking

Self Branding

Jika dalam facebook Anda memasang foto profil semenarik mungkin, dalam aktifitas networking Self Branding berarti menunjukkan sisi profesional dalam diri Anda. Entah dengan rajin mengikuti seminar, aktif dalam pemecahan kasus di komunitas Anda, sesekali berbagi tentang pekerjaan Anda (menyebarkan lowongan kerja, mempromosikan produk, dst) dan banyak aktifitas lainnya.

Sama halnya dengan facebook dimana foto profil dimaksudkan agar orang lain tertarik menjadi teman Anda, maka semakin baik Anda dalam melakukan self branding maka semakin menarik Anda di mata professional network.

Berkenalan

Mengandalkan self branding tidaklah cukup. Apalah arti foto profil yang menakjubkan jika Anda tidak menambahkan seseorang untuk menjadi teman Anda. Begitu pula dalam networking. Mulailah mencari teman dan bangun komunikasi yang berkesan. Ubahlah perkenalan singkat menjadi sebuah percakapan yang menarik. 

Karena itu, komunikasi via WhatsApp tidaklah cukup jika ingin aktifitas ini berjalan baik. Ada baiknya Anda rajin mengikuti aktifitas kopi darat dari komunitas Anda agar lebih mengenal member lain. Jika Anda sedang melakukan networking melalui acara seminar, akan lebih baik jika Anda meminta kartu nama atau kontak dari kenalan Anda tersebut dan tidak ada salahnya untuk mengucap "Hai" di lain kesempatan. 

Menjalin Komunikasi Rutin

Perkenalan tidak ada artinya jika kemudian hari Anda melupakannya atau justru Anda dilupakan. Meski terkesan networking merupakan sebuah alat, namun nyatanya aktifitas ini juga sama dengan aktifitas pertemanan pada umumnya. Jika Anda hanya datang sesekali mungkin Anda akan mudah dilupakan. Jika Anda hanya datang sesekali maka jaringan pertemanan yang dibangun membutuhkan waktu lama untuk menjadi lebih kuat. Dan hal yang sama juga berlaku bagi aktifitas networking

Lalu, apa yang diberikan aktifitas ini sehingga mampu "memuluskan" karir Anda ?

Berbagi Ilmu 

Dalam networking, setiap orang di dalamnya akan berbagi berbagai macam hal. Jika Anda mencari network sesuai profesi Anda sebagai penulis, tentu mereka akan membahas berbagai macam hal terkait kepenulisan. Anda tidak hanya mengetahui permasalahan yang terjadi di luar dan cara penyelesaiannya, Anda juga dapat menanyakan permasalahan yang sedang Anda alami dalam pekerjaan berikut cara penyelesaiannya. 

Misalkan, Anda sedang membutuhkan vendor yang bagus untuk membuat kaos, maka network Anda dapat memberikan informasi. Ketika Anda sedang bingung untuk perhitungan THR, maka network Anda dapat membantu. Atau mungkin tiba tiba Anda mendapatkan buku yang sudah lama Anda idam-idamkan sejak lama. Ada banyak hal yang dapat dilakukan professional network yang Anda miliki untuk membantu Anda dalam pekerjaan. 

Membantu Anda Memahami Pekerjaan Lebih Luas

Jika selama ini Anda hanya melihat pekerjaan Anda dari apa yang Anda lakukan setiap hari, maka aktifitas ini dapat membuka pikiran Anda bahwa pekerjaan yang saat ini Anda lakukan memiliki tantangan yang berbeda di masing masing tempat. Bisa jadi, ketika Anda menjadi seorang finance di perusahaan Anda saat ini Anda hanya mengetahui bagaimana transaksi di bidang usaha dari perusahaan Anda. Namun ketika Anda melakukan networking Anda akan mengetahui berbagai transaksi di bidang usaha di luar dari yang perusahaan Anda jalankan saat ini. 

Networking juga memacu Anda untuk terus belajar karena nyatanya, apa yang saat ini Anda kerjakan tidaklah cukup untuk membuat Anda memahami pekerjaan Anda secara keseluruhan. Dan kabar baiknya adalah, networking menyediakan para professional network yang memiliki keinginan besar untuk terus berbagi.

Membantu Menemukan Karir Lebih Baik

Di samping membantu Anda dalam pekerjaan saat ini, aktifitas networking juga memberikan jalan ketika Anda sedang ingin mencari pekerjaan baru. Selain rutin berbagi informasi lowongan pekerjaan, jika self branding Anda cukup baik jangan heran jika salah satu network Anda menawarkan Anda untuk menjadi bagian dari timnya.

Apa yang saya sebutkan di atas mungkin hanyalah sedikit dari apa yang bisa diberikan melalui aktifitas networking. Namun satu hal yang pasti adalah aktifitas networking adalah aktifitas yang memberikan dampak positif bagi karir Anda. Anda tidak hanya sedang mencari teman untuk mengatakan bahwa "Anda sudah cukup baik". Aktifitas networking membantu Anda untuk menemukan network atau teman untuk terus mengatakan bahwa "yang Anda lakukan belum cukup, dan mari belajar bersama". 

Hasil Penilaian Kinerja Tidak Memenuhi Standar, Bad Dream or Bad Life ?

Dalam dunia kerja, Anda tentunya tidak asing dengan istilah Key Performance Indicator (KPI) yang sesuai namanya berisikan indikator indikator yang menentukan bagus tidaknya kinerja Anda dalam suatu periode. Pencapaian KPI ini akan direview secara berkala untuk mengetahui apakah Anda berhasil mencapai target yang diberikan atau justru sebaliknya. Hasil dari penilaian kinerja ini seringkali berdampak pada kompensasi yang Anda terima, besaran bonus, kesempatan promosi dan lain sebagainya.

Semua orang tentunya berharap mendapatkan hasil penilaian kinerja yang memuaskan. Sayangnya, hasil penilaian kinerja yang memuaskan tidak turun begitu saja dari langit, Anda perlu bersikeras untuk mendapatkannya. Sayangnya juga, usaha keras Anda belum tentu membuahkan hasil sesuai yang Anda harapkan dan tidak jarang tidak membuahkan apapun.



Sebagai seorang karyawan tentu Anda telah berusaha menjalankan pekerjaannya secara maksimal. Lalu, bagaimana jika Anda telah berusaha memberikan yang terbaik, namun ternyata hasil penilaian kinerja Anda masih belum memenuhi standar ?

Kecewa, sedih, malu, marah dan segala emosi negatif kemungkinan besar akan menghampiri Anda. Kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa memberikan yang terbaik. Sedih karena tidak mendapatkan apa yang Anda harapkan. Malu karena ternyata rekan kerja Anda lainnya mampu memberikan kinerja lebih baik dibanding Anda. Marah karena merasa tidak mendapatkan hasil sebesar apa yang telah Anda berikan. Anda dapat merasakan berbagai macam emosi negatif dan itu adalah hal yang normal.

Hasil penilaian kinerja yang tidak memuaskan bukanlah hal yang diharapkan. Hal ini seperti merupakan tiket menuju berbagai hal yang tidak diinginkan lainnya. Tidak mendapatkan bonus, demosi hingga pemutusan hubungan kerja seolah merupakan pintu tersembunyi dibalik hasil penilaian kinerja yang tidak memuaskan. Bagi beberapa orang, hal ini merupakan hal yang buruk.

Sebagian menganggap hasil penilaian kinerja yang buruk sebagai bad life, seolah olah hasil penilaian kinerja merusak citra diri Anda dan melukai harga diri Anda di depan rekan rekan Anda. Sebagian lagi menganggap hasil penilaian kinerja yang buruk sebagai bad dream, seolah olah penilaian kinerja yang buruk adalah suatu hal yang akan mudah dilupakan segera setelah terbangun dari tidur.

Menganggap hal tidak diharapkan ini sebagai bad dream sepertinya terdengar lebih menyenangkan meski kemungkinan hal ini juga mengarahkan Anda kepada bad life. Nyatanya bagi sebagian orang menganggap hal ini sebagai bad dream  membutuhkan effort lebih besar dibanding menerimanya sebagai bad life. Tapi toh, semua ini bergantung pada pilihan Anda, apakah Anda menganggapnya sebagai bad life yang membebani Anda atau bad dream yang sama sekali tidak mengganggu. Oleh karena itu, bagaimana jika kita anggap hasil penilaian kinerja buruk sebagai bad dream semata karena memang hal ini tidak akan benar benar menghancurkan Anda karena beberapa hal berikut ; 

Hasil Penilaian Kinerja = Kenyataan dari Sekian Kenyataan yang Ada

Nyatanya hasil penilaian kinerja merupakan kenyataan yang harus Anda hadapi. Terimalah kenyataan bahwa saat itu Anda belum melakukannya dengan baik. Sadari emosi yang timbul saat itu, bahkan bukan hal yang salah jika Anda berusaha melampiaskan emosi Anda selagi tidak merugikan orang lain. Lagipula Anda hanyalah manusia, makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Di kehidupan yang keras ini tentu Anda telah melakukan banyak kesalahan, dan tentu saja Anda telah menghadapi banyak kenyataan pahit akibat kesalahan Anda. Oleh karena itu, bukankah hasil penilaian kinerja Anda yang buruk hanyalah satu dari sekian banyak kenyataan pahit yang berhasil Anda hadapi ?

Hasil Penilaian Kinerja Adalah Sebuah Nilai yang Terukur

Darimana Anda mengetahui kinerja Anda tidak memuaskan ? Tentu saja dari standar penilaian tersebut yang membatasi hasil penilaian kinerja yang memenuhi standar dan tidak. Dapat dikatakan bahwa nilai yang tertera dalam penilaian kinerja Anda adalah suatu nilai yang terukur berdasarkan measurement yang telah ditetapkan. 

Sesuai namanya, Key Performance Indicator mengukur hal hal yang dianggap kunci dari pekerjaan Anda. Oleh karena itu, ketika Anda tidak berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan hal ini tidak serta merta menunjukkan bahwa Anda tidak kompeten dalam melaksanakan pekerjaan Anda. 

Hasil Penilaian Kinerja Menunjukkan Hasil dari Kegiatan di Masa Lalu

Penilaian kinerja menilai kinerja Anda di beberapa periode yang telah berlalu. Nilai ini menunjukkan masa lalu yang tidak dapat diubah, bukan masa depan yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, dibanding fokus meratapi hasil penilaian kinerja Anda, bukankah akan lebih baik jika Anda mengintrospeksi diri dari kesalahan Anda sehingga hal ini tidak kembali terulang di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, nilai tersebut bukanlah nilai yang didapat begitu saja. Hasil penilaian kinerja Anda merupakan reaksi dari aksi yang telah Anda upayakan. 

Hari ketika Anda mengetahui hasil penilaian kinerja Anda bisa jadi bukan merupakan hari yang indah, bisa jadi hal ini memporak porandakan suasana hati Anda. Oleh karena itu, Anda harus segera melupakannya layaknya Anda melupakan bad dream. Lakukan sesuatu yang lebih baik, agar hal buruk yang Anda alami tidak kembali berulang karena ketika Anda terus menerus mengulangi kesalahan yang sama, Anda telah berjalan menuju bad life. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan ketika Anda menemui hal yang mengacaukan perasaan Anda, ingatlah bahwa : it's just a bad day not a bad life.